English Version | Bahasa Indonesia

Karya Sastra Jawa Kuno yang Diabaikan pada Relief Candi-candi Abad ke-13-15 M

June 30, 2011 14:40



Relief di Candi Jago

Oleh: Agus Aris Munandar

Abstrak

Karya sastra Jawa Kuno kaya dengan bermacam tema yang antara lain berhubungan dengan panutan kehidupan, nilai-nilai kebajikan, dan gagasan-gagasan yang baik lainnya, namun sukar untuk dipahami karena dituangkan dalam bentuk filosofis. Oleh karena itu dalam kajian ini karya sastra Jawa Kuno akan ditelisik prinsip dasar alur kisahnya sehingga dapat diketahui beberapa alasan yang membuat suatu kisah dipahatkan dalam bentuk relief dengan berbagai aspeknya. Kajian ini menggunakan landasan teori semiotika Charles Sanders Peirce, karena bangun trikotomo (sign, referent, interpretant) yang dikemukakan olehnya terasa cocok untuk menelusuri makna yang tersembunyi dalam hal penggubahan suatu cerita yang kemudian dipahatkan dalam bentuk relief. Untuk menjelaskan proses bernalar dalam upaya pencarian makna juga diterangkan secara semiosis.

Abstract

Old Javanese literatures are rich of themes which mostly are related to way of lives, goodness values and ideas, which unfortunately is not easy to understand their meaning because they were often written in philosophical phrases. We have to accept the fact that study on Old Javanese literature are mostly focused on its formal aspects such as the composing basic principles and story line. While on the other side, studies of reliefs based on Old Javanese literature at Hindu-Buddhist monuments are often focused on the physical appearance, carving style, and measurement aspects. This paper is intended to reveal the hidden meanings of some Old Javanese literature as depicted in the Old Javanese sacred monuments from the 13th—15th century using what is called semiosis process. The study is based on the Charles Sanders Peirce’s semiotic theory. The trichotomy structure (sihn—referent—interpretant) is used in analyzing the meanings behind the carved stories and the composing of the story itself.

Keywords: Jawa kuno, karya sastra, relief naratif, semiotika, semiosis.

Pendahuluan

Pada dinding kaki candi-candi Hindu atau Buddha yang terdapat di Jawa terdapat hiasan ornamental yang turut memperindah bangunan suci masa lalu tersebut. Hiasan ornamental yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah relief naratif yang umumnya menggambarkan cerita keagamaan dan pendidikan. Namun ada juga yang latar belakang ceritanya adalah kisah romantis atau bahkan sesuatu cerita yang belum dikenal.

Kebanyakan panel-panel relief naratif ditempatkan di bagian-bagian yang strategis pada bangunan candi, sehingga mudah untuk diamati oleh para pengunjung di masa silam ataupun di masa kini. Sudah tentu dengan hadirnya relief-relief naratif, bangunan candi tersebut menjadi semakin menarik, terkesan berwibawa dan anggun. Walaupun demikian tidak semua candi dihias dengan panel-panel relief naratif, ada juga candi yang ukurannya relatif besar tetapi tidak dihiasi dengan relief cerita apapun. Sedangkan candi yang ukurannya relatif kecil dihias dengan banyak panel relief naratif yang mengacu pada lebih dari satu cerita dalam karya sastra Jawa Kuno. Dapat dipastikan terdapat tujuan lain dipahatkannya relief naratif di dinding candi-candi tersebut, jadi bukan sekadar hanya memperindah bangunan suci tersebut.

Dari sekian banyak karya sastra Jawa Kuno yang dikenal hingga saat ini, dapatlah diketahui bahwa hanya beberapa karya sastra saja yang divisualisasikan ke dalam bentuk relief cerita. Agaknya terdapat sejumlah alasan tertentu sehingga para seniman ahli pahat masa itu hanya memilih dan menyukai beberapa cerita saja. Kajian ini berupaya untuk menjelaskan masalah-masalah yang berkenaan dengan pemahatan karya sastra Jawa Kuno ke dalam bentuk relief. Antara lain adalah alasan pemilihan cerita tertentu, cerita apa saja yang acapkali digambarkan dalam bentuk relief, alasan memilihan adegan tertentu saja, dan tujuan pemahatan relief cerita selain sekadar turut memperindah bangunan candi. Dibicarakan juga perihal candi-candi dan kronologinya yang dihias dengan relief cerita, gaya pemahatan relief, dan nafas keagamaan yang terkandung dalam cerita yang dipahatkan.

Kajian ini membatasi diri dengan hanya membicarakan relief cerita yang dipahatkan pada candi-candi yang dihubungkan dengan Kerajaan Singasari (abad ke-13) dan Majapahit (abad ke-14—15 M). Hal itu lebih didasarkan pada keadaan data yang bertahan hingga kini, terutama data yang bersifat artefaktual (material culture). Data relief candi yang berasal dari abad ke-13—15 M masih relatif banyak dijumpai, tersebar pada beberapa candi yang berlokasi di Jawa Timur. Karena itu kajian ini tidak memperbincangkan relief candi di wilayah Jawa bagian tengah, kecuali untuk sekadar perbandingan jika diperlukan.

Seni relief masa Jawa Kuno secara garis besar dapat dibagi dua gaya, yaitu (a) gaya Klasik Tua (abad ke-8-11 M), contohnya relief-relief yang dijumpai pada candi-candi di wilayah Jawa Tengah (relief cerita di candi Borobudur dan Prambanan), dan (b) gaya Klasik Muda (abad ke-11—15 M), contohnya adalah reliefrelief cerita yang dipahatkan pada candi-candi zaman Singasari dan Majapahit.

Setiap gaya relief tersebut mempunyai cirinya masing-masing, namun karena kajian ini lebih memperhatikan karya sastra Jawa Kuno yang dipahatkan menjadi relief cerita di candi-candi abad ke-13-15 M, maka ciri relief yang akan diutarakan lebih lanjut adalah ciri dari gaya Klasik Muda. Ciri-ciri penggambaran relief bergaya

Klasik Muda adalah sebagai berikut:

  1. Relief dipahatkan dalam bentuk rendah (bas-relief), pengerjaan relief hanya pada ¼ dari ketebalan media yang umumnya balok batu.
  2. Penggambaran figur manusia, hewan, dan tumbuhan bersifat simbolis, artinya tidak seperti apa adanya (naturalis). Penggambaran figur kerapkali tidak proporsional, kaku, bahkan sangat mirip dengan wayang kulit.
  3. Tokoh-tokoh selalu digambarkan menghadap ke samping, sebagaimana layaknya wayang kulit; keadaan demikian lazim disebut dengan en-profile.
  4. Adanya kecenderungan untuk mengisi seluruh panel dengan berbagai bentuk lain di luar tokoh-tokoh utama. Hal ini sering disebut dengan adanya horror vaquum pada gaya Klasik Muda.

Adapun mengenai isi/tema ceritanya, mempunyai ciri tersendiri pula, yaitu:

  1. Cerita digambarkan fragmentaris, tidak lengkap dari awal hingga akhir kisah.
  2. Tema umumnya bersifat roman percintaan, pelepasan dari derita, pertemuan dengan dewata, dan hanya sedikit yang bersifat epos.
  3. Acuan cerita tidak semata-mata karya sastra dari sumber India (Ramayana dan Mahabharata) melainkan ada juga sadurannya (misalnya Arjunawiwaha dan Sudhamala) bahkan juga cerita gubahan pujangga Jawa Kuna sendiri (seperti Sri Tanjung, Panji, dan Bhubuksah-Gagangaking).

Semua ciri pemahatan relief pada masa Klasik Muda tersebut akan menjadi pegangan dalam melakukan pembicaraan selanjutnya dalam kajian ini. Agar pembahasan lebih terarah dan mempunyai landasan konseptual, digunakan juga semiotika yang dapat memberikan tafsiran-tafsiran makna berdasarkan data yang tersedia.

Karya Sastra yang Dipahatkan Dalam Bentuk Relief

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa tidak semua karya sastra Jawa Kuno yang dikenal hingga saat ini divisualisasikan ke dalam pemahatan relief yang menghias bangunan candi. Ternyata ada sejumlah karya sastra yang kerapkali digambarkan dalam bentuk relief di beberapa candi, ada pula yang hanya pada satu candi saja, dan banyak lagi yang sampai sekarang belum dijumpai pemahatan reliefnya.

Hal yang menarik adalah ada relief candi-candi yang mungkin mengandung kisah tertentu, namun hingga saat ini belum dikenal acuan ceritanya. Dalam memandang masalah tersebut mengemuka tafsiran bahwa sangat mungkin ada karya sastra-karya sastra Jawa Kuno yang belum dikenal atau belum dijumpai hingga saat ini. Dengan demikian para peneliti tentang relief yang umumnya arkeolog akan mendapat kesulitan untuk mengidentifikasikan cerita apa yang diacu relief tersebut.

Dalam hal karya sastra yang dipahatkan ke dalam bentuk relief secara ringkas terangkum dalam Tabel 1. Sudah tentu tidak semua candi yang mempunyai relief cerita menjadi data kajian ini. Candi-candi yang disebutkan dalam Tabel 1 tersebut hanya beberapa contoh candi yang dianggap penting dengan pertimbangan struktur bangunannya masih ada, walaupun tidak lengkap lagi.

Di situs Trowulan yang merupakan situs bekas kota Majapahit, ditemukan sejumlah relief yang masih dalam kondisi baik, menggambarkan adegan di perkampungan dan persawahan. Namun panel-panel relief itu tidak diketahui asal-usulnya, sangat mungkin dari Candi Menak Jinggo yang sisanya masih dijumpai di sisi sebelah timur kolam Segaran. Walaupun keadaan panel-panel relief tersebut masih baik, namun konteks arkeologisnya tidak jelas, maka tidak dimasukkan sebagai data kajian.

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui beberapa hal, yaitu: cerita yang banyak dipahatkan dalam bentuk relief/fragmen relief berturut-turut adalah:

  1. Cerita Arjunawiwaha, divisualisasikan di 7 kepurbakalaan (Kep.), yaitu di Candi Jago, Surawana, Kedaton, Goa Pasir, dan pada 3 bangunan punden berundak di Gunung Penanggungan (Kep. XXII, LX, dan LXVII).
  2. Cerita Panji dipahatkan di 7 kepurbakalaan, yaitu Candi Jawi, Pendopo Teras II Panataran, Surawana, Miri Gambar, serta 3 punden berundak di Gunung Penanggungan (Kep.VIII, XXII, dan Kep.LXV).
  3. Cerita-cerita hewan/Tantri Kamandaka dipahatkan di 6 kepurbakalaan, yaitu Candi Jago, Naga Panataran, Petirtaan Panataran, Ngrimbi (Arimbi), Kep. LXIII di Gunung Penanggungan, dan Candi Penampihan.
  4. Cerita Sri Tanjung dipahatkan di 5 kepurbakalaan, yaitu Pendopo Teras II Panataran, Candi Surawana, Jabung, dan gapura Bajang Ratu
  5. Cerita Garudeya dipahatkan dalam bentuk relief di 4 kepurbakalaan, yaitu Candi Kidal, Ngrimbi, Kedaton, dan Sukuh.

Cerita-cerita lainnya pada umumnya hanya dipahatkan di dua bangunan candi saja, atau bahkan hanya pada satu bangunan candi. Cerita yang dipahatkan pada dua bangunan suci adalah Sudhamala dipahatkan di Candi Tegawangi dan Candi Sukuh; cerita Bhubuksah-Gagangaking di Pendopo Teras II Panataran dan Candi Surawana, serta Ramayana yang dipahatkan di Candi Induk Panataran dan Kep.LX di Gunung Penanggungan. Adapun cerita yang hanya dijumpai pada satu bangunan suci saja misalnya Kunjarakarna di Candi Jago, Bhomantaka di Candi Kedaton, dan Bhimaswarga di Candi Sukuh.

Tafsiran Makna Relief Cerita yang Mengacu pada Karya Sastra

Cerita-cerita Jawa Kuno yang dipahatkan dalam bentuk relief, jangan dipandang sebagai “pembekuan” suatu cerita, atau hanya sekadar dianggap sebagai hiasan bangunan. Cerita yang dipahatkan tersebut tentunya mempunyai berbagai makna serta tujuan pemahatannya.

Para ahli kesusastraan Jawa Kuno telah menelisik bahwa dalam kandungan karya sastra tersebut tersimpan berbagai pesan keagamaan ataupun pendidikan. Hanya saja segala macam pesan itu telah disaput dan dipadukan dalam suatu rangkaian cerita. Selanjutnya dipersilakan kepada para pembacanya untuk melakukan tafsiran-tafsiran. Dalam hal ini, terdapat pembaca yang mampu menafsirkan makna utama yang terkandung dalam karya sastra tersebut, namun ada juga yang tidak mampu menafsirkannya sehingga hanya memandang karya sastra Jawa Kuno itu sebagai cerita belaka, cerita tentang para dewa, cerita tentang perilaku para ksatrya, cerita tentang binatang yang dapat bercakap-cakap, dan lain sebagainya.

Dalam sudut pandang semiotika Charles Sanders Peirce, relief cerita yang dipahatkan tersebut dapat dianggap sebagai suatu tanda (sign) yang mempunyai acuan (referent). Kaitan antara sign dan referent itu akan melahirkan interpretant yang berupa konsep tertentu pula. Sehingga terdapat pula pertalian antara sign dengan referentnya yang akan terdiri dari tiga sifat, yaitu index (indeks), icon (ikon), atau symbol (simbol).

Apabila penggambaran suatu relief cerita di candi tertentu dikaitkan dengan perspektif semiotika Peirce, maka terlihat dalam bagan trikotomi Peirce berikut, (Spradley 1972: 13—14, Van Zoest 1992: 8—9, 1993: 23—7, Masinambow 1994: 18, Munandar 2003: 2).

Berdasarkan figur I dapat kiranya diketahui secara jelas bahwa pemahatan fragmen relief cerita Arjunawiwaha di Candi Surawana (abad ke-14 M), mengacu pada karya sastra Jawa Kuno Arjunawiwaha gubahan Mpu Kanwa. Bentuk-bentuk relief merupakan sign (tanda) yang mengacu pada uraian Kakawin Arjunawiwaha. Pertalian yang terjadi antara bentuk relief dengan uraian ceritanya bersifat formal, maka dari itu melahirkan bentuk tanda ikon. Jadi bentuk fisik fragmen relief cerita Arjunawiwaha di Candi Surawana, Jago, Kedaton, goa Pasir, dan beberapa punden berundak di Gunung Penanggungan adalah tanda yang berupa ikon dari cerita Jawa Kuno Arjunawiwaha.

Hal yang sama terjadi pula pada relief cerita lainnya, misalnya kisah Bhubuksah-Gagangaking yang penggubahnya anonim, juga menjadi acuan cerita pada pemahatan beberapa adegan reliefnya di candi-candi tertentu. Trikotomi Peirce menjelaskan sebagaimana figur II.

Pada figur II juga terlihat bahwa dipahatkannya fragmen relief cerita Bhubuksah-Gagangaking juga merupakan ikon yang mengacu pada karya sastranya. Karya sastra itu merupakan karangan pujangga Jawa Kuno sendiri, dengan setting cerita dan tema cerita benar-benar asli gubahan lokal, bukan saduran dari suatu cerita India.

Interpretant yang merupakan konsep suatu cerita dapat menjadi tanda baru yang mengacu pada referent tertentu pula, jika demikian halnya maka akan terdapat 2 bangun trikotomi yang berangkai. Rangkaian trikotomi itulah yang dalam semiotika dinamakan proses semiosis, yakni suatu proses bernalar yang terarah dan bersandarkan sepenuhnya pada data. Apabila tidak ada data, maka proses semiosis pun berhenti untuk sementara hingga dijumpai data pendukung baru dalam lingkungan kebudayaan pendukungnya.

Sebenarnya proses semiosis sudah dimulai sejak seseorang mengenal suatu istilah tertentu, misalnya “fragmen relief Arjunawiwaha. Istilah atau kata itu tentunya mengacu pada gambaran relief secara fisik yang dipahatkan di suatu candi. Contoh proses semiosis tentang relief Arjunawiwaha secara lengkap hingga saat ini (sejauh yang dapat ditafsirkan) tergambar pada figur III (Lampiran).

Dalam figur III terlihat adanya proses semiosis dari suatu tanda (sign) yang berupa kata “relief Arjunawiwaha” (tataran 1) hingga acuan (referent) yang berupa kebajikan mengalahkan keangkaramurkaan (Arjuna memusnahkan Niwatakawaca), setia pada dharma (Arjuna yang rela berpisah dengan ibu dan saudara-saudaranya demi untuk menjalankan tugas [dharma] ksatryanya, melakukan tapa dengan tekun), pertemuan dengan dunia dewa-dewa (Arjuna yang bertemu langsung dan dapat “berkeliaran” di alam kedewataan pada waktu dia masih hidup), dan lain sebagainya (tataran 4). Proses itu sementara berhenti hingga tataran ke-4, karena data yang dapat ditafsirkan dari kebudayaan yang terkait (Jawa) belum dapat ditelisik lagi, dengan demikian tataran ke-5 belum ada.

Jenis tanda yang terjadi pada tataran 1 (awal) adalah simbol, begitu pun jenis tanda pada tataran 4 (akhir) adalah simbol. Tanda yang dominan dalam proses semiosis tersebut adalah simbol, walaupun di antara dua simbol itu terdapat ikon dan indeks. Berdasarkan semiotika makna kehadiran kisah Arjunawiwaha (baik dalam bentuk karya sastra ataupun relief) dapat kiranya ditafsirkan sebagai simbol dari berbagai kebaikan yang dilaksanakan oleh Arjuna dan layak dijadikan contoh oleh manusia.

Sebenarnya semua kisah yang tertuang dalam karya sastra Jawa Kuno dapat ditelisik secara semiotika, sebagai contoh berikutnya adalah proses semiosis terhadap kisah Garudeya yang terdapat alam parwa I Mahabharata (Adiparwa).

Proses semiosis dimulai sejak tampilnya kata “fragmen relief Garudeya”, kata itu sebagai tanda (sign) yang mengacu pada keadaan fisik fragmen relief di suatu candi (tataran 1). Pada tataran 1 terdapat interpretant yang berupa konsep tentang keadaan fragmen relief cerita Garudeya di candi yang kongkrit, misalnya di candi Kidal. Interpretant tersebut dapat menjadi tanda ke-2 yang juga mempunyai acuan lain lagi, dalam hal ini adalah cerita Garudeya yang terdapat dalam uraian karya sastra Jawa Kuno Adi Parwa, jilid pertama Mahabharata (tataran 2).

Proses semiosis itu terus berlanjut hingga tataran 3 dan 4 (lihat figur IV), setiap tataran mempunyai acuan yang berbeda pula, dan dalam proses semiosis tentang fragmen relief cerita Garudeya tercipta bermacam tanda, yaitu simbol, ikon, indeks, dan simbol lagi. Pada akhirnya makna yang dapat ditafsirkan dari cerita Garudeya, baik berupa karya sastra atau pun dalam bentuk relief adalah:

  1. Berupayalah secara sungguh-sungguh untuk mencapai maksud baik tertentu. Hal ini diperlihatkan oleh para dewata dalam mengaduk Samudramanthana dalam mencari air amerta, juga diperlihatkan oleh Garuda yang berjuang dan bertempur dengan para dewa demi untuk “meminjam” kamandalu yang berisi air amerta sebagai syarat pembebasan ibunya.
  2. Upaya penebusan kutukan, dilakukan oleh Garuda untuk membebaskan kutukan dari Aruna (burung yang menetas prematur, kakak Garuda) terhadap ibunya sang Winata. Juga pembebasan perjanjian perbudakan Winata oleh Kadru, Winata kalah bertaruh dan ia disuruh Kadru untuk memelihara anak-anaknya, 1.000 ekor Naga.

Makna kebajikan apa saja yang terkandung dalam cerita Panji, kiranya dapat ditelusuri pula dengan proses semiosis. Sebagai bahan pembicaraan dalam kajian ini tidaklah dipilih satu kisah Panji dari bermacam varian itu (Poerbatjaraka 1968), melainkan gambaran umum saja dari kisah Panji. Bahwa ada seorang Putra Raja Kahuripan/Janggala yang telah ditentukan jodohnya oleh para dewa dengan Putri Raja Panjalu, lalu karena berbagai hal mereka harus mengembara terlebih dahulu, berkunjung dan menaklukkan berbagai kerajaan, dan pada akhirnya kedua sejoli itu dapat bertemu kembali sesuai takdir dewa-dewa.

Berdasarkan bagan proses semiosis pada figur V tersebut dapat diterangkan bahwa istilah “fragmen relief kisah Panji” mengacu pada keadaan fisik relief cerita Panji di suatu candi atau bangunan suci lainnya masa Jawa Kuno. Konsep fisik fragmen relief cerita Panji itu mengacu pada karya sastranya sebagai sumber cerita yang dijadikan patokan untuk penggambaran relief.

Konsep kisah sebagai dalam karya sastra sebenarnya mengacu pada tema penting tentang kesatrya Jawa Kuno yang patut diketahui oleh khalayak agar dapat diteladani, seperti setia pada tugasnya, lemah lembut, sakti, menghayati kesenian, memahami ajaran keagamaan, dan lainnya lagi.

Konsep-konsep ideal tentang sosok ksatrya itu mungkin mengacu pada perilaku yang diperlihatkan oleh tokoh sejarah tertentu, mungkin tokoh seorang putra mahkota --sebagaimana layaknya Raden Inu (Panji)— atau mungkin tokoh raja di masa silam. Mengenai hal yang terakhir ini, R.M.Ng. Poerbatjaraka pernah berpendapat bahwa kisah Panji itu digubah sekitar tahun tahun 1400 M, dalam masa kejayaan Majapahit atau segera setelah kejayaan itu berlalu (1968: 408-9). Hal yang nyata terlihat dalam cerita-cerita Panji adalah digambarkannya dunia keraton dengan suasana Jawa-Bali, jadi bukannya suasana keraton-keraton India yang tidak dikenal oleh para pengarangnya (Zoetmulder 1983: 534). Apabila demikian halnya, maka kisah Panji sebenarnya mengacu pada suatu kehidupan nyata dunia keraton Jawa kuno yang kemudian diuraikan dengan tuturan naratif yang luas dan terinci dengan segala perwatakan tokoh-tokohnya.

Apabila ditafsirkan lebih mendalam lagi bahwa konsep ksatrya ideal sebagaimana yang ditampilkan dalam diri tokoh Panji sangat sukar untuk dilaksanakan. Sebab segala nilai positif yang hadir dalam kisah-kisah Panji dapatlah dikembalikan pada sifat-sifat baik dari dewa-dewa tertentu dalam Hinduisme. Tokoh Panji yang sakti mampu mengalahkan musuh-musuhnya dan senang bermeditasi, identik dengan sifat Bhatara Guru (Siwa Mahadewa), sifat pelindung yang lemah mengalahkan kejahatan, dapat dikembalikan pada Wisnu, Panji yang memahami berbagai cabang kesenian, artinya bersifat seperti Saraswati (Dewi Kesenian), Panji yang mampu memimpin pasukannya dalam tiap peperangan, dapat dikembalikan pada Indra, ketampanan Panji yang telah memikat banyak putri bagaikan Dewa Kamajaya, dan masih banyak sifat-sifat positif yang dimiliki tokoh-tokoh cerita lainnya dan dapat dikembalikan pada sifat dewa-dewa. Dengan demikian Kisah Panji itu sebenarnya bermakna kisah tentang kebajikan-kebajikan para dewa yang mengejawantah pada tokoh Pangeran dari Kahuripan, yaitu Raden Inu Kertapati (Panji).

Proses semiosis tersebut dapat diterapkan pada karya-karya sastra Jawa Kuno lainnya, baik yang telah divisualisasikan dalam bentuk relief ataupun yang tidak ada bentuk penggambaran reliefnya. Pada dasarnya dapat ditafsirkan bahwa setiap karya sastra Jawa Kuno yang digubah sudah tentu mempunyai makna tersendiri dalam lingkungan masyarakat pendukungnya. Dengan demikian setiap karya sastra Jawa Kuno jangan lagi hanya dipandang sebagai karya yang bernilai keagamaan saja, apalagi jika ada pandangan yang menganggap hanya sebagai “karya seni bahasa” saja, karena dari beberapa contoh pembicaraan dengan proses semiosis karya sastra itu dapat ditafsirkan secara lebih dalam lagi maknanya.

Daftar Bacaan:

Bernet Kempers, A.J. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J.Van Der Peet.

Agus Aris Munandar, 1989. “Relief Masa Jawa Timur: Suatu Pengamatan Gaya”, dalam Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, Yogyakarta 4-7 Juli 1989. Buku IIA Kajian Arkeologi Indonesia. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Agus Aris Munandar, 1992/93. “Tentang Relief yang Menjadi Koleksi Museum”, dalam Museografia: Majalah Ilmu Permuseuman Jilid XXII, No.1. Direktorat Permuseuman, Dirjen Kebudayaan,  Depdikbud.

Agus Aris Munandar, 2003. Mengungkap Data, Menafsir Makna: Kajian Artefak Sebagai Tanda (sign), Makalah Ilmiah Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Depok.

Poerbatjaraka, 1968. Pandji dalam Perbandingan. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Zuber Usman. Djakarta: Gunung Agung.

Sri Soejatmi Satari, 1987. “Penerapan dan Pengaruh Karya Sastra Hindu pada Relief Candi” dalam 10 Tahun Kerjasama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Ecole Francaise d”Extreme – Orient (EFEO). Jakarta: Puslit Arkenas.

Edi Sedyawati, 2001. “Relief”, dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum. Edi Sedyawati dkk. (Penyunting). Jakarta: Pusat Bahasa & Balai Pustaka. Halaman 486-92.

James P. Spradley, 1972. “Foundation of Culture Knowledge”, dalam James P. Spradley (Penyunting), Culture and Cognition: Rules, Maps and Plans. San Francisco, Scranton, London, Toronto: Chandler Publishing Company.

P.J. Zoetmulder, 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Jambatan.

Sumber Artikel: Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 8, No. 2, Agustus 2004:54-60.

Sumber foto: http://www.borobudur.tv/jago.htm


Share

Comment Form


« Index