English Version | Bahasa Indonesia

Perwujudan Masyarakat Madani Didukung oleh Pematangan Budaya Lokal dan Praktek Keimanan yang Membumi

January 25, 2011 08:57


oleh Ratu Kencana Wangsa (Ratu Kerajaan Amantubillah Mempawah)

Berkat Rahmat Tuhan yang Maha Esa, kita dapat hadir di sini untuk mengusung niat luhur, mengkaji, mencari solusi dan menentukan pendekatan strategis bagi pencapaian kehidupan yang lebih baik di bumi Khatulistiwa, yaitu terwujudnya masyarakat Madani dalam bingkai multikultur.

Sebagai hamba Allah, seringkali kita merasa bahwa menjalani hari-hari dalam kehidupan ini adalah suatu kewajaran, kita menikmati kecukupan akan kebutuhan oksigen secara cuma-cuma, mendapatkan limpahan sinar matahari dan penerangan bulan tanpa harus bersusah payah, kita mempunyai keluarga yang harmonis, pekerjaan dan penghasilan yang memadai. Sampai kita terlena dalam kesenangan personal dan merasa puas dengan apa yang dicapai. Bahkan cenderung hanya disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan materi saja, mengarah kepada kehidupan yang hedonisme, dan lebih parah lagi bersikap acuh dari lingkungannya.

Seandainya saja kita luangkan waktu untuk merenung, apakah untuk ini Tuhan mengirim saya hidup di bumi yang penuh limpahan rahmat-Nya? Tentu bukan. Dengan menempatkan diri ini hanya sebagai budak pemenuhan kebutuhan lahiriah tanpa mengembangkan potensi rohaniah kita, tanpa disadari, sebetulnya kita sudah mengkerdilkan arti diri ini. Padahal Tuhan telah menurunkan wahyunya yang menunjuk manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Sebagai khalifah seyogyanya kita menyadari bahwa kita mengemban tugas menjadi pemimpin mahluk dan alam semesta. Dengan kata lain aktivitas kehidupan kita harus diproyeksikan bagi pemenuhan kepentingan duniawi sekaligus rohani.

Bayangkan, seandainya secara kolektif kita mengembangkan strategi pengakumulasian kehidupan sosial yang mengerucut pada unsur transendental maka akan tercipta kehidupan di dunia yang aman, tentram, adil, makmur, dan sejahtera. Namun sebaliknya, apabila kita hanya menempatkan jiwa dan akal pikiran sebagai kepanjangan dari mekanisme fisik, cita-cita mewujudkan perdamaian dunia, persahabatan semua manusia tanpa pandang suku, agama, keyakinan, dan kesejahteraan hanyalah sebuah mimpi.

Pada kesempatan ini saya sebagai wakil dari diri saya sendiri dan institusi kraton, yang mengemban fungsi sebagi simpul sosio-kultural, merasa terpanggil untuk ikut menyuarakan perlunya kontribusi kita semua untuk menciptakan perdamaian dunia. Apalagi dalam falsafah budaya Jawa, Kraton yang berasal dari Ke-Ratuan, Rat = jagad raya, mengemban tugas yang diungkapkan sebagai, “Hamamayu Hayuning Bawono”, yang berarti mempercantik buwana (bumi). Saya yakin mewujudkan buwana ini menjadi cantik adalah tugas dari khalifah, tugas kita semua. Dimulai dari pembangunan kesadaran diri sebagai bagian dari makrokosmos ini, sebagai khalifah, yang harus ikut serta menciptakan kehidupan yang cantik dalam bingkai transendental. Selanjutnya, secara kolektif akan menjadi signifikan apabila pendekatan yang sama dilakukan dalam lintas etnis, agama, wilayah, dan sektor. Seperti halnya, pertemuan kali ini yang dihadiri oleh peserta dari beragam latar belakang, semoga dapat menjadi momentum yang tepat sebagai acuan bagi kita melangkah ke depan, dengan jiwa dan semangat yang baru bagi perwujudan masyarakat madani di Kalimantan Barat.

Dewasa ini, tantangan kita untuk menciptakan kehidupan duniawi yang mengerucut pada tujuan transedensi bukanlah hal yang mudah, di mana era globalisasi telah hadir di depan kita. Di era global, terbukanya akses informasi seluas-luasnya, ditunjang dengan teknologi komunikasi dan transportasi yang semakin canggih, manusia seakan terseret dalam derasnya arus globalisasi. Seakan manusia terlena dalam iming-iming kepuasan hidup duniawi yang berlebihan, sikap hidup serba materi, hedonisme. Kita menjadi hidup di tengah ambivalensi nilai-nilai kemasyarakatan antara budaya lokal dan budaya logal yang kehadirannya mustahil untuk ditolak. Keadaan serba ketidak-pastian tersebut ditambah dengan tekanan ekonomi yang tinggi disikapi oleh berbagai kelompok masyarakat dengan reaksi yang beragam, mulai dari sikap apriori terhadap lingkungan (anti kemanusiaan), sikap oportunitistik, sampai dengan sikap yang kaku dan tidak berkompromi. Sikap yang terakhir tersebut memuncak menjadi pemicu terjadinya konflik dan kekerasan antargolongan, etnis, pemeluk agama, dan keyakinan di mana-mana. Seakan satu kelompok, etnis, dan pemeluk agama merasa pantas untuk meniadakan yang lain, saling bunuh. Malah membenarkan diri dengan mengatasnamakan Tuhan.

Ambivalensi nilai dan dibarengi dengan keringnya pendekatan rohani menyebabkan terhambatnya pencapaian sistem masyarakat madani yang dicita-citakan di manapun, termasuk di Kalimantan Barat. Secara umum, paling sedikit ada dua faktor utama penghambat perwujudan masyarakat madani, yaitu pemahaman budaya lokal sendiri yang belum matang dan praktek keagamaan yang belum dewasa (iman yang tidak membumi).

Pematangan budaya lokal menjadi penting di tengah ambivalensi nilai-nilai hidup. Kita dihadapkan pada keraguan menempatkan budaya sendiri dalam konteks budaya global. Intervensi budaya global yang berakibat pada pergeseran nilai-nilai masyarakat perlu menjadi perhatian serius. Disadari atau tidak pencairan teritori di era global ini juga diiringi dengan mencairnya nilai-nilai masyarakat. Di dalam situasi ini seakan tidak ada lagi lembaga, baik lembaga agama, sosial dan budaya, yang mampu menjadi benteng budaya yang handal. Kematangan budaya per etnis menentukan terciptanya kehidupan dalam corak multikulturalisme di nusantara. Seperti diungkapkan oleh seorang tokoh budaya, Muhammad Rustandi Kartakusumah dalam Dim (1995) bahwa syarat utama menjadi manusia Indonesia adalah masing-masing kita harus mampu menjadi suatu etnis tertentu seutuhnya lebih dahulu, jadi orang Sunda seutuhnya, jadi orang Jawa seutuhnya, jadi orang Batak seutuhnya dll. Maka pendekatan multikulturalisme dalam konteks kehidupan dan kemasyarakatan madani tidak dapat ditawar lagi, pendekatan multikulturalisme mutlak dibutuhkan.

Budaya apapun yang berkembang terkait suatu etnis adalah merupakan refleksi, konfigurasi nilai-nilai yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, yaitu sosial, budaya, agama dll yang berkembang. Nilai-nilai yang diaktualisasikan dalam perilaku tersebut terbentuk dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup yang berdimensi spiritual, selaras dengan agama dan kepercayaan yang dianut. Agama menjadi pilar utama pembentukan kebudayaan, hal tersebut wajar mengingat agama mengandung keluhuran nilai-nilai hidup dan pemaknaan hidup dan agama juga memberikan corak dan warna dalam praktek dan pemahaman ketuhanan.

Pemahaman budaya lokal seharusnya sudah cukup menjadi pedoman yang baik bagi perilaku sosial dan kemasyarakatan dengan cara menyampingkan adanya intervensi nilai-nilai budaya global. Namun belakangan ini, eskalasi konflik dan kekerasan yang terjadi di mana mana di Indonesia seakan membangunkan kesadaran kita bahwa ternyata terdapat ketidakberesan yang harus dibenahi. Ini seharusnya dipandang sebagai tanggung-jawab kita bersama sebagai warga negara Indonesia. Ironisnya, sekarang ini seakan budaya berkembang sekadar kiat menyiasati kehidupan, tidak lagi berdimensi spiritual. Fakta tersebut menunjukkan adanya celah lain yang harus dicermati, menurut hemat saya adalah lemahnya pemahaman keagamaan, sekaligus pemahaman iman yang membumi.

Selain pendekatan multikulturalisme maka pendekatan lain yang dianggap krusial dalam perwujudan masyarakat madani adalah pemahaman keagamaan yang dewasa, atau pembentukan iman yang membumi dalam bingkai multi-etnis. Kedua faktor tersebutlah merupakan pilar utama pembentukan masyarakat madani.

Di satu pihak, agama kini terlihat sebagai suatu retorika di masa sekarang ini, di mana konflik dan kekerasan terjadi dimana-mana, berbicara soal agama dan peran agama bagi perdamaian. Dewasa ini agama seolah terlihat mandul. Dalam ungkapan sinis, Hari gini ngomong soal Agama ? Sebagian kita merasa risih membicarakan peran agama bagi perdamaian dunia, karena fakta menunjukkan lain. Dewasa ini, kebenaran suatu ajaran harus dibuktikan lewat kiprahnya dalam kehidupan sosial, kemanusiaan, bukan hanya sekadar pernyataan teologis. Keyakinan bahwa kehidupan diciptakan oleh Tuhan sebagai aktualisasi dari fenomena duniawi dalam bingkai transendensi tidak dapat ditawar lagi. Maka di zaman ini, sudah waktunya bagi agama mengadakan evaluasi dan redefinisi beberapa bagian dalam praktek keagamaannya, agama dituntut mampu membuktikan perwujudannya yang membumi.

Secara umum kegagalan agama dewasa ini dalam berkontribusi menciptakan perdamaian, kemakmuran dan keadilan adalah, Praktek keagamaan seolah dipresentasikan sebagai praktek ritus-ritus peribadatan, praktek dan penghayatan agama seakah hanya dalam dimensi lahiriah saja, definisi keimanan yang tidak membumi, praktek keagamaan yang jauh dari konteks sosial dan kemasyarakatan, arogansi akan agama, ajaran yang dianut (sikap eksklusivisme yang berlebihan). Akibat dari kiprah agama yang jauh dari kiprah sosial-kemasyarakatan, ketidakmampuannya berperan dalam menciptakan perdamaian mengakibatkan munculnya suatu kesan bahwa dewasa ini, agama hanyalah sebuah retorika yang mengelabui, sebagai konsekuensi, munculnya ateisme yang humanis.

Pada kenyataannya praktek keagamaan seolah diproyeksikan untuk kepentingan Tuhan, lebih banyak praktek ritual, padahal seharusnya kehadiran agama bukan untuk Tuhan melainkan sebagai pedoman bagi manusia untuk menjalankan kehidupan-kemasyarakatan yang dirahmati oleh Tuhan Yang Maha Esa. Justru agama seharusnya sebagai ajaran bagi manusia untuk menjemput limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Seharusnya, belakangan ini tendensi meningkatnya bencana alam, musibah penyakit, kecelakaan transportasi, kekacauan dapat dicurigai sebagai pertanda dicabutnya rahmat Allah SWT dari bumi ini. Dari sudut pandang budaya Jawa, manusia adalah bagian dari makrokosmos, tingkah laku negatif manusia memberikan konsekwensi berguncangnya alam semesta ini. Dari pandangan holistik, manusia dan alam sekitarnya merupakan satu kesatuan. Di sini terlihat jelas baik dari sudut agama ataupun budaya limpahan rahmat dan hidayah Allah SWT harus dijemput, antara lain dengan berperilaku bijak dalam konteks transendental. Seperti diuraikan di Al Qur’an, “Tidak akan aku ubah nasib suatu kaum apabila kaum itu sendiri tidak berkeinginan untuk mengubahnya”. Semoga dengan timbulnya kesadaran di dalam diri kita masing-masing sebagai anggota masyarakat di Indonesia untuk menciptakan sistem kehidupan kemasyarakatan yang baik, Allah akan meridhoinya dan akan dibukakannya pintu rahmat dan hidayahNya.

Berbagai indikasi praktek keagamaan kita tidak mendukung terbentuknya kehidupan damai, persahabatan dalam keragaman etnis ataupun agama. Seperti halnya, banyak pemeluk agama mengedepankan arogansi keyakinan akan kebenaran agamanya tanpa mempedulikan seberapa jauh rasa solidaritasnya dibangun. Sepertinya, fanatisme dan keyakinan akan ajaran agama lebih dikedepankan daripada semangat untuk mengusung aktualisasi nilai-nilai luhur sebagai perwujudan keimanan. Seyogyanya, semua agama tentu mengajarkan nilai-nilai luhur sebagai pedoman hidup. Akhirnya budaya religius bukan diaktualisasikan sebagai kesadaran untuk menciptakan perdamaian dunia dan kemakmuran, melainkan eskalasi konflik dan kekerasan.

Lebih parah lagi, akibat dari praktek keagamaan yang terlepas dari konteks sosial dan kemanusiaan (mengedepankan ritual) muncul suatu sikap di mana praktek korupsi, manipulasi, penghilangan hak-hak orang lain, penindasan, individualistik, sikap acuh terhadap penderitaan sesama menjadi sikap yang lumrah. Praktek sekularisme yang sudah sedemikian jauh dalam kehidupan kemasyarakatan dan pemerintahan menyebabkan semakin minimnya peran agama dalam membangun umat yang saleh. Konsekuensinya, semakin jauh mimpi menggapai perwujudan masyarakat madani.

Sikap acuh terhadap penderitaan sesama, bukan hanya terjadi antar pemeluk agama bahkan atas sesama pemeluk sekalipun. Seyogyanya salah satu ekspresi kesalehan (terlepas dari agama apapun) yang utama bagi perwujudan masyarakat madani adalah sikap solidaritas. Penciptaan perdamaian dunia dan keadilan tidak akan terwujud dengan bermimpi hanya menghendaki yang eksis di bumi ini satu agama atau satu etnis saja. Justru Allah SWT menciptakan bumi ini dengan keragamannya. Apabila Tuhan mau bukan hal yang sulit membuat bumi ini hanya dihuni oleh satu etnis atau satu agama saja. Maka kita sebagai mahluknya yang diberikan kebebasan untuk memilih, mengapa harus sibuk membuat bumi ini dihuni oleh satu pemeluk saja, sementara Allah SWT yang mempunyai otoritas itu tidak melakukannya. Mari kita tarik hikmah keragaman yang Tuhan limpahkan untuk menempati bumi ini, dengan memposisikan keyakinan akan kebenaran ajaran masing-masing paripurna. Seperti dilukiskan oleh Sudiarja (2006) kehidupan bersama antar pemeluk agama dalam rangka mempercantik kehidupan dunia adalah seperti supir-supir yang berada dalam arus lalu lintas. Biarkan kehadiran ajaran-ajaran agama yang berbeda sebagai lintasan-lintasan dari dan ke arah yang berbeda, namun menjadi kewajiban setiap supir bagaimana mencermati agar tidak terjadi kecelakaan lalu lintas. Jelas terlintas, tiap supir tidak diwajibkan menganut buku induk petunjuk bagaimana mengemudi yang sama, namun etika mengemudi merupakan aturan yang harus dipahami bersama.

Solidaritas meringankan penderitaan sesama, peduli terhadap mereka yang tertindas harus dapat dilakukan walau dalam konteks lintas suku, wilayah, maupun agama. Dewasa ini berkembang suatu kenyataan, apabila satu penganut agama tertentu memberikan bantuan kepada mereka dari agama yang berbeda selalu dicurigai sebagai suatu strategi penyebaran agama, Kristenisasi, Islamisasi, Budhanisasi atau Hindunisasi.

Menurut hemat saya, agar agama apapun tetap eksis berperan dalam menciptakan masyarakat madani, maka dari sekarang praktek keagamaan, definisi keimanan dan kesalehan harus di transformasikan dan diproyeksikan dalam konteks pencapaian perdamaian dunia dan kesejahteraan. Universalitas nilai-nilai luhur, baik yang bersumber dari ajaran-ajaran agama besar ataupun dari budaya, seharusnya mampu menjadi pedoman bagi kita dalam menciptakan masyarakat madani.

Agar praktek keagamaan lebih membumi maka salah satu strategi yang perlu dibuat adalah menggunakan budaya sebagai salah satu pendekatan. Hal tersebut sejalan dengan Dakwah Kultural yang diusulkan Muhammadiyah. Pendekatan sosial, budaya adalah juga metode pendekatan yang digunakan di zaman nabi dan rasul. Lebih lanjut pendekatan dakwah multikultural dapat didefinisikan dengan lebih konkret.


Read : 1753 time(s)
« Kingdom home

Share

Comment Form