English Version | Bahasa Indonesia

Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta

May 07, 2011 14:27


Oleh Yoyok Dwi Saputra

Asal-usul diselenggarakannya upacara Sekaten adalah sejak masa Kesultanan Demak sebagai pusat agama Islam oleh Raden Patah dan Wali Songo. Penyebaran Islam dilakukan dengan mengakulturasikan budaya setempat dengan ajaran Islam. Untuk itu, dibuatlah suatu momentum yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad, yaitu dakwah dengan menggunakan media gamelan. Masyarakat pun tertarik, dan mereka yang datang ke masjid diberikan dakwah serta disyahadatkan. Syahadatan sebagai ikrar pengakuan diri terhadap Ke-Esaan Allah mendapat respon positif, dan lama-lama dikenal dengan Sekaten.

Prosesi dalam Upacara Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore, yaitu ditandai dengan dibunyikan gamelan Sekaten di Masjid Agung untuk yang pertamakali. Selama satu minggu, halaman Masjid Agung dipenuhi dengan keramaian, baik para pedagang yang menjual dagangan khas, maupun masyarakat yang ingin mendengarkan alunan gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari yang diletakkan di Pendopo Utara dan Selatan Masjid Agung.

Pada puncak acara, tanggal 12 Rabiul Awal, dikeluarkanlah gunungan dari keraton. Masyarakat dari berbagai daerah datang untuk mengikuti acara tersebut, termasuk tradisi rayahan yang dipercaya oleh masyarakat akan mendatangkan berkah dan rejeki. Simbol yang terkandung dalam upacara Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta terdapat dalam gunungan yang dikeluarkan oleh keraton. Gunungan tersebut sebagai wujud rasa syukur raja kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah dan rahmat yang diberikan.

Pendahuluan

Cerita yang melatarbelakangi upacara Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dalam jangka waktu yang relatif lama tentu akan mengalami perubahan, penambahan, dan pengurangan. Begitu pula dengan bentuk permukaan luar pelaksanaan upacara akan mengalami perubahan dan pergeseran dengan tetap menjaga nilai, tujuan, maupun kesakralannya. Salah satu penyebabnya adalah penyebaran cerita yang dilakukan secara lisan, dituturkan dari satu orang ke orang yang lain, turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Padahal manusia mempunyai daya ingat dan kemampuan yang terbatas. Untuk itu, pendokumentasian terhadap cerita rakyat yang mencakup latar belakang dan sejarah perkembangan Upacara Tradisi Sekaten perlu dilakukan agar tidak hilang dan mengalami kepudaran.

Cerita rakyat diadakannya perayaan Sekaten di Surakarta merupakan cerita rakyat milik bersama atau umum bagi para pendukung cerita tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya antusias masyarakat yang masih merayakan dengan khidmad selama satu minggu dalam mengikuti Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adanya kekayaan sastra tersebut dapat dipergunakan sebagai modal apresiasi sastra, sebab sastra lisan dapat membimbing masyarakat ke arah pemahaman, gagasan, dan peristiwa berdasarkan praktik yang telah menjadi tradisi selama berabad-abad. Upacara tradisi merupakan bagian dari adat istiadat yang merupakan salah satu upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keharmonisan dengan alam, dunia roh, dan sesamanya. Sebagai perwujudan dari itu, Keraton Kasunanan Surakarta sekarang ini masih memiliki beranekaragam hasil kebudayaan. Hal tersebut masih tercermin dengan dilakukannya beberapa upacara tradisional, yang salah satunya adalah sekaten.

Pada zaman dahulu, orang Jawa menyukai gamelan, Maka, pada saat hari raya Islam, di dalam masjid diadakan penabuhan gamelan agar orang-orang tertarik. Ketika masyarakat berkumpul, lalu diberi pelajaran tentang agama Islam. Untuk itu, para wali menciptakan seperangkat gamelan yang dinamai Kyai Sekati. Usul dari Sunan Kalijaga tersebut disepakati oleh wali lainnya yaitu pada hari lahir Nabi Muhammad SAW dalam masjid dipukul gamelan. Ternyata banyak orang datang ke masjid untuk mendengarkan gamelan Sekaten (Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) yang dibunyikan mulai pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore di Pendopo Masjid Agung. Pada puncak acaranya, tanggal 12 Rabiul Awal, diadakan Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan (kakung dan putri) yang bermakna keselamatan dan pembawa berkah.

Upacara Sekaten sebagai aset budaya daerah yang sampai sekarang masih diperingati oleh sebagian besar masyarakat Surakarta, mempunyai cerita rakyat yang melatarbelakangi penyelenggaraannya. Cerita rakyat yang terkandung dalam Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta terbentuk dari unsur-unsur intrinsik yang mengandung nilai budaya dan dibangun oleh konteks masyarakat pendukungnya. Cerita rakyat tersebut perlu adanya penyebarluasan serta pendokumentasian agar kemurnian cerita aslinya tidak punah.

Prosesi Upacara Tradisi Sekaten

Upacara Tradisi Sekaten merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang masih dilestarikan dan dipertahankan hingga sekarang. Upacara ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kelurahan Baluwarti pada khususnya dan masyarakat Surakarta pada umumnya. Pelaksanaan upacara ini hingga sekarang masih tetap dilaksanakan setiap tahunnya. Upacara Tradisi Sekaten merupakan suatu peristiwa tradisional yang sangat populer serta senantiasa menarik perhatian puluhan ribu pengunjung, tidak saja datang dari daerah sekitar Keraton Kasunanan Surakarta akan tetapi juga dari tempat-tempat yang jauh seperti Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, dan Klaten.Adapun waktu pelaksanaannya bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 5 sampai dengan 12 Rabiul Awal. Atau dalam perhitungan Jawa jatuh pada tanggal 5 sampai dengan 12 Mulud.

Perayaan sekaten dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal dan berakhir dengan Garebeg Mulud tanggal 12 Rabiul Awal yang ditandai dengan keluarnya gunungan. Gunungan berasal dari kata gunung, terdiri dari berbagai jenis makanan dan sayuran yang diatur bersusun meninggi menyerupai gunung. Pada hari pertama, tanggal 5 Rabiul Awal, diawali dengan dikeluarkannya dua buah gamelan yang merupakan peninggalan jaman Demak dari dalam keraton. Dua buah gamelan itu dibawa dari dalam keraton lewat alun-alun kemudian dibawa ke Masjid Agung. Sebelum dikeluarkan dari keraton diadakan selamatan dengan diberi doa terlebih dahulu dan diberi sesajen. Setelah diadakan serah terima dari utusan keraton kepada penghulu masjid, gamelan ditempatkan di Bangsal Pradonggo di selatan dan utara halaman muka Masjid Agung Surakarta. Gamelan mulai dibunyikan ketika sudah ada utusan dari keraton yang memerintahkan untuk membunyikan gamelan, yaitu pada pukul empat sore. Dua buah gamelan tersebut bernama Kyai Guntur Madu, yaitu berada di sebelah selatan yang melambangkan syahadat tauhid. Kyai Guntur Madu merupakan peninggalan Pakubuwana IV, yaitu tahun 1718 Saka yang ditandai dengan sengkalan Naga Raja Nitih Tunggal. Gamelan yang lainnya bernama Kyai Guntur Sari, berada di sebelah utara dan melambangkan syahadat Rosul. Kyai Guntur Sari merupakan peninggalan Sultan Agung Hanyokusumo pada tahun 1566 Saka. Selama perayaan sekaten selama satu minggu, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ditabuh secara bergantian.

Sebagai awal perayaan sekaten, yang lebih dulu ditabuh adalah Kyai Guntur Madu dengan memperdengarkan gending Rambu. Rambu berasal dari bahasa Arab Robbuna yang berarti “Allah Tuhanku”. Rambu mengisyaratkan gending yang ditabuh khusus untuk penghormatan kepada Tuhan. Sedangkan Kyai Guntur Sari memperdengarkan gending Rangkung yang berasal dari bahasa Arab Roukhun yang berarti “jiwa besar” atau “jiwa yang agung”. Kemudian, dua buah gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian tiap harinya selama perayaan sekaten. Gamelan tersebut tiap pagi mulai dibunyikan pada pukul sembilan, waktu Ashar dan Dzuhur berhenti, kemudian mulai lagi dan berhenti lagi waktu Maghrib dan Isya. Setelah Isya dibunyikan lagi sampai pukul 12 malam. Bila perayaan sekaten jatuh pada hari Jumat, gamelan tidak dibunyikan mulai Maghrib sampai siang, karena hari Jumat merupakan hari mulia bagi orang Islam. Gamelan tersebut berhenti pada waktu-waktu sholat karena memberikan kesempatan kepada penabuh gamelan itu sendiri maupun bagi masyarakat yang mendengarkannya untuk menjalankan kewajiban sholat. Sehingga fungsi perayaan sekaten sebagai syiar Islam tetap terpelihara.

Setelah perayaan Sekaten berlangsung selama 7 hari, maka tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu hari lahir Nabi Muhammad SAW, diadakan upacara Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Gunungan dibuat beberapa hari sebelum perayaan Garebeg Mulud oleh abdi dalem khusus yang ditunjuk oleh Sinuhun. Gunungan tersebut dikeluarkan dari keraton menuju Masjid Agung. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan pada waktu perayaan sekaten, yaitu gunungan kakung dan gunungan putri.

Gunungan Kakung

Gunungan kakung berbentuk kerucut dan bagian puncaknya disebut mustaka atau kepala yang ditancapkan kue yang terbuat dari tepung beras dan dipasang melingkar rapat satu rangkaian telur asin. Di seluruh tubuh dari gunungan kakung tersebut dipasang ratusan helai kacang panjang secara melingkar rapat yang pucuknya diberi kue-kue kecil, seperti cincin. Selain dipasangi ratusan helai kacang panjang di tubuh gunungan kakung itu juga diberi sejumlah besar rangkaian lombok abang atau cabe merah yang besar-besar. Pada tubuh gunungan kakung diikat melingkar menjadi beberapa bagian sehingga menjadi bertahap-tahap. Gunungan kakung tersebut diletakkan di atas kotak yang bernama jodhang beserta lauk pauknya dan diberi alas kain berwarna merah putih. Untuk gunungan kakung alas kain yang berwarna merah di atas dan putih di bawah.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam gunungan kakung adalah:

·          Bendera merah putih yang berjumlah lima buah sebagai lambang dari sebuah negara atau kerajaan.

·          Cakra sebagai puncak dan pangkat berdirinya gunungan. Cakra adalah pusaka milik Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat untuk menegakkan keutamaan.

·          Wapen merupakan simbol yang digunakan sebagai lambang. Wapen dalam gunungan yang dimaksud adalah petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja Surakarta yang bertahta.

·          Kampuh, kain yang berwarna merah putih yang menutupi jodhang atau tempat makanan.

·          Entho-entho yaitu makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng.

·          Telur asin.

·          Bermacam-macam jenis nasi.

·          Bahan-bahan perlengkapan lainnya terdiri dari tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, timun, kacang panjang, dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati oleh manusia. Juga dami (batang padi), jodang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir jene.

Bentuk gunungan kakung dihubungkan dengan lingga atau alat vital laki-laki yang mengacu pada nilai-nilai kehidupan yang menggambarkan adanya proses penciptaan manusia atau dihubungkan dengan asal-usul manusia. Di samping itu, gunungan kakung juga menggambarkan tentang dunia dan isinya yang mencakup berbagai unsur di dalamnya seperti bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, api, hewan, dan manusia itu sendiri dengan berbagai jenis dan sifat-sifatnya

Gunungan Putri

Gunungan putri berbentuk mirip dengan payung terbuka yang bagian puncaknya (mustaka) dilapisi kue besar bertumpuk lempengan berwarna hitam dengan sekelilingnya ditancapi sejumlah kue berbentuk daun. Sedangkan di bagian batang tubuhnya ditutupi sejumlah kue ketan yang berbentuk bintang dan lingkaran yang dinamakan rengginan, di tengahnya diberi kue kecil-kecil serta di sekelilingnya diberi kue dan hiasan yang bermacam-macam bentuk. Sehingga gunungan putri nampak seperti “bunga raksasa”. Di samping berbagai bentuk kue tersebut, gunungan putri juga diberi kue yang berbentuk lingkaran-lingkaran besar terbuat dari ketan yang disebut wajik. Gunungan putri diletakkan di atas kotak atau jodang, dengan diberi kain yang berwarna putih di atas dan merah di bawah.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam gunungan putri adalah:

·          Bendera merah putih yang berjumlah lima buah, melambangkan sebuah negara atau kerajaan.

·          Eter yang terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut).

·          Kampuh penutup jodang yang terbuat dari kain mori atau lawe yang bermakna sebagai pakaian jasmani dan rohani manusia (kesusilaan dan sandang).

·          Bunga sebagai pengharum.

·          Rengginan terbuat dari beras ketan yang besar.

·          Jajan yang terdiri dari jadah, wajik, dan jenang, sebagai isi dari jodang.

·          Pelengkap dari gunungan putri antara lain: (1) Bahan yang berupa makanan, yaitu kacu, terbuat dari ketan yang dibentuk bulatan kecil dan diberi warna berjumlah kurang lebih 50 buah. (2) Bahan yang berupa alat, yaitu giwangan bima berjumlah 8 biji, samir jene 4 biji, sujen, daun pisang, tali, dan jodang.

Gunungan putri berjalan di belakang gunungan kakung dan gunungan anakan. Jumlah gunungan putri sama dengan jumlah gunungan kakung yaitu 12 buah. Di samping gunungan kakung dan gunungan putri ada pula gunungan kecil-kecil sebagai pelengkap, yaitu:

Gunungan Anakan (Saradan)

Gunungan ini selalu di antara gunungan kakung dan gunungan putri. Adapun bahan yang digunakan dalam gunungan anakan adalah sebagai berikut:

·          Uang logam, banyaknya sesuai dengan Sri Susuhunan Pakubuwono yang ke berapa, misalnya yang bertahta Sri Susuhunan Pakubuwono XII, jumlah uang logam juga dua belas.

·          Rengginan kecil yang berwarna merah, hitam, putih, dan jene sebanyak untuk gunungan kakung yaitu empat biji dan untuk putri sebanyak 8 biji.

·          Bunga sebagai hiasan dalam gunungan.

·          Tuntut atau eter kecil.

Ancak Cantaka

Ancak Cantaka merupakan wujud dari selamatan kecil yang berupa tumpengan atau gunung kecil yang jumlahnya tidak ditentukan, tetapi biasanya 24 buah. Dimaksudkan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang dikeluarkan oleh raja karena mereka ada dalam lindungannya. Adapun bahan-bahan yang digunakan :

·          Perlengkapan nasi yang merupakan lambang dari kemakmuran kehidupan rakyat, jenisnya ada tiga yaitu:

a.      Sega uduk atau nasi gurih, dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja.

b.      Sega janganan (nasi sayuran) dengan perlengkapan sayuran, telur masak, buah-buahan, jajan pasar, dan jenang.

c.       Sega asahan (nasi asahan) dengan perlengkapan sambal goreng, tahu dan tempe goreng, serundeng, dan jeroan ayam.

·          Buah-buahan atau jajan pasar, yaitu sejenis buah-buahan yang dijual di pasar.

Adapun pada Upacara Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ada 24 macam gunungan yang dibuat, yang terdiri dari 12 buah gunungan kakung (laki-laki) dan 12 buah gunungan putri. Di sela-sela itu terdapat anak-anakan atau saradan dan 24 buah ancak cantaka. Namun dalam pelaksanaan Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta tidak harus sebanyak 24 buah. Hal itu terjadi karena keraton tidak mempunyai daerah kekuasaan lagi. Ketika keraton masih memiliki daerah kekuasaan, pada saat Garebeg Mulud membuat gunungan sebanyak 24 karena gunungan tersebut dibagikan pada daerah-daerah kekusaan tersebut. Sekarang karena daerah kekuasaannya telah hilang, keraton hanya membuat gunungan yang utama, yaitu sepasang gunungan, gunungan laki-laki dan perempuan. Sepasang gunungan itu merupakan suatu bentuk selamatan yang dilaksanakan oleh pihak keraton agar terhindar dari segala macam bahaya. Pelaksanaan selamatan gunungan yang merupakan perwujudan rasa syukur raja terhadap Allah SWT atas semua anugerah yang telah dilimpahkan selama beliau memerintah. Maka dalam mensyukuri nikmat raja tersebut raja mengeluarkan sebagian kekayaannya untuk rakyat. Namun dalam pelaksanaan terlebih dahulu dibacakan doa dengan harapan Allah memberi berkah atas sedekah yang dikeluarkan, sehingga selamat raja, negara, dan rakyatnya.

Doa yang dipanjatkan kepada Allah sebelum gunungan itu diperebutkan oleh masyarakat, dipimpin oleh penghulu keraton di dalam masjid. Adapun doa yang dipanjatkan dalam upacara pada gunungan itu intinya untuk memohon keselamatan pada diri Sinuhun, istri, dan para putranya, pejabat, serta rakyat semuanya, sehingga dapat menjalani hidup dengan aman, tenteram, nyaman, sejahtera, dan bahagia di dalam perlindungan negara yang adil dan makmur.

Pada perayaan sekaten Sinuhun berkenan datang ke Masjid Agung untuk ikut berdoa bersama atas gunungan tersebut sebagai rasa syukur Sinuhun kepada Allah SWT. Setelah diberi doa oleh penghulu keraton dan juga disaksikan oleh Sinuhun, gunungan tersebut dibagikan kepada semua yang hadir, tidak ketinggalan dikirimkan kepada Sinuhun, para sentana dalem, dan para punggawa kerajaan. Kemudian gunungan tersebut dibawa keluar dari Masjid Agung untuk diberikan kepada rakyat. Karena banyak rakyat yang ingin mendapatkan gunungan itu, maka mereka memperebutkan gunungan itu dengan dirayah. Hal itu terjadi karena telah menjadi kepercayaan masyarakat bahwa isi gunungan tersebut dapat mendatangkan berkah bagi siapa yang memperolehnya. Masyarakat yang datang berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar Surakarta, seperti Klaten, Sukoharjo, Tawangmangu, Kartosuro, dan kebanyakan adalah orang tua bahkan lanjut usia. Dituturkan oleh Bapak Bejo selaku abdi dalem Keraton, bahwa masyarakat yang ikut meramaikan sekaten adalah orang tua atau sepuh dari berbagai daerah yang datang untuk rayahan gunungan sekaten. Antusias yang masih begitu besar itu menandakan bahwa

Penutup

Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta masih banyak masyarakat pendukungnya. Untuk meramaikannya, satu bulan sebelum perayaan sekaten disambut dengan keramaian berbagai sektor dagang yang dipusatkan di halaman Masjid Agung Surakarta. Masyarakat dari berbagai daerah memanfaatkan pula momentum sekaten untuk berjualan yang merupakan ladang hangat dalam sektor ekonomi.

Upacara Tradisi Sekaten yang monumental dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW oleh Keraton Kasunanan Surakarta digunakan sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Allah SWT , sehingga Allah akan selalu memberikan perlindungan. Dengan selalu mensyukuri karunia Allah diharapkan agar anggota komunitas keraton ingat akan kebesaran-Nya, sehingga akan terhindar dari bahaya dan musibah. Upacara sekaten merupakan bentuk sinkretisasi pra-Hindu, Hindu dan Islam, yang hingga sekarang masih bisa kita saksikan setiap tahun pada bulan Mulud atau Rabiul Awal.

 

Referensi:

·          Irsyad Afrianto, “Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan”, dalam http://wwwirsyadafrianto.blogspot.com/2011/03/tradisi-sekaten-di-keraton-kasunanan.html

·          Supriyanto, 2011. Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Surakarta: Budaya Daerah.

·          “Tradisi Kirab Pusaka dan Berkah Kyai Slamet pada Malam Satu Suro”, dalam http://zasmiarel.wordpress.com/2009/12/22/tradisi-kirab-pusaka-dan-berkah-kyai-slamet-pada-malam-satu-suro/

 

Yoyok Dwi Saputra, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo, Ungaran, Jawa Tengah.

 

Foto:

http://foto.detik.com/readfoto/2010/02/27/115350/1307568/464/1/tradisi-grebeg-maulud-keraton-surakarta


Read : 1327 time(s)
« Kingdom home

Share

Comment Form