English Version | Bahasa Indonesia

Makam Sultan Bolkiah

Makam Sultan Bolkiah
Makam Sultan Bolkiah

Riwayat Sultan Bolkiah

Sultan Bolkiah adalah Sultan Brunei Darussalam ke-5 yang memerintah antara tahun 1485-1524 Masehi. Dalam Brunei in Boxer Code, Sultan Bolkiah dikenal dengan nama Sultan Abdul Salam Bolkiah atau biasa disebut Sultan Salam. Sedangkan dalam Hikayat Hang Tuah, Sultan Bolkiah disebut dengan nama Adipati Sulok.

Pangeran Muda Bolkiah naik tahta pada 1485 M dan bergelar Sultan Bolkiah. Beliau dikenal sebagai seorang sultan yang gagah perkasa karena di bawah pemerintahannya, Kesultanan Brunei Darussalam berhasil mengembangkan wilayah kekuasaan. Sultan Bolkiah dikenal sebagai sosok yang adil dalam memerintah, sehingga beberapa daerah yang dikunjunginya merasa terlindungi dan tunduk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Brunei.

Pemerintahan Sultan Bolkiah disebut sebagai masa keemasan Kesultanan Brunei Darussalam. Tolok ukur penyebutan tersebut adalah luasnya wilayah kekuasaan Kesultanan Brunei Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Bolkiah. Kala itu, daerah kekuasaan Kesultanan Brunei Darussalam tidak hanya mencakup wilayah Negara Brunei Darussalam sekarang, namun juga terdiri dari beberapa daerah lain, seperti: Sambas, Tanjungpura, Kotawaringin, Banjarmasin, Pasir, Kutai, Bulungan, Suluk (Sulu), Palawan, hingga Saludang (Luzon).

Sultan Bolkiah dikenal juga dengan nama Anakhuda Ragam atau Nahkoda Ragam. Sebutan ini merujuk pada kebiasaan Sultan Bolkiah yang sering bepergian ke luar negeri dengan menggunakan “ajung” (jung atau kapal). Dalam setiap kepergian, beliau selalu diiringi oleh musik Nobat dan Gendang Kebesaran Diraja. Sebagaimana disebutkan dalam Salasilah Raja-raja Brunei bahwa:

“… Sultan Bolkiah ialah juga dinamakan orang tua-tua, ‘Nakhoda Ragam’ … ialah berperang dengan bangsa Suluk, dan ialah mengalahkan Negeri Suluk dan Saludang, nama Rajanya Datu Gamban. … ialah beristeri akan Puteri Lela Menchanai.”

Suluk merujuk pada Kesultanan Sulu, sedangkan Saludang adalah nama Pulau Luzon. Kedua daerah ini kini termasuk ke dalam wilayah negara Filipina. Disebutkan bahwa Sultan Bolkiah menikah dengan Puteri Lela Menchanai, seorang puteri dari Kerajaan Suluk. 

Pada tanggal 9 Ramadhan 930 H atau bertepatan dengan tanggal 11 Juli 1524, Sultan Bolkiah mangkat dalam perjalanan kembali ke Brunei dari luar negeri. Pengiran Anak Cucu Besar Saiful Rijal naik tahta dan bergelar Sultan Abdul Kahar. Dalam Boxer Codex, Sultan Abdul Kahar disebut Sultan Ari Lula atau Sultan Adilullah, sedangkan Antonio Pigafeta dalam laporannya pada tahun 1521 menyebut Sultan Abdul Kahar dengan nama Raja Siripada.  

Sultan Bolkiah dimakamkan di pekuburan Islam di Kota Batu, Bandar Seri Begawan. Makam Sultan Bolkiah berada tidak jauh dari Museum Brunei dan Makam Sultan Brunei Darussalam ke-3, Sultan Sharif Ali (1425-1432 M).

Deskripsi Makam Sultan Bolkiah

Makam Sultan Bolkiah dibangun oleh Sultan Brunei Darussalam ke-6, Sultan Abdul Kahar (1524-1530 M). Makam ini dibuat dari batu yang mengesankan sifat beliau semasa hidup, yaitu tegar, kokoh, dan gagah perkasa. Bahkan terkesan pula bahwa makam ini dibuat laksana makam seorang penakluk atau penguasa agung sebagaimana terdapat pada makam Sultan Iskandar Muda dari Aceh

Selain kesan-kesan tersebut, Makam Sultan Bolkiah juga dihiasi dengan ukir-ukiran yang sangat indah dan halus. Ukiran-ukiran tersebut mencirikan seni ukir Melayu dan Cina. Selain itu, di makam ini juga diukir nukilan dari ayat suci Al Qur’an. Para pengukir makam khusus didatangkan dari Jawa.

Serupa dengan makam Sultan Sharif Ali, sebelum memasuki Makam Sultan Bolkiah juga terdapat sebuah gazebo. Di tempat ini terdapat keterangan seputar Sultan Bolkiah. Memasuki kompleks makam Sultan Bolkiah terdapat pula makam-makam lain yang berada di luar kompleks utama tempat makam Sultan Bolkiah kokoh berdiri.

Di dalam bagian utama kompleks makam ini terdapat makam Sultan Bolkiah. Makam Sultan Bolkiah dipayungi dengan bangunan laksana rumah yang bentuknya menyerupai masjid karena memiliki kubah. Arsitektur Arab sangat kental terlihat pada bangunan makam ini.

Di dalam bangunan ini bersemayam jasad Sultan Bolkiah. Terdapat dua batu nisan di makam Sultan Bolkiah, satu batu nisan diletakkan di bagian kepala dan satu buah lagi di bagian kaki. Batu berukir ini memuat angka kemangkatan Sultan Bolkiah, yaitu 9 Ramadhan 930 H atau 11 Juli 1524 M.  

Selain makam Sultan Bolkiah, pada bangunan utama kompleks pemakaman ini juga terdapat makam Puteri Lela Menchanai yang merupakan permaisuri Sultan Bolkiah. Nisan makam Puteri Lela Menchanai hanya terdapat satu buah, sehingga jika dijumlah maka terdapat tiga batu nisan yang ada di dalam bangunan utama ini. Berdasarkan jumlah tersebut, maka makam Sultan Bolkiah ini juga dikenal dengan sebutan “Makam Selarong Bernisan Tiga”.

Proses renovasi pernah dialami makan ini pada 10 Juli 1968. Hal tersebut dilakukan demi menjaga kelestarian peninggalan sejarah makam Sultan Bolkiah yang pernah membawa Kesultanan Brunei Darussalam pada masa keemasan dengan luasnya daerah kekuasaan.    

Sumber Foto: http://melayuonline.com

Dibaca : 9044 kali
« Kembali ke Makam

Share

Form Komentar

JM 07 Februari 2012 14:21

Hi, I would like to have an Information of Sultan Nakhoda Ragam about his Residential Palace here in Brunei. Any information about it before and where it is now? Hope to hear from you soonest. Please. Thank you. JM