English Version | Bahasa Indonesia

Tentang Sultan Brunei Darussalam

(Sumber: Awang Haji Abdul Karim bin Haji Abdul Rahman et.al. (eds.), 1992. <br>Daulat. Bandar Seri Begawan: Jabatan Pusat Sejarah, <br>Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan)
(Sumber: Awang Haji Abdul Karim bin Haji Abdul Rahman et.al. (eds.), 1992.
Daulat. Bandar Seri Begawan: Jabatan Pusat Sejarah,
Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan)

Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah

Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah (Sultan Haji Hassanal Bolkiah) merupakan Sultan Brunei ke-29 yang tercatat dalam Salasilah Raja-raja Brunei. Beliau adalah putera sulung dari pasangan Sultan Omar ‘Ali Safiuddien Sa’adul Khairi Waddien atau Sultan Omar ‘Ali Saifuddien III dengan permaisurinya, Raja Isteri Pengiran Anak Damit. 

Sultan Haji Hassanal Bolkiah lahir di Istana Darussalam, Bandar Brunei (Bandar Seri Begawan) pada tanggal 15 Juli 1946. Beliau Diputerakan sebagai Duli Pengiran Muda Mahkota Kesultanan Brunei Darussalam pada tanggal 14 Agustus 1961. Enam tahun setelah Diputerakan, pada tanggal 5 Oktober 1967, beliau ditabalkan menjadi Sultan Brunei bergelar Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah.

Keluarga

Sultan Haji Hassanal Bolkiah memiliki 9 saudara kandung yang terdiri dari tiga laki-laki dan enam perempuan. Saudara kandung Sultan Haji Hassanal Bolkiah adalah: Duli Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Perdana Wazir Sahibul Himmah Wal-Waqar Pengiran Muda Haji Mohammed Bolkiah, Duli Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Bendahara Seri Maharaja Permaisuara Pengiran Muda Haji Sufri Bolkiah, Duli Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Di-Gadong Sahibul Mal Pengiran Muda Haji Jefri Bolkiah, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Hajjah Masna, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Hajjah Nor’ain, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Hajjah Umi Kalthum Al-Islam, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Amal Rakiah, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Amal Nasibah, dan Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Amal Jefriah.

Kehidupan pribadi Sultan Haji Hassanal Bolkiah diwarnai oleh tiga kali pernikahan. Pertama, pada tanggal 25 Juli 1965 ketika beliau melangsungkan pernikahan dengan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Raja Isteri Pengiran Anak Hajjah Saleha binti Almarhum Pengiran Pemancha Pengiran Anak Haji Muhammad Alam. Pasangan ini mendapatkan karunia dua orang anak laki-laki dan empat anak perempuan, yaitu: Yang Teramat Mulia Paduka Seri Duli Pengiran Muda Haji Al-Muhtadee Billah, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Duli Pengiran Muda ‘Abdul Malek, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Hajjah Rashidah Sa’adatul Bolkiah, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Hajjah Muta-Wakillah Hayatul Bolkiah, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Hajjah Majeedah Nuurul Bolqiah, dan Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Hajjah Hafizah Sururul Bolqiah.   

Pada tanggal 28 Oktober 1981, Sultan Haji Hassanal Bolkiah untuk kedua kalinya  menikah dengan Duli Yang Teramat Mulia Pengiran Isteri Hajjah Mariam binti Haji Abdul Aziz, mantan pramugari Royal Brunei Airline (RBA). Istri  Sultan Haji Hassanal Bolkiah adalah seorang wanita keturunan Brunei, Jepang, dan Skotlandia. Pasangan ini mendapat karunia dua orang anak laki-laki dan dua anak perempuan, yaitu: Yang Teramat Mulia Paduka Seri Duli Pengiran Muda Haji ‘Abdul ‘Azim, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Duli Pengiran Muda ‘Abdul Mateen, Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri ‘Azemah Ni’matul Bolkiah, dan Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Fadzilah Lubabul Bolqiah. Pernikahan pasangan ini harus berakhir dengan perceraian pada tahun 2003.

Pernikahan ketiga Sultan Haji Hassanal Bolkiah terjadi pada tahun 2005 ketika beliau menikah dengan Duli Yang Teramat Mulia Pengiran Isteri Azrinaz Mazhar Hakim, warga negara Malaysia yang pernah berprofesi sebagai jurnalis TV3 Malaysia. Pasangan ini mendapat karunia seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yaitu: Yang Teramat Mulia Paduka Seri Duli Pengiran Muda 'Abdul Wakeel dan Yang Teramat Mulia Paduka Seri Pengiran Anak Puteri Ameerah Wardatul Bolkiah. Pernikahan Sultan pasangan ini harus berakhir dengan perceraian pada tahun 2010. 

Pendidikan

Sultan Haji Hassanal Bolkiah menempuh pendidikan pertama melalui metode home schooling yang disebut private tuition di kediamannya di Istana Darul Hana. Pada tahun 1955 untuk pertama kalinya Sultan Haji Hassanal Bolkiah menempuh pendidikan formal di Sekolah Melayu Sultan Muhammad Jamalul Alam di Bandar Brunei (Bandar Seri Begawan). Lima tahun kemudan, beliau melanjutkan pendidikan ke Victorian Institution di Kuala Lumpur, Malaysia selama 2 tahun hingga mendapatkan ijazah Lower Certificate of Education.

Pada tahun 1964, Sultan Haji Hassanal Bolkiah melanjutkan pendidikan di Maktab Sultan Omar Ali Saifuddin (SOAS) di Bandar Brunei. Dua tahun kemudian, tepatnya pada bulan Januari 1966, Baginda berangkat ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan di Royal Militer Accademy Sandhurst, Inggris selama setahun. Pendidikan ini merupakan pelajaran bagi Baginda untuk menjadi seorang kadet. Lewat pendidikan ini, Baginda mendapatkan pangkat Kapten dalam pasukan Goldstream Guards pada tahun 1967. Pada bulan Oktober 1967, Baginda meninggalkan Sandhurst untuk naik tahta menjadi Sultan Brunei ke-29.

Penghargaan

Selama memimpin Brunei Darussalam, Sultan Haji Hassanal Bolkiah telah mendapatkan berbagai penghargaan, baik di bidang akademik maupun kemiliteran. Penghargaan yang dianugerahkan kepada Sultan Haji Hassanal Bolkiah di bidang akademik, antara lain:

  1. Gelar Doktor Honoris Causa (Doktor Kehormatan) dari Universitas Rusia
  2. Gelar Doktor Honoris Causa di bidang hukum dari Universitas Oxford, Inggris
  3. Gelar Doktor Honoris Causa di bidang sastra dari Universitas Aberdeen, Skotlandia
  4. Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Chulongkorn Thailand
  5. Gelar Doktor Honoris Causa di bidang humaniora dan budaya dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Indonesia pada tahun 2003
  6. Gelar Doktor Honoris Causa di bidang hukum dari Universitas Nasional Singapura pada tanggal 27 Januari 2005
  7. Gelar Doktor Honoris Causa di bidang hukum dari King’s College London pada tanggal 14 April 2011. Penyerahan gelar dilakukan langsung oleh Lord Duoro, Ketua Dewan King’s College London 
  8. Gelar Doktor Honoris Causa di bidang filsafat dan humaniora dari Universitas Indonesia pada tanggal 21 April 2011

Penghargaan yang dianugerahkan kepada Sultan Haji Hassanal Bolkiah di bidang kemiliteran, antara lain:

  1. Pangkat Marsekal Kehormatan Angkatan Udara di Royal Air Force, Inggris
  2. Pangkat Laksamana Kehormatan Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Gelar ini diberikan oleh Ratu Eliizabet II pada tahun 2001 di Britannia Royal Naval College
  3. Diangkat sebagai Anggota Kehormatan Atbara Satgas Indonesia Unit Operasi Khusus pada bulan April 2008
  4. Kolonel Kehormatan Khusus Special Service Group (SSG). Pangkat ini diberikan ketika Baginda berkunjung ke maskas besar SSG di Cherat, Pakistan
  5. Memiliki Baret Merah dan Sayap Penerjun Payung dari Pasukan Payung Black Hawk. Penghargaan ini diberikan oleh Tentara India dalam lawatan Baginda ke India. 

Pemerintahan

Ketika Sultan Haji Hassanal Bolkiah naik tahta pada tanggal 5 Oktober 1967, dari sudut pandang pemeritahan, sebenarnya Kesultanan Brunei Darussalam berada pada masa transisi. Masa transisi ditandai beberapa hal, pertama, keberhasilan Kesultanan Brunei Darussalam dalam menyelenggarakan pemilihan umum pertama pada tanggal 30 Agustus 1962. Kedua, pada tanggal 8 Desember 1962 Kesultanan Brunei Darussalam sedang menghadapi pemberontakan dari Partai Rakyat Brunei (PRB) yang mendirikan Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Pemerontakan ini berhasil dipadamkan oleh Sultan Omar ‘Ali Safiuddien Sa’adul Khairi Waddien.

Lima tahun setelah pemilihan umum pertama kali dilaksanakan pada 1962 dan pemberontakan TNKU berakhir, Sultan Haji Hassanal Bolkiah naik tahta. Beliau menjalankan pemerintahan warisan dari sang ayah dan berusaha membuat perubahan dalam sistem pemerintahan. Salah satu perubahan yang Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah lakukan adalah mereview perjanjian dengan Kerajaan Inggris. Review tersebut merupakan salah satu langkah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dilakukan antara Kerajaan Inggris dengan Sultan Brunei Darussalam, terutama Perjanjian Tahun 1959.

Perjanjian Tahun 1959 atau lazim dikenal sebagai Perjanjian Perlembagaan Bertulis Negeri Brunei terjadi pada tanggal 29 September 1959. Perjanjian antara Kesultanan Brunei Darussalam dengan Kerajaan Inggris ini ditandatangani oleh Sultan Omar ‘Ali Safiuddien Sa’adul Khairi Waddien dengan Sir Robert Heatlie Scott, British Commissioner General di Asia Tenggara. Perjanjian ini merupakan salah satu upaya untuk merintis kemerdekaan Kesultanan Brunei Darussalam menjadi sebuah bentuk negara yang berdaulat.

Perubahan terhadap Perjanjian 1959 terjadi ketika Sultan Haji Hassanal Bolkiah meminta Kerajaan Inggris untuk meninjau kembali isi perjanjian. Secara umum isi Perjanjian 1959 adalah Kesultanan Brunei Darussalam diakui keberadaannya dan diizinkan untuk memerintah, kecuali dalam tiga urusan, yaitu politik luar negeri, keamanan, dan pertahanan yang masih menjadi kewenangan kerajaan Inggris.

Isi Perjanjian 1959 dirasa kurang menguntungkan Kesultanan Brunei Darussalam yang memiliki tujuan jangka panjang untuk berdiri sebagai sebuah negara yang berdaulat. Oleh karena itu, Sultan Haji Hassanal Bolkiah berusaha mengubah perjanjian tersebut. Akhirnya pada tanggal 23 November 1971, bertempat di Lapau, Bandar Seri Begawan, Sultan Haji Hassanal Bolkiah selaku wakil dari Kesultanan Brunei Darussalam dan Anthony Henry Fanshawe Royale selaku wakil dari Kerajaan Inggris menandatangani sebuah perjanjian yang merupakan revisi dari Perjanjian 1959. Secara umum, isi Perjanjian 1971 adalah, pertama, pemberian hak sepenuhnya kepada Kesultanan Brunei Darussalam untuk memerintah. Kedua, dengan bantuan Kerajaan Inggris, Kesultanan Brunei Darussalam juga berhak untuk mengatur dan bertanggungjawab terhadap urusan pertahanan dan keamanan.

Perubahan cukup signifikan yang berhasil dilakukan atas penandatanganan Perjanjian 1971 adalah kewenangan yang diberikan oleh Kerajaan Inggris kepada Kesultanan Brunei untuk turut serta bertanggungjawab mengatur urusan pertahanan dan keamanan. Padahal jika mengacu pada Perjanjian 1959, dua hal tersebut menjadi kewenangan Kerajaan Inggris. Namun kini Kesultanan Brunei Darussalam diberikan hak untuk mengatur kedua urusan tersebut, meskipun masih terdapat campur tangan pihak Kerajaan Inggris. 

Berdasarkan Perjanjian 1971, Sultan Haji Hassanal Bolkiah berusaha menghadirkan kembali pihak Kerajaan Inggris ke meja perundingan. Akhirnya pada tahun 1979, Sultan Haji Hassanal Bolkiah berhasil mengadakan Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama dengan Kerajaan Inggris. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Sultan Haji Hassanal Bolkiah dengan Lord Goronwy Robert pada tanggal 7 Januari 1979 di Lapau, Bandar Seri Begawan. Secara umum, isi Perjanjian 1979 adalah, pertama, Kerajaan Inggris mengakui kedaulatan wilayah Kesultanan Brunei Darusssalam. Kedua, Kerajaan Inggris memberikan kewenangan serta tanggungjawab kepada Kesultanan Brunei Darussalam untuk mengatur berbagai hubungan, baik hubungan di dalam maupun di luar negeri.

Setelah Perjanjian 1979 ditandatangani, maka dalam struktur Pemerintahan Kesultanan Brunei Darussalam dibentuk jabatan baru, yaitu Jabatan Diplomatik. Tugas utama dari Jabatan Diplomatik adalah mengambil-alih tugas, kewenangan, dan tanggungjawab yang selama ini dipegang ole Crown Agents yang berada di bawah pengawasan dari Kerajaan Inggris. Setelah Kesultanan Brunei Darussalam memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 1 Januari 1984 dan bersulih menjadi Negara Brunei Darussalam, maka Jabatan Diplomatik ini disebut sebagai Kementerian Hal Ehwal Luar Negeri.

Berbekal Perjanjian 1959, 1971, dan 1979, maka Kesultanan Brunei Darussalam kini telah menjadi pemerintahan yang berdaulat. Pemerintahan kesultanan kini mulai bersulih menjadi pemerintahan negara. Akhirnya setelah Brunei Darussalam diakui sebagai suatu wilayah yang berdaulat lewat Perjanjian 1979, maka pada tanggal 1 Januari 1984, Sultan Haji Hassanal Bolkiah memproklamirkan Kemerdekaan Negara Brunei Darussalam.

Dibaca : 28220 kali
« Kembali ke Kesultanan Brunei Darussalam

Share

Form Komentar