English Version | Bahasa Indonesia

Menempatkan Kraton dan Lembaga Adat Sebagai Sumber Budaya Demi Ketahanan Nasional Bangsa

24 Januari 2011 15:58


Oleh Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. ir. Mardan Adijaya, M.Sc. (Raja XIII Kerajaan Amatubillah Mempawah)

Pendahuluan

Pembangunan yang telah dilakukan oleh berbagai bangsa di dunia selama ini telah menjadikan bangsa-bangsa tersebut mengalami berbagai kemajuan di segala bidang dalam sendi kehidupan masyarakatnya. Kemajuan yang terjadi juga berakibat pada perubahan sosial budaya masyarakat, pergeseran dari nilai tradisional menjadi modern. Hal ini ditandai dengan kebebasan dan kemudahan berkomunikasi dan transportasi dari tempat asalnya ke tempat lain yang dikehendakinya. Derasnya arus pertukaran informasi dan perpindahan orang dan barang dari suatu tempat dan waktu berbeda, menyebabkan derasnya pula integrasi budaya satu dengan lainnya, yang berarti benturan budaya yang membawa pergeseran nilai budaya semakin kencang.

Tujuan perubahan itu sendiri dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungannya. Modern yang dimaksudkan oleh kita bukan berarti menjadikan perubahan total kondisi sosial budaya lokal yang ada, dan menjadikan kita menjadi bangsa yang lain dan jadi kurang beradab dibandingkan pada masa awal berdirinya negara-negara itu. Namun yang diharapkan adalah pergeseran dari cara pengejawantahan budaya dalam sistem kemasyarakatan yang berlaku sesuai dengan zamannya, bukan pada nilai luhur yang sifatnya manusiawi dan religius yang sesuai dan sudah tertanam dalam jiwa bangsa.

Melihat kondisi yang terjadi dalam masyarakat yang ada, terutama di perkotaan, sungguh menjadikan kita menjadi prihatin. Integrasi budaya dari luar yang ikut terbawa oleh pertukaran informasi dan teknologi dari budaya luar, menjadikan kita hampir kehilangan jati diri. Akibatnya bukan menjadikan kita menjadi bangsa lain yang telah maju, tetapi hampir menjadi bangsa barbar. Ini semua adalah kekeliruan kita selama ini, karena pembangunan yang dilaksanakan hanya berorientasi pada masalah ekonomi dan kebendaan semata. Kita sangat lupa untuk membangun mental spiritual bangsa yang sebenarnya ada dalam setiap budaya lokal masing-masing.

“Gnothi Seauton” adalah dua kata yang ditulis oleh para pendeta di depan Candi Apollo di Delphi (Yunani), yang artinya “kenalilah dirimu”. Dua kata tadi memberi makna bahwa segala interaksi dan interdependensi kehidupan bermasyarakat yang terarah dan positif bermula dari kepahaman akan jati diri. Untuk mengenali diri, seseorang haruslah mengetahui dan mengenal sejarah tumbuh dan berkembangnya peradaban tempat dia dibesarkan. Termasuklah kesadaran akan adat istiadat (termasuk hukum adat) dalam masyarakatnya; atau secara umum dikatakan mengenal sosial budayanya.

Apabila sesorang benar-benar memahami jati dirinya dan mampu menerapkannya dalam kehidupannya, maka jadilah dia sebagai insan kamil sejati diri; yang tegar dalam arus perubahan zaman yang telah berlangsung secara cepat dan global. Mereka akan tetap mampu melihat pertalian antara satu nilai luhur budaya yang satu dengan budaya lainnya. Hal ini sebagai saringan ampuh untuk mencegah masuknya pengaruh budaya lain yang tidak sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakatnya. Sebagai contoh bangsa Jepang dan Inggris, telah mampu menjadi bangsa yang besar, namun tidak meninggalkan adat istiadat dan tradisi mereka. Mereka tetap menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan yang dikandung dalam budayanya; bahkan budaya telah mereka jadikan faktor pendorong pembangunan dalam mencapai tujuan hidup diri maupun bangsanya.

Majunya suatu bangsa harus didorong oleh budaya, demikian yang telah disampaikan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, dalam majalah Keris (vol.04/2007). Ini merupakan penegasan kembali bagi kita semua untuk kembali menjadikan budaya sebagai benteng ketahanan nasional, agar suatu bangsa tidak lenyap dan carut marut akibat tidak mampu mengapresiasi budayanya sendiri. Budaya adalah sistem nilai yang tertanam dan dianut setiap manusia sejak lahir hingga ajalnya. Jadi budaya merupakan “ruh” bagi manusia sebagai subjek maupun objek pembangunan. Ruh yang berasal dari nilai magis spiritual inilah yang dapat memberi kesan baik dan buruknya suatu perbuatan. Tingkah laku yang tidak sejalan dengan norma kemanusian dan spiritual; seperti tindakan korupsi, tindakan asusila dan amoral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah membudaya, adalah akibat dari masyarakat atau penguasa yang telah kehilangan jati diri.

Tujuan dari tulisan ini adalah sebagai setitik air penggugah rasa kesadaran dan kepedulian kita akan kekayaan budaya yang tersebar dalam kehidupan masyarakat, yang telah mulai ditinggalkan dan dilupakan. Dan juga memberikan sedikit gambaran tentang suka dukanya kraton-kraton di Indonesia yang tetap mencoba berperan dalam mengusung budaya adiluhung sebagai perekat bangsa. Diharapkan tulisan ini dijadikan bahan pemikiran atau masukan bagi kita semua dalam upaya menumbuhkan kepekaan, kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian budaya lokal.

Mengapa Kita Harus Peduli Sejarah, Budaya, dan Peradaban?

Sejarah dan budaya adalah rangkaian kata yang berkait. Sejarah merupakan disiplin ilmu yang mempelajari catatan kronologis dari kejadian-kejadian yang mempengaruhi suatu bangsa dan masyarakatnya, berdasarkan penelusuran kritis terhadap sumber materinya. Sejarah juga mencatat sebagian kejadian budaya; sebagian lainnya tercatat dalam tingkah laku kehidupan dan ritual masyarakat praktisi budaya tersebut.

Kebudayaan dimaknai sebagai seperangkat kepercayaan, nilai-nilai dan cara berlaku yang diimplementasikan sebagai adat kebiasaan bersama yang dimiliki dan diakui oleh suatu kelompok masyarakat satu adat atau lembaga. Kebudayaan itu sendiri adalah dinamis, integratif, dan adaptif, yang berkembang sesuai dengan kebutuhan fisik dan biologis masyarakat tertentu dalam lingkungannya. Jadi jelaslah dalam perjalanan sejarah suatu bangsa atau kaum, sangat diwarnai oleh budaya yang dianutnya.

Sejarah berkaitan erat dengan masyarakat yang beradab. Sejarah muncul dalam masyarakat yang beradab, yaitu masyarakat yang berbudaya manusiawi yang tidak bertentangan dengan fitrah penciptaannya. Sedangkan peradaban itu, termasuk di dalamnya unsur: kreativitas, nilai, keberanian, dan kejujuran. Dalam kreativitas ada nilai-nilai tertentu yang dikandung di dalamnya. Peradaban itu sendiri berkaitan erat dengan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dunia ini dikenal perkembangan peradaban manusia, dari kuno (ancient age), klasik (classical age), dan terus berkembang sampai saat ini menjadi peradaban informasi (information age). Ketika peradaban itu dirusak, maka nilai-nilai tertentu yang terkandung di dalamnya juga ikut teraniaya. Bentuk perusakan yang sering terjadi adalah dengan menghancurkan atau melenyapkan sebagian atau seluruh situs, catatan dan warisan budaya dengan alasan pembangunan; dan hal itu sering terjadi di dalam masyarakat kita. Bahkan melupakan tradisi budaya seperti ritual budaya, adalah salah satu bentuk perusakan peradaban yang sangat fatal.

Penguasa atau pemerintah yang berperadaban harus menghargai sejarah dan menciptakan kesadaran bersama dalam hal memahami dan melestarikan warisan budaya, demi kepentingan bangsa masa kini dan masa depan. Catatan dan peninggalan sejarah merupakan cahaya yang memberi petunjuk. Peristiwa, catatan, dan benda sejarah untuk kepentingan masa depan; saat ini sejarah tidak dihargai karena tidak dimengerti. Memindahkan warisan budaya, apalagi melenyapkannya, merupakan bentuk rendahnya penghargaan terhadap sejarah dan jati diri bangsa.

Tanpa memahami masa lampau kita seperti berjalan dalam kegelapan, tanpa tujuan. Tanpa kesadaran tentang gagasan masa lampau, kita kehilangan identitas. Padahal wawasan tentang identitas penting untuk mengetahui siapa diri kita, sehingga dapat mewujudkan kondisi sosial kemasyarakatan yang lebih baik. Sekali lagi yang perlu dicamkan adalah kesadaran sejarah dan kesadaran kebersamaan hanya ada pada masyarakat yang beradab.

Kita tidak ingin dalam pergaulan diantara bangsa-bangsa lain didunia ini, kita dicap sebagai bangsa yang berperadaban “barbaric-modern”, yang hidupnya hanya mengandalkan insting hewani dalam kehidupan modern, yang menghalalkan segala cara dalam egoisme pencapaian tujuan hidup. Kita ingin kembali memiliki rasa malu yang bertumpu pada budaya adiluhung masyarakat kita; rasa malu kalau berlaku semena-mena, korupsi, tetapi bukan rasa malu untuk menjadi bangsa yang cinta dan sangat membela tanah airnya. Ini semua dapat kita wujudkan apabila kita (pemerintah dan segala komponen masyarakat) benar-benar sadar dan peduli dengan sejarah, dan perubahan budaya atau peradaban kita sendiri.

Upaya Pelestarian, Pemahaman, Pengejawantahan, dan Warisan Budaya yang Masih Setengah Mati

Rasanya kegiatan “Seminar Borneo Anjuran Pusat Sejarah Brunei Darussalam”, menggugah dan sekaligus memberikan harapan kembali kepada masyarakat, sebagai pertanda adanya kepedulian pemerintah sehubungan dengan kondisi carut marut kehidupan kebangsaan kita saat ini. Pemerintah sangat menyadari bahwa kehidupan kebangsaan kita yang berperadaban adiluhung akan kembali tegak apabila kita sebagai bangsa sadar dan peduli terhadap warisan budaya, dalam arti fisik, ritual atau aktivitas budaya maupun moral dan budi pekerti yang dikandung dalam setiap budaya lokal yang terserak di dalam negeri ini.

Hedonisme dalam kehidupan masyarakat dan pergeseran nilai luhur kebangsaan yang terjadi, memang telah menakutkan kita semua. Karena semua itu dapat memporak-porandakan segenap sendi kehidupan masyarakat yang akhirnya berujung pada “social-unrest” (keresahan sosial) dan perpecahan bangsa. Terlalu banyak contoh dan cerita sedih akibat dari ketidak-sadaran dan ketidak-pedulian kita tentang sejarah dan pelestarian budaya yang merupakan “jiwa dan semangat” kelompok penganutnya. Melemahnya semangat kebangsaan dan konflik etnis dan agama, adalah contoh yang paling gamblang. Menjawab Siapa yang seharusnya bertanggung jawab, tentunya tidak dapat saling melempar tanggung jawab. Kita semualah yang harus memulainya dengan kesadaran penuh dan bertanggung-jawab. Kita semualah yang harus menjaga eksistensi budaya sebagai jati diri bangsa. Dari pengalaman pahit yang telah dilalui oleh bangsa ini, serta langkah-langkah yang telah dimotori kraton nusantara maupun tokoh adat dan pemuka masyarakat, sampailah kita pada kesadaran betapa pelestarian adat budaya menjadi sangat penting; karena memang budayalah sebagai perekat bangsa yang bhineka ini.

Saat ini telah banyak kelompok-kelompok masyarakat yang kembali mengangkat budaya lokal dan ritualnya, dalam rangka mengisi kembali jiwa mereka yang mulai kosong (tentunya peran agama dan keyakinan adalah hal utama lainnya, yang diluar konteks pembahasan kita kali ini). Lembaga-lembaga adat kembali difungsikan pada setiap kelompok masyarakat. Acara ritual adat kembali dimunculkan yang melibatkan lintas etnis dan lintas agama atau kepercayaan dalam masyarakat tempat adat-istiadat atau budaya itu tumbuh dan berkembang. Dan penulis yakin secara analogis, bahwa majelis adat yang dibentuk di daerah ini yang bernuansa etnis, tentu bertujuan utama mengangkat nilai luhur budayanya, dan bukan lebih berbau politis yang dapat mempertajam perbedaan di dalam masyarakat kalbar yang tidak mempunyai budaya dominan, tetapi budaya amalgamasi (percampuran).

Selanjutnya penulis akan lebih banyak mengungkapkan fakta pada area budaya yang penulis geluti, yaitu budaya kraton. Bahwa kraton yang semula sebagai pusat pemerintahan maka tentu juga sebagai pusat kebudayaan atau peradaban pada zamannya. Sejak kerajaan atau kesultanan di seluruh tanah air menyerahkan daerah swaparajanya, mulai saat itu, kraton sudah melepaskan status feodalnya (catatan: feodal berkaitan dengan kekuasaan). Yang masih tersisa adalah sebagian warisan budayanya yang juga hampir punah karena dilupakan para penguasa.

Usaha untuk membentuk budaya bangsa yang sebenarnya menyalahi konsep Bhinneka Tunggal Ika telah dicoba, namun pada akhirnya tidak bisa terwujud. Seharusnya yang diwujudkan adalah bangsa yang berbudaya, bukan budaya bangsa. Indonesia yang tersebar dalam beribu pulau, dengan beribu etnis, tentu mempunyai beribu ragam budayanya yang luhur. Kenyataannya, perbedaan budaya itu menjadikan perekat antar etnis yang ada di bumi nusantara ini. Kesadaran akan kondisi inilah yang membuat bangkitnya kraton senusantara untuk kembali mengangkat budayanya yang telah terbukti dapat merekatkan masyarakatnya.

Kraton di Indonesia banyak yang masih melestarikan ritual dan warisan budayanya dengan mandiri dan terseok-seok. Hanya beberapa kraton besar terutama di pulau Jawa yang selalu didanai dan disusui oleh pemerintah pusat dan daerah dalam segala kegiatannya. Sebagian besar kraton di luar Jawa, umumnya luput dari perhatian pemerintah pusat, dan yang lebih celaka lagi, kebanyakan diluputkan dari perhatian pemdanya masing-masing. Alasannya adalah sangat mengada-ada, takut kalau kraton kembali berkuasa seperti masa lalu. Hal itu adalah suatu kemustahilan, yang ada adalah penguasa tersebut takut kehilangan pamor politiknya, yang sebenarnya karena kesalahan sendiri dengan menggunakan cara-cara yang yang tidak populer dalam masa pemerintahannya. Banyak penguasa yang justru meniadakan bantuan kepada kraton atau lembaga adat yang dianggap tidak sejalan dengan keinginan pribadinya. Ini adalah bentuk pengingkaran sejarah.

Kenyataannya, karena merasa terpanggil untuk mengembalikan nilai luhur budaya dalam masyarakatnya, dengan dukungan kerabat dan masyarakat pendukungnya, akhirnya beberapa kraton masih mampu bertahan menempatkan diri sebagai simpul sosio-kultural masyarakatnya, sebagai benteng ketahanan budaya. Kraton terus menggali, melestarikan, dan mengembangkan nilai luhur budaya, adat, dan tradisi kraton yang pada dasarnya adalah budaya masyarakatnya pula. Sebagian kraton lainnya tenggelam meninggalkan puing-puing warisan budaya. Inilah cerita nyata tentang “survival” dari kraton-kraton yang ada di tanah air.

Dari banyak kejadian sosial kemasyarakatan, kraton ternyata masih dibutuhkan oleh masyarakat, namun karena kurangnya kepedulian dari sebagian penguasa, maka kondisinya semakin terpuruk. Sehingga peran kraton tidak maksimal sebagai fungsi budaya dan pariwisata. Dari pengalaman tersebut, maka kraton-kraton senusantara sadar akan perlu adanya payung hukum yang menjamin kelanggengan budaya lokal sebagai pilar utama ketahanan nasional. Suka atau tidak suka, kenyataannya telah diakui oleh masyarakat dan pemerintah bahwa peran sebagian kraton dalam mengangkat nilai-nilai budaya, mampu memberikan kekuatan pendorong bagi semangat berbangsa dan bernegara dalam masyarakat. Karena ritual budaya memberikan semangat religius magis atau sakral yang telah tumbuh sejak berabad-abad lalu, sejak zaman kerajaan tempo dulu.

Ke depan, kraton-kraton berharap bersama pemerintah dan masyarakat untuk tidak setengah hati lagi, secara sadar (tanpa rasa saling curiga) dan peduli mengangkat dan menunjukkan citra positif dalam pandangan mata masyarakat dunia tentang budaya luhur bangsa Indonesia yang berperadaban adiluhung, dengan dimulainya langkah melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang ada di kraton maupun lembaga adat. Langkah kongkret yang diharapkan seperti mengembalikan hak adat atau ulayat yang berkaitan dengan warisan budaya dan ritual budaya, harus tetap berada dalam otoritas masyarakat adatnya; seperti situs budaya, tembawang (kebun tradisional suku Dayak), dan sungai tempat upacara adat, dan tentunya memberikan dukungan finansial yang seharusnya diberikan.

Penutup

Budaya di berbagai belahan dunia ternyata mampu memberikan ruh, jiwa, dan semangat membangun bagi bangsa penganutnya, tanpa harus meninggalkan nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Bangsa yang berbudaya tersebut ternyata sangat memahami sejarah dan peradaban tempat budaya tersebut tumbuh dan berkembang, sehingga menjadi lentera atau suluh bagi bangsanya untuk menapak masa kini ke masa depan yang lebih baik.

Upaya menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya dan ritual budaya yang saat ini kembali dikumandangkan pemerintah Indonesia, haruslah direncanakan dan dilakukan bersama-sama pelaku budaya lokalnya, dengan komitmen penuh demi kepentingan negara, tanpa harus ada kecurigaan motif politik yang tidak beralasan.

Kraton dan lembaga adat di Indonesia yang sangat bhinneka, adalah sumber-sumber utama budaya dan pariwisata negeri itu. Keberadaan dan kegiatannya yang sangat dipanuti dan diakui oleh masyarakatnya, merupakan modal dasar bagi negara untuk memacu kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Namun upaya maksimalisasi kegiatan budayanya, memerlukan payung hukum yang jelas dan berkeadilan.


Dibaca : 1867 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar