English Version | Bahasa Indonesia

Koleksi



  • Senjata Pusaka

    Koleksi senjata pusaka yang dimiliki Kerajaan Mempawah berjumlah ratusan pusaka, namun tidak semua pusaka tersebut dapat diakses secara bebas. Hanya pusaka-pusaka tertentu saja yang bisa dilihat oleh orang awam. Selebihnya, beberapa koleksi disimpan di tempat yang dirahasiakan dan hanya bisa dilihat dan diketahui oleh orang-orang tertentu, khususnya Raja Mempawah. Beberapa koleksi senjata pusaka yang bisa dilihat oleh orang awam biasanya dipamerkan di Istana Amantubillah, “dimandikan”, atau diarak keliling dalam salah satu acara pada prosesi robo-robo. Koleksi pusak tersebut antara lain: Keris dan Tombak Opu Daeng Manambon, Keris Daeng Mataku, Tongkat Ratu Mas, Tombak Tan Kafie, Tombak San Po Kong yang dipakai Panglima Lau Tai Pha, Keris Syeh Yusuf, Mandau Panglima Ungie, Mandau Panglima Idikonyan, Pedang Pagar Ruyung, Pedang Ranggalawe, Pedang Pakubuono V, Pedang Samber Nyowo, sepasang tombak bernama Tombak Lancar, ... Selengkapnya »

  • Stempel Kerajaan / Kesultanan

    Stempel Kerajaan Mempawah berbentuk sebuah lambang yang memuat falsafah. Bentuk tersebut merupakan lambang Kerajaan Amantubillah. Berikut ini merupakan keterangan (makna) dari masing-masing lambang:  1.      Mahkota Bertitik 13 Menandakan bahwa mahkota adalah simbol pemegang kekuasaan kerajaan. Sedangkan titik sejumlah 13 buah menandakan bahwa Kerajaan Mempawah kini dipimpin oleh Raja ke-13. 2.      Payung yang mempunyai ujung trisula Menandakan bahwa tiga ujung yang dicari selama hidup di dunia adalah hidayah, rahmat, dan ampunan dari Tuhan Yang Maha Esa dan akan kembali kepadaNya. Sedangkan payung bermakna memayungi keilmuan tentang ketuhanan dan kemanusiaan. 3.      Bintang segi enam di dalamnya terdapat huruf “Mim, Ha, Mim, Dal” Bintang segi enam melambangkan rukun iman dan enam perkara. Sedangkan huruf “Mim, Ha, Mim, Dal” ... Selengkapnya »

  • Buku

    Pangeran Ratu Mulawangsa adalah seorang peneliti yang telah menerbitkan berbagai karya, antara lain:  Adijaya, M., et al., 1983.  Sistem filter-biomekanis. Institut Pertanian Bogor:Hlm. 108. (Menduduki tempat pertama dalam Lomba Nasional Inovatif dan Produktif untuk Mahasiswa Teknik, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia)  Adijaya, M. and S. Saimun, 1985. Sebuah studi pendahuluan pada kincir listrik di tambak udang. Direktorat Jenderal Perikanan, Pusat Pengembangan Air Payau, Jepara. Nurhamid and M. Adijaya,  1985.  Survei potensi pembenihan udang di Provinsi Bengkulu. Direktorat Jenderal Perikanan, Pusat Pengembangan Air Payau, Jepara:Hlm. 50. Adijaya, M. et al., 1985.  Identifikasi dan inventarisasi ikan alam /benih udang di wilayah pantai Provinsi Bengkulu. Direktorat Jenderal Perikanan, Pusat Pengembangan Air Payau, Jepara:Hlm. 13.  Adijaya, M., et al., 1986. Survei potensi ... Selengkapnya »

  • Alat Musik

    Alat Musik Senenan Kerajaan Mempawah memiliki alat musik yang disebut Senenan. Ensamble Senenan mirip dengan gamelan yang lazim dipakai di Jawa. Menurut Karaeng Saiful, seorang Laskar Kerajaan Mempawah, Senenan merupakan alat musik yang mendapat pengaruh dari Kerajaan Majapahit. Gamelan Senenan yang asli masih tersimpan di Istana Amantubillah. Sedangkan yang lazim dipakai (ditabuh) merupakan replika dari Senenan yang asli.  Jika ditilik dari pernyataan tersebut, maka besar kemungkinan Senenan masuk ke Mempawah ketika kerajaan ini dipimpin oleh Patih Gumantar pada abad ke-14. Kemungkinan ini diperkuat dengan adanya hubungan kerjasama antara Kerajaan Mempawah (dulu masih bernama Kerajaan Bangkule Rajakng) yang dipimpin oleh Patih Gumantar dengan Kerajaan Majapahit yang kala itu diwakilkan kepada Patih Gadjah Mada. Kerjasama dua kerajaan tersebut bertujuan untuk menghadang ekspansi pasukan Mongolia. Salah satu langkah yang dilakukan ... Selengkapnya »

  • Prasasti / Batu Bersurat

    Prasasti Balai Pertemuan Prasasti Balai Pertemuan berada satu kompleks dengan Makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama. Prasasti ini ditemukan pada tanggal 29 Agustus 2008 secara tak sengaja oleh dua orang peziarah, yaitu Ruslan (28) dan Mulyono (28). Kedua penemu kemudian melaporkannya kepada juru kunci Makam Opu Daeng Menambon. Prasasti ini dinamakan Balai Pertemuan karena bentuk (susunan) batu menyerupai bentuk layaknya balai pertemuan. Prasasti ini berbentuk batu melebar sepanjang kurang lebih 36 meter dan tinggi sekitar dua meter. Pada prasasti ini tergurat deretan tulisan yang membentang di sepanjang balai. Menurut perkiraan awal, tulisan tersebut merupakan huruf Pallawa. Dugaan ini dikuatkan dengan argumen bahwa huruf yang terdapat pada Prasasti Balai Pertemuan mempunyai kemiripan dengan huruf Pallawa yang juga ditemukan pada Kolam Batu Berbentuk Teratai di bagian lain pada Kompleks Makam Opu Daeng Menambon. Huruf yang terukir ... Selengkapnya »