English Version | Bahasa Indonesia

Duta Raja dalam Toana

28 Februari 2011 11:45


Oleh Tunggul Tauladan

Agenda kami pada hari Selasa, 1 Februari 2011, adalah mengikuti Upacara Toana yang dihelat usai pelaksanaan Seminar Budaya di Kantor DPRD Kabupaten Pontianak. Setelah melakukan seminar, rombongan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) segera bertolak menuju Istana Amantubillah.

Kata “Toana” berasal dari kata “bertuan” yang mempunyai arti menyampaikan pesan dari Istana Amantubillah kepada masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Upacara Toana dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu Toana untuk pemberian gelar, khitan anak laki-laki maupun perempuan, dan pesta perkawinan kerabat Istana Amantubillah.

Upacara Toana kali ini juga menjadi ajang upacara penganugerahan gelar Pangeran kepada Pemangku BKPBM sekaligus Pemimpin Redaksi www.melayuOnline.com dan www.KerajaanNusantara.com, Mahyudin Al Mudra SH, MM, berupa Darjah Adat Kebangsawanan Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan menyandang gelar Pangeran Nata Waskita. Bagi Mahyudin Al Mudra, gelar Pangeran yang dianugerahkan kepadanya lebih bersifat “kenaikan tingkat” karena pada upacara Toana dua tahun sebelumnya, beliau telah mendapatkan Darjah Adat Kebangsawanan Dato Sri Astana.  

Upacara Toana biasanya digelar sebagai salah satu bagian dalam rangkaian acara Robo-robo. Tahun ini Upacara Toana untuk penganugerahan gelar Pangeran diberikan kepada lima orang. Selain Mahyudin Al Mudra, penganugerahan gelar pangeran dalam Upacara Toana juga diberikan kepada: Andi Mulyadi SH., diberi anugerah Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Mas Surya Negara; Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Patimataranna Gowa diberi gelar Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Nata Jaya; Andi Bau Mancingen Teba diberi gelar Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Setia Negara; dan H. Rahmad Satria, SH. MH, diberi gelar Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Nata Laksana.


Beberapa tahapan dalam prosesi Toana

Upacara Toana dibagi menjadi dua tahap, yaitu Buang-buang dan Toana. Tahap Buang-buang dilaksanakan pada sore hari setelah waktu shalat Ashar. Pada tahapan ini para calon penerima gelar mengikuti rangkaian acara yang terdiri dari: Mandi-mandi, Bapaci, Buang-buang (air Buang-buang tersebut nantinya akan digunakan sebagai pemula acara), dan Berhias Muka.

Pada malamnya dilangsungkan Toana. Dalam pelaksanaan Toana dibutuhkan beberapa peralatan, yaitu kain cindai yang digantung dengan ditambahkan hiasan permata, ayam kampung, telur ayam kampung, dan pulut empat warna (pulut hitam, putih, kuning, dan merah). Semua hidangan tersebut merupakan hidangan tanda adat Raja-raja yang selalu menghormati keempat unsur alam. Selain itu juga disiapkan beberapa hidangan, yaitu: ikan betok, pisang berangan, pisang raja, dan kelapa muda. Semua hidangan diapit oleh empat lilin wanyik yang merupakan lambang panjang umur dan selalu diterangi alam tempat kita berada saat ini.

Pelaksanaan ritual Buang-Buang dan Toana dipimpin oleh seorang bomoh. Para calon penerima gelar diwajibkan untuk memakan hidangan yang telah disediakan. Setelah semua tahapan dilaksanakan, para penerima gelar secara bergantian maju ke depan untuk menerima gelar dari Raja Mempawah yang ditandai secara simbolik dengan menyentuhkan badik di bahu para penerima gelar. 

Gelar kerajaan menunjukkan status sosial bagi para penerimanya. Pada zaman dahulu, anugerah gelar yang diberikan kepada seseorang menjadikan status sosial orang tersebut menjadi lebih tinggi dari orang awam. Para penerima gelar dengan bangga akan menuliskan nama gelar di depan nama mereka. Pengakuan dan penghargaan yang diberikan kepada penerima gelar membuat gelar kerajaan menjadi daya tarik sendiri untuk mendapatkannya.   

Anugerah gelar yang diberikan oleh sebuah kerajaan pada dasarnya merupakan wujud penghargaan kepada seorang yang dinilai telah berkonstribusi kepada kerajaan tersebut. Sikap ini mempunyai tiga tujuan. Pertama, kerajaan memberikan gelar sebagai ucapan terima kasih. Kedua, anugerah tersebut menunjukkan eksistensi sebuah kerajaan yang tersemat pada diri seseorang melalui aktifnya sebuah kerajaan dalam memberikan gelar. Ketiga, sang penerima anugerah memiliki kewajiban untuk menjaga gelar dengan cara berlaku sebagai duta kerajaan.

Gelar pada prinsipnya merupakan cerminan dari pribadi seseorang. Seseorang yang mendapatkan gelar harus mampu berlaku lebih bijak daripada sebelumnya. Hal ini wajib dilakukan mengingat kini sang penerima gelar telah menjadi salah satu bagian dalam kekerabatan sebuah kerajaan. Semua perilaku yang dilakukan oleh para penerima gelar akan berimbas pada kerajaan yang memberikannya. Hal inilah yang membuat posisi gelar menjadi sesuatu yang menarik karena keterikatan kekerabatan pada sebuah kerajaan, namun sekaligus juga mengandung suatu konsekuensi yang harus dicerminkan lewat sikap dan perbuatan dalam keseharian.

Tunggul Tauladan, Peneliti Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Redaktur www.KerajaanNusantara.com

Sumber Foto: Aam Ito Tistomo dan Fajar Kliwon


Dibaca : 1450 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar