English Version | Bahasa Indonesia

Amalgamasi Bermula dari Kuala Mempawah

07 Maret 2011 14:51


Oleh Tunggul Tauladan

Rabu, 2 Februari 2011, adalah saat puncak perhelatan Robo-robo yang merupakan acara untuk mengenang (napak tilas) perjalanan Opu Daeng Menambon dari Ketapang ke Kerajaan Mempawah. Acara Robo-robo didahului dengan Makan Saprahan di halaman Istana Amantubillah. Usai Makan Saprahan, Raja Mempawah bersiap-siap untuk melakukan acara Robo-robo. Rombongan Raja Mempawah berangkat ke Desa Benteng di mana di tempat ini telah disediakan Kapal Lancang Kuning untuk menyusuri laut menuju Kuala Mempawah. Di tempat lain, Laskar Kerajaan Mempawah naik kapal penyambut menyusuri Sungai Mempawah.

Sekitar satu jam kemudian kedua rombongan akhirnya bertemu di Kuala Mempawah. Ketika kedua kapal saling bertemu di Kuala Mempawah dimulailah prosesi Robo-robo, yaitu mengkumandangkan adzan, kemudian disusul dengan prosesi Buang-buang yang merupakan prosesi pelemparan sesaji ke Sungai Mempawah berupa beras kuning, bertih, dan setanggi. Nasi kuning dan bertih melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan setanggi mengandung makna keberkahan. Ritual Buang-buang bertujuan untuk penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat sekaligus menyelaraskan kehidupan masyarakat dengan alam sekitar.


Prosesi adzan dan Buang-buang di Kuala Mempawah

Rombongan Raja Mempawah akhirnya berlabuh di Pelabuhan Kuala Mempawah. Di pelabuhan ini diadakan acara penyambutan bagi Raja Mempawah beserta rombongan. Tampak hadir dalam acara ini, antara lain Perwakilan Gubernur Kalimantan Barat, Asisten I Drs. Sumarno, Bupati Pontianak Drs. H. Ria Noorsan MM. MH., Raja Muda Kesultanan Banjar yang sekaligus menjabat sebagai Bupati Martapura Pangeran Khairul Saleh, Anggota DPRD Ketapang yang sekaligus bertindak sebagai Pemimpin Majelis Raja Kesultanan Mantan Pangeran Ratu Kertanegara Ir. H. Gusti Kamboja MH., Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Adji Muhammad Arifin gelar Adji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat, Raja Gowa Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Patimataranna Gowa, serta Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Mahyudin Al Mudra, SH. MM.


Para tamu yang hadir dalam acara Robo-robo 2011 di Kuala Mempawah

Beragam kesenian dipentaskan sebagai penyemarak acara, seperti Kesenian Tundang dari Sanggar Pusaka Kecamatan Segendong, Tarian Sekapur Sirih, Tari dari Sanggar Rampayo Kecamatan Anjungan, dan penampilan lagu dari Firmansyah dan Meri Rosmita, Juara I Putra-Putri Festival Lagu-Lagu Raja Mempawah se-Kalbar 2011 dengan judul "Bedaulat Tuanku" dan "Bangsawan Mude".


Beragam kesenian yang ditampilkan oleh berbagai etnis yang bermukim di Mempawah

Ramah-Tamah di Istana Amantubillah

Pada pukul 19.30 malam di Istana Amantubillah digelar acara ramah-tamah yang merupakan penutupan dalam rangkaian Robo-robo tahun 2011. Berbagai acara telah disiapkan oleh panitia, antara lain penganugerahan gelar adat, launching wesite www.kerajaanmempawah.com, dan pesta kembang api sebagai simbolisasi ucapan Imlek bagi etnis Tionghoa.


Acara ramah tamah yang sekaligus sebagai penutupan dalam rangkaian acara Robo-robo 2011

Setelah Pangeran Ratu MUlawangsa menyampaikan kata sambutan, acara dilanjutkan dengan penganugerahan gelar adat yang dibagi menjadi dua yaitu gelar adat Dato dan Pangeran. Gelar Pangeran diberikan kepada Andi Mulyadi SH, dengan anugerah Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Mas Surya Negara; Dato Sri Astana Mahyudin Al Mudra SH. MM., diberi anugerah Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Nata Waskita; Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Patimataranna Gowa diberi anugerah Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Nata Jaya; Andi Bau Mancingen Teba diberi anugerah Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Setia Negara; dan H. Rahmad Satria, SH. MH., diberi anugerah Yang Maha Utama Sri Setia Amantubillah dengan membawa gelar Pangeran Nata Laksana.


Para penerima gelar Pangeran dari Kerajaan Mempawah

Anugerah Dato diberikan kepada Johanes Robini Marianto, OP., diberi gelar Dato Sri Paduka Astana; Martinus Beltra SE. M.Si. diberi gelar Dato Sri Astana; Awang Haji Sahri bin Awang Haji Hakim diberi gelar Dato Petinggi Astana; Syafaruddin Usman diberi gelar Dato Sri Duta Astana; Lim Hui Kuang Ahui diberi gelar Dato Panglima Astana; Phoea Tjhia Neng Aming diberi gelar Dato Nata Astana; Asia Rudy diberi gelar Dato Duta Astana; dan Paulus Firmandi Sahadinata diberi gelar Dato Budaya Astana


Para penerima gelar Dato dari Kerajaan Mempawah

Acara selanjutnya yaitu launching website www.kerajaanmempawah.com. Website ini dibuat oleh kru BKPBM dan diserahkan oleh Pangeran Nata Waskita Mahyudin Al Mudra kepada Pangeran Ratu Mulawangsa. Secara simbolis, peluncuran website www.kerajaanmempawah.com ditandai dengan penyerahan password dan leaflet Kerajaan Mempawah. Selain website, Pangeran Nata Waskita Mahyudin Al Mudra SH. MM. juga menyerahkan cinderahati berupa miniatur Istana Amantubillah. Maket berbahan dasar kayu jati dan sonokeling dengan ukuran 1,5 x 1,5 x 0.5 meter ini dikerjakan selama 100 hari dan sepenuhnya dikerjakan secara handmade.


Launching website www.kerajaanmempawah.com dan cinderahati dari Pangeran Nata Waskita Mahyudin Al Mudra SH. MM., berupa maket Istana Amantubillah 

Sebagai balasan atas berbagai dukungan dari Pangeran Nata Waskita Mahyudin Al Mudra SH. MM.,  Pangeran Ratu Mulawangsa menghadiahkan lagu ciptaannya yang berjudul “Melayu Online”. Lagu ini dibuatkan khusus untuk Mahyudin Al Mudra yang juga merupakan pemimpin umum/pemimpin redaksi www.melayuonline.com.


Pangeran Ratu Mulawangsa menghadiahkan lagu ciptaannya yang berjudul “Melayu Online” kepada Pimpinan Redaksi MelayuOnline.com, Pangeran Nata Waskita Mahyudin Al Mudra SH. MM.

Robo-robo adalah ritual pengingat kiprah Opu Daeng Menambon ketika mengenalkan budaya amalgamasi yang terjadi di Mempawah. Opu Daeng Menambon telah berhasil menyatukan berbagai etnis, seperti Bugis, Melayu, Dayak, Jawa, dan Tionghoa. Amalgamasi yang diawali oleh heterogenitas dan pluralitas etnis ternyata sanggup disatukan di bawah satu naungan bernama Kerajaan Mempawah. Semangat dan nilai inilah yang setiap tahun diperingati oleh para pemangku budaya di Kerajaan Mempawah.

Tunggul Tauladan, Peneliti Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Redaktur www.KerajaanNusantara.com

Foto: Aam Ito Tistomo dan Fajar Kliwon


Dibaca : 2099 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar