English Version | Bahasa Indonesia

Sejarah Kerajaan / Kesultanan



  • Sejarah

    Nama Mempawah diambil dari istilah “Mempauh”, yaitu nama pohon yang tumbuh di hulu sungai yang kemudian juga dikenal dengan nama Sungai Mempawah (J.U. Lontaan, 1975:125). Pada perkembangannya, Mempawah menjadi lekat sebagai nama salah satu kerajaan/kesultanan yang berkembang di Kalimantan Barat. Riwayat pemerintahan adat Mempawah sendiri terbagi atas dua periode, yakni pemerintahan kerajaan Suku Dayak yang berdasarkan ajaran Hindu dan masa pengaruh Islam (kesultanan). a. Mempawah pada Masa Kerajaan (Dayak/Hindu) Cikal-bakal Kerajaan Mempawah di Kalimantan Barat terkait erat dengan riwayat beberapa kerajaan pendahulunya, di antaranya adalah Kerajaan Bangkule Sultankng dan Kerajaan Sidiniang. Kerajaan Bangkule Sultankng merupakan kerajaan orang-orang Suku Dayak yang didirikan oleh Ne‘Rumaga di sebuah tempat yang bernama Bahana (Erwin Rizal, tt:39). Karlina Maryadi dalam tulisan berjudul “Menguak Misteri ... Selengkapnya »

  • Silsilah dan Periode Pemerintahan

    Berikut silsilah para Raja/Sultan/Pemangku Adat Mempawah yang dihimpun dari beberapa sumber, antara lain: Sejarah Hukum Adat dan Adat-istiadat Kalimantan Barat karya J.U. Lontaan (1975), Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat karya Musni Umberan, et.al. (1996-1997), dan tulisan Erwin Rizal berjudul “Kesultanan Mempawah dan Kubu” yang terhimpun dalam buku Inventarisasi Istana-Istana di Kalimantan Barat: Masa Suku Dayak Hindu (Kerajaan): Patih Gumantar (± 1380 M). Raja Kudung (± 1610 M). Panembahan Senggaok (± 1680 M). Masa Islam (Kesultanan): Opu Daeng Menambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara (1740 – 1761 M). Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma (1761 – 1787). Syarif Kasim bergelar Panembahan Mempawah (1787 – 1808). Syarif Hussein (1808 – 1820). Gusti Jati bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin (1820 – 1831). Gusti Amin bergelar Panembahan Adinata ... Selengkapnya »

  • Sistem Pemerintahan

    Sistem dan pola pemerintahan cikal-bakal Kesultanan Mempawah, yakni Kerajaan Bangkule Sultankng dan Kerajaan Sidiniang, masih bersumber berdasarkan adat-istiadat setempat, yakni hukum adat yang berlaku pada masyarakat Suku Dayak (Umberan, et.al, 1996-1997:18). Sistem pemerintahan tradisional yang lekat dengan ritual-ritual adat dan kepercayaan kepada hal-hal gaib masih berlaku dalam kehidupan kerajaan yang masih menganut ajaran agama Hindu itu. Pada masa pemerintahan Panembahan Senggaok, sistem pemerintahan tradisional masih dipertahankan meski pengaruh ajaran Islam mulai masuk ke dalam kehidupan kerajaan. Pengaruh Islam di Mempawah semakin kuat pada era kepemimpinan Opu Daeng Menambun yang bertahta sejak tahun 1740 M. Opu Daeng Menambun berasal dari Kesultanan Luwu Bugis yang telah cukup lama menjadi kerajaan bercorak Islam. Pemerintahan Opu Daeng Menambun di Kesultanan Mempawah memadukan antara hukum-hukum adat lama dengan hukum ... Selengkapnya »

  • Wilayah Kekuasaan

    Sepanjang riwayat sejarahnya, baik ketika masih berwujud kerajaan Suku Dayak maupun kesultanan bercorak Islam, pusat pemerintahan Kerajaan/Kesultanan Mempawah telah mengalami beberapa kali perpindahan tempat. Daerah-daerah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan/Kesultanan Mempawah tersebut berada di wilayah Mempawah Hulu atau Mempawah Hilir yang kini termasuk ke dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Beberapa tempat yang pernah menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Mempawah tersebut antara lain Bahana, Sidiniang (Sangking), Pekana (Karangan), Senggaok, Sebukit Rama, Kuala Mempawah (Galah Herang), Sunga, dan Pulau Pedalaman. Selengkapnya »