English Version | Bahasa Indonesia

Tentang Raja / Sultan / Pemangku Adat Sekarang

Gusti Dr. Ir. Mardan Adijaya M.Sc., bergelar Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, Pangeran Ratu Mulawangsa (Panembahan XIII)
Gusti Dr. Ir. Mardan Adijaya M.Sc., bergelar Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, Pangeran Ratu Mulawangsa (Panembahan XIII)

Pangeran Ratu Mulawangsa adalah Raja ke-13 Kerajaan Mempawah. beliau lahir di Pontianak pada tanggal 19 Maret 1960 dengan nama Mardan Adijaya. Pada tanggal 12 Agustus  2002 atau bertepatan dengan Senin Kliwon, 3 Jumadil Akhir 1423 H, Pangeran Ratu Mulawangsa ditabalkan sebagai Raja Kerajaan Mempawah bergelar Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim.

Jika dirunut dari silsilah Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa adalah anak kedua dari Raja Mempawah ke XII, Gusti Jimmi Mohammad Ibrahim bergelar Panembahan Mohammad Ibrahim dengan istrinya, Rr. Harmini. Selain Pangeran Ratu Mulawangsa, pasangan Gusti Jimmi Mohammad Ibrahim bergelar Panembahan Mohammad Ibrahim dengan Rr. Harmini juga mempunyai anak, yaitu Pangeran Gusti Agus Muharso Taufik (anak pertama), Titien Lestari SE. (anak ketiga), dan Dra. Padmi Yanuarni Chandramidi MM. (anak keempat).

Raja Mempawah ke-13 ini memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Kelautan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1985. Mulai tahun 1991, beliau melanjutkan pendidikan di University of New Brunswick (UNB), Kanada berkat beasiswa dari beberapa program, yaitu Canada Indonesia Development Agency-General Training Program (CIDA-GTP), Overseas Training Office of the National Planning Board (OTO-BAPPENAS) Scolarship Award (keduanya diterima selama tahun 1991-1994), dan Asian Development Bank-Six University Development and Rehabilitation (ADB-SUDR 6)  Scholarship Award (beasiswa ini diterima selama tahun 1994-1998). Selama berada di Kanada, Pangeran Ratu Mulawangsa berhasil menamatkan pendidikan sehingga memperoleh gelar Master of Science in Biology pada tahun 1994 dan Doctor of Philosophy pada tahun 1998.  

Ilmu yang diperoleh oleh Pangeran Ratu Mulawangsa, baik ketika menempuh pendidiakan di IPB maupun UNB, kemudian diaplikasikan lewat berbagai aktivitas, salah satunya adalah mengajar sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak, dan  Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Pontianak. Pangeran Ratu Mulawangsa juga aktif sebagai pembicara dalam berbagai seminar bertaraf internasional. Beberapa seminar tersebut, antara lain: Atlantic Canada Association of Parasitologists VI Conference pada tanggal 9-10 Agustus di Halifax Nova Scotia, Kanada; Annual Science Day pada tanggal 7 November 1996 di New Castle, New Brunswick, Kanada; Atlantic Canada Association of Parasitologists VII Conference pada tanggal 22-23 Agustus di Fredericton, New Brunswick, Kanada; dan Six Annual Conference on Student Research pada tanggal 20-21 Maret di  UNB Fredericton, New Brunswick, Kanada.

Selain menjadi dosen maupun pembicara di berbagai seminar internasional, Pangeran Ratu Mulawangsa juga juga aktif dalam berbagai lembaga sekaligus menduduki jabatan-jabatan strategis. Jabatan-jabatan tersebut adalah Wakil Direktur Fakultas Matematik dan IPA Universitas Tanjungpura, Direktur Pelaksana Pusat Studi Air Tawar dan Pantai Universitas Tanjungpura, Sekretaris Forum Sumber Daya Alam dan Pengawasan Penyelamatan Lingkungan, Ketua Divisi Perlindungan dan Konservasi Masyarakat Peduli Kapuas, Direktur Pelaksana Masyarakat Peduli Nelayan, Ketua Divisi Lingkungan Studi Strategis Kalimantan Barat, Anggota Technical and Steering Committee Program Pengembangan Sumberdaya Kelautan Kalimantan Barat, dan Ketua Masyarakat Peduli Sejarah.

Pangeran Ratu Mulawangsa juga terlibat dalam berbagai organisasi, baik organisasi profesional maupun sosial kemasyarakatan. Organisasi-organisasi tersebut adalah Forum Kraton Kalimantan Barat; Badan Pengelola Dampak Lingkungan Kalimantan Barat; Himpunan Ahli Tehnik Hidrolik Indonesia (HATHI), Matematik dan Ilmu Pengetahuan Alam Network (MIPA-Net) Indonesia, New York Academy of Sciences (NYAS); Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI); Atlantic Canada Association of Parasitologist (ACAP); Orca Diving Club Kalimantan Barat; dan Indonesian Subaquatic Sport Association (ISSA).

Salah satu catatan dalam kehidupan pribadi Pangeran Ratu Mulawangsa adalah ketika beliau menikah dengan Dr. Ir Arini Mariam, M.Sc pada tahun 1985. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai 3 orang putra-putri, yaitu Puteri Aryani Nurnisa Chandramidi, ST. bergelar Pangeran Puteri Seri Negare, Gusti Mohammad Hafizh Adinugraha, ST. bergelar Pangeran Wirabuana, Gusti Mohammad Hakim Adiprasetya bergelar Pangeran Jayakerta.

Pemikiran

Keraton Sebagai Simpul Sosio-Kultural

Menurut Pangeran Ratu Mulawangsa, keraton merupakan unsur pengikat kebudayaan (simpul sosio-kultural). Beragam etnis yang menjadi unsur pembangun keraton, baik tangible maupun intangible, telah bernaung di dalam keraton sejak pertama kali keraton tersebut didirikan. Oleh karena itu, ketika budaya masuk ke keraton tidak serta-merta dapat menghapus atau menggantikan budaya yang telah ada sebelumnya. Unsur agama yang menjadi faktor luar dan berpangaruh terhadap perkembangan suatu keraton tidak dapat menggantikan unsur adat yang telah lebih dulu ada. Inilah kearifan lokal yang berpadu dengan pengaruh luar dan telah lazim terjadi dalam tataran kebudayaan di keraton.

Lewat peran keraton sebagai simpul sosio-kultural tersebut, maka keraton sanggup berfungsi sebagai pemersatu seluruh elemen masyarakat yang bernaung di dalamnya. Fungsi tersebut pada masa kini sangat berguna untuk menjadi centripetal force (kekuatan pengikat) dalam rangka mengakomodir berbagai kepentingan kelompok primordial. Kekuatan kolektif tersebut sebenarnya sanggup untuk mereduksi sisi negatif akibat munculnya kembali fenomena kelompok–kelompok primordial.

Kraton Sebagai Sumber Budaya Demi Ketahanan Nasional Bangsa

Pangeran Ratu Mulawangsa mempunyai pemikiran bahwa keraton selayaknya menjadi pusat kebudayaan. Peran keraton yang dewasa ini mulai dinafikan oleh institusi yang sah di negara ini, coba untuk diangkat agar lebih diperhatikan. Bukan sesuatu yang baru apabila banyak keraton di nusantara kini mulai musnah seiring dengan minimnya perhatian terhadap keraton maupun keluarga kerajaan. Padahal keraton merupakan pusat kebudayaan yang selayaknya menjadi identitas bangsa.

Menurut Pangeran Ratu Mulawangsa, terdapat dua hal yang menjadikan bangsa Indonesia kehilangan jatidiri, yaitu integrasi budaya dari luar yang ikut terbawa oleh pertukaran informasi dan teknologi serta kurangnya perhatian terhadap keraton sebagai pusat kebudayaan. Pembangunan ekonomi dan kebendaaan yang tidak diiringi dengan pembangunan mental spiritual bangsa menjadikan hilangnya identitas bangsa, padahal identitas tersebut sebenarnya telah melekat pada setiap kebudayaan lokal.

Pemikiran Pangeran Ratu Mulawangsa tersebut berpijak pada dua kata, “Gnothi Seauton”, yang berarti “kenalilah dirimu”. Tulisan tersebut ditulis oleh para pendeta di depan Candi Apollo di Delphi, Yunani. Dua kata tersebut memberikan makna bahwa segala interaksi dan interdependensi kehidupan bermasyarakat yang terarah dan positif bermula dari pemahaman terhadap jatidiri. Sedangkan untuk mengenal jatidiri, seseorang harus berusaha untuk mengetahui dan mengenal sejarah tumbuh dan berkembangnya peradaban tempat dia dibesarkan. Termasuk kesadaran akan adat istiadat (termasuk hukum adat) dalam masyarakatnya, atau secara umum dikatakan mengenal sosial budayanya.

Sejarah dan budaya adalah rangkaian kata yang berkait. Kepedulian akan dua hal ini dapat menjadi jaminan jika jatidiri suatu bangsa tidak akan pernah hilang. Upaya pelestarian terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan, beserta keraton sebagai pusatnya, hendaknya dijadikan sebagai pijakan dalam pembangunan. Hilangnya kesadaran dan kepedulian akan sejarah dan kebudayaan, menjadikan masyarakat menjadi kurang beradab. Ketika peradaban tersebut dirusak, maka nilai-nilai tertentu yang terkandung di dalamnya juga ikut musanah. Bentuk perusakan yang sering terjadi adalah penghancuran atau pemusnahan sebagian atau seluruh situs, catatan, dan warisan budaya dengan alasan pembangunan. Selain itu, kebiasaan untuk melupakan tradisi budaya seperti ritual budaya, adalah salah satu bentuk perusakan peradaban.

Di sinilah pentingnya pemerintah sebagai indikator utama dalam pembangunan untuk mulai memberikan perhatian terhadap peradaban dengan menghargai nilai-nilai sejarah dan budaya. Cara yang dilakukan adalah memahami dan melestarikan warisan budaya, demi kepentingan bangsa di masa kini dan masa yang akan datang.

Keraton dan lembaga adat di Indonesia yang sangat bhinneka merupakan sumber utama budaya. Keberadaan dan kegiatan keraton selayaknya diakui dan menjadi panutan oleh masyarakat sehingga sanggup menjadi landasan bagi pembangunan dan ketahanan nasional bangsa.

 

Dibaca : 9088 kali
« Kembali ke Kerajaan Mempawah

Share

Form Komentar