English Version | Bahasa Indonesia

Tuanku Luckman Sinar Basarsyah-II, SH.



Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, S.H.
Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, S.H.

Riwayat Hidup

Sejarawan sekaligus Budayawan Melayu adalah dua identitas yang melekat pada Tengku Luckman Sinar, S.H., Sultan Pemangku Adat Kesultanan Melayu Negeri Serdang yang bergelar Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, S.H. Dua identitas itu sangat jelas terlihat dalam berbagai karya tulis, pemikiran, dan aktivitas beliau. Maka layaklah jika sederet prestasi dan beragam penghargaan, mengisi lembaran kisah kehidupannya.

Beliau lahir di Istana Keraton Kota Galuh Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 27 Juli 1933. Kehidupan masa kecil sampai masuk ke dunia pendidikan formal ditempuh di Medan. Beliau berturut-turut menempuh pendidikan formal di Hestel Lagere School di Medan (tamat 1950), R.K. Middlebare Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan (tamat 1953), SMA di Medan (tamat 1955), kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara di Medan (Sarjana Muda 1962), dan Pendidikan Kemiliteran LPKW (1963).

Setelah menempuh pendidikan di Medan, pengetahuan Tengku Luckman Sinar semakin lengkap ketika hijrah ke Jakarta untuk menempuh kuliah di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Jayabaya (Sarjana Hukum 1969). Tidak berhenti sampai di situ saja, beliau juga menjalankan Kursus Manajemen Perkebunan di Bandung (1964). Pada 1976, beliau melakukan penelitian ke Belanda berkat kerjasama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Belanda (1976-1980).

Suami dari Tengku Hj. Daratul Qamar yang bergelar Tengku Suri Serdang ini memang layak ditahbiskan sebagai “Sejarawan yang Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu”. Sebutan ini diterima beliau ketika mendapat Anugerah MelayuOnline 2009 dalam kategori Sejarawan yang Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu, pada 20 Januari 2009 di Gedung Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Pentahbisan ini sepertinya tidak berlebihan mengingat kiprah beliau sangat luar biasa dalam menjaga, membina, sampai mengembangkan Kebudayaan Melayu. Tidak kurang dari 35 penulisan karya ilmiah dalam bentuk buku atau majalah, 108 pengalaman di bidang seni dan Kebudayaan Melayu, 215 seminar telah beliau ikuti baik sebagai peserta maupun pemakalah, serta 294 artikel dan karya ilmiah telah beliau dedikasikan selama ini.


Sebagai putera dari Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah (Sultan Serdang), maka sejak 12 Juni 2002, beliau diangkat menjadi Kepala Adat Kesultanan Serdang bergelar Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, S.H. Meskipun berperan penting sebagai penjaga adat Serdang, beliau juga masih menampakkan sisi kerakyatan yang merupakan sifat bawaan dari ajaran sang ayah. Naiknya Tengku Luckman Sinar menggantikan posisi sang ayah, tidak serta merta menggantikan karakter pribadinya yang tetap dekat dengan rakyat, pengamat budaya Melayu sejati, dan yang paling penting adalah kebiasaan beliau untuk tetap menulis, baik budaya maupun sejarah Melayu.

Kekafahan beliau untuk menjaga adat Melayu tetap terpelihara, meskipun sejumlah pekerjaan lain juga membutuhkan perhatiannya. Beberapa pekerjaan tersebut antara lain Presiden Komisaris P.T. Banteuka (Eksportir dan Ekspedisi Pertamina Sumatera Utara); Dosen Luar Biasa Etnomusikologi Melayu, Sejarah Sumatera Utara dan Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Sumatera Timur pada Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara di Medan; serta kolumnis Harian Waspada (sejak 1987).

Mantan Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) periode 2001-2004 ini sadar betul bahwa adat Melayu harus tetap ditegakkan, dipelihara, dan dikembangkan. Pengenalan tentang adat Melayu, tidak hanya dilakukan melalui berbagai seminar semata, tetapi lebih jauh dari itu, beliau juga melakukan penulisan tentang kebudayaan (adat) sampai Sejarah Melayu. Mulai sejarah kerajaan di Sumatera Timur, sejarah Kota Medan, etnomusikologi dan Tarian Melayu, adat perkawinan dan tatarias pengantin Melayu, sampai buku Mengenang Kewiraan Pemuka Adat dan Masyarakat Adatnya di Sumatera Utara Menentang Kolonialisme Belanda.

Bagi Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, proses penggalian sejarah dan budaya Melayu tidak akan pernah selesai. Alasannya bukan hanya sekadar kapasitas beliau sebagai Kepala Adat Kesultanan Serdang semata, tetapi lebih jauh dari itu, kecintaan beliau akan identitas budaya Melayu. Kebudayaan Melayu tidak boleh luntur dan sudah merupakan bagian dari tugas beliau untuk tetap memelihara kebudayaan dan memberikan informasi kepada anak muda tentang identitas kemelayuan mereka. Maka tidak mengherankan, ketika ada orang bertanya tentang sejarah Sumatera Utara (khususnya Medan) maupun kebudayaan Melayu, rujukan pertama pastilah saksi hidup yang bernama Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, S.H.

Sejarawan Sekaligus Budayawan

Sejarawan sekaligus budayawan adalah “gelar” yang sangat pantas disandang oleh Tuanku Luckman Sinar Basarshah II. Eksistensi beliau untuk terus menggali, menjaga, serta mengembangkan sejarah dan budaya Melayu diwujudkan melalui beragam aktivitas, antara lain dengan menulis, mengajar kuliah, hingga aktif dalam berbagai seminar. Wujud nyata dari eksistensi tersebut, di antaranya tertuang lewat beberapa karya tulis beliau, yaitu buku Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (2002) dan Adat Budaya Melayu: Jati Diri dan Kepribadian (2005).

“Sejarah perlu diluruskan”, (Tuanku Luckman Sinar Basarshah II).

Inilah salah satu Sultan di Nusantara yang tak pernah lelah untuk berfikir tentang sejarah. Sultan yang berusaha keras untuk menuliskan tentang sejarah anak negerinya sendiri, terutama Melayu. Beliau menggali dan memperkenalkan beraneka ragam sejarah para tokoh yang sangat jarang diangkat oleh kebanyakan kaum sejarawan. Pelurusan tentang sejarah Sultan Alam Bagagarsyah merupakan salah satu contohnya.

Pemikiran Tuanku Luckman Sinar Basarshah II tentang Sejarah Melayu, telah teraplikasikan ketika beliau mulai aktif menulis dan berbicara tentang sejarah Melayu. Sebagian besar penulisannya menyoroti sejarah di seputar Pulau Sumatera, mulai Sumatera Timur (dulu), Sumatera Utara (khususnya Medan), sampai Aceh. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (2002) merupakan buku karya beliau yang mengurai sejarah suatu wilayah yang disebut oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai wilayah “Karesidenan Sumatera Timur”. Karesidenan ini terdiri dari wilayah Kerajaan Langkat (yang berbatasan dengan Residensi Aceh), Kerajaan Deli, Kerajaan Serdang (wilayahnya kini dalam Kabupaten Deli-Serdang dan Kabupaten Bedagai), Kerajaan Asahan, Kedatukan di Batubara, Kerajaan Panai, Kerajaan Bilah, Kerajaan Kota Pinang dan Kerajaan Kualuh-Leidong di Kabupaten Asahan serta Kabupaten Labuhan Batu, Kerajaan Simalungun dan Kerajaan-Kerajaan di Tanah Tinggi Karo.

Buku ini mengupas sejarah sejak zaman purba sampai pascakemerdekaan 17 Agustus 1945. Selain itu, buku ini juga mengupas berbagai masalah yang melingkupi kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur. Mulai “Politik Kontrak”, “Korte Verklaring” (Pernyataan Pendek), “Zelfbestuurregeling 1919” (Peraturan tentang Pemerintah Kerajaan), “Extraterialiteitcommissie 1926” yang bertujuan untuk melenyapkan wilayah pemerintahan yang otonomi ketika kekuasaan raja sudah mulai lemah (bahkan lenyap), sehingga demokrasi lokal akan berkembang, kasus Negara Bagian (yang diciptakan van Mook), sampai “Revolusi Sosial” di mana raja-raja diturunkan dan kerajaan diambil alih pada tanggal 3 Maret 1946.

Selain menulis tentang sejarah di Sumatera Timur saja, beliau juga menuliskan secara khusus Sejarah Medan Tempoe Doeloe (2007). Buku yang awalnya ditulis dalam Bahasa Inggris dengan judul The History of Medan in the Olden Time (2008) ini, telah menjadi salah satu buku rujukan ketika para peneliti atau orang awam sekalipun ingin mengetahui tentang asal usul daerah Medan. Sebagaimana disampaikan dalam kata pengantar di buku The History of Medan in the Olden Time (2008),

“This book starts from the overview of the ancient era, then the Islamic Kingdom of Haru in Deli, the migration of the Karo etnic from The High Land to the region of Deli, The Sultanate of Deli and its relationship to the Dutch Indies government...also covers the growth of Medan as the centre of administrative town, the municipality authority, its problem of archeological and architecture buildings”.

Masih di kajian sejarah, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II juga menulis sejarah tentang kewiraan para pejuang di Tanah Melayu, suatu kajian yang masih jarang diangkat dalam peta penulisan sejarah Nusantara. Karya beliau tertuang dalam buku yang berjudul Mengenang Kewiraan Pemuka Adat dan Masyarakat Adatnya di Sumatera Utara Menentang Kolonialisme Belanda (2007). Dalam buku ini, beliau menulis bagaimana para pemuka adat dan masyarakat Sumatera Utara melakukan perlawanan terhadap kolonialis Belanda. Mulai perlawanan pemuka dan masyarakat adat di Tapanuli Tengah, kepahlawanan Raja Orahili di Nias, sampai Tengku Usman Husin “Wira Melayu: Pejuang Anti-Kolonialisme/Pencetus ‘The Confederation of Malay States’”.

Selain menulis, beliau juga secara aktif ikut dalam berbagai seminar, baik sebagai peserta maupun pemakalah. Dalam “Seminar Nasional Sultan Alam Bagagarsyah” yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar di Hotel Bumiminang, pada 17 Maret 2008, Tuanku Luckman secara khusus mendukung penganugerahan pahlawan nasional pada Sultan Alam Bagagarsyah.

Tuanku Luckman mengemukakan bahwa, “Meskipun secara lahir beliau adalah aparat pemerintahan, tetapi secara batin ia masih dianggap sebagai Raja Alam Minangkabau. Sehingga ia senantiasa berpikir tentang keselamatan rakyat, serta selalu berusaha untuk mengusir penjajah Belanda”. Ini dibuktikan dengan terjadinya perlawanan besar-besaran di seluruh daerah Minangkabau pada 11 Januari 1833 yang dipicu surat dari Sultan Alam Bagagarsyah kepada beberapa orang pimpinan rakyat di daerah Minangkabau. Namun perlawanan yang dirancang itu akhirnya menghantarkan Sultan Alam Bagagarsyah ke penjara. Hingga beliau dibuang ke Batavia sampai meninggal pada 12 Februari 1849. Waktu itu ada tiga kekuatan perlawanan rakyat, yaitu kekuatan Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, kekuatan Raja Alam Minangkabau di bawah pimpinan Sultan Alam Bagagarsyah, serta kekuatan pasukan Diponegoro di bawah Pimpinan Sentot Ali Basya.

Perhatian Tuanku Luckman untuk mengangkat Sultan Alam Bagagarsyah menjadi pahlawan nasional, merupakan kiprah beliau dalam meluruskan sejarah. Di medium seperti seminar inilah, Tuanku Luckman berbicara dengan disertai bukti bahwa pelurusan sejarah tentang kebenaran dari kiprah Sultan Alam Bagagarsyah didasarkan pada bukti yang didapatkan Tuanku Luckman dari dokumen-dokumen Belanda.

Selain Seminar “Dari Seminar Nasional Sultan Alam Bagagarsyah, Layak Jadi Pahlawan Nasional”, Tuanku Luckman juga berperan sebagai pemakalah dalam beberapa seminar dengan tema sejarah lainnya. Seminar-seminar tersebut di antaranya: Ceramah dalam Dialog Angkatan 45 – Generasi Muda Karo dan Pengusulan Pahlawan Karo di Kabanjahe, dengan makalah “Perang Sunggal”, pada tanggal 30 Oktober 1988; “Medan Tempoe Doeloe dalam Lintasan Sejarah”, ceramah ilmiah untuk para guru sejarah SMA se-Sumatera di Medan pada tanggal 4 Maret 1991; dan “Bandar Tua di antara Muara Sungai Deli dan Sei Belawan,” dalam Seminar Perhimpunan Pecinta Bandar Lama Pusaka Bangsa (PPBLPB) pada tanggal 27 Februari 2006 di Tiara Convention Hall, Medan.

Seminar di atas hanya beberapa contoh dari ratusan seminar yang telah beliau ikuti, baik sebagai peserta maupun pemakalah. Berbicara di berbagai seminar sampai wawancara oleh berbagai media massa merupakan cara untuk tetap menggali dan mewartakan sejarah Melayu di Nusantara. Di luar seminar dan wawancara, beliau juga mengajar sebagai Dosen Luar Biasa Etnomusikologi Melayu, Sejarah Sumatera Utara, dan Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Sumatera Timur pada Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara di Medan. Lewat tatap muka dengan anak muda penerus garis kemelayuan inilah, beliau menularkan berbagai ilmu dan pengetahuan tentang Melayu. Pengenalan secara langsung terhadap penerus tradisi Melayu, merupakan obat yang manjur untuk tetap meneruskan jejak sejarah, budaya, dan tradisi Melayu di Nusantara.

Budayawan yang Sederhana

Beliau dikenal sebagai budayawan Melayu. Sebuah “gelar” yang benar-benar disandang dengan menjunjung tinggi kodratnya sebagai seorang Sultan yang sekaligus sebagai penjaga kebudayaan. Kodrat inilah yang kemudian melahirkan konsekuensi dari “gelar”nya sebagai budayawan. Setidaknya terdapat dua hal yang menjadi wujud nyata dari dijalankannya konsekuensi tersebut, Pertama, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II duduk selaku Kepala Adat Kesultanan Serdang, Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) periode 2001-2004, serta Pengurus Harian Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (FORKALA) Provinsi Sumatera Utara sesuai SK Gubernur Sumatera Utara No. 189.1/486.K tanggal 12 April 2006. Kedua, lewat berbagai tulisan, baik yang berbentuk buku, artikel, maupun ratusan karya tulis ilmiah.

Kesenian yang merupakan cabang dari kebudayaan, turut pula menjadi salah satu perhatian dari Tuanku Luckman Sinar Basarshah II. Darah seni Tuanku Luckman Sinar Basarshah II tampaknya didapatkan dari sang ayah, Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. Seperti dikutip dari Waspada online, diceritakan bahwa Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah merupakan pengayom kesenian Serdang. Salah satu indikasinya adalah pembuatan sebuah teater bangsawan “Indera Ratu” yang melakukan pertunjukan ke wilayah pesisir timur Sumatera dan Kalimantan Barat atas biaya sendiri. Bahkan pada awal abad ke-20, “Indera Ratu” melakukan pentas keliling di berbagai daerah di Jawa, Malaya, dan Singapura dengan membawakan cerita Melayu, salah satunya berjudul “Cempaka Biru”. Cerita ini dilakonkan oleh putera Tuanku Sulaiman sendiri, Tengku Rajih Anwar bergelar Putera Mahkota Kesultanan Serdang dan Tengku Luckman Sinar yang kala itu masih berusia 9 tahun.

Ketika Tuanku Luckman Sinar Basarshah II naik menjadi Kepala Adat Kesultanan Serdang, perhatian dan pemikiran tentang Kesenian Melayu masih terjaga. Bahkan perhatiannya di bidang kesenian Melayu dikembangkan pula ke tingkat yang lebih luas, yaitu kebudayaan Melayu. Lembaga adat akhirnya dijadikan medium bagi Tuanku Luckman untuk menjaga agar eksistensi Budaya Melayu tetap terpelihara. Di sinilah Tuanku Luckman Sinar Basarshah II memainkan peran sebagai pelestari kebudayaan Melayu dari serbuan budaya asing yang datang silih berganti.

Lewat kapasitas tersebut beliau menunjukkan perhatian yang sangat serius tentang pengaruh budaya luar yang mungkin mengancam eksistensi budaya Melayu. Salah satunya ditunjukkan ketika beliau hadir dalam acara "Coffee Morning" dalam rangka menyerap aspirasi untuk penjaringan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Utara masa bakti 2008-2011. Dalam acara yang digelar di Aula Badan Infokom Provinsi Sumatera Utara di Medan pada hari Kamis, 8 November 2008, secara tegas beliau menyampaikan bahwa kini banyak siaran dari media elektronik nasional, terutama televisi swasta di Jakarta, yang materi siarannya terindikasi bertentangan dengan nilai-nilai adat dan budaya daerah masuk ke Sumatera Utara, bahkan beberapa di antaranya dikhawatirkan sudah mengarah kepada hal-hal yang dapat menyesatkan masyarakat. Penjaringan anggota KPID Sumatera Utara yang peduli dengan adat Melayu, diharapkan mampu memberikan filter yang bisa menjaga eksistensi budaya Melayu terhadap serbuan budaya luar.

Di sisi lain, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II juga sadar betul, bahwa memelihara adat serta budaya, bukan barang murah. Butuh usaha yang maksimal untuk menjadikannya bisa bernilai, minimal bernilai jual di tingkat pariwisata agar dikenal dan mendapatkan sokongan materi yang menjadi pangkal alasan berhentinya upaya pemeliharaan kebudayaan tersebut. Bagi Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, seribu satu jalan akan ditempuh untuk tetap kukuh pada pendiriannya, yaitu tetap berupaya menjaga eksistensi budaya Melayu. Hal ini setidaknya tercermin ketika beliau hadir dalam Milad MelayuOnline Ke-II yang diadakan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Yogyakarta. Pertemuan ini menghadirkan 4 raja Melayu, yaitu Sultan Landak, Drs. Gusti Suryansyah, M.Si.; Raja Sanggau, Drs. Gusti Arman, M.Si.; Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin; dan Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II. Dalam pertemuan yang digelar pada Selasa, 20 Januari 2009 ini, muncul lontaran tentang peran raja sebagai salah satu pemangku budaya Melayu dalam revitalisasi kebudayaan.

Menanggapi lontaran mengenai peran raja dalam revitalisasi kebudayaan, Gusti Suryansyah menuturkan bahwa kesulitan terbesar bagi para raja untuk turut serta dalam revitalisasi budaya adalah kurangnya kekuatan ekonomi yang dimiliki. “Semisal yang terjadi dalam Keraton Landak. Untuk melakukan upacara Adat Tumpang Negeri, yang merupakan upacara syukur terhadap panen yang didapat, pihak Keraton Landak harus mengemis dulu kepada pemerintah, agar mendapatkan dana untuk melaksanakan upacara tersebut,” tuturnya. Menanggapi pernyataan dari Gusti Suryansyah, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II memaparkan bahwa peran raja dalam revitalisasi budaya dapat saja terjadi selama ada penyesuaian dengan perkembangan zaman. “Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah melalui industri pariwisata. Keraton yang memiliki khazanah kebudayaan dapat dijadikan daya tarik bagi wisatawan,” tambahnya.

Di sinilah pentingnya kreativitas dalam menjaga idealisme untuk memegang teguh tekad dalam memakmurkan budaya Melayu. Bahkan dalam keadaan yang cukup leluasa untuk melakukan segalanya sekalipun, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II pun tetap pada karakter sejatinya, tetap rendah hati, merakyat, dan tetap semangat. Setidaknya sikap ini tercermin dalam keseharian beliau.

“Beliau sungguh seorang lelaki yang sangat bersahaja walau di benaknya sangat sarat pengetahuan. Di rumahnya yang asri di Medan, ia mudah dijumpai sedang mengetik di ruangan yang tanpa AC. Padahal, ia sangat mampu untuk membeli alat pendingin udara yang sudah merupakan barang sehari-hari di kota besar itu.”

Beliau sukses melahirkan ratusan tulisan yang telah terpampang di koran, majalah, jurnal, maupun telah dibukukan lewat nilai-nilai kesederhanaan. Pemikiran beliau tidak hanya berhenti di ujung lidah saja sebagai orator di berbagai seminar, tetapi telah diwujudkan secara nyata lewat karya tulis yang lebih abadi dibanding kata. Scripta manent verba volant (yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan terbang bersama angin), demikian kira-kira ungkapan yang cukup sesuai untuk menggambarkan sepakterjang beliau. Beragam buku bernafaskan adat, kebudayaan, hingga sejarah, telah menjadi tolok pegangan bagi siapapun yang bermaksud belajar tentang Melayu. Mulai sejarah Kota Medan, sejarah Kerajaan-Kerajaan di Sumatera Timur, sampai kewiraan pemuka adat dan masyarakat adatnya di Sumatera Utara menentang kolonialisme Belanda, telah membuka mata setiap insan, betapa luar biasa kebudayaan Melayu.

Sang Sultan yang Tak Pernah Lelah untuk Berkarya

Pentahbisan Tuanku Luckman Sinar Basarshah II sebagai “Sejarawan yang Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu” bukan didapat melalui proses yang singkat. Penyebutan ini didapat karena beliau telah membuktikan dengan melahirkan berbagai karya tentang sejarah maupun Budaya Melayu. Beliau menulis tidak kurang dari 35 penulisan karya ilmiah dalam bentuk buku/majalah. Beberapa buku atau majalah tersebut antara lain: Sari Sejarah Serdang (Jilid I dan II di Medan 1971 dan dicetak ulang oleh Departemen P dan K di Jakarta pada 1986); Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, Medan: Universitas Sumatera Utara Press (2002); dan Adat Budaya Melayu: Jati Diri dan Kepribadian, Sumatera Utara: FORKALA (2005).

Di luar beberapa buku yang beliau tuliskan tersebut, karya lainnya adalah pengalaman yang telah beliau geluti dalam mengkampanyekan budaya dan sejarah Melayu. Sedikitnya, 108 pengalaman di bidang seni dan kebudayaan Melayu telah beliau lakoni selama ini. Dari angka tersebut, beberapa di antaranya adalah Pendiri Sinar Budaya Grup tahun 1989, Ketua Bidang Kebudayaan ICM I – ORWIL Sumatera Utara sejak tahun 1991; Diangkat sebagai Kepala Adat/ Ketua Dewan Adat dan Sesepuh Masyarakat Melayu di Sumatera Utara oleh Musyawarah Besar Ke-VIII Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) pada tanggal 12 Oktober 2004; Pendiri Yayasan Kesultanan Serdang tahun 2006, dan sebagai sejarawan dan budayawan Melayu memberikan bahan tentang masalah konflik “Perkebunan Besar dengan Masyarakat Lokal dari Laten ke Manifes” yang diselenggarakan Dewan Riset Daerah Sumatera Utara di Medan pada tanggal 18 Juli 2006.

Karya lain dalam mengenalkan, memelihara, dan mengembangkan tradisi Melayu, telah beliau lakukan dengan aktif berbicara di berbagai seminar yang bertaraf regional, nasional, bahkan internasional. Tidak kurang dari 215 seminar telah beliau ikuti untuk kelanggengan adat dan budaya Melayu. Beberapa seminar yang telah beliau ikuti sebagai pemakalah, antara lain: “Riau Selaku Basis Imperium Melayu di Abad ke-16”, Seminar Sejarah Riau di Pekanbaru pada tahun 1975; “Perkembangan Sejarah Musik dan Tari Melayu dan Usaha Pelestariannya”, dalam Seminar Pesta Budaya Melayu Sumatera Utara di Stabat, Kabupaten Langkat pada tahun 1987; dan “Kasus Kesultanan Pontianak Mempertahankan Hukum Adat Melayu (Adat Melayu Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah)”, dalam Seminar Adat-Budaya Melayu Kalimantan Barat di Ketapang pada tanggal 6 Februari 2006.

Selain seminar, beliau juga menulis tidak kurang dari 294 artikel dan karya ilmiah. Beberapa di antaranya adalah: “Mencari Hari Jadi Kota Medan”, harian Bintang Indonesia, Medan April 1971; “Adat Pemimpin dalam Etnosentris Melayu”, Harian Waspada edisi 3 April 2005; dan “Memperingati 140 Tahun Kewiraan Datuk Laksemana Putera Raja Wakil Sultan Serdang di Batubara”, Harian Analisa, edisi 10 Juni 2006.


Dibaca : 10476 kali
« Kembali ke Kesultanan Serdang

Share

Form Komentar

Tengku Surya 27 Oktober 2011 16:16

Assalamualaikum ... Ampun beribu ampun sembah patik mohon diampun .... mohon izin tag atas artikel ini ya ....

Balasan

Admin KerajaanNusantara.com 27 Oktober 2011 16:16

Wa'alaikumsalam. Silakan saja.

joko 10 Nopember 2011 23:30

Catatan: Setelah vakum sejak tahun 1946, maka pada tahun 1996 atas desakan masyarakat adat Serdang serta datuk-datuk, maka diangkatlah salah seorang putera dari Tuanku Sulaiman Sjariful Alamsjah yaitu Tuanku Abunawar Sinar Sjariful Alam yang kala itu menjabat sebagai ketua DPRD Kab. Deli Serdang. Setelah Tuanku Abunawar Sjariful Alam mangkat pada bulan Januari tahun 2002 posisinya digantikan oleh adiknya yakni Tuanku Luckman Sinar Basharshah.

rudy 12 Nopember 2011 00:52

Tuanku Luckman tidak serta merta ditabalkan setelah ayahnya meninggal, akan tetapi sejak 1946 Kesultanan Serdang vakum. Maka pada tahun 1996 hasil musyawarah Orang-Orang Besar maka dipilihlah dari salah seorang putra Sultan Sulaiman dgn kriteria: dikenal dan mengenal daerah serta mendapat dukungan pemerintah. Maka dari beberapa putra sultan yg masih hidup dipilihlah Tengku Abunawar Sinar Al-Haj yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPRD Deli Serdang menjadi Kepala Adat. Setelah mangkat pada tahun 2002 posisinya digantikan oleh adiknya Tengku Luckman.

Tengku Mira Sinar 16 Maret 2012 15:43

Yth. Bapak Joko dan Bapak Rudy Sila baca / klik bagian Sejarah Kesultanan

RUDHY. S 13 Nopember 2012 14:07

Ass. wr. wb. Mohon maaf beribu maaf Sultan Serdang, walaupun saya bukan asli etnis melayu, namun saya lahir dan besar di tanah, Deli. Saya senang membaca tentang sejarah, apalagi sejarah tentang kota tempat saya lahir dan besar, Deli dan Medan, yg tidak dapat dipisah dengan Kesultanan Serdang. Selain itu, leluhur kami juga ada pertalian saudara atau kekerabatan dengan salah satu Panglima Kerajaan Deli/atau Serdang yang bernama Datuk Tuanku FAO yang lebih dikenal dengan tuan Fao ( atau MATAPAO dengan kuda saktinya bernama Martubung). Saat ini saya sedang mencari sejarah tentang beliau, namun belum saya dapati, kalopun ada, hanya tentang keramat kudanya dan Tuanku Datuk Matafao mempunyai kekerabatan dengan eyang kami, yaitu Mbah Gambreng (seorang putri dari Jawa yang terdampar dan menetap di Perbaungan, tepatnya di Desa Melati/makamnya terkenal dengan sebutan Makam Mbah Gambreng) yang dulu konon sempat jadi penasehat di Kesultanan Serdang, pada jaman Sultan Sulaiman. Saat ini kami sedang mencari makam Tuanku Matapao, namun sampai saat ini belum kami temukan. Mungkin Tuanku Sultan atau kerabat istana ada yg mengetahui hal tersebut, itu sangat mmbantu sekali bagi kami untuk mencari makam para leluhur kami, dan informasi untuk mengetahui sejarah almarhum leluhur kami tersebut. Atas bantuan dan kesempatan yg diberikan kepada kami untuk mempelajari sejarah di Kesultanan Deli dan Serdang ini, kami ucapkan terima kasih, dan kami mendukung " Sejarah Melayu jangan sampai punah dan hilang" agar generasi muda kita tidak kehilangan sejarah Kesultanan Deli dan Serdang yang pernah ada di Sumatera Timur, tepatnya Sumatera Utara saat ini. Ass. wr wb.

bobby heryawan tarigan 27 Februari 2013 21:45

Assalamualaikum,mohon maaf,saya salah satu pemuda asli Serdang Bedagai.Saya ingin bertanya tentang cerita rakyat keramat kuda yang terletak di Desa Matapao. adapun cerita itu untuk saya jadikan judul skripsi saya,yang bertujuan untuk lebih melestarikan budaya Melayu Serdang Bedagai. Saya saat ini sedang menimba ilmu di Universitas Sumatera Utara Jurusan Sastra Melayu. Mohon petunjuk nya,karena sangat sulit mendapatkan cerita tentang Raja Pao dan kudanya tersebut. Terimakasih.