English Version | Bahasa Indonesia

Busana Kesultanan Kutai Kartanegara

Warna busana yang dipakai para bangsawan di Kesultanan Kutai Kartanegara menunjukkan identitas pemakai sekaligus haknya. Berikut ini adalah warna busana para bangsawan Kutai Kartanegara:

Warna busana untuk pria

  • Sultan memakai busana berwarna kuning tua atau kuning emas
  • Putera Mahkota memakai busana berwarna kuning muda
  • Pangeran Menteri memakai busana berwarna biru tua
  • Pangeran memakai busana berwarna biru muda
  • Adji Kiji memakai busana berwarna ungu tua
  • Raden memakai busana berwarna hijau tua
  • Bambang memakai busana berwarna merah tua
  • Adji yang telah menikah atau lanjut usia memakai busana berwarna hitam
  • Adji yang masih remaja atau belum menikah memakai busana berwarna merah muda
  • Awang memakai busana berwarna coklat tua
  • Encek memakai busana berwarna coklat muda
  • Para suami kerabat yang bukan keturunan Adji memakai busana berwarna abu-abu tua.

Warna busana untuk wanita

  • Ratu memakai busana berwarna kuning tua
  • Puteri memakai busana berwarna ungu tua
  • Raden memakai busana berwarna hijau tua
  • Adji yang telah menikah atau lanjut usia memakai busana berwarna hitam
  • Adji yang masih remaja atau belum menikah memakai busana berwarna merah muda
  • Dayang memakai busana berwarna coklat tua

Tata cara berpakaian menurut ketentuan yang berlaku di Kesultanan Kutai Kartanegara.

  • Seseorang yang belum akil baliq tidak dibenarkan memakai storong (semacam mahkota) dan kepong (semacam jubah atau mantel).
  • Seseorang yang belum menikah dibenarkan memakai kopiah atau songkok kancingan
  • Sesuai dengan ketentuan, bangsawan yang memakai storong berpasemen adalah Sultan, Pangeran Menteri, dan Pangeran yang menjabat.
  • Storong berbulu hanya dipakai oleh Sultan dan Pangeran Menteri.
  • Pangeran Menteri diberi kebebasan untuk memakai bulu putih atau hitam pada storong yang dipakainya.
  • Pangeran Menteri diwajibkan memakai bulu hitam pada acara pemberian gelar.

Tata busana bangsawan Kesultanan Kutai Kartanegara.

1.   Busana Sultan

Dalam acara resmi, Sultan memakai baju kebesaran, kepong atau mantel Sultan, dan storong atau mahkota yang terdapat bulu di atasnya. Pada saat peringatan ulangtahun penobatan, sebelum memakai storong, Sultan memakai ketopong (mahkota yang terbuat dari emas). Setelah memakai ketopong dan menjalani beberapa prosesi, maka ketopong akan dilepas dan berganti memakai storong. Storong yang dipakai oleh Sultan ketika acara peringatan penobatan dan acara Erau berbeda bentuknya. Busana Sultan juga dilengkapi dengan tanda pangkat yang bergambar sepasang ular, Bintang Sultan, dan Bintang Mahkota. 

2.   Busana Pangeran Menteri

Dalam berbusana, Pangeran Menteri memakai storong, baju Pangeran Menteri, dan celana berstrip. Untuk pemakaian storong, Pangeran Menteri memakai storong menurut aturan pemakaian. Storong ini memiliki beberapa bentuk dan aturan tentang tatacara pemakaian yang menyesuaiakan dengan acara dan storong yang dipakai oleh Sultan. Busana Pangeran Menteri juga dilengkapi dengan tanda pangkat pangeran yang menjabat sebagai Perdana Menteri, Bintang Pangeran yang menjabat sebagai Perdana Menteri, dan pedang. 

3.   Busana Adji Pangeran

Adji Pangeran memakai storong yang tidak dihiasi bulu dan baju pangeran. Sebagai kelengkapan memakai tanda pangkat Pangeran dan Bintang Pangeran yang tidak menjabat sebagai perdana Menteri. Bintang Pangeran ini dipakai di sebelah kanan.

4.   Busana Adji Kiji

Adji Kiji memakai storong yang tidak dihiasi bulu dan baju Adji Kiji. Sebagai kelengkapan memakai tanda pangkat Adji Kiji.

5.   Busana Adji Raden atau Raden

Adji Raden atau Raden memakai storong yang tidak dihiasi bulu dan baju Adji Raden atau Raden. Sebagai kelengkapan memakai tanda pangkat Raden dan pedang Raden. Pedang ini juga dipakai oleh para tokoh masyarakat yang sudah mendapat gelar dari Kesultanan Kutai Kartanegara, termasuk di dalamnya adalah para Bambang. Selain itu, pedang serupa juga dipakai di kalangan prajurit, yaitu Panglima Pasukan Pangkon Panjang dan wakilnya.

6.   Busana Adji Bambang atau Bambang

Adji Bambang atau Bambang memakai storong yang tidak dihiasi bulu dan baju Adji Bambang atau Bambang. Sebagai kelengkapan memakai tanda pangkat Bambang.

7.   Busana Adji Belum Digelar

Adji Adji Belum Digelar memakai storong yang tidak dihiasi bulu dan baju Adji Belum Digelar. Sebagai kelengkapan memakai tanda pangkat Adji Belum Digelar dan Bintang Abdi Para Kerabat.

8.   Busana Para Suami yang Bukan Keturunan Adji

Para suami yang bukan keturunan Adji memakai storong yang tidak dihiasi bulu dan baju para suami yang bukan keturunan Adji. Baju tersebut mirip dengan yang dipakai oleh para Adji. Namun terdapat perbedaaan di antara keduanya, yaitu jika baju Adji memakai tambahan warna kuning di ujung lengan baju, sedangkan baju para suami yang bukan keturunan Adji tidak mendapatkan tambahan warna kuning, namun diganti dengan memakai kancing kuning sebanyak 3 buah. Pada baju para suami yang bukan keturunan Adji dilengkapi dengan tanda pangkat para suami keluarga kita yang bukan keturunan Adji.

9.   Busana Demong

Demong mengenakan busana yang dinamakan baju Demong.

10.  Busana seseorang yang berjasa atau tokoh masyarakat

Seseorang yang berjasa atau tokoh masyarakat mengenakan busana sebagaimana rakyat biasa. Namun tokoh masyarakat atau orang yang berjasa ini memakai tanda pangkat yang seseorang yang berjasa. Sedangkan untuk tokoh masyarakat memakai Bintang Suaka Setia Mahkota.

11.  Busana Prajurit.

·       Barisan Pangkon Panjang

Busana Barisan Pangkon Panjang dibagi menjadi tiga, yaitu busana panglima, komandan, dan prajurit. Ketiga busana tersebut terdiri dari topi, baju pangkon panjang, dan celana. Topi untuk komandan dan prajurit mempunyai bentuk yang sama, namun terdapat pembeda di antara keduanya, yaitu topi untuk komandan mempunyai wapan berwarna kuning sedangkan prajurit berwarna putih. Wapan ini berbentuk semacam trisula atau mata tombak bermata tiga.

Selain topi, terdapat perbedaan lain antara panglima, komandan, dan prajurit. Perbedaan tersebut terletak pada tanda pangkat yang dipakai di kedua pundak. Tanda pangkat untuk panglima bergambar mata trisula atau mata tombak bermata tiga sebanyak dua buah, untuk wakil panglima 1 buah, sedangkan bagi komandan dan prajurit tidak terdapat gambar trisula atau mata tombak bermata tiga.

Bendera Barisan Pangkon Panjang berbentuk segitiga dengan gambar naga di tengah-tengah bendera. Dalam setiap penampilannya, Barisan Pangkon Panjang juga dilengkapi dengan genderang sebanyak 3 buah.

Sedangkan untuk senjata, Barisan Pangkon Panjang dilengkapi dengan keliau (perisai), tombak bermata satu, tombak bermata tiga, dan mandau. Bagi Barisan Pangkon Panjang yang menyandang tombak bermata tiga, menyiratkan arti bahwa meraka adalah pasukan pengawal atau pendamping Sultan. Jika dalam keadaan perang terlihat tombak bermata tiga, berarti Sultan ikut serta dalam perang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di manapun terlihat tombak bermata tiga, maka terdapat pula Sultan di situ. Tanpa Sultan, tombak bermata tiga tersebut tidak akan terlihat. Tombak bermata tiga melambangkan berpadunya Kerajaan Batara di kayangan dengan Kerajaan Dewa di pertiwi yang menciptakan Kerajaan Adji di bumi. Kayangan disebut kerajaan pertama, pertiwi disebut kerajaan kedua, dan bumi disebut kerajaan ketiga.       

·       Barisan Pangkon Dalam

Busana Pangkon Dalam terdiri dari baju, celana, dan bolang Pangkon Dalam. Barisan Pangkon Dalam juga memiliki bandera yang berbentuk segitiga, terdapat lingkaran di tengah-tengah bendera, dan terdapat gambar lembuswana di tengah-tengah lingkaran. 

·       Barisan Pembawa Payung Sultan

Busana Pembawa Payung Sultan merupakan seragam yang terdiri dari baju, sarung, dan celana. Sarung dipakai layaknya pemakaian pada busana Melayu. Busana Pembawa Payung Sultan memakai pesapu, namun tidak memakai bolang.

Sumber:

Adji Raden Atmo Kesumo, 2002. Motif dan lambang-lambang busana Kerajaan Kutai Kartanegara.

 

Dibaca : 5305 kali
« Kembali ke Kesultanan Kutai Kartanegara

Share

Form Komentar

Adij R, Hassarief 27 Februari 2013 07:22

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Bagaimana caranya kami (kakek,ayah kami keturunan Adji) yg lahir dan besar di rantau orang, jika ada kesempatan ke kota Sultan di Tengarong jika ingin sungkem hormat kepada Yang Mulia Sultan Kutai? Saat ini kami bermukin di kota Solo. Terima kasih