English Version | Bahasa Indonesia

Tentang Istana

Kedaton/Keraton Kutai Kartanegara

Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura memiliki istana yang disebut Kedaton atau Keraton Kutai Kartanegara. Istilah “kedaton” berasal dari kata “kedatuan”, demikian pula istilah “keraton” yang berasal dari kata “keratuan”. Kedua istilah tersebut memiliki makna yang sama, yakni istana atau tempat kediaman seorang raja. Dalam perjalanan sejarahnya, pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura sempat mengalami beberapa kali pemindahan, di antaranya adalah pada tahun 1732 M dipindahkan dari Kutai Lama ke Pemarangan, kemudian pada tahun 1782 berpindah lagi ke Tenggarong. Namun, data dan dokumentasi mengenai wujud istana Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura pada masa-masa awal itu belum dapat diketahui secara utuh.

Data yang berhasil diperoleh baru pada masa pemerintahan Aji Sultan Muhammad Sulaiman yang bertahta pada periode 1845-1899 dengan pusat pemerintahan di Tenggarong. Masa ini tentu saja terpaut sangat jauh dengan masa awal Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang dideklarasikan pada sekitar tahun 1300 Masehi di bawah kepemimpinan Aji Batara Agung Dewa Sakti. Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura pertamakali ditemukan oleh Carl Bock, seorang pengelana berkebangsaan Norwegia yang melakukan petualangan ke pedalaman Mahakam pada abad ke-18 M. Bock kala itu sempat membuat ilustrasi pendapa istana Aji Sultan Muhammad Sulaiman. Berdasarkan informasi yang ditemukan, Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura  pada masa itu berbentuk bangunan sederhana yang terbuat dari bahan kayu ulin.

Pengganti Aji Sultan Muhammad Sulaiman, yakni Aji Sultan Muhammad Alimuddin yang berkuasa sejak tahun 1899, menempati bangunan istana baru yang berlokasi tidak jauh dari istana ayahandanya. Istana Aji Sultan Muhammad Alimuddin yang didirkan menghadap Sungai Mahakam ini terdiri dari dua lantai dan bahannya juga terbuat dari kayu ulin. Bangunan keraton ini tetap digunakan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura hingga pada era kepemimpinan Aji Sultan Muhammad Parikesit (1920-1960).

Di dalam perjalanan pemerintahan Aji Sultan Muhammad Parikesit, bangunan istana sempat direnovasi, yakni dengan mengganti bahan kayu ulin dengan beton agar bangunan keraton semakin kuat. Selama masa renovasi istana, Aji Sultan Muhammad Parikesit beserta keluarga kesultanan menempati istana lama peninggalan sang kakek, Aji Sultan Muhammad Sulaiman, untuk sementara waktu.

Proyek renovasi keraton baru dilakukan oleh perusahaan Belanda bernama Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) Batavia yang pengerjaannya dipimpin oleh seorang arsitek bernama Estourgie. Proses renovasi Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura  ini memakan waktu selama 1 tahun dan fisik bangunan keraton selesai dikerjakan pada tahun 1937. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1938, Aji Sultan Muhammad Parikesit beserta keluarga kesultana resmi menempati istana yang baru ini. Prosesi peresmian keraton baru yang megah ini dilangsungkan dengan meriah dan diramaikan dengan pesta kembang api. Istana yang baru sudah dapat untuk didiami, maka diputuskan bahwa istana lama peninggalan Aji Sultan Muhammad Sulaiman akan dirobohkan.

Aji Sultan Muhammad Parikesit adalah pemimpin Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang terakhir sebelum wilayah kesultanan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1960. Namun, Aji Sultan Muhammad Parikesit dan keluarga tetap tinggal di istana seluas 2.270 m2 tersebut sampai dengan tahun 1971. Setelah itu, Kedaton Kutai Kartanegara diserahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Timur sejak tanggal 25 Nopember 1971.

Selanjutnya, pada tanggal 18 Februari 1976, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Timur menyerahkan kompleks bangunan Kedaton Kutai Kartanegara ini kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dikelola menjadi museum negeri dengan nama Museum Mulawarman. Beraneka-macam benda koleksi peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura  tersimpan dengan baik di museum ini, di antaranya adalah singgasana Sultan, arca, perhiasan, perlengkapan perang, tempat tidur, seperangkat gamelan, koleksi keramik kuno dari Cina, dan benda-benda milik kesultanan lainnya.

Di dalam kompleks istana Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura terdapat makam beberapa Raja/Sultan dan keluarga kesultanan. Nisan-nisan di kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura ini kebanyakan terbuat dari kayu ulir dengan ukiran huruf Arab. Beberapa Raja/Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang dikebumikan di kompleks ini antara lain: Aji Sultan Muhammad Muslihuddin (1780-1816), Aji Sultan Muhammad Salehuddin (1816-1845), Aji Sultan Muhammad Sulaiman (1850-1899), dan Aji Sultan Muhammad Parikesit (1920-1960). Sedangkan Aji Sultan Muhammad Alimuddin (1899-1910) dimakamkan di suatu tempat yang dimiliki oleh almarhum, yakni di daerah Gunung Gandek, Tenggarong.

Seiring dengan runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998, angin reformasi pun berhembus dan memberi hawa segar kepada kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara untuk bangun dari tidurnya, demikian pula dengan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Pada tahun 1999, Bupati Kutai Kartanegara Drs. H. Syaukani HR, MM, berniat menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura sebagai upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Selain itu, dihidupkannya tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura adalah untuk mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur dalam upaya menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pada tanggal 22 September 2001, putera mahkota H. Pangeran Praboe Anum Surya Adiningrat dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan HAM Salehuddin II. Sejalan dengan kebangkitan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara membangun sebuah istana baru yang kemudian disebut “kedaton”. Istana Kutai Kartanegara ing Martadipura yang selesai dibangun pada tahun 2002 ini terletak persis di samping Masjid Jami’ Aji Amir Hasanuddin dan memiliki corak arsitektur yang mengacu pada bentuk istana Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura pada masa pemerintahan Aji Sultan Muhammad Alimuddin.

Referensi:

  • “Kedaton Kutai Kartanegara, Tenggarong, Kaltim”, diunduh dari http://www.kalimantan-news.com/wisata.php?idw=33, data diakses pada tanggal 28 Maret 2011.
  •  “Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara”, diunduh dari  http://www.kutaikartanegara.com/kesultanan, data diakses pada tanggal 28 Maret 2011.
  •  “Kesultanan Kutai Kartanegara, Kerajaan Tertua di Indonesia,” diunduh dari http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedi/s/syaukani-hr/mti/mti-29_budaya2.shtml, data diakses pada tanggal 28 Maret 2011.

 

 

Dibaca : 5074 kali
« Kembali ke Tentang Istana

Share

Form Komentar

charles 06 Januari 2012 01:27

Thank's atas info nya. Saya tertarik dengan cerita nya,tapi tepatnya istananya berlokasi di mana? Saya sempat main ke Samarinda tapi gak tau klo ternyata ada istana,ya mungkin bila lain kali saya main ke Samarinda lagi bisa mengunjungi tempat bersejarah itu dan tau di mana istananya :)

Yeni Kurniasih 09 Desember 2012 20:51

rindu rasanya, ingin bisa mengingat masa lalu. terutama keluarga kesultanan kutai kartanegara disana ingin rasanya cepat pulang kesana. insya alloh sya dan cucu akan kesana nanti pasti sudah banyak perubahan. ua hamid sudah tidak ada jadi tambah sepi pasti. sudah banyak keluarga kerjaan yang mangkat