English Version | Bahasa Indonesia

Obyek Wisata Kutai Kartanegara

Museum Mulawarman

Museum Mulawarman merupakan salah satu obyek wisata yang menjadi andalan Provinsi Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten Kutai Kartanegara. Bangunan museum dulunya adalah istana atau Kedaton Kesultanan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang pembangunannya selesai pada tahun 1937. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1938, Sultan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Aji Sultan Muhammad Parikesit, beserta keluarga kesultanan resmi menempati istana yang baru ini. Prosesi peresmian keraton yang megah ini dilangsungkan dengan meriah dan diramaikan dengan pesta kembang api.

Setelah Indonesia merdeka, wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, Namun, Aji Sultan Muhammad Parikesit dan keluarga tetap tinggal di istana seluas 2.270 m2 tersebut sampai dengan tahun 1971. Setelah itu, Kedaton Kutai Kartanegara diserahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Timur sejak tanggal 25 Nopember 1971. Selanjutnya, pada tanggal 18 Februari 1976, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Timur menyerahkan kompleks bangunan Kedaton Kutai Kartanegara ini kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dikelola menjadi museum negeri dengan nama Museum Mulawarman. Museum ini berlokasi di Jalan Diponegoro, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Oleh karena pernah digunakan sebagai istana sekaligus tempat tinggal Sultan Kutai, maka tidak mengherankan apabila bangunan museum yang didominasi warna putih cerah ini tergolong megah. Segala sesuatu tentang Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dapat ditemukan di dalam museum ini, termasuk koleksi benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Beberapa benda warisan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang disimpan di Museum Mulawarman ini antara lain: singgasana Sultan Kutai yang diapit dua arca Lembu Swana, mozaik dan lukisan Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura, payung kebesaran kesultanan, perlengkapan perang, tempat tidur, seperangkat alat musik gamelan, koleksi keramik kuno dari Cina, dan benda-benda milik Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura lainnya.

Selain itu, di Museum Mulawarman juga menyimpan koleksi arkeologi, misalnya prasasti dan arca-arca peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura sebagai kerajaan tertua di Nusantara yang terkenal di bawah kepemimpinan Raja Mulawarman yang namanya kemudian diabadikan sebagai nama museum ini. Di samping itu, di bagian dalam museum juga terdapat koleksi ukir-ukiran, kerajinan, dan senjata tradisional khas Suku Dayak yang berdiam di Kalimantan Timur, yakni Dayak Kenyah, Dayak Benuaq, Dayak Busang, Dayak Modang, Dayak Punan, dan sub-etnis Dayak lainnya.

Tidak hanya itu, di Museum Mulawarman, pengunjung juga bisa menyaksikan minirama yang terdapat di bagian belakang museum. Minirama itu mengkisahkan tentang lahirnya Aji Batara Agung Dewa Sakti yang menjadi Sultan Kutai I dan lahirnya Puteri Karang Melenu yang menjadi permausuri Sultan Kutai I. Ada minirama tentang industri kayu, Pesut Mahakam, pertambangan batubara, tanaman khas Kalimantan, dan lain sebagainya. Masih ada banyak lagi benda-benda peninggalan sejarah di ruang bagian belakang Museum Mulawarman ini. Di Museum Mulawarman terdapat ruang bawah tanah. Di ruangan ini, disimpan koleksi ratusan keramik kuno dari Vietnam, Jepang, Thailand, Eropa, dan lain sebagainya.

Di lingkungan Museum Mulawarman juga terdapat kompleks makam sultan-sultan dan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Nisan-nisan di kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura ini kebanyakan terbuat dari kayu ulir dengan ukiran huruf Arab. Beberapa Raja/Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang dikebumikan di kompleks ini antara lain: Aji Sultan Muhammad Muslihuddin (1780-1816), Aji Sultan Muhammad Salehuddin (1816-1845), Aji Sultan Muhammad Sulaiman (1850-1899), dan Aji Sultan Muhammad Parikesit (1920-1960). Sedangkan Aji Sultan Muhammad Alimuddin (1899-1910) dimakamkan di suatu tempat yang dimiliki oleh almarhum, yakni di daerah Gunung Gandek, Tenggarong.

Dibaca : 3996 kali
« Kembali ke Kesultanan Kutai Kartanegara

Share

Form Komentar