English Version | Bahasa Indonesia

Kerajaan sebagai Pusat Kebudayaan

23 Juli 2011 13:27


Kedaton Kutai Kartanegara

Berikut ini merupakan rangkuman dari seminar budaya bertema "Budaya Kutai sebagai Benang Merah Sejarah dalam Merajut Persatuan dan Kesatuan Bangsa untuk Menuju Masyarakat yang Berbudaya” yang diselenggarakan di Kedaton Kutai Kartanegara, Sabtu, 9 Juli 2011. Seminar budaya kali ini menampilkan dua pemakalah, yaitu Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara sekaligus Menteri Sekretaris Keraton Kutai Kartanegara, HAPM Haryanto Bachroel dan Profesor Edi Sedyawati dari Komunitas Budaya Indonesia.

***

Kemajuan tingkat peradaban yang bisa diterjemahkan lewat dua sisi, positif-negatif, secara pasti akan berpengaruh kuat pada perubahan tatanan kebudayaan. Perubahan tersebut dapat bermakna dua, budaya yang semakin inovatif atau budaya yang semakin terkikis. Dari dua kemungkinan tersebut, tampaknya kemajuan tingkat peradaban lebih cenderung memberikan pengaruh pada pengikisan budaya, dalam hal ini budaya lokal.

Adat dan budaya yang oleh sebagian penikmat kemajuan peradaban dianggap sebagai produk masa lalu, kini mulai tidak populer. Eksodus nilai budaya dari belahan bumi barat tampaknya mulai menjadi trendcentre baru yang makin kukuh tertanam di Nusantara. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka bukan suatu kemustahilan bahwa nilai kearifan lokal yang terwujud lewat pranata adat dan budaya, pelan tapi pasti akan punah.

Kerajaan sebagai salah satu penjaga gawang kebudayaan sudah sepatutnya tampil untuk menuntaskan misi tersebut. Hal ini menjadi sebuah kewajiban ketika kita melihat bahwa pada dasarnya kebudayaan tersebut bermula dari dalam tembok keraton (kerajaan) yang kemudian menyebar ke masyarakat. Rakyat yang sangat setia terhadap pimpinannya (raja) kala itu, akan mengikuti semua kebiasaan -- termasuk adat dan kebudayaan -- yang berlaku di dalam istana. Keraton atau istana adalah cerminan bagi rakyatnya. Di sinilah salah fungsi sebenarnya dari berdirinya sebuah kerajaan, yaitu sebagai pusat kebudayaan.

Pusat budaya bernama keraton tersebut harus benar-benar dijaga karena pada dasarnya budaya merupakan identitas suatu bangsa. Terjaganya budaya sekaligus penjaganya, yaitu keraton dari perubahan atau kemajuan suatu peradaban akan secara langsung turut serta menjaga identitas dan budaya itu sendiri. Perpaduan keraton sebagai pusat sekaligus benteng kebudayaan dan pemerintah akan membuat kebudayaan semakin kokoh tertanam sekaligus menjadikan budaya sebagai komoditi yang laku untuk dijual.

Nilai jual kebudayaan bukan semata sebagai sebuah komersialitas, namun lebih jauh dari itu, yaitu sebagai media publikasi untuk mengenalkan pada masyarakat sekaligus sebagai wujud pelestarian kebudayaan. Penampilan berbagai agenda kebudayaan secara berkala di Kalimantan Timur, khususnya di Kutai Kartanegara, merupakan salah satu upaya agar masyarakat tidak melupakan identitas mereka. Festival Erau yang digelar setiap tahun adalah contoh nyata bagaimana Kesultanan Kutai Kartanegara berlaku sebagai benteng budaya dengan cara mendukung penuh pada setiap perhelatan Erau.

Pengemasan Erau sebagai kalender budaya di Kalimantan Timur terbukti telah menjadi salah satu daya tarik pariwisata budaya di Kalimantan Timur. Perpaduan antara melestarikan budaya yang berpusat dari keraton dan wadah kreativitas dari berbagai unsur, seperti suku Dayak dan Melayu, di dalam Erau terbukti telah membuat budaya lokal yang satu ini kini semakin eksis.

Erau merupakan salah satu contoh bagaimana berbagai budaya bisa berpadu dan terbukti menghasilkan sesuatu yang cukup populer di mata masyarakat. Kemampuan untuk menjadi sesuatu yang diminati inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi beberapa pihak, terutama keraton dan pemerintah, agar kebudayaan tidak lekas sirna tergerus kemajuan peradaban. Dan tujuan akhir dari upaya tersebut, sebagaimana tema besar seminar ini adalah, menuju masyarakat yang berbudaya.      

(Tunggul Tauladan/01/07-2011)

Sumber foto: http://www.kerajaannusantara.com


Dibaca : 1515 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar