English Version | Bahasa Indonesia

Obat dan Pengobatan Tradisional

Obat dan pengobatan tradisional di kalangan rakyat Kutai Kartanegara sangat beragam. Berbagai macam obat dan pengobatan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu obat dan pengobatan tradisional terhadap sakit atau penyakit luar dan dalam. Selain obat dan pengobatan tradisonal, masyarakat Kutai juga mengenal berbagai macam dukun dan ahli pengobatan tradisional. Berbagai macam dukun dan ahli pengobatan ini tersebar di seluruh wilayah Kutai Kartanegara pada khususnya dan Kalimantan Timur pada umumnya.

Dukun dan ahli pengobatan dianggap sebagai penanggungjawab pelaksanaan pengobatan tradisional. Mereka bertanggungjawab untuk mengartikan simbol yang bersifat sakral dan magis ke dalam bahasa dan alat yang dipahami oleh masyarakat awam. Dukun dan ahli pengobatan dianggap sebagai perantara antara dunia gaib dan dunia nyata.

Beberapa jenis dukun yang dikenal di kalangan masyarakat Kutai Kartanegara adalah:

1.Dukun obat

Dukun obat merupakan profesi yang hingga saat ini masih banyak ditemukan di wilayah Kutai Kartanegara. Para dukun obat yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan ini sanggup mengobati berbagai penyakit, baik penyakit dalam maupun luar. Keahlian para dukun obat didapatkan melalui beberapa cara, yaitu dipelajari dari guru, warisan dari orangtua, dan wahyu yang diturunkan melalui kekuatan gaib, baik lewat media mimpi maupun diterima ketika seseorang telah sembuh dari suatu penyakit yang tergolong berat dan lama.

Pengobatan yang dilakukan oleh dukun obat merupakan perpaduan antara penggunaaan ramuan (obat) dan mantra. Mantra-mantra ini biasanya berupa nukilan ayat-ayat dati Al Qur’an. Di daerah Kutai Kartanegara, mantra tersebut dikenal dengan istilah tawar, sehingga muncul istilah tawar gigi, tawar lipan, tawar ular, tawar sakit perut, dan lain sebagainya. Setiap dukun obat biasanya memiliki keahlian melakukan berbagai tawar

2.Dukun bayi

Para dukun bayi biasanya berjenis kelamin perempuan karena dinilai lebih mengerti tentang perawatan bayi. Diperlukan keahlian tertentu untuk menjadi seorang dukun bayi karena pertama, seorang dukun bayi dituntut untuk mampu mendeteksi penyakit si bayi. Kedua, penanganan terhadap bayi membutuhkan perawatan yang sangat hati-hati mengingat keadaan fisik bayi masih sangat lemah.

Dukun bayi biasanya melakukan pengobatan dengan cara mengurut, memijat, dan membedaki bagian-bagian tubuh yang dianggap perlu untuk dilakukan tindakan pengobatan. Selain itu, ibu yang menyusui bayi juga mendapatkan perawatan dari dukun bayi karena kesehatan ibu sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan bayi yang disusuinya. Dukun bayi biasanya memberikan beberapa pantangan makanan dan minuman untuk ibu yang sedang menyusui dan harus minum ramuan obat tertentu yang telah diberikan oleh dukun bayi.

3.Dukun bersalin

Dukun bersalin melakukan tugasnya untuk merawat seorang wanita hamil sejak sebelum melahirkan, ketika melahirkan, dan setelah melahirkan. Tugas ini dimulai ketika seorang yang mengandung memasuki usia 7 bulan. Sejak saat itu dukun bayi senantiasa merawat calon ibu dengan cara memandikan memakai ramuan berupa bunga-bunga dan mantra-mantra tertentu. Prosesi yang dinamakan bedudus atau mandi-mandi ini bertujuan agar sang calon ibu dan bayi terhindar dari berbagai macam penyakit, baik penyakit biasa maupun penyakit yang disebabkan oleh roh halus.

Dalam prosesi bedudus atau mandi-mandi, air untuk mandi ditempatkan di dalam antang atau guci, sedangkan gayungnya dibuat khusus dari bahan kuningan atau perak. Untuk pendudusan memanfaatkan mayang kelapa atau daun lenjuang. Selain bahan-bahan tersebut, dukun bersalin juga menyiapkan beberapa sesajen lainnya. Ritual ini harus dilaksanakan sesuai tatacara pelaksanaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ketika bayi telah lahir, dukun bersalin bertugas melakukan proses persalinan dengan bantuan minimal dua orang lainnya. Kelahiran bayi disambut dengan upacara adat. Upacara adat yang dihelat disesuaikan dengan status sosial keluarganya, yaitu rakyat biasa atau bangsawan. Jika keluarga termasuk keturunan bangsawan, maka peralatan upacara yang digunakan harus berwarna kuning, baik warna pada tempat tiudur, popok, tempat sesajen, sarung ayunan, dan sebagainya. Namun, jika keluarga tersebut berstatus rakyat biasa, maka warna peralatan yang digunakan untuk upacara adat tidak terikat.

Setelah kelahiran bayi, dukun bersalin tetap merawat bayi dan ibunya sampai lepas uri atau dalam istilah Kutai disebut tanggal pusat. Tanggal pusat ini biasanya terjadi antara 5 sampai 7 hari setelah bayi lahir. Setelah tanggal pusat dihelat upacara adat yang dalam bahasa Kutai disebut pelas bidan, yaitu sebuah upacara di mana bayi dan ibunya didudus oleh dukun bersalin. Ketika upacara ini berlangsung, dihelat upacara tasmiah, yaitu pemberian nama bayi. Pada acara tasmiah ini sering pula dilakukan upacara gunting rambut, yaitu upacara pemotongan rambut bayi oleh para tamu undangan secara bergantian. Setelah selesai upacara gunting rambut maka selesai pula tugas seorang dukun bersalin. Namun, meskipun telah selesai tidak jarang dukun bersalin juga diminta pertolongan untuk merawat bayi ataupun mengobati ketika bayi terserang penyakit.

4.Dukun ahli patah

Dukun ini ahli dalam pengobatan patah tulang bahkan sampai tulang yang remuk sekalipun. Keahlian dukun ini terletak dalam hal memijit bagian tulang yang patah. Ketika memijit, dukun ini menggunakan ketrampilan dalam memijit sekaligus ilmu kebatinannya. Tulang yang patah dapat disembuhkan hanya dalam hitungan hari, biasanya berkisar antara 3 sampai 7 hari.

Kehlian memijit dipadukan dengan penggunaan ramuan menjadi kunci pengobatan ini. Ramuan yang dipakai biasanya terbuat dari daun serai yang ditumbuk halus kemudian ditempelkan pada bagian yang patah. Selain serai ada juga dukun yang menggunakan anak ayam sebagai ramuan. Anak ayam ditumbuk sampai halus kemudian ditempelkan di bagian yang patah.

Dukun ahli patah sudah jarang dijumpai di Kutai. Hal ini diakibatkan oleh sulitnya mempelajari ilmu pengobatan yang satu ini. Bisanya seorang dukun ahli patah akan mendapatkan keahlian yang diturunkan dari pendahulunya, bukan dengan cara mempelajari dari seorang guru.

5.Dukun salah urat

Dukun salah urat adalah dukun ahli urut. Dukun ini menyembuhkan berbagai yang berhubungan dengan urat. Penyakit salah urat biasanya disebabkan leh beberapa hal, yaitu terkilir, terjatuh, terbentur, atau akibat membawa beban berat.

Keahlian dukun salah urat bisa dipelajari oleh seseorang melalui latihan. Latihan meliputi cara mengurut dan meramu bahan-bahan tradisional sebagai media urut. Ramuan atau alat bantu yang dipergunakan biasanya adalah minyak urut atau gosok yang khusus dipergunakan untuk menyembuhkan urat yang sakit (terkilir).

6.Dukun ahli penyakit guna-guna

Keahlian untuk menjadi dukun ini sulit untuk dipelajari. Oleh karenanya, di wilayah Kutai Kartanegara keberadaan dukun ini sangat sedikit.

Seorang dukun jenis ini mempunyai dua keahlian, pertama menyembuhkan penyakit guna-guna. Kedua, ahli mengenai guna-guna sehingga sanggup mengirimkan pula penyakit guna-guna ini. Penyakit guna-guna biasanya menyerang anak usia remaja, baik laki-laki maupun perempuan.

Guna-guna ialah ilmu yang dikirimkan seseorang melalui media angin. Orang yang terkena guna-guna akan menderita sakit birahi. Ilmu guna-guna biasanya dipergunakan sebagai wujud balas dendam. Salah satu contoh yang sering terjadi adalah sakit hati seseorang akibat lamarannya ditolak. Orang ini kemudian menemui seorang dukun. Lewat dukun ini guna-guna dikirimkan. Orang yang terkena guna-guna akan mengalami perubahan sikap. Dia berlaku tidak wajar seperti menangis atau tertawa karena sebab yang tidak jelas.

Apabila seseorang terkena guna-guna ini, maka pihak keluarga akan mencari dukun untuk mengobatinya. Dalam proses pengobatan tersebut terjadi adu kesaktian antara dukun yang mengirim dan menyembuhkan guna-guna. Apabila dalam adu kesaktian tersebut dukun yang menyembuhkan guna-guna kalah sakti dengan dukun yang mengirimkan guna-guna, maka orang yang terkena guna-guna ini akan lari mencari orang yang pernah ditolak lamarannya tersebut. Guna-guna ini akan hilang dengan sendirinya apabila keduanya telah dinikahkan.

7.Dukun ahli menangkal ilmu hitam

Dukun ilmu hitam masih cukup banyak ditemukan di Kutai Kartanegara. Ilmu hitam merupakan keahlian untuk mencelakakan seseorang dengan cara-cara jahat, misalnya tembalun, parangmaya, dan lain sebagainya. Sebagaimana halnya dengan guna-guna, ilmu hitam juga dikirim lewat media angin.

Apabila seseorang telah terkena tembalun atau parangmaya ini maka orang tersebut akan menderita penyakit yang aneh. Ciri-ciri dari seseorang yang telah terkena ilmu hitam ini, kepalanya menjadi lembek atau badannya mati sebelah. Ilmu hitam ini sangat menakutkan karena dapat menyebabkan kematian bagi penderitanya.

Seorang dukun penangkal ilmu hitam memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dukun ilmu hitam karena menguasai dan mengetahui janis-jenis alat atau benda yang dipakai untuk mendatangkan penyakit. Kemampuan tersebut misalnya untuk mengatasi penyakit koreng busuk yang tumbuh di sekujur tubuh yang dalam istilah Kutai disebut peloros. Dukun penangkal ilmu hitam telah menguasai dan mengetahui bahan atau alat yang biasa dipergunakan oleh dukun ilmu hitam, bahkan cara membuat dan memasangnyapun telah diketahui oleh dukun penangkal ilmu hitam.

Terkadang terjadi pula adu kesaktian antara sesama dukun ilmu hitam. Apabila hal tersebut terjadi, maka masyarakat awam yang tidak mengetahui tentang ilmu ini dapat menjadi korban karena dijadikan obyek adu kesaktian bahkan kadangkala dijadikan umpan.  

Masyarakat Kutai Kartanegara juga mengenal beberapa ahli pengobatan tradisional yang dibedakan ke dalam beberapa jenis, yaitu:

1.Pawang belian

Belian dipahami sebagai cara untuk mengobati penyakit. Pawang atau pelaku belian disebut dukun (pawang) belian.

Terdapat beberapa jenis belian yang dikenal di Kutai, salah satunya adalah belian bawo. Nama belian bawo berasal dari kata belian yang berarti cara menyembuhkan penyakit dan bawo yang berarti daerah bukit (gunung atau nama suku, yaitu suku Bawo dari suku Dayak Benuaq). Belian bawo berfungsi untuk menyelidiki penyakit dan sekaligus menyembuhkan penderitanya.

Menurut kepercayaan suku Benuaq, pada umumnya penyakit yang diderita oleh seseorang disebabkan karena marahnya para mahkluk halus. Panyembuhan dengan perantara belian dilakukan dengan cara meminta maaf kepada mahkluk halus dan memberikan sesaji dengan diiringi lantunan puja-pujian.

Pawang belian harus mempunyai pengetahuan yang luas tentang alam gaib, dewa, dan roh halus. Ia juga harus menghafalkan berbagai macam mantra dan menggunakannnya dalam upacara-upacara tertentu. Tuntutan lain dari seorang pawang belian adalah kepekaannya terhadap pengaruh-pengaruh gaib.

Tuntutan yang tidak mudah ini mengharuskan seseorang yang ingin menjadi pawang belian untuk belajar kepada orang yang telah berpengalaman. Diperlukan waktu belajar sedikitnya 3 tahun. Selama 3 tahun, ia harus mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan dunia gaib, roh, dan makhluk halus. Selain itu, ia juga harus mempelajari tentang cara membuat sesajen sekaligus berbagai mantra upacara.

2.Dukun saway

Beberapa kalangan dalam masyarakat Kutai Kartanegara mempercayai bahwa pada tempat-tempat tertentu terdapat makhluk halus yang disebut orang gaib. Demi ketentraman dan keselamatan hidup, maka diperlukan hubungan yang baik antara masyarakat dan orang gaib tersebut dengan cara berkomunikasi. Namun, tidak semua orang sanggup berkomunikasi dengan orang gaib tersebut. Maka muncul istilah pesaway, yaitu orang-orang yang sanggup berkomunikasi dengan orang gaib. Kegiatan para pesaway ini dalam bahasa Kutai disebut besaway.

Upacara besaway lazim diadakan apabila dalam suatu masyarakan akan menggelar upacara, seperti pelas desa, selamatan pascapanen, pasar malam, dan pernikahan. Sebelum menggelar hajat tersebut, maka diadakan upacara besaway yang bertujuan agar selama kegiatan berlangsung dapat dilindungi dan tidak diganggu oleh orang gaib.

Ketika upacara besaway diadakan, pesaway atau dukun saway mengenakan pakaian khusus dan pergi ke suatu tempat yang dianggap sebagai pusat orang gaib. Di tempat ini pesaway melakukan komunikasin dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang awam. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pesaway diujudkan dalam bentuk lagu yang disebut memang. Pelaksanaan memang biasanya dilakukan pada malam hari ketika suasana telah hening. Usai melakukan memang, pesaway menghamburkan beras  kuning di sekitar tempat tersebut.

Keahlian pesaway sudah sangat jarang ditemui di Kutai Kartanegara. Keahlian ini merupakan warisan turun-temurun. 

3.Ahli ilmu permanis atau perkasih

Permanis atau perkasih adalah ilmu yang dapat menimbulkan perasaan cinta kepada seseorang yang memakai ilmu tersebut. Ilmu perkasih masih cukup populer di kalangan masyarakat Kutai Kartanegara.

Seorang ahli ilmu perkasih menggunakan berbagai media untuk memindahkan ilmu perkasih kepada seseorang. Beberapa media tersebut misalnya, dimandikan, pemberian jimat, dan lewat ayat di dalam Al Qur’an. Khusus untuk media yang sifatnya dibaca, banyak masyarakat yang masih memilikinya. Mereka mengamalkan bacaan ilmu ini ketika sedang mandi, berpakaian, dan bersisir.     

Para dukun atau ahli pengobatan tersebut meramu berbagai jenis hewan dan tanaman sebagai alat utama dalam pengobatan. Selain itu, pada beberapa kondisi tertentu, para dukun dan ahli pengobatan tersebut juga menggunakan kekuatan gaib yang dipercaya berguna dalam proses penyembuhan terhadap suatu penyakit. Berikut ini adalah contoh beberapa obat dan pengobatan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Kutai Kartanegara.

Obat dan pengobatan untuk penyakit luar.

1.Luka Bakar

Dalam bahasa Kutai disebut luka tunu. Nama obat disebut obat luka letus (tunu).

Bahan-bahan (ramuan):

  • Pasta gigi
  • Tinta
  • Oli bekas
  • Lemak ayam atau dalam bahasa Kutai disebut lemak manoki

Cara pengobatan:

  • Pasta gigi dikeluarkan dari tempatnya lalu dioleskan secara merata pada luka
  • Tinta diambil dengan kapas lalu dioleskan pada luka
  • Oli diambil dengan kapas lalu dioleskan pada luka
  • Lemak ayam digoreng sampai menjadi minyak kemudian didinginkan dan siap untuk dioleskan pada luka bakar.

2.Luka Iris

Dalam bahasa Kutai disebut luka tekerat.

Bahan-bahan (ramuan):

  • Buah kopi digoreng dan ditumbuk sehingga menjadi serbuk kopi.

Cara pengobatan:

  • Luka dibersihkan kemudian dibubuhkan serbuk kopi pada luka secara merata dan dibalut dengan kain atau kasa steril. Obat ini diganti 2-3 hari sekali.

3.Bisul

Dalam bahasa Kutai disebut bongsolot. Tanda-tanda penyakit bisul adalah daging membengkak berwarna biru, terasa sakit, dan panas. Bisul disebabkan oleh darah kotor.

Bahan-bahan (ramuan):

  • Daun sirih
  • Daun kamboja
  • Minyak kelapa

Cara pengobatan:

  • Sehelai daun sirih atau daun kamboja dilunakkan dengan cara dipanaskan di atas api. Setelah lemas kemudian dicelupkan ke dalam minyak kelapa yang telah dipanaskan, kemudian ditempelkan ke bisul penderita.

4.Gatal

Bahan-bahan (ramuan):

  • Buah kemiri (dalam bahasa Kutai disebut keminting)
  • Kunyit

Cara pengobatan:

  •  Ambil kemiri sebanyak 7 buah dan kunyit sebesar ibu jari orang dewasa sebanyak 7 ruas kemudian ditumbuk menjadi satu. Setelah itu ditempatkan di atas mangkuk dan dipanggang di atas api. Setelah berubah menjadi obat yang berbentuk salep dan masih agak panas, dioleskan ke bagian tubuh yang gatal. Jika obat tersebut telah dingin dipanaskan lagi.

5.Rambut rontok

Obat penyembuhan rambut rontok dalam bahasa Kutai disebut uat botak.

Bahan-bahan (ramuan):

  • Gula yang berasal dari air tebu
  • Cuka, dalam bahasa Kutai disebut lahang. Lahang berasal dari air enau yang diawetkan.

Cara pengobatan:

  • Gula ¼ Kg, cuka ¼ gelas, dan air satu gelas dimasukkan ke dalam panci dan dimasak sampai kental. Setelah itu disimpan dalam sebuah tempat, misalnya mangkuk kaca dan ditutup. Setelah mengendap, berubah menjadi obat berupa jamu dan siap untuk diminum.  

Obat dan pengobatan untuk penyakit dalam.

1.Panas dalam

Bahan-bahan (ramuan):

  • Kelapa hijau, dalam bahasa Kutai disebut nyiur hijau
  • Tiga butir ayam kampung

Cara pengobatan:

  • Sebutir kelapa hijau diambil airnya dan dimasukkan ke dalam teko kemudian dimasukkan 3 butir ayam kampung lalu diaduk. Setelah tercampur merata, obat ini diminum pada waktu matahari sedang bersinar terik. Obat ini diminum 2 kali sehari.

2.Asma

Dalam bahasa Kutai disebut pendek nafas atau bengek.

Bahan-bahan (ramuan):

  • Daun dan bunga kecubung
  • Burung kalong, dalam bahasa Kutai disebut keluang

Cara pengobatan:

  • Daun dan bunga kecubung sebanyak satu genggam dicuci hingga bersih kemudian ditumbuk hingga halus kemudian dijemur hingga kering. Setelah kering disiram dengan air hujan kemudian dijemur lagi hingga kering. Setelah benar-benar kering ramuan ini dicampur dengan tembakau rokok. Cara pengobatan penyakit ini dilakukan dengan cara merokok tembakau yang telah dicampur dengan ramuan obat
  • Burung kalong sebanyak 2-3 ekor diambil dagingnya. Cuci daging tersebut dengan air kapur hingga bersih dan tidak berbau. Setelah bersih kemudian dimasak hingga matang. Daging yang telah matang dapat dijadikan obat dengan cara dimakan sebagai lauk dua kali sehari.

3.Tekanan darah tinggi

Dalam bahsa Kutai disebut penyakit tekanan.

Bahan-bahan (ramuan):

  • Bawang putih
  • Gula aren
  • Luntas, yaitu tanaman yang lazim tumbuh di halaman rumah dan berfungsi sebagai pagar

Cara pengobatan:

  • Bawang putih dikupas, kemudian dicuci dan dimakan mentah-mentah.
  • Gula aren dimakan seperti halnya pada bawang putih
  • Luntas diambil daunnya yang masih muda sebanyak tiga genggam, kemudian dicuci dan ditumbuk. Setelah halus kemudian diperas dan airnya diminum dengan dosis setengah gelas sekali minum

4.Ginjal

Dalam bahasa Kutai disebut batungin elixir

Bahan-bahan (ramuan):

  • Temulawak
  • Kejibeling (Strobilantus Crispus) termasuk ke dalam tumbuhan semak
  • Kumis kucing
  • Jagung

Cara pengobatan:

  • Temulawak, daun kejibeling, daun kumis kucing, dan rambut jagung masing-masing dimasak secara terpisah dengan cara direbus dan dicampur sedikit gula. Air rebusan dari masing-masing bahan tersebut kemudian diminum.

5.Penyakit jantung

Dalam bahasa Kutai disebut lemah jantung.

Bahan-bahan (ramuan):

  • Daun sirih
  • Bawang merah
  • Jintan putih

Cara pengobatan:

  • Tiga helai sirih, tiga butir bawang merah, dan satu sendok makan jintan putih ditumbuk. Setelah lumat dan halus dicampur dengan setengah gelas air putih yang telah masak. Setelah jadi obat yang berujud jamu, minum tiga kali sehari, pagi, siang, dan sore. 

Sumber:

Hasjim Achmad et.al., 1990. Pengobatan tradisional pada masyarakat pedesaan daerah Kalimantan Timur. Samarinda: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.

Dibaca : 16448 kali
« Kembali ke Kesultanan Kutai Kartanegara

Share

Form Komentar