English Version | Bahasa Indonesia

Acara Dan Upacara

Erau

Pengertian dan Jenis

Kata “Erau” berasal dari bahasa etnis Kutai, yaitu “Eroh” yang bermakna ramai, hilir mudik, bergembira, dan berpesta. Upacara ini digelar oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara karena mempunyai hajat tertentu dan diikuti oleh seluruh masyarakat yang termasuk ke dalam wilayah administratif Kesultanan Kutai Kartanegara. 

Terdapat tiga jenis pelaksanaan Erau, yaitu:

1.   Erau Tepong Tawar

Erau ini dilaksanakan oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara pada waktu yang telah ditentukan oleh yang mempunyai hajat. Dalam pelaksanaannya Sultan Kutai Kartanegara tidak melakukan batasan tertentu atau disebut “Tuhing”.

2.   Erau Pelas Tahun

Erau ini dilaksanakan oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara yang bertujuan untuk membersihkan segala macam hal yang mengganggu sumber kehidupan di permukaan bumi dalam wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara.

3.   Erau Beredar

Erau ini dilaksanakan oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara dalam rangka pengukuhan, pengangkatan, dan penabalan atau segala hal yang berkaitan dengan “ketahtahan” di Kesultanan Kutai Kartanegara. Dalam pelaksanaannya, Sultan Kutai Kartanegara melakukan “Tuhing”, yaitu tidak menginjak tanah pada waktu tertentu, kecuali di atas kain “Alas Bumi” yang dihamparkan sampai ke tempat pelaksanaan upacara.

Sejarah Erau

Upacara Erau pertama kali dilakukan pada upacara Tijak Tanah dan Mandi ke Tepian oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti ketika beliau berusia 5 tahun. Aji Batara Dewa Sakti adalah Raja Kutai Kartanegara pertama yang memerintah antara tahun 1300-1325 Masehi. Ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti naik tahta untuk memerintah Kerajaan Kutai Kartanegara, beliau juga melaksanakan upacara Erau. Sejak saat itulah, Erau dihelat di Kutai Kartanegara ketika terjadi pergantian atau penabalan Raja-Raja Kutai Kartanegara.

Pada perkembangan kemudian, Erau tidak hanya dihelat ketika terjadi penabalan Raja-Raja Kutai Kartanegara. Namun, Erau juga dihelat ketika diadakan upacara penganugerahan gelar adat dari Kesultanan Kutai Kartanegara kepada pihak-pihak yang dinilai berjasa dalam mendukung, mempertahankan, dan mengembangkan adat budaya di lingkungan administratif Kesultanan Kutai Kartanegara.

Ketika sistem kerajaan berakhir pada tahun 1960 dan berganti menjadi wilayah otonom yang disebut Kabupaten Kutai, tradisi Erau masih tetap dilestarikan. Tradisi Erau tetap dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong yang berdiri pada tanggal 29 September 1782.

Materi Erau

Menurut materi upacara Erau Adat yang disusun oleh YM. H. Adji Pangeran Hari Gondo Prawiro, materi upacara Erau Adat meliputi:

1.      Beluluh (awal)

2.      Memberi Makan Benua

3.      Merangin

4.      Mendirikan Ayu

5.      Tarian Belian

6.      Tarian Dewa

7.      Tari menurunkan Sanghiyang Sri Ganjur

8.      Tari Ganjur

9.      Tari memulangkan Sanghiyang Sri Ganjur

10.  Menggoyak Rendu

11.  Mengundang Air

12.  Menjemput/ngalak Air

13.  Tari Kanjar Bini

14.  Tari Kanjar Laki

15.  Mengambil/ngalak Air Tuli

16.  Beluluh (di Keraton Kutai Kartanegara)

17.  Begorok

18.  Be Umpan

19.  Rangga Titi

20.  Mengulur Naga

21.  Belimbur

22.  Menyisik Lembu Suana

23.  Dewa dan Belian Menjala

24.  Begelar

25.  Seluang Mudik

26.  Dewa Menjuluk Buah Bawal/Kamal

27.  Nyamper

28.  Merebahkan Ayu

29.  Gong Golong

Prosesi Erau

PraErau

1.      Besawai Pemberitahuan

Merupakan prosesi praErau yaitu berkomunikasi dengan makhluk gaib yang dianggap dapat memberikan kekuatan, perlindungan, dan ketentraman di wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara. Besawai sekaligus merupakan pemberitahuan dan undangan kepada makhluk gaib untuk hadir dalam Erau. Upacara Besawai dilakukan di tempat yang dianggap sebagai pusat aura mistis yang dapat mengkomunikasikan ke kelompok-kelompok makhluk gaib lainnya.

2.      Beluluh

Beluluh merupakan prosesi di mana Sultan/Putra Mahkota duduk sejenak di Tilam Kasturi, kemudian bangkit dan berjalan menginjakkan kaki pada batu menuju Balai yang berada di atas Tambak Karang melalui molo (guci) kuningan berhias bunga (mayang kelapa atau pinang) yang berada di sebelah kanan dan kiri. Setelah sampai di depan Balai, Sultan/Putra Mahkota naik ke atas Balai dan duduk pada tingkat ke Tiga. Tempat duduk ini berada di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan di sebelah kiri dan kanan dipagari oleh Pangkon Dalam Tujuh Bini, Tujuh Laki, dan Belian, serta di setiap sudut terdapat peduduk.

Demong mengatur Dewa Laki untuk melaksanakan Memang dan Dewa Bini menghidupkan perapen, sedangkan Sultan/Putra Mahkota ditutup Kirab Tuhing dan daun beringin di atas kepala oleh dua orang pembantu di kanan dan kiri. Kirab Tuhing dibalik sebanyak tiga kali. Selama proses pembalikan Kirab Tuhing, dijatuhkan beras kuning ke belakang. Selanjutnya Dewa Laki dan Bini berdiri menghadap Sultan/putra Mahkota untuk memberikan Tepong Tawar dengan air cidera mata dan air kembang di bagian telapak tangan kanan-kiri, telinga kanan-kiri, lutut kanan-kiri, betis kanan-kiri, dan muka. Usai prosesi tersebut, Sultan/Putra Mahkota turun dari Balai untuk disapukan dan seorang petinggi setempat melepaskan Ketikai Lepas.

Prosesi selanjutnya adalah pembacaan doa dan disusul dengan istirahat, sedangkan pembantu Dewa bergeser berjalan duduk sambil membawa air bunga dalam wadah untuk Tepong Tawar bagi para hadirin. Dalam prosesi ini dimainkan musik Gamelan Salaseh atau Marandowo.   

3.      Menjamu Benua

Prosesi ini diawali dengan keberangkatan rombongan Dewa dari depan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara menuju ke kediaman Sultan. Dalam rombongan ini, para Dewa diiringi oleh penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue tradisional, perapen, dan pakaian Sultan. Selama menuju ke kediaman Sultan, rombongan memasang berbagai bendera (panji) berwarna kuning, yang terdiri dari lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif naga di sebelah kanan. Sesampainya di kediaman Sultan, rombongan Dewa menghadap Sultan sambil membawa pakaian Sultan dan perapen. Di tempat ini, rombongan Dewa memohon restu bahwa Erau akan dilaksanakannya yang diawali prosesi Menjamu Benua.

Usai mendapatkan restu dari Sultan, rombongan Dewa memohon ijin untuk melaksanakan upacara Menjamu Benua. Berbekal pakaian kebesaran Sultan sebagai pengganti secara fisik kehadiran sang Sultan, rombongan meninggalkan kediaman Sultan dan menuju ke Kepala Benua di bagian hulu Tenggarong, tepatnya di Tanah Abang, Kelurahan Mangkurawang. Di tempat ini telah terpasang sebuah juhan, telasak tunggal, dan telasak gantung yang menghadap ke sungai Mahakam. Rombongan Dewa kemudian mengatur berbagai perlengkapan yang dibawa dan diletakkan di atas Juhan, Telasak Tunggal, dan Telasak Gantung.

Bahan-bahan yang terdapat di atas Juhan, antara lain: nasi tambak, ayam panggang, kue sebanyak 21 macam yang diletakkan di dalam tembelong, mendau, air minum, rokok, sedangkan ayam hitam dan peduduk diletakkan di bagian bawah (di tanah). Sedangkan di Telasak Tunggal diletakkan nasi tambak, dan di Telasak Gantung diletakkan nasi ragi.

Dalam prosesi ini, para Dewa melakukan ritual menghadap ke sungai Mahakam sambil Memang dengan iringan gamelan, tabuhan gendang, dan Besawai untuk memberitahukan kepada para mahkluk gaib bahwa Erau akan dilaksanakan. Usai melakukan ritual ini, para Dewa menuju Tengah Benua yang berjarak sekitar 4 Km dari Kelurahan Mangkurawang (Kepala Benua). Di tempat ini para Dewa melakukan ritual yang sama sebagaimana yang dilakukan di Kepala Benua. Ritual di Tengah Benua ini dihelar di pelabuhan di depan Keraton Kelurahan Panji.

Ritual dilanjutkan ke Buntut Benua di Kelurahan Timbau yang berjarak sekitar 3 Km dari Tengah Benua. Di Buntut Benua ini dilakukan ritual serupa sebagaimana yang dilakukan di Kepala Benua dan Tengah Benua. Berbeda dengan peralatan yang dipasang di Kepala Benua dan Tengah Benua, di Buntut Benua terdapat dua buah Telasak Gantung yang dipasang berlainan arah, satu buah menghadap ke arah sungai dan satu buah menghadap ke arah darat, sedangkan hiasan janur diikat simpul sebagai penanda berakhirnya ritual Menjamu Benua.

Usai menyelesaikan ritual, para Dewa dan Belian kembali ke kediaman Sultan untuk melaporkan bahwa ritual Menjamu Benua telah selesai dilaksanakan. Usai melapor, Sultan di Tepong Tawari oleh Dewa dan pakaian kebesaran sebagai pengganti kehadiran Sultan selama prosesi Menjamu Benua dikembalikan kepada Sultan.   

4.      Merangin

Ritual Merangin dihelat di Serapo Belian selama tiga malam berturut-turut. Ritual ini digelar setelah ritual Menjamu Benua dilaksanakan pada siang harinya.

Ritual ini dimulai ketika tujuh orang Pebelian duduk di lantai Serapo Belian untuk melakukan komunikasi batin dengan makhluk gaib. Setelah komunikasi terjadi para Pebelian berdiri dan mengatur formasi mengelililingi Benyawan (Rumba) sambil menari mengikuti irama gamelan dan gendang.

Pada tahap pertama, irama tarian berjalan lambat mengelilingi Benyawan. Pada tahap kedua, irama tarian berjalan lebih cepat. Pada tahap ketiga, para penari berputar dan melepaskan diri pada rombongan dan membentuk putaran sendiri-sendiri sampai irama melemah dan diakhiri dengan bergabungnya kembali para Pebelian mengelilingi Benyawan. Pada tahap selanjutnya, masing-masing Pebelian memegang tali yang ada di Benyawan untuk berputar-putar sambil bergelantungan kian cepat seolah-olah akan terbang, namun sesaat kemudian melemah dan berhenti.

Pada formasi berikutnya posisi tarian digantikan oleh delapan Dewa. Seorang Dewa bertugas sebagai pawang yang mengendalikan Besawai, sedangkan tujuh Dewa lainnya menari perlahan dengan iringan alunan gamelan dan gendang yang dimainkan oleh lima orang. Ritual ini berakhir ketika pawang menutup ritual dengan Besawai.   

5.      Ngalak Air di Kutai Lama

Ritual ini dimulai ketika utusan Dewa dan Belian bertolak dari Tenggarong menuju ke Kutai Lama melalui jalur sungai Mahakam. Rombongan ini membawa serta guci atau molo yang nantinya akan diisi dengan air dari Kutai Lama.

Terdapat lima tempat yang harus disinggahi untuk meminta ijin dan tuah sekaligus pemberitahuan akan dilaksanakan Erau. Di kelima tempat tersebut dilakukan ritual Besawai dan Melaboh Tigu (buang telur). Kelima tempat tersebut adalah:

1.      Di belakang Pulau Kumala

2.      Loa Gagak (Loa Kulu)

3.      Pamerangan (Jembayan)

4.      Tepian Aji (Samarinda seberang)

5.      Tepian Batu (Kutai Lama)

Di Tepian Batu (Kutai Lama), utusan ini berputar-putar sebanyak tiga kali dan setelah itu dilanjutkan dengan mengambil Air Kutai Lama di Tepian Batu untuk dimasukkan ke dalam guci dan dibawa ke Tenggarong sebagai salah satu perlengkapan ritual Mendirikan Ayu dan diletakkan di bawah Sangkoh Piatu.

6.      Ngatur Dahar

Ritual Ngatur Dahar dihelat pada hari yang sama dengan ritual Ngalak Air di Kutai Lama. Namun, jika Ngalak Air di Kutai Lama dilaksanakan pada pagi hingga siang hari, ritual Ngatur Dahar dihelat pada malam hari bersamaan dengan ritual Merangin malam ketiga.

Ritual Ngatur Dahar dimulai ketika para Dewa dan Belian telah selesai menyelesaikan ritual Merangin di Serapo Belian. Setelah selesai melakukan Merangin, para Dewa dan Belian memasuki ruangan Ngatur Dahar. Bersamaan dengan datangnya para Dewa dan Belian, Sultan juga memasuki ruang Ngatur Dahar menuju Tilam Kasturi dan duduk untuk memimpin acara Ngatur Dahar tersebut.

Berbagai makanan telah dihidangkan di depan Sultan yang terdiri dari 41 jenis jajak (kue) kampong. Selain makanan, terdapat pula Tembelong Besar, 3 buah Peduduk di sebelah kiri dan kanan, serta satu Peduduk di hadapan Sultan. Sultan didampingi oleh Dewa, sedangkan pada bagian belakang Sultan duduk bersila tujuh Dewa dan tujuh Belian. Di sebelah kiri-kanan para kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara dan pejabat daerah duduk memanjang dan mengelilingi hidangan.

Ritual pertama dari Ngatur Dahar adalah ucapan pesan magis dari pawang Besawai. Selanjutnya Sultan diTepong Tawari oleh Dewa dan Belian. Ritual dilanjutkan berdoa yang dipimpin oleh pemuka agama untuk meminta keselamatan dan kelancaran selama pelaksanaan Erau. Usai berdoa diedarkan air bunga untuk Tepong Tawar para hadirin. Setelah semua selesai melakukan Tepong Tawar, Sultan dan para hadirin dipersilakan menyantap hidangan 41 jenis jajak kampong.

Erau

1.      Mendirikan Ayu

Merupakan ritual pertama (pembuka) dari upacara Erau. Dalam ritual mendirikan Ayu diperlukan berbagai peralatan dan tahapan pelaksanaan. Peralatan dan tahapan pelaksanaan tersebut terdiri dari: Sehidang Jalik dihamparkan dan di atasnya dihisi Tambak Karang dengan motif naga biasa, naga kurap, dan seluang mas berwarna-warni. Pada Tambak Karang terdapat gambar empat ekor naga yang masing-masing menghadap ke luar, sedang di bagian tengah terdapat motif taman. Seluang mas diisikan pada bagian-bagian lainnya.

Keempat naga tersebut masing-masing “bertaringkan” pisang Ambon yang dibuat terbuka seolah-olah sedang menggigit Kemala yang disimbolkan sebutir telur ayam kampong. Peralatan lain di sekitar Tambak Karang adalah lilin besar dan kecil, peduduk, piring sebagai alas baju salinan, dan Jambak dari daun kelapa (janur).

Di atas Tambak Karang dihamparkan kasur berwarna kuning dan di atas kasur tersebut dihamparkan kain kuning bermotif merah yang disebut Tapak Liman. Di atas Tapak Liman diletakkan Gong Raden Galuh yang dibungkus dengan kain berwarna kuning berdekatan dengan Batu Tijakan. Di atas Gong Raden Galuh didirikan Sangkok Piatu (Tiang Ayu). Sementara di bagian belakang diletakkan perapen (persepan) yang dilengkapi dengan lampu tembok, suman, dan tepong tawar.

Di sebelah kanan Tiang Ayu terdapat Balai/Tiang Persembahan yang berisi satu buah peduduk, pakaian salin Sultan, serta jabangan mayang siur. Sedangkan di sebelah kiri terdapat jabangan mayang pinang dan guci (molo) tertutup kain berwarna kuning yang terisi Air Kutai Lama.  

Ritual Mendirikan Ayu dimulai ketika Dewa dan Belian telah selesai melakukan ritual di Serapo Belian, kemudian menempatkan diri duduk bersila di sebelah kanan-kiri Tambak Karang. Di sebelah kiri di belakang Dewa dan Belian duduk para undangan, kerabat. Sedangkan di sebelah kanan duduk Pangkon Dalam dan Pemukul Gamelan. Para pejabat dan putra Sultan duduk di bagian depan, sedangkan di tengah-tengah terdapat kursi Sultan.

Perapen dinyalakan sambil menunggu kedatangan Sultan. Ketika Sultan datang, beliau langsung menuju kamar khusus untuk berganti baju, kemudian menuju Tiang Ayu. Semua hadirin berdiri, Dewa dan Belian melakukan Sawai dan Tiang Ayu didirikan. Usai Tiang Ayu didirikan dilanjutkan dengan doa bersama.

2.      Bepelas

Ritual Bepelas didahului dengan ritual Merangin oleh Dewa dan Belian di Serapo Belian. Usai Merangin, Dewa dan Belian menuju ke keraton dan berputar sebanyak tujuh kali di area Bepelas, kemudian duduk bersila berjajar, Dewa di seblah kanan dan Belian di sebelah kiri dengan dipimpin oleh Pawang menghaturkan sembah hormat.

Ritual dilanjutkan dengan sajian Tari Selendang oleh Dewa dengan diiringi gamelan sambil mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pada saat yang sama Pemangkon Dalam menyalakan lilin di empat sudut.

Selanjutnya ditampilkan Tari Kipas dan Tari Jung Njuluk yang dibawakan oleh Dewa. Para penari mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pawang Dewa melakukan Memang di belakang Tiang Ayu diiringi alunan seruling. Memang bertujuan untuk mengundang Dewa Karang dan Pangeran Sri Ganjur untuk menjaga Pohon Ayu dari gangguan roh-roh jahat selama ritual Bepelas berlangsung.

Ritual berikutnya adalah penampilan Tari Memuja Panah dengan menggunakan anak panah yang ujungnya dibelah menjadi tujuh mata api. Penari berputar satu kali di area Bepelas, kemudian pada putaran kedua melepaskan busur ke empat penjuru untuk menghilangkan gangguan selama ritual Bepelas berlangsung.

Pawang Dewa kembali melakukan Memang untuk mengundang Pangeran Sri Ganjur dengan iringan seruling dan dewa meletakkan empat buah ikat kepala dan empat buah gada yang ditempatkan pada dua buah baki. Bersamaan dengan itu, muncul empat orang laki-laki, dua di kiri dan dua di kanan, untuk menarikan Tari Ganjur. Penari memasangkan ikat kepala dan memegang gada sambil menari sekali putaran di keempat sudut ruangan dengan iringan irama Ganjur. Pada putaran kedua, tampil tujuh orang Dewa menari sambil membawa kipas dan diikuti oleh dua orang penari Ganjur untuk berputar sekali putaran.

Pawang Dewa Laki dan Bini, Pangkon Laki dan Bini, peniup seruling, dan pembawa perapen bangkit dari duduknya dan menjemput Sultan di ruang salin busana kebesaran. Seruling terus menerus ditiupkan hingga terdengar sayup dan tak lama kemudian rombongan atau utusan ini kembali lagi ke area Bepelas bersama Sultan.

Sultan duduk di kursi, Pawang melakukan Memang, dan Sultan bangkit dari duduk kemudian menuju ke Tiang Ayu. Sementara itu, dua orang kerabat memegang tali Juwita dan Kain Cinde sebagai pijakan Sultan meniti dan menginjak Batu Tijakan. Ketika kaki sultan memijak Batu Tijakan terdengar bunyi menggelegar (dentuman meriam) satu kali sebagai tanda bahwa Bepelas pada malam pertama (Bepelas diadakan selama 7 malam) sedang berlangsung.

Pada saat bersamaan, di luar keraton dihelat ritual Dewa Mengoyak Rendu dengan iringan alunan seruling. Ritual ini dimulai ketika Dewa naik ke atas Balai Tiang 16 sambil mengoyak Rendu dan melakukan Memang untuk mengundang atau memanggil air. Sementara itu, utusan Dewa dan Belian turun ke tepi sungai Mahakam untuk mengambil air dan dicampurkan dengan Air Kutai Lama sehingga menjadi Air Tuli.

Sementara itu, di dalam keraton ditampilkan Tari Saong Manok yang dilakukan oleh dua orang penari yang berperan sebagai dua ekor ayam jago yang sedang bertarung, hingga salah satu di antaranya kalah yang ditandai oleh patokan di kepala dan berputar beberapa kali. Dilanjutkan dengan penampilan Tari Kanjar Loa Niung oleh tujuh orang Dewa dan Tari Kanjar Katore yang masing-masing dilakukan sebanyak satu kali putaran. Sultan kembali ke tengah area Bepelas didampingi oleh putra dan kerabat, sedangkan sebagai pengiring dilakukan Tari Kanjar Bini berbusana Taqwo.

Usai Tari Kanjar Bini dimainkan, Dewa menyerahkan sehelai Selendang Kuning kepada putra atau kerabat sebagai pemimpin atau kepala penari yang kemudian diikuti oleh kerabat untuk menarikan Tari Kanjar Buah Kamal. Pangkon Dalam Bini menyalakan lilin kecil di empat sudut sambil berdiri hingga tarian sebanyak dua putaran selesai dilakukan.

Demong melaporkan kepada Sultan bahwa ritual Bepelas malam pertama telah selesai dilakukan. Sultan kemudian kembali ke tempat peristirahatan, sementara itu alunan gamelan penutup dibunyikan dan lilin dimatikan.  

Bepelas dilaksanakan selama tujuh malam. Setiap malam dilakukan ledakan (suara dentuman meriam) sebanyak jumlah malam yang dilaksanakan. Malam pertama hingga keenam dilakukan ledakan sesuai dengan jumlah malam, sedangkan pada malam ke tujuh hanya dilakukan satu kali ledakan.  

3.      Ngalak Air Tuli

Ngalak (mengambil) Air Tuli adalah prosesi pengambilan air yang berada di sungai Kutai Lama yang dipercaya sebagai asal munculnya Puteri Karang Melenu. Puteri ini dikenal sebagai permaisuri Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti. Air Kutai Lama ini kemudian dicampurkan dengan air sungai Mahakam pada acara Bepelas.

4.      Menyisik Lembu Suana

Lembu Suana merupakan motif yang tergambar di atas sebidang Jalik yang “tertata” Tambak Karang. Motif Lembu Suana dibuat dari beras 37 warna.

Ritual Menyisik Lembu Suana dimulai ketika para kerabat bangkit dari duduknya dan mengelilingi Tambak Karang Lembu Suana. Para kerabat kemudian meletakkan mata uang, baik kertas maupun logam, pada setiap bagian motif Lembu Suana yang terdiri dari kepala yang bermahkota, belalai, tubuh, kaki, taji, ekor, sayap, dan sisik dengan terlebih dahulu menghaturkan “niat” masing-masing terhadap pemaknaan dari simbol-simbol dalam diri (wujud) Lembu Suana.

Usai para kerabat meletakkan uang, maka Demong dan para pembantunya mengangkat sebidang tempat persegi empat di atas Tambak Karang Lembu Suana sambil menggoyang tutup segi empat di bagian atas dan bawah. Sedangkan uang dikumpulkan dalam sebuah tempat dan nantinya akan diserahkan kepada para pengabdi ritual, seperti Dewa dan Belian. 

5.      Dewa dan Belian Menjala

Ritual ini dimulai ketika Dewa Laki bangkit dari duduknya sambil menarik perahu/biduk/gubang berwarna kuning mengelilingi Tambak Karang. Di sisi lain, Dewa Bini menghamparkan kain kuning panjang dan mengelilingi Tambak Karang. Sementara itu, para kerabat/hadirin melemparkan/memasukkan uang ke dalam perahu/biduk/gubang. Prosesi ini menggambarkan aktivitas nelayan yang sedang mencari ikan dengan menggunakan perahu/biduk/gubang dan jala sehingga mendapatkan hasil tangkapan (yang disimbolkan dengan uang) untuk kehidupan sehari-hari. 

6.      Dewa Menjuluk Buah Kamal

Ritual ini membutuhkan berbagai peralatan, antara kain kue-kue tradisional yang dipasang di atas kepala para hadirin dengan seutas tali. Kue-kue tersebut dimasukkan ke dalam plastik sebagai simbolisasi buah. Antara satu kue satu dengan lainnya dipasang dalam jarak tertentu.

Para Dewa kemudian mengambil sepotong kayu sebagai galah untuk memetik buah-buah tersebut. Setelah mendapatkan buah, para Dewa kemudian duduk di bawah pohon tersebut dan menikmati buah hasil petikannya.

Ritual ini menggambarkan bahwa pohon yang berbuah Bawal/Kamal adalah pohon yang dapat memberikan kehidupan dengan menghasilkan buah-buah yang siap makan. Inilah gambaran dari kemurahan sang pencipta yang telah menyediakan alam beserta isinya untuk dinikmati oleh manusia.

7.      Seluang Mudik

Ritual ini dimulai ketika para kerabat mulai menarikan Tari Ganjur dan diikuti oleh para hadirin. Para penari menata diri dengan formasi beberapa lapis dan saling berhadapan berlawanan arah. Formasi ini melambangkan kehidupan ikan Seluang di sungai Mahakam.

Ritual dilanjutkan dengan melemparkan/menaburkan beras yang telah dibawa dalam genggaman tangan, gelas, maupun mangkuk ke arah atas, samping kanan-kiri, dan ke arah para penari sambil bersendau gurau dalam suasana yang gembira. Ritual diakhiri ketika alunan gamelan Ganjur yang mengiringi Tari Ganjur dan Seluang Mudik semakin melemah. Para penari kemudian saling berjabat tangan dan memaafkan.

Ritual Seluang mudik menggambarkan kemakmuran  bahan pangan berupa beras sebagai makanan pokok rakyat Kutai Kartanegara. Kemakmuran tersebut perlu untuk disyukuri dan di kehidupan mendatang diharapkan kemakmuran tersebut semakin melimpah.

8.      Ngulur Naga

Ritual Ngulur Naga membutuhkan dua ekor naga, yaitu Naga Laki dan Naga Bini sebagai perlengkapan utamanya. Setiap naga terdiri dari tiga bagian, pertama adalah bagian kepala yang terbuat dari kayu dengan hiasan sisik warna-warni dan sebuah ketopong (mahkota). Kedua adalah bagian leher yang dihiasi dengan kalung dan kain berumbai-rumbai berwarna-warni. Bagian leher disambungkan dengan badan yang kerangkanya terbuat dari rotan dan bambu dan dibungkus kain berwarna kuning dan dihiasi sisik-sisik berwarna-warni. Pada badan dibuat lima lekukan (luk) yang memperlihatkan seolah-olah naga sedang berjalan. Ketiga adalah bagian ekor yang terbuat dari kayu.

Selama tujuh hari tujuh malam dua ekor naga tersebut disemayamkan di serambi Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Naga Laki disemayamkan di serambi kanan dan Naga Bini di serambi kiri, sedangkan di bawah masing-masing naga dipasang peduduk lengkap beserta isinya.

Di serambi kanan-kiri tempat naga disemayamkan dibuat titian yang disebut Rangga Titi yang dihamparkan kain berwarna kuning. Titian ini berfungsi sebagai jalan ketika naga akan dibawa keluar dari Keraton menuju sungai Mahakam ketika ritual Mengulur Naga berlangsung. Namun sebelum peristiwa tersebut dimulai, Dewa dan Belian memberi jamuan dan Besawai sebagai tanda bahwa naga siap untuk diturunkan.

Selesai melakukan Besawai, sebanyak 17 orang laki laki memakai pakaian yang terdiri dari celana panjang batik, baju Cina lengan panjang berwarna putih, sarung diikatkan di pinggang, dan mengikatkan kain Pesapu (kain batik) di kepala, mulai mengangkat naga menuruni titian menuju sungai Mahakam. Sementara itu, Dewa dan Belian berjalan di bagian depan sambil membawa perapen. Selain Dewa dan Belian, dalam perjalanan ke sungai Mahakam, naga juga diiringi oleh empat orang Pangkon Laki dan Bini serta seorang pembawa guci (molo) untuk mengambil Air Tuli. Di sebelah kanan-kiri naga berjajar prajurit yang berpakaian lengkap dan membawa tombak. 

Sesampainya di sungai Mahakam (pelabuhan), Dewa dan Belian melakukan Memang dan dua ekor naga tersebut dinaikkan ke atas kapal  dengan posisi kepala naga menghadap ke arah haluan. Kapal yang membawa naga tersebut bertolak menuju Kepala Benua, kemudian berputar sebanyak tiga kali, dan menuju ke hilir sungai. Ketika kapal melewati daerah Pamerangan di Desa Jembayan, Loa Kulu, kecepatan kapal diperlambat, alunan gamelan dibunyikan, Dewa dan Belian melakukan Memang sebagai pemberitahuan kepada seluruh makhluk gaib di sekitar Pamerangan bahwa naga sedang diturunkan menuju Tepian Batu, Kutai Lama.

Setelah melewati Pamerangan, kapal naga menuju ke Tepian Aji, Samarinda Seberang. Di tempat ini telah digelar ritual penyambutan yang melibatkan berbagai tokoh dari etnis Bugis. Ketika kapal naga telah sampai di Tepian Aji, Dewa dan Belian melakukan Memang sambil diiringi alunan gamelan sebagai pemberitahuan bahwa sedang dilangsungkan prosesi penurunan naga di Tepian Aji. 

Ketika sampai di Kutai Lama, Dewa dan Belian kembali melakukan Memang dengan iringan alunan gamelan. Kapal berputar tiga kali di hadapan Tepian Batu, Kutai Lama. Para pengiring dan tokoh masyarakat melakukan ritual penyambutan sambil menurunkan/melaboh kedua ekor naga ke tengah Sungai Kutai Lama. Sebelum naga diturunkan/dilaboh, pada bagian kalung dan ekor naga disembelih/dipotong terlebih dahulu. Bagian kepala dan ekor naga ini kemudian dibawa ke Tenggarong dan disemayamkan untuk acara Ngulur Naga pada masa mendatang. Pada saat prosesi ini dilakukan, Air Tuli diambil untuk Belimbur.

Badan naga yang dipotong-potong menjadi rebutan masyarakat setempat. Mereka berebut untuk mendapatkan sisik-sisik naga karena meyakini akan khasiat sisik tersebut untuk mencapai tujuan tertentu. Di sisi lain, kapal pembawa naga kembali ke Tenggarong dan di semua kampong/desa/negeri yang dilewati oleh kapal melakukan ritual Belimbur massal sebagai ungkapan rasa syukur dan membuang hal-hal jahat dengan air sebagai unsur kehidupan.

9.      Beumban

Ritual ini dilaksanakan bersamaan ketika naga diberangkatkan menuju ke Kutai Lama. Beumban merupakan acara yang khusus untuk Sultan yang dilakukan oleh zuriat keturunan yang lebih tua.

Beumban dilaksanakan di bagian tengah Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Ritual ini memerlukan peralatan, yaitu sebuah tilam yang dilapisi/dibungkus kain berwarna kuning, bantal, guling, dan peduduk serta pedianan lilin yang dinyalakan dan ditempatkan di setiap sudut tilam. Sultan berbaring di atas tilam dan diselimuti kain panjang berwarna kuning.

Kerabat yang meng-Umban mengambil bunga/mayang pinang dan disapukan di atas kain kuning panjang yang menutupi Sultan dari arah kepala ke arah betis (satu arah) sebanyak satu kali. Setelah itu, posisi Sultan dimiringkan ke arah Timur kemudian ke Barat. Ketika dimiringkan ke dua arah mata angin tersebut, Sultan kembali disapukan dengan bunga/mayang pinang dari arah kepala ke arah betis (satu arah) sebanyak satu kali. Posisi terakhir adalah kembali ke posisi semula (tidur terlentang), kemudian bangkit, dan duduk menghadap ke arah timur. 

10. Begorok

Begorok merupakan ritual yang dihelat setelah selesai dilakukan ritual Beumban dan naga masih dalam perjalanan ke Kutai Lama. Ritual Begorok dihelat di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara.

Dalam ritual Begorok dibuat Balai dari Haur Kuning (bambu kuning) bertingkat 41 dan menghadap ke arah timur. Ketika Sultan telah duduk di atas Balai, Dewa dan Belian melakukan Memang, Sultan dipayungi kain putih panjang yang disebut Kirab Tuhing di mana keempat sudutnya dipegang oleh empat orang pembantu yang membolak-balik kain sebanyak dua kali.

Usai melakukan Memang, Dewa dan Belian melakukan Tepong Tawar terhadap Sultan, kemudian mengerik kening dan alis mata dengan uang logam. Ritual dilanjutkan dengan meletakkan Piring Putih di atas Kirab Tuhing. Seekor ayam jantan disembelih dan darahnya ditampung di Piring Putih. Selanjutnya, Piring putih diturunkan untuk ritual Becerak Sultan. Usai Becerak, Sultan turun dari Balai dengan iringan alunan gamelan dan beristirahat.

11. Rangga Titi

Ritual Rangga Titi dimulai ketika rombongan Sultan yang didampingi oleh para kerabat berangkat dari Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara menuju sungai Mahakam (pelabuhan). Sesampainya di pelabuhan, Sultan duduk di atas Balai yang telah disediakan, menghadap ke arah sungai Mahakam (timur), dan diapit oleh tujuh orang Pangkon Laki dan Bini.

Dewa dan Belian melakukan Memang dan Kirab Tuhing (kain kuning) dibentangkan memanjang memayungi Sultan. Kirab Tuhing ini dipegang oleh empat pembantu di keempat sudutnya, kemudian membolak-balik dan diputar sebanyak dua kali. Selesai Memang, Dewa dan Belian melakukan Tepong Tawar terhadap Sultan.

Selesai Tepong Tawar, Sultan memasukkan bunga/mayang pinang ke dalam guci (molo) yang telah berisi Air Tuli yang dibawa dari Kutai Lama. Mayang pinang yang telah dimasukkan ke dalam guci kemudian diangkat dan dipercik-percikkan ke arah kanan, kiri, depan, dan belakang sesuai dengan keempat penjuru mata angin. Setelah itu, Sultan memasukkan kedua tangannya ke dalam guci dan memercikkan Air Tuli kepada para kerabat, para hadirin, dan masyarakat yang melihat di sekitar tempat ritual Rangga Titi berlangsung. Prosesi terakhir ini sekaligus sebagai pertanda bahwa ritual Belimbur telah dimulai.

12. Belimbur

Ritual Belimbur dimulai ketika Sultan telah memercikkan Air Tuli di pelabuhan pada akhir ritual Rangga Titi. Sesaat setelah dipercikkannya air kepada hadirin, maka di tempat acara, sepanjang jalan, dari kota hingga desa, masyarakat melakukan ritual Belimbur (siram-siraman) dengan menggunakan air sebagai sumber kehidupan. Kecuali orang tua atau ibu/bapak yang membawa anak kecil, semua masyarakat diperbolehkan untuk disiram.

13. Begelar

Merupakan prosesi pemberian gelar adat dari Kesultanan Kutai Kartanegara kepada pihak-pihak yang dinilai berjasa dalam mendukung, mempertahankan, dan mengembangkan adat budaya di lingkungan administratif Kesultanan Kutai Kartanegara. Acara ini diadakan setahun sekali dan dipublikasikan secara resmi dalam acara Keraton.

Sebelum acara Begelar dilangsungkan, dihelat acara Kentayungan, yaitu tarian yang dilakukan oleh Sultan di sekitar Pohon Ayu. Tarian ini sebagai ungkapan syukur bahwa Erau telah selesai dilaksanakan. Usai menari, sekretaris Kesultanan Kutai Kartanegara membacakan surat keputusan Sultan Kutai Kartanegara yang berisi nama-nama penerima gelar. Usai penganugerahan gelar, acara ditutup dengan doa.

Acara Begelar juga dimeriahkan dengan penampilan Tari Topeng yang ditarikan oleh seorang penari. Begelar dilaksanakan pada malam ketujuh dan ritual lain seperti Merangin, Dewa Mengoyak Rendu, dan Ngalak Air sudah tidak dilakukan lagi, kecuali pelaksanaan dentuman meriam sebanyak satu kali.

14. Merebahkan Ayu

Ritual ini dimulai ketika Pangkon Luar yang tadinya bertugas di luar telah masuk ke dalam Keraton tempat Tiang Ayu didirikan untuk bergabung dengan Pangkon Dalam. Sultan dan kerabat juga telah duduk menghadap ke arah Tiang Ayu. Di area ritual Merebahkan Ayu terdapat peralatan, yaitu Jalik Tambak Karang, Tilam, Bantal Kuning, dan Tapak Liman.

Ritual pertama adalah menggoyang-goyangkan Tiang Ayu sebanyak tiga kali oleh empat orang kerabat seakan-akan sedang merobohkan sebatang pohon yang kokoh tertanam di tanah. Usai digoyang-goyang, Tiang Ayu dirobohkan (direbahkan) di atas Tilam dan Bantal Kuning sebagaimana tidur dan beristirahatnya seorang petinggi yang dilayani dengan kasih sayang.

Setelah ditidurkan, Dewa Bini melakukan Tepong Tawar kepada Tiang Ayu yang telah dibaringkan mulai dari bagian atas menurun ke bawah (bagian rebak atau pangkal) sebanyak tiga kali sambil Besawai. Kemudian Dewa Bini Besawai lagi sambil membawa peralatan Tepong Tawar dan berjalan, duduk hormat, dan menyembah kepada Sultan untuk melaksanakan Tepong Tawar kepada Sultan.

Sultan diTepong Tawari pada bagian tangan kanan-kiri, dahi, kepala, kemudian turun ke lutut kanan-kiri, dan betis kanan-kiri. Kemudian Sultan dipersilakan mengambil air kembang/bunga Tepong Tawar untuk dioleskan pada bagian mata kanan-kiri dan menyeka bagian muka dan atas kepala. Selesai Sultan diTepong Tawari oleh Dewa Bini, kemudian dilanjutkan kepada Putra Mahkota dan kerabat sebagai pelaksana Erau serta acara ritual. Setelah selesai melakukan Tepong Tawar Ritual Merebahkan Ayu ditutup dengan bersilaturahmi antarhadirin. Acara silaturahmi menandakan bahwa Upacara Erau telah selesai dihelat di Kesultanan Kutai Kartanegara.   

Referensi:

Azmizi, 2010. Erau: Tradisi dan ritual Kesultanan Kutai Kartanegara. Tenggarong: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

http://www.kutaikartanegara.com/erau/sejarah_erau.html diakses pada tanggal 21 Februari 2011

Dibaca : 8723 kali
« Kembali ke Kesultanan Kutai Kartanegara

Share

Form Komentar