English Version | Bahasa Indonesia

Sultan, Raja, Pemangku Adat, dan Budayawan Bermusyawarah di Bandung

14 Desember 2012 15:29



Para sultan, raja, pemangku adat, dan budayawan melakukan sesi foto bersama

Bandung, KerajaanNusantara.com -- Para sultan, raja, pemangku adat, dan budayawan se-nusantara bertatap muka di Bandung dalam rangka menyelenggarakan Musyawarah Agung Nusantara dan Sarasehan Persaudaraan Nusantara. Acara yang dihelat di Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat pada Minggu, (9/12) ini didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Bandung, Yayasan Pamanah Rasa Nusantara (Yaparanus), Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), Yayasan Raja Sultan Nusantara (Yalasutra), serta beberapa media lokal Bandung.

Pada Sabtu (8/12) malam digelar ramah tamah antara panitia pelaksana dengan para tamu undangan di Pendopo Kota Bandung. Hadir dalam acara ini Walikota Bandung H. Dada Rosada, SH., M.Si., Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Mahyudin Al Mudra, SH., MM., Sekretaris  Jenderal Yaparanus Dr. Hj. RA. Ikke Dewi Sartika, M.Pd yang sekaligus sebagai ketua panitia pelaksana, Ketua Yaparanus Dr. HR. Gunawan Undang, M.Si, serta para sultan, raja, pemangku adat, dan budayawan se-nusantara.

Walikota Bandung bersama para sultan, raja, pemangku adat, dan budayawan melakukan sesi foto bersama

Para tamu dijamu dengan kuliner khas Sunda, berbagai tari-tarian, serta seni pencak silat. Pada pembukaan, dilantunkan Rajah Kidung Siliwangi, berupa doa keselamatan dalam bahasa Sunda oleh Yayasan Tumaritis. Usai Rajah Kidung Siliwangi, tampil Dra. Ottih Rostoyati, M.Si yang melantunkan Kidung Sunda dengan iringan kecapi. Usai penampilan berbagai kesenian dan beberapa kata sambutan, secara resmi acara Sarasehan Persaudaraan Nusantara dan Musyawarah Agung Nusantara dibuka oleh Ketua FSKN Yang Mulia Ida Tjokorda Jambe Pamecutan.

Ketua FSKN Yang Mulia Ida Tjokorda Jambe Pamecutan membuka acara Musyawarah Agung Nusantara dan Sarasehan Persaudaraan Nusantara

Sarasehan Persaudaraan Nusantara

Pembicara dalam Sarasehan Persaudaraan Nusantara. Pembicara sesi 1 (kiri) dan pembicara sesi 2 (kanan)

Sarasehan Persaudaraan Nusantara dan Musyawarah Agung Nusantara yang dihelat di Gedung Merdeka pada Minggu (9/12) tersebut mengambil tema “Skenario Alternatif Mendukung Terciptanya Basis Nilai dan Kepentingan Raja, Sultan, Pemangku Adat, dan Pemuliaan Budaya Sebagai Tonggak Awal Nusantara Golden Age”. Sarasehan Persaudaraan Nusantara digelar dengan menampilkan beberapa pembicara, seperti Prof. Muhammad Surya (DPD Perwakilan Jawa Barat), Prof. Dr Nina Herlina Lubis (Guru Besar Sejarah dari Universitas Padjajaran), Budayawan Darmawan Hardjakusumah (Acil Bimbo), Prof. Dr. Suhardja D. Wiramihardja, dan aktor senior Ferene Raymond Sahetapy atau dikenal dengan nama Ray Sahetapy.

Prof. Muhammad Surya mempresentasikan makalahnya yang bertajuk “Peran Raja dan Sultan Dalam Menjaga 4 Pilar Kebangsaan”. Dalam uraiannya, anggota DPD Jawa Barat ini menyoroti kinerja para sultan dan raja dalam menjaga 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Para sultan dan raja tersebut dituntut untuk tetap membumi dengan cara senantiasa turun ke bawah, bersilaturahmi dengan rakyat sebagai salah satu cara mempersatukan bangsa. “Para sultan dan raja patut menjaga perdamaian. Inilah Bhinneka Tunggal Ika,” demikian disampaikan oleh Prof. Muhammad Surya.

Pembicara lain yang tampil dalam sarasehan ini adalah Prof. Dr Nina Herlina Lubis. Guru Besar Sejarah Universitas Padjajaran (Unpad) ini mempresentasikan makalah dengan judul “Keraton Dalam Tradisi: Antara Sejarah dan Inovasi”. Beberapa sorotan dilontarkan oleh wanita yang tampil dengan kerudung putih ini, di antaranya perlunya dibuat buku tentang sejarah kerajaan dan kesultanan di Indonesia, fokus kajian sejarah tak hanya berpusat pada kerajaan besar semata namun juga kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia, serta perhatian dari pemerintah terhadap status raja atau sultan yang setelah kemerdekaan berlaku sebagai pemangku adat. Secara khusus, Prof. Dr Nina Herlina Lubis menghimbau kepada pemerintah daerah setempat untuk mendukung berbagai kegiatan kerajaan atau kesultanan di daerahnya masing-masing.

Darmawan Hardjakusumah atau lebih dikenal dengan nama Acil Bimbo menyoroti perihal kemerosotan moral dan sense of responsibility generasi masa kini. Acil berpendapat bahwa saat ini telah terjadi kemerosotan moral yang luar biasa di ranah kebudayaan. Hal ini berimbas pada semakin berkurangnya sense of responsibility terhadap benda-benda peninggalan sejarah-budaya. Banyak kasus yang menyebutkan bahwa penjualan benda-benda purbakala sangat mudah dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Oleh karena itu, Acil berharap bahwa raja dan sultan dapat berperan sebagai agen perubahan untuk mengubah tatanan yang semakin tidak kondusif tersebut.   

Menjawab sorotan yang disampaikan oleh Prof. Dr Nina Herlina Lubis tentang pengumpulan sejarah kerajaan dan kesultanan di Indonesia, dalam sesi tanya-jawab, Pemangku BKPBM Mahyudin Al Mudra, SH., MM., memberikan bukti nyata yang telah dimulainya sejak beberapa tahun silam, yakni buku dan CD “Isian Pendokumentasian Warisan Sejarah dan Budaya Kerajaan/Kesultanan se-dunia. Di dalam buku isian tersebut telah terstruktur secara lengkap pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai hal yang terkait dengan sebuah kerajaan atau kesultanan, seperti sejarah kerajaan, seni-budaya, arsitektur, koleksi, foto, video, militer, kuliner, dan lain sebagainya. Daftar isian tersebut nantinya akan diolah dan dipublikasikan secara luas pada website www.kerajaannusantara.com sebagai kegiatan pelestarian dan pengembangan warisan sejarah dan budaya kerajaan/kesultanan se-dunia. Kehadiran website ini secara langsung merupakan jawaban atas berbagai permasalahan tentang minimnya pendokumentasian dan penulisan kerajaan-kesultanan di Indonesia.    

Mahyudin Al Mudra, SH., MM., menyerahkan “Formulir Isian Pendokumentasian Warisan Sejarah dan Budaya Kerajaan/Kesultanan se-dunia” kepada Prof. Dr Nina Herlina Lubis

Musyawarah Agung Nusantara

Musyawarah Agung Nusantara

Usai berdiskusi dalam Sarasehan Persaudaraan Nusantara, acara dilanjutkan dengan Musyawarah Agung Nusantara. Musyawarah ini merupakan agenda FSKN sebagai wadah kerajaan dan kesultanan di nusnatara. Selain dihadiri oleh para raja, sultan, pemangku adat, dan budayawan, Musyawarah Agung Nusantara juga dihadiri oleh beberapa kerabat kerajaan negeri sahabat seperti dari Selangor dan Brunei Darussalam yang hadir sebagai tamu. Salah satu keputusan dalam musyawarah ini adalah  akan mengadakan pertemuan lanjutan pada 27 Februari 2013 di Bali.

Menurut Ketua Panitia Musyawarah Agung Nusantara, R. Satria Wangsa dari Kerajaan Pejangi Lombok yang dikonfrontir usai acara, sarasehan dan musyawarah ini digelar sebagai upaya untuk mendapatkan masukan guna menyelenggaran Musyawarah Agung di Bali. Selain itu, musyawarah yang digelar di Gedung Merdeka ini juga dilakukan untuk menyempurnakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga FSKN.  (Tunggul Tauladan/brt/1/12-12)


Share

Form Komentar

Bengkel Studi Budaya (BESTDAYA) 05 Januari 2013 02:59

Salam Budaya Kedaulatan Budaya dimulai dari pendokumentasian sejarah budaya itu sendiri, tanpa itu sejarah dan budaya cuma akan menjadi dongeng dan mitos yang melegendaris. Salam sukses buat Kerajaan Nusantara.com yang tak jemu untuk kerja budaya itu. Moga akan banyak pihak yang menjadi lebih paham untuk dapat memberi dukungan kepada kerja mulia ini. Salam Budaya, Setiajaya Satria Rassidy


« Index