English Version | Bahasa Indonesia

Mendiskusikan Sekala Brak

01 Oktober 2011 14:39



Lambang Paksi Buay Pernong, satu dari empat Kepaksian di Kerajaan Skala Brak. Tiga Paksi lainnya adalah Kepaksian Bejalan Di Way, Belunguh, dan Nyerupa

Oleh: Febrie Hastianto *

Esai Sekala, Siger, Borobudur yang ditulis Henry Susanto berturut-turut di Lampung Post, 7 dan 14 Agustus 2011, menarik untuk didiskusikan. Dalam esainya, Henry Susanto memperkenalkan teori baru terkait banyak hal dalam arus utama (mainstream) kepenulisan sejarah yang selama ini dikenal publik.

----------

Teori-teori yang hendak dipopulerkan Henry Susanto di antaranya teori bahwa Sriwijaya adalah Sekala (Brak yang posisinya diduga berada di Lampung Barat?), teori asal-usul ulun Lampung hingga teori Siger sebagai miniatur Borobudur. Dalam daur-ilmiah sesungguhnya tidak ada teori yang mapan. Sepanjang teori yang ada dapat digugat, teori yang baru akan didudukkan sebagai teori yang paling kuat, tentu sebelum ada teori lain yang membantahnya. Dalam dinamika ini sesungguhnya sejarah maupun budaya sedang mengukuhkan aspek ontologis dan epistemologis dirinya.

Saat Slamet Muljana dan Soekmono belum selesai berdebat sengit mengenai tafsir sejarah dan utamanya kedudukan Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1970-an, Henry Susanto merilis teori baru dalam esainya ini. Selama ini teori Slamet Muljana (dalam Mawardi, 2011) yang mendasarkan pada pendapat G. Coedes (1918) terhadap tafsir Prasasti Linggor yang memuat kata “Shih-li-fohshih” sebagai nama Kerajaan Sriwijaya dan dikuatkan oleh pendapat Samuel Beal (1883) menyatakan bahwa Sriwijaya berkedudukan di Palembang telah diakui sebagai arus utama (mainstream) dalam penulisan sejarah kita, yang dikenal oleh seluruh siswa semenjak SD hingga perguruan tinggi yang mempelajari sejarah nasional Indonesia. Soekmono membantah Slamet Muljana dengan mengatakan diduga kedudukan Sriwijaya berada di Jambi, atau juga Riau dengan mendasarkan pada keberadaan Candi Muara Takus.

Bila Slamet Muljana mendasarkan tesis mengenai kedudukan Sriwijaya pada catatan Prasasti Linggor yang bertuliskan Shih-li-fohshih dan distransliterasi menjadi Sriwijaya, Henry Susanto mendasarkan pendapatnya pada catatan perjalanan musafir Cina Ma Huan yang menyebutkan kata “chi-li-fo-che”, kata yang dalam pelafalan mirip dengan Shih-li-fohshih tetapi oleh Henry Susanto ditransliterasikan menjadi Sekala. Untuk menguji apakah chi-li-fo-che layak menjadi Sekala, Henry mendalilkan pendapatnya pada berita China yang mengatakan bahwa chi-li-fo-che merupakan Kerajaan po-lim-pang, maksudnya adalah kerajaan yang ada pada orang Lampung.

Namun, pada bagian lain Henry menyebutkan informasi dalam Prasasti Talang Tuo yang di dalamnya termuat simbol Kerajaan Sekala (Sriwijaya) bahwa Dapunta Hyang Sri Jaya Naga membangun Taman Sriksetra sebagai taman bagi pengembangan agama Budha. Mendasarkan catatan prasasti ini Henry berpendapat Kerajaan Sriwijaya beragam Buddha, paralel dengan arus utama (mainstream) penulisan sejarah Sriwijaya yang menyebutnya sebagai pusat penyebaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Namun, Henry melewatkan informasi penting soal posisi Taman Sriksetra yang dibangun, yakni di Bukit Siguntang, masuk wilayah Palembang sekarang. Pertanyaannya kemudian: atas dasar apa Raja Sriwijaya (yang dalam tafsir Henry berkedudukan di Sekala atau Lampung) mendirikan Taman Sriksetra sebagai pusat penyebaran agama Buddha di Palembang bukan di Lampung (Barat?). Tidakkah lebih logis Raja Sriwijaya mendirikan pusat penyebaran agama Buddha di ibu kota negaranya? Atau logika penarikan kesimpulan dapat di balik: karena Taman Sriksetra sebagai pusat penyebaran agama Buddha—yang tentu memiliki kedudukan penting bagi kerajaan—berada di Palembang, dapat ditafsirkan bila kedudukan Sriwijaya berada di Palembang. Logika berpikir ini pula yang mungkin menjadi kesimpulan Slamet Muljana ketika ia menyatakan Palembang sebagai kedudukan Sriwijaya.

Kemudian teori asal usul ulun Lampung. Berbeda dengan rekonstruksi Prof. Hilman Hadikusuma yang mendasarkan pada Kitab Kuntara Raja Niti dan Tambo dari Pagaruyung bahwa asal usul orang Lampung ditandai dengan kedatangan empat umpu dari Pagaruyung dan menduduki Sekala Brak yang sebelumnya dikuasai Sukubangsa Tumi, Henry mengemukakan tesis baru bahwa asal usul ulun Lampung berasal dari India sekira tahun 100 SM. Teori Prof. Hadikusuma hingga saat ini telah menjadi arus utama dalam penulisan asal usul ulun Lampung. Selain teori Prof. Hadikusuma, terdapat teori lain dari Olivier Sevin (1989: 49–69 dalam Saptono, 2007) yang berpendapat masyarakat asli Lampung adalah orang Pubian yang menempati kawasan antara Padangratu, Kotaagung, Telukbetung, serta wilayah selatan Gunungsugih di mana kawasan ini dibelah Way Sekampung. Migrasi pendatang baru terjadi sekira abad ke-17 hingga ke-19. Migrasi lain terjadi pada abad ke-19 ditandai oleh gelombang kolonisasi/transmigrasi dari Jawa.

Bila Prof. Hadikusuma mendalilkan teorinya bersumber pada Kuntara Raja Niti maupun Tambo, dalam esai Henry nyaris tak disebutkan sumber rujukan teorinya. Bahkan, ketika memulai esainya Henry menulis kata "Kisah (cetak miring dari penulis) ini dimulai dari sejarah migrasi orang-orang dari negeri Hindustan (India)". Penulisan sejarah pada dasarnya merupakan usaha rekonstruksi kejadian masa lampau yang celakanya sering terbentur keterbatasan sumber referensi. Bagi sejarawan mitos, kisah, maupun dongeng sekalipun berguna, sepanjang belum ada catatan berbentuk prasasti, bukti-bukti artefak, atau berita musafir China maupun Eropa yang lebih tertib dalam menulis dan dipercaya, yang ditemukan. Namun keberadaan mitologi, dongeng maupun cerita tutur tetap harus diuji, dengan metode trianggulasi, kritik intern dan kritik ekstern, termasuk logika berpikir akal sehat (common sense) agar teori yang didalilkan kuat. Kuat, dapat dimaknai sebagai teori yang sulit dibantah oleh logika maupun bukti baru.

Sebagai pembaca saya masih belum dibuat percaya oleh teori yang ditulis Henry. Beberapa pertanyaan belum dijelaskan secara eksplisit dalam esainya, seperti: mengapa imigran dari India ini berlayar menyusuri pantai barat Sumatera, bukan pantai timurnya? Pantai barat berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia yang ombaknya lebih besar ketimbang pantai timur Sumatera yang perairannya terlindungi oleh Pulau Sumatera dan Kalimantan sehingga ombak Samudera Indonesia dan Laut China Selatan tidak mengganggu pelayaran. Beberapa abad setelah tahun 100 SM, perairan timur Sumatera terbukti lebih ramai, ditandai dengan kehadiran Malaka, Aceh (Pasai), Barus, termasuk Palembang.

Pertanyaan lain yang belum terjawab adalah mengapa imigran dari India memilih berlabuh di Lampung (Sekala) selain Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, bukan di tempat lain di Pulau Sumatera yang luasnya kini tidak kurang dari 443.065,8 km persegi?

Soal asal usul nama Lampung juga menarik didiskusikan. Seperti halnya arus utama (mainstream) penulisan asal usul nama Lampung yang mendasarkan pada catatan I-Tsing, Henry juga mendasarkan teorinya pada catatan musafir China ini. Bedanya, Henry menyebut Lampung berasal dari kata selopun yang berakar dari kata tola p'ohwang.

Bila G. Ferrand dan R.M. Ng Poerbatjaraka berpendapat to-lang-po-hwang sebagai transliterasi dari nama Kerajaan Tulangbawang yang posisinya berada di daerah aliran Way Tulangbawang kini (Sumadio, 1990:79; Muljana, 1981:20), menurut Henry, tola p'ahwang adalah selopun dalam lidah I-Tsing yang tak mahir mengeja suku kata "se" sehingga diucapkan menjadi "to". I-Tsing sesungguhnya tidak pernah singgah di Selopun, atau Sekala yang posisinya diduga berada di Lampung Barat. I-Tsing hanya singgah di muara sungai besar di pantai timur Sumatera (menarik untuk dikaji, mengapa I-Tsing pun berlayar di pantai timur Sumatera, bukan pantai barat Sumatera sebagaimana pelayaran imigran dari India menurut tesis Henry). Daerah itu dikenal sebagai To-la- P'o-hwang yang kini dikenal sebagai Tulangbawang. Kesimpulan sederhana dapat ditarik dari sejumlah pertanyaan atas realitas ini. Bila Henry menyebut bahwa I-Tsing keliru menyebut selopun, atau sekala di Lampung Barat sebagai to-la- p’o-hwang, bukankah logika berpikir kita dapat di balik menjadi: Sekala justru tidak berada di Lampung Barat, tetapi berada di To-la- P’o-hwang atau Tulangbawang yang kita kenal selama ini.

Selain To-la- P’o-hwang, berita China lain yang ditulis Fa-Hsien menyebut-nyebut Kota Yeh-po-ti, kota yang terpaksa disinggahinya karena kapal yang ditumpanginya terserang badai. Dalam kesaksiannya, Fa-Hsien mengatakan masyarakatnya merupakan penganut Hindu. Dalam catatannya, Fa-Hsien hanya menuliskan yeh-po-ti satu kali saja, tanpa diulas lebih lanjut. Dari catatan kecil ini dapat disimpulkan ekspedisi China jarang mendatangi lokasi ini. Yeh-po-ti kemudian ditransliterasikan dari seputih, yang posisi geografisnya berada di Lampung (Sholihat, 1980:5 dalam Saptono, 2007). Menariknya, meski sama-sama diduga berada di Lampung dan berada pada masa yang sama (abad V Masehi), To-lang-po-hwang atau Tulangbawang dan Yeh-po-ti atau Seputih menganut agama yang berbeda. To-lang-po-hwang beragama Buddha, sedang Yeh-po-ti beragama Hindu. Bila keduanya benar berada di Lampung, sungguh kita mendapat contoh yang baik bagaimana kerukunan beragama telah berakar sejak lama di bumi lada ini.

Kisah Henry dalam esainya diakhiri dengan satu paragraf kunci. Setelah menguraikan hubungan Sekala dengan dinasti Mataram Kuno di Jawa, disebutkan oleh Henry bila Balaputera Dewa, Raja Sekala (dalam arus utama [mainstream] penulisan sejarah dikenal sebagai raja Sriwijaya) membuat siger (mahkota) yang berbentuk miniatur Candi Borobudur yang dibangun di daerah Magelang Jawa Tengah saat ini. Tafsir ini terhitung baru, tetapi sayangnya Henry tidak melengkapi dengan dalil pembenar bila siger merupakan miniatur Borobudur.

Ditinjau dari bentuknya, siger memang mirip Borobudur. Namun, bentuk piramida bukan hal baru dalam peradaban purba. Sebelumnya kita telah mengenal punden berundak, gunungan (biasanya dalam pewayangan) di Jawa, atau piramida di Mesir yang bentuknya segitiga serupa siger. Begitu juga bila kita menghayati detail bentuk siger dan Borobudur. Tajuk siger berjumlah sembilan atau tujuh, sedang detail tajuk stupa Borobudur (siluet segitiga Borobudur) dari kejauhan terlihat berjumlah puluhan. Dilihat dari bentuknya—dalam logika common sense—siger lebih mirip suntiang, mahkota perempuan Minang. Bila bentuk-bentuk ini sama mirip, mengapa siger dinisbatkan sebagai miniatur Borobudur, bukan punden berundak, piramida Mesir, gunungan Jawa, atau suntiang Minang? Itu artinya kesamaan bentuk masih hipotesis yang lemah untuk menyebut pertautan antara siger dan Borobudur.

Hipotesis yang lebih kuat misalnya bila disandarkan pada makna bentuk siger dan Borobudur. Apakah makna siger sama dengan makna bentuk Borobudur? Makna Borobudur dikenal bukan dari bentuk tajuknya (kemiringan segitiga Borobudur), melainkan dari struktur tingkatan candi yakni kamadhatu (alam bawah), rupadhatu (alam antara), dan arupadhatu (alam atas). Sedang makna siger ada sejumlah kalangan yang menyebut tajuk sembilan pada mahkota siger dimaknakan sebagai kebudayan utama di Lampung.

Teori ini sesungguhnya lemah, karena sebagaimana rekonstruksi yang disusun Prof. Hilman Hasikusuma, kebudayaan utama di Lampung hanya lima, yakni Inder Gajar bergelar umpu lapah di way beserta keturunannya yang kemudian bermukim di Puncak Dalom, Kacamatan Balikbukit, Lampung Barat. Umpu lapah di Way ini merupakan nenek moyang Buay Abung. Kemudian Pak Lang bergelar umpu pernong yang melakukan migrasi ke Hanibung Batubrak menjadi nenek moyang Buay Pubian. Sikin bergelar umpu nyerupa berkedudukan di Tampak Siring Sukau, Lampung Barat, melahirkan keturunan Buay Jelma Daya. Belunguh yang bergelar umpu belunguh bermukim di Kenali, Belalau, Lampung Barat, menurunkan Buay Peminggir. Dan Indarwati bergelar putri bulan menetap di Cenggiring, Batubrak, melahirkan Buay Tulangbawang (Sibarani, 2008).

Saya percaya bahwa skeptisisme merupakan pintu masuk ke dunia ilmu pengetahuan. Dengan skeptisisme, kita dapat menimbang simpulan-simpulan yang diambil, sehingga lahir objektivitas. Penulisan sejarah dan kebudayaan saya pahami sebagai laku intelektual. Mudah-mudahan skeptisisme saya ini semakin memperkuat rekosntruksi kita terhadap Sekala dan kebudayaan Lampung pada umumnya dan sedapat mungkin menghindarkan diri pada glorifikasi. Tabik.

* Febrie Hastianto, alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo. Menulis manuskrip Jejak Peradaban Bumi Ramik Ragom: Studi Etnografi Kebuayan Way Kanan, Lampung.

_____________________________

Sumber: http://lampungpost.com/

Sumber Foto: http://buaypernong.blogspot.com/


Share

Form Komentar

rafles 22 Nopember 2011 06:06

Saya sangat setuju dengan bung Febrie Hastianto, hanyalah orang picik saja yang mencari sensasi belaka tanpa mengerti apa yg ditulisnya jika Sekala itu Sriwijaya. Kenapa Sriwijaya menjajah wilayahnya sendiri terbukti dengan Prasasti Palas Pasemah, prasasti di Lampung Timur sebagai tanda Sriwijya menaklukan daerah tersebut. Kalau memang Sekala ataupun orang Lampung itu pendiri Sriwijya kenapa di Lampung sampai kini banyak pendatang nya seperti Jawa, Semendo, Padang, sedangkan suku asli Lampung tidak lebih banyak jumlahnya dari pendatang itu sendiri. Secara logika jika suku Lampung itu suku tertua pasti sudah seperti suku Jawa yang anak keturunanya sudah ada di mana-mana dan mendominasi tempat yang ditinggali. Huruf Kerajaan Sriwijaya adalah Palawa Melayu Kuno sisanya masih ada di suku Ogan Lahat Semendo, Bangka, Sekayu. Jadi sangat berbeda dengan dialek Lampung maupun Komering. Bagaimana Indonesia mau maju kalo anak-anak mudanya berfikiran picik sehingga mengedepankan ego dan emosi semata dan memancing suku-suku lain angkat bicara sehingga bisa menyebabkan perpecahan?

la gilo galo 22 Desember 2011 15:55

Hahaa... yang berpikir picik justru Anda Pak Rafles. Anda itu cuma asbun saja tanpa pijakan ilmiah sama sekali. Lantas ... buru-buru mengatakan orang lain picik dan mencari sensasi belaka.

alpes..anak lampung pesisir 02 Februari 2012 14:47

Saya sangat tertarik sekali apa yang dikatakan oleh penulis bahwa tidak ada kaitannya siger dengan miniatur Borobudur baik dari segi bentuk apalagi yang ada pada siger maupun pada Borobudur itu sendiri. Namun tidak dapat disangkal bahwa budaya-budaya yang ada di Indonesia sangat berkaitan atau ada hubungannya satu dengan yang lainnya

nurwan jurai bejalan diway perpasan 07 Maret 2012 12:40

Saya malah berpendapat bahwa ada kaitan antara buah sekala (kecombrang/honje) dengan rumah gadang yang membentuk siger adat Saibatin (pesisir), dan antara buah sekala dengan siger (perempuan) adat Pepadun dan antara buah sekala dengan Borobudur yang membentuk siger (laki-laki) adat Pepadun. Tapi ini hanya pendapat saya pribadi tanpa ada teori atau teori terdahulu. tabik.

Imran Mahmud 19 April 2012 16:15

Saya tidak mau menghakimi. Mari kita teruskan berdiskusi secara ilmiah. Sedangkan yang ilmiah saja tidak benar: pada 1950an "minyak akan habis dalam 40 tahun" dan ternyata kita tetap menemukan minyak. Mari beradu ilmu saja. Jangan ada yang tuding menuding. KIM

dalom bangsawan 20 April 2012 00:05

Diskusi menarik sekali untuk mencari benang merah,sekedar info https://www.facebook.com/photo.php?fbid=124716617662362&set=at.112024092264948.15037.100003720740245.100002718739616&type=1&theater;

Aji Narasimhamurti 14 Juni 2012 23:52

Seperti kumpulan anak TK yang menggambar taman bunga di dalam kelas. coba datang ke Kamboja, India dan Thailand, baca literaturnya. Baru kembalilah ke sini. cross cek seperti ini juga dipakai sebagai pembuktian yang ampuh bukan berdasarkan logika saja. Keputusan seorang raja kadang tidak terletak pada akal pikiran saja. tapi juga politik kenegaraan. Kembalilah berkomentar di sini jika sudah mempelajarinya.


« Index