English Version | Bahasa Indonesia

Rumah Raja (Omo Sebua) dalam Arsitektur Tradisional Nias Selatan

17 Nopember 2011 12:17



Omo Sebua di Desa Bawomataluo, Nias Selatan

Oleh: Patricia Francisca *

Latar belakang sering berperang, faktor pertahanan desa serta letak geografis di daerah perbukitan boleh jadi menginspirasi pemilihan atau penentuan lokasi desa di atas bukit. Dibangun pada masa kebudayaan megalitikum, tangga-tangga yang menjadi solusi pencapaian menuju lokasi permukiman di Nias Selatan terbuat dari batu alam yang disusun rapi.

Memasuki beberapa desa tradisional di Nias Selatan terlihat ada unsur-unsur kesamaan, yaitu adanya daro-daro (batu kubur) sebagai peringatan akan nenek moyang; faulu (batu julang) sebagai “tugu” peringatan berdirinya kampung; serta hombo batu (batu lompat) yang merupakan fasilitas fisik desa. Masih terlihat pada desa-desa  peninggalan bahwa bentuk desa terjadi karena susunan rumah tinggal yang rapat dan berderet.

Berbicara mengenai arsitektur tradisional di Nias Selatan memang lebih didominasi oleh bangunan rumah tradisional atau rumah adat (omo hada). Rumah adat berbentuk tipis dan tinggi terkesan lemah terhadap terpaan angin. Sebagai penyelesaiannya bangunan rumah adat dibangun saling menempel dan berderet berhadapan di sepanjang desa. Sekilas mata memandang, deretan rumah seolah mempunyai bentuk yang sama. Namun, jika diperhatikan, ada perbedaan pada ukuran, pada tinggi bangunan ataupun letak jalan masuk ke dalam rumah. Selain itu, terdapat juga perbedaan pada ragam hias pada setiap rumah.

Strata sosial

Perbedaan tinggi bangunan rumah di Nias Selatan menunjukkan golongan sosial masyarakat/strata penghuninya. Rumah tertinggi sebagaimana di desa di Bawömataluo ataupun di  Orahili, misalnya, adalah omo sebua (rumah besar).

Omo nifolasara sebua adalah rumah besar yang menjadi pusat orientasi desa. Rumah ini merupakan rumah tinggal raja yang memerintah desa itu pada masa lalu. Umumnya terletak di tengah desa (seperti di Bawömataluo, Botohilitanö, Hilinawalö) dan memutus kelanjutan dari rumah-rumah adat yang berderet. Untuk melengkapi kemegahannya serta menunjukkan kekuasaan penghuninya, omo sebua dihiasi dengan 3 lasara (naga dalam mitos yang melambangkan kekuatan) serta berbagai ornamen yang memberi kesan magis.

Jika omo sebua merupakan rumah raja, omo nifobabatu adalah rumah untuk golongan bangsawan Si Ulu dan Si Ila. Sedangkan omo sato merupakan tempat tinggal rakyat biasa. Kedua tipe rumah ini mempunyai ketinggian yang tidak jauh berbeda, tetapi jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan omo sebua. Keunikan lain dari omo sebua adalah jalan masuknya (eduo) yang terletak pada sumbu bagian depan dan melalui kolong bangunan. Sementara pada rumah lainnya jalan masuk adalah melalui sisi samping bangunan.

Kekerabatan 

Tipikal interior omo sebua, omo nifobabatu, dan omo hada sato hampir sama satu dengan yang lainnya, yaitu terdiri dari 2 bagian utama. Bagian muka atau daerah pria disebut tawolo, dan bagian belakang atau daerah wanita disebut föröma. Föröma merupakan daerah terlarang bagi kaum pria yang bukan keluarga.

Bangunan yang diangkat kedudukannya dari permukaan tanah menunjukkan kosmologi masyarakatnya. Deretan rumah yang rapat dan saling terhubung oleh pintu-pintu di dalamnya mencerminkan kekerabatan yang sangat erat. Demikian pula pemilihan lokasi di atas bukit, merupakan strategi dalam berinteraksi dengan lingkungan. Jelaslah Arsitektur tradisional Nias dengan segala ciri khas dan keasliannya mencerminkan zaman berdirinya yang sangat selaras dengan lingkungannya dan adat istiadat yang melatarbelakanginya. Arsitektur Nias, jendela  kearifan masa lalu menjawab tantangan alam sampai kini.

__________________________

* Patricia Francisca, tergabung dalam Kelompok Studi Arsitektur Tradisional Indonesia 

Sumber: http://www.nias-bangkit.com/
Sumber Foto: http://www.nias-bangkit.com/


Share

Form Komentar

siti 25 Desember 2012 10:31

Saya tertarik dengan artikel ini,tapi saya ada satu pertanyaan. Bisakah bapak ceritakan, bagaimana pula ceritanya mengenai sebuah rumah yang berada di desa Hilinaa. Setahu saya rumah itu sudah lama terbakar, kira2 di tahun 2005 atau 2006


« Index