English Version | Bahasa Indonesia

Potensi Candi Muaro Jambi

01 Desember 2011 10:00



Candi Gumpung di Kompleks Candi Muaro Jambi

Oleh: Tunggul Tauladan*

Keberadaan situs bersejarah kompleks Candi Muaro Jambi memiliki potensi luar biasa untuk digali dan dikembangkan. Puluhan, bahkan tak menutup kemungkinan ratusan, benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Melayu, baik Kerajaan Melayu Jambi (Dharmasraya), Pagaruyung, maupun Sriwijaya kemungkinan besar masih bisa dikuak keberadaannya. Misteri yang masih tersimpan di balik tanah, maupun peninggalan yang sudah berhasil diekskavasi sangat potensial untuk dikembangkan.

Contoh paling jelas adalah keberadaan berbagai candi berarsitektur Buddha di kompleks Candi Muaro Jambi. Jika kita berbicara tentang candi aliran Buddha, maka kebanyakan mainstream kaum sejarawan atau budayawan akan mengalihkan pemikiran ke Jawa untuk menilik keelokan Candi Borobudur yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan cagar budaya dunia. Namun, potensi kompleks Candi Muaro Jambi ternyata tak kalah besarnya jika dibandingkan dengan Borobudur.

Kompleks Candi Muaro Jambi terletak di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Kompleks ini memiliki luas sekitar 12 Km² sehingga ditahbiskan sebagai kompleks percandian terluas di Indonesia. Di dalam arel seluas itu terdapat berbagai candi, seperti Candi Astano, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gumpung, Candi Kedaton, Candi Koto Mahligai, Candi Telaga, dan Candi Gedong. Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Didy Wuryanto, diperkirakan terdapat 84 candi yang berada di kompleks ini. Dari 84 candi tersebut, baru 8 candi saja yang telah diteliti.

Selain candi-candi, Kompleks Candi Muaro Jambi juga memiliki kekayaan lain, yaitu sebuah tempat pemandian raja-raja yang disebut Telaga Rajo. Selain itu, potensi lain dari kompleks ini adalah ditemukannya berbagai benda arkeologis, antara lain: parit atau kanal kuno buatan manusia, batu-bata kuno, arca dwarapala, arca prajnaparamita, arca gajahsimha, lesung batu atau lumpang, umpak batu, fragmen besi dan perunggu, belanga perunggu, gong perunggu bertuliskan huruf Cina, mata uang Cina, keramik asing, mantra Buddha yang dituliskan pada kertas emas, tembikar, dan manik-manik dari Persia, India, dan Cina. Jika dilihat dari berbagai temuan yang berhasil diidentifikasi tersebut, daerah Muaro Jambi pada masa lalu kemungkinan besar merupakan daerah pertemuan dari berbagai kebudayaan, yaitu kebudayaan Melayu, Cina, Persia, dan India.

Jika dikomparasikan dengan Borobudur, maka jelas, bahwa Kompleks Candi Muaro Jambi unggul dalam sisi kuantitas candi. Keunggulan lain dari kompleks Candi Muaro Jambi adalah usia yang lebih tua dibandingkan dengan Borobudur. Berbagai candi di kompleks ini merupakan arsitektur beraliran Buddha yang diindikasikan peninggalan pada abad ke IV-V Masehi. Dilihat dari segi usia, Candi Muaro Jambi jelas lebih tua dibandingkan dengan Borobudur yang dibangun pada abad ke IX. Namun, Dari komparasi tersebut, Borobudur memiliki keunggulan pada sisi ukuran candi, yaitu 123 x 123 meter, jauh lebih besar dibandingkan dengan candi-candi Kompleks Candi Muaro Jambi.

Besarnya potensi yang terkandung pada Kompleks Candi Muaro Jambi mengundang apresiasi dari berbagai kalangan. Apresiasi terbaru datang dari pemerintah pusat melalui Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 22 September 2011 lalu, Presiden Republik Indonesia ke-6 ini menetapkan bahwa Kompleks Candi Muaro Jambi menjadi Kawasan Wisata Sejarah Terpadu. Keuntungan dari penetapan tersebut adalah Kompleks Candi Muaro Jambi semakin gencar dipromosikan dalam bidang pariwisata. Dalam hal ini, pemerintah pusat siap untuk memfasilitasi dan mempromosikan Muaro Jambi ke berbagai belahan dunia.

Selain bidang pariwisata, penetapan tersebut juga berimbas pada percepatan langkah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik untuk menyiapkan langkah nyata agar Kompleks Candi Muaro Jambi terdaftar di UNESCO sebagai warisan dunia. Jero Wacik menjelaskan bahwa sebenarnya pada 2099 lalu, Kompleks Candi Muaro Jambi telah didaftarkan di UNESCO. Usai pemugaran dilakukan (yang mengindikasikan adanya perawatan sebagai salah satu syarat sebuah bangunan/situs bisa dikategorikan sebagai warisan dunia), kini Kompleks Candi Muaro Jambi yang terdaftar di UNESCO telah mendapatkan registrasi namun belum ditetapkan.

Adanya promosi di bidang pariwisata dan ditetapkannya Kompleks Candi Muaro Jambi oleh UNESCO sebagai warisan dunia, maka secara langsung akan menarik lebih banyak kalangan untuk memelihara warisan masa lampau ini. Pendapatan yang masuk ke Pemerintah Provinsi Jambi seiring dengan kedatangan para wisatawan dan para peneliti ke tempat ini sedikit-banyak akan membantu pendanaan yang bertujuan untuk memelihara dan melestarikan situs ini.    

Kompleks Muaro Jambi bagaikan perpustakaan alam raksasa untuk urusan sejarah dan budaya. Ratusan benda bersejarah yang terdapat di kompleks ini seakan-akan haus akan sentuhan kaum peneliti untuk “menguliti” tiap misteri yang tersimpan di balik batu-batu berdebu tersebut. Biaya memang menjadi maslah utama, namun bukan berarti semua kerja penelitian tergantung pada kendala yang satu ini. Proses penelitian gabungan dari universitas-universitas di Indonesia maupun mancanegara merupakan salah satu solusi untuk menekan biaya yang seakan-akan bertumpu pada Pemerintah Provinsi Jambi semata.

Warisan ini merupakan kekayaan yang tak mungkin bisa digantikan dengan apapun. Peninggalan sejarah adalah pintu masuk untuk mengenal jatidiri bangsa yang dikatakan memiliki nenek moyang yang luar biasa. Identitas ke-Indonesia-an sangat jelas terpacak di setiap informasi yang berhasil diterjemahkan pada batu peninggalan masa lalu ini. Budaya, tradisi, hukum pemerintahan, sistem tata kota, aturan perundang-undangan, keagamaan, dan berbagai ilmu pengetahuan tentang kearifan lokal masa lalu seharusnya menjadi magnet penarik keinginan generasi masa kini untuk membuka tabir ini demi manfaat yang akan terus dirasakan generasi mendatang, ratusan bahkan ribuan tahun dari sekarang.  

_______________

* Tunggul Tauladan adalah peneliti di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM)  

Sumber Foto: http://en.wikipedia.org


Share

Form Komentar


« Index