English Version | Bahasa Indonesia

Tentang Istana

1. Istana Utama

Istilah keraton (sering juga ditulis dengan kraton, karaton, atau kedhaton), berasal dari istilah keratuan yang menunjukkan pengertian tempat kediaman ratu (raja). Biasanya, bangunan sebuah keraton memiliki ciri khusus dan menjadi salah satu perlambangan identitas kerajaan sekaligus sebagai pusat pemerintahan, pusat budaya, dan sebagai rumah tinggal raja beserta keluarga istana. Demikian pula halnya dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dibangun sejak zaman pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono II, tepatnya pada tahun 1744. Saat itu, pembangunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dimaksudkan sebagai pengganti Keraton Kartasura yang rusak parah akibat peristiwa Geger Pacinan yang terjadi setahun sebelumnya, yakni pada tahun 1743.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat didirikan di Desa Sala (baca: Solo). Di desa ini terdapat sebuah pelabuhan kecil yang terletak di tepi barat Sungai Beton atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Sungai Bengawan Solo. Dengan dipindahkannya pusat pemerintahan ke Solo, maka nama desa itu pun diganti menjadi Surakarta. Setelah disepakatinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang memecah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua kerajaan besar, keraton di Desa Solo ini kemudian menjadi istana resmi bagi Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sedangkan kerajaan pecahan yang satunya, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menempati pusat pemerintahannya di Yogyakarta, sekitar 60 kilometer ke arah barat Surakarta. Istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat memiliki banyak kenangan bersejarah, salah satunya adalah peristiwa penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram Islam kepada VOC (Vereeniging Oost Compagnie) yang terjadi pada tahun 1799.

Bangunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat didirikan membujur dari arah utara ke selatan. Tata letak istana ini menunjukkan konsep kosmologi berupa lingkaran-lingkaran yang konsentris. Istana utama (Kedhaton) yang menjadi tempat kediaman Raja dan kawasan yang paling diistimewakan menempati posisi tepat di tengah-tengah sebagai sentral. Sedangkan bangunan-bangunan lain ditempatkan mengelilingi istana utama. Di sekitar ibukota atau pusat pemerintahan disebut dengan istilah lingkaran negaragung (negara agung/besar) yang berarti ibukota dalam arti luas.

Semua tanah negaragung (milik kerajaan) berupa tanah lungguh yang diberikan sebagai gaji untuk para pejabat kerajaan. Menurut kepercayaan setempat, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dijaga oleh kekuatan yang berada di setiap arah mata angin, yaitu: (1) Sebelah timur dijaga oleh Sunan Lawu tua, Sunan Lawu Bagoes, dan Sunan Lawu Muda; (2)  Sebelah selatan dijaga oleh Ratu Kidul atau Nyai Roro Kidul (Kangjeng Ratu Kencanasari), Kyai Udonanggo (Kyai Widonanggo), dan Kangjeng Ratu Kenconowungu; (3) Sebelah barat dijaga oleh Kangjeng Ratu Sekar Kedhaton dari Gunung Merapi, Kyai Sapoe Jagad, serta Kyai Sapoe Regol; dan (4) Sebelah utara dijaga oleh Kangjeng Ratu Bathari Kalayuwati yang tinggal di alas (hutan) Krendhawahana.

Bagi keluarga istana dan warga Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada umumnya, keraton mempunyai makna yang lebih filosofis, termasuk bangunan-bangunan yang ada di dalamnya. Sri Susuhunan Pakubuwono X pernah bersabda: “Karaton Surakarta Hadiningrat, haywa kongsi dinulu wujude wewangunan kewala, nanging sira padha nyumurupana sarta hanindakna maknane kang sinandi, dimen dadya tuntunan laku wajibing urip hing dunya tumekeng delahan”. Artinya: “Janganlah Keraton Surakarta Hadiningrat hanya dilihat dari wujud atau bentuk bangunannya saja, akan tetapi hendaknya diketahui dan dimengerti serta dijalankan makna pesan-pesan yang tersirat dan tersurat di dalamnya agar dapat menjadi tuntunan dalam menjalankan kewajiban hidup di dunia dan akherat.”

Salah seorang tokoh yang mempunyai andil besar sebagai arsitek pembangunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah Pangeran Mangkubumi (yang kelak memimpin Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan menyandang gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I). Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pola dasar tata ruang antara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki banyak persamaan. Bangunan istana utama Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat didominasi warna putih dan biru dengan gaya arsitektur campuran antara ornamen Jawa dan Eropa.  Proses pembangunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertahankan pola dasar awalnya. Keraton ini pernah mengalami restorasi dan renovasi, salah satunya pada era pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939). Secara garis besar, kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat terdiri dari istana utama serta lingkungan yang mendukungnya, seperti pintu gerbang (gapura), alun-alun, masjid, pasar, dan lain-lain.

a. Alun-alun Lor

Alun-alun Lor atau Alun-alun Utara ibarat halaman depan yang terletak tepat di depan istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Di sekeliling garis pinggir Alun-alun Lor, ditanami pohon beringin. Begitu pula dengan bagian tengah tanah lapang di mana di situ juga terdapat dua pohon beringin. Bedanya, dua pohon beringin yang berada di tengah diberi pagar pelindung sehingga disebut dengan nama Waringin Sengkeran (beringin yang dikurung), sedangkan beringin yang ditanam di tepi Alun-alun Lor tidak diberi pagar. Di kompleks Alun-alun Lor terdapat sebuah tempat bernama Gladhag yang dahulu dipergunakan sebagai tempat untuk mengikat binatang buruan yang baru saja ditangkap dari hutan. Selain itu, Alun-alun Lor juga menjadi tempat diselenggarakannya upacara-upacara kerajaan yang melibatkan rakyat dan menjadi tempat bertemunya Raja dengan rakyat. Orang yang ingin bertemu Raja untuk mengadukan suatu permasalahan atau meminta permohonan, biasanya akan menunggu di Alun-alun Lor yang berlokasi tepat di depan kompleks istana.

Alun-alun Lor juga menjadi tempat dilangsungkannya bermacam-macam keramaian, tempat latihan perang, tempat untuk perlombaan (misalnya olahraga), dan lain sebagainya. Dahulu, pada setiap hari Sabtu, Alun-alun Lor digunakan sebagai medan latihan perang oleh para prajurit berkuda dengan bersenjatakan tombak. Latihan ini diiringi dengan bunyi-bunyian gamelan yang disebut Gamelan Setu karena diadakan setiap hari Sabtu. Alun-alun Lor juga digunakan untuk arena rampongan, yakni latihan kemahiran mempergunakan tombak dengan melawan harimau. Di samping itu, kawasan Alun-alun Lor juga menjadi tempat untuk eksekusi hukuman mati bagi orang yang dinyatakan bersalah di pengadilan. Setelah hukuman mati dilaksanakan, tubuh orang tersebut diletakkan di sebelah utara Waringin Sengkeran agar semua rakyat dapat melihat dan tidak meniru kesalahan yang telah diperbuat si terhukum itu.

Di kawasan Alun-alun Lor Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat terdapat beberapa bangunan yang memiliki ciri khas dan fungsinya masing-masing, antara lain:

  • Di sebelah barat, utara, dan timur Alun-alun Lor terdapat beberapa bangunan yang disebut Pakapalan, dari kata kapal yang berarti kuda. Jadi, Pakapalan digunakan sebagai tempat untuk menambatkan kuda-kuda para abdi dalem dari berbagai daerah yang akan menghadap Raja pada hari-hari besar.
  • Di sebelah tenggara Alun-alun Lor berdiri Bangsal Patalon yang berfungsi sebagai tempat di mana Gamelan Setu dibunyikan untuk mengiringi latihan keprajuritan yang dilangsungkan pada setiap hari Sabtu.
  • Di tengah Alun-alun Lor, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, terdapat dua pohon beringin yang dikurung di dalam pagar atau Waringin Sengkeran. Beringin yang terletak di sebelah barat bernama Dewandaru yang berarti keluhuran, sedangkan beringin di sebelah timur bernama Jayandaru yang berarti kemenangan. Kedua pohon beringin ini dibawa dari Alun-alun Kraton Kartasura yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam sebelum dipindahkan ke Surakarta. Di sekitar Waringin Sengkeran inilah yang menjadi tempat laku pepe (berjemur) untuk orang yang tidak puas terhadap pemerintahan. Laku pepe dilakukan dengan duduk di bawah pohon Waringin Sengkeran dengan memakai pakaian serba putih dan memohon kemurahan hati Raja agar berkenan menemuinya.
  • Di sebelah barat Alun-alun Lor berdiri Masjid Agung Surakarta yang digunakan sebagai pusat pengajaran agama Islam dan menjadi tempat dilangsungkannya berbagai acara keagamaan oleh Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Selain itu, dulu, di sebelah barat Alun-alun Lor, juga di sebelah timur, terdapat bangunan Bangsal Paretan sebagai tempat menyimpan kereta kebesaran (kereta kencana) untuk Raja dan para pangeran pada saat digelarnya upacara-upacara kebesaran.
  • Di sebelah selatan Alun-alun Lor dahulu ada 3 (tiga) pucuk meriam yang diletakkan berjajar dari arah barat ke timur. Ketiga meriam itu masing-masing bernama Kyai Pancawara, Kyai Swuhbrasta, dan Kyai Sagarawana. Namun sekarang, ketiga meriam tersebut sudah dipindahkan ke sebelah timur Sasana Sumewa. Ketiga meriam itu bukan digunakan sebagai senjata perang, melainkan sebagai tanda kerajaan di mana meriam-meriam itu dibunyikan ketika terjadi peristiwa penting, misalnya kedatangan tamu agung, kelahiran putra-putri Raja dari permaisuri, dan ketika diadakan ritual Pisowanan Agung. Di sebelah selatan Alun-alun Lor juga ditanam sepasang pohon beringin yang masing-masing diberi nama Waringin Gung (beringin yang tinggi besar) dan Waringin Binatur (beringin yang hina/rendah). 
  • Di sebelah Utara Alun-alun Lor berdiri sepasang pohon beringin yang diberi nama Jenggot (laki-laki) dan Wok (perempuan). Di area ini berdiri juga tugu peringatan yang didirikan dalam rangka memperingati 200 tahun berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat
  • Di sebelah barat daya dan timur laut Alun-alun Lor terdapat pintu gerbang yang disebut Slompretan dan Batangan. Kedua pintu gerbang ini hanya dibuka pada hari Rabu Pahing, Suro Je, 1870 atau pada tanggal 8 Maret 1939 dalam penanggalan Masehi.

b. Sasana Sumewa

Sasana Sumewa merupakan bangsal besar yang berada di tepi jalan sebelah selatan Alun-alun Lor dan menjadi bangunan utama terdepan dalam rangkaian bangunan keraton. Bangsal ini dahulu digunakan sebagai tempat menghadap untuk para punggawa (pejabat menengah ke atas) dalam upacara resmi kerajaan. Selain itu, bangsal besar yang menghadap ke arah utara ini digunakan sebagai ruang tunggu bagi tamu yang hendak menghadap Raja. Fungsi tersebut sesuai dengan makna isitlah Sasana Sumewa berarti tempat menghadap, terdiri dari kata sasana yang berarti tempat dan sumewa yang berarti menghadap atau sowan. Sasana Sumewa mulai dibangun pada tahun Jawa 1843 atau tahun 1913 Masehi dan selesai pada tahun Jawa 1844. Awalnya, lantai Sasana Sumewa masih berupa tanah dan pasir sedangkan atapnya dari bambu. Oleh karena itu, tempat ini disebut juga dengan nama tratag, selain dikenal pula dengan sebutan pagelaran, yang berarti “tempat membentangkan kehendak Raja tentang berbagai hal di kerajaan”. Di kompleks ini terdapat sejumlah meriam, di antaranya adalah meriam yang diberi nama Kyai Pancawura atau Kyai Sapu Jagad, keduanya dibuat pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645).

Di tengah-tengah Sasana Sumewa, terdapat sebuah bangsal kecil yang bernama Bangsal Pangrawit, bangsal berarti tempat, sedangkan pangrawit memiliki makna merawat atau memperindah. Bangsal peninggalan dari Kartasura ini digunakan sebagai tempat duduk atau berdiri Raja untuk menyampaikan pesan atau perintah kepada para bawahannya atau ketika pelantikan pejabat. Di sebelah kanan Sasana Sumewa terdapat Bangsal Pacekotan yang digunakan sebagai tempat menghadap orang yang akan menerima anugerah dari Raja. Setiap harinya, Bangsal Pacekotan dijadikan sebagai tempat istirahat bagi abdi dalem yang bertugas menjaga keamanan istana bagian depan. Sedangkan di sebelah kiri Sasana Sumewa terdapat Bangsal Pacikeran yang merupakan tempat bagi orang yang akan dijatuhi hukuman oleh pengadilan.

c. Siti Hinggil Lor

Siti berarti tanah atau tempat, sedangkan hinggil berarti tinggi. Siti Hinggil Lor merupakan kompleks bangunan yang didirikan di atas sebidang tanah yang lebih tinggi dari daerah di sekitarnya. Siti Hinggil Lor berlokasi di sebelah selatan Sasana Sumewa dan dilengkapi dengan pagar batu serta pintu yang berterali besi. Kompleks Siti Hinggil Lor memiliki dua pintu gerbang, yaitu pintu gerbang di sebelah utara yang disebut dengan Kori Wijil, dan pintu gerbang di sebelah selatan yang bernama Kori Renteng. Di depan Kori Wijil, tepatnya di tangga Siti Hinggil Lor sebelah utara, terdapat batu yang dulu digunakan sebagai tempat pemenggalan kepala orang-orang dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Batu ini dikenal dengan nama Selo Pamecat. Di kompleks ini juga terdapat 8 (delapan) pucuk meriam yang ditempatkan berjajar dari barat ke timur. Masing-masing meriam itu bernama: Kyai Brising, Kyai Bagus, Kyai Nakula, Kyai Kumbarawa, Kyai Kumbarawi, Kyai Sadewa, Kyai Alus, dan Kyai Kadhalbutung atau Mahesa Kumali atau Pamecut.

Bangunan utama di yang ada di kompleks Siti Hinggil Lor adalah Sasana Sewayana. Tempat ini digunakan oleh para pembesar kerajaan ketika menghadiri upacara kerajaan. Selain itu, terdapat Bangsal Manguntur Tangkil dan Bangsal Witono. Di tengah-tengah Bangsal Witono yang menjadi tempat disemayamkannya pusaka kebesaran istana selama berlangsungnya upacara kerajaan, terdapat bangunan kecil yang disebut dengan Krobongan Bale Manguneng, yakni tempat persemayaman pusaka istana bernama Kangjeng Nyai Setomi. Pusaka ini berupa sebuah meriam yang konon dirampas oleh tentara Mataram dari Belanda saat menyerbu ke Batavia. Keberadaan meriam Kangjeng Nyai Setomi dipercaya dapat memberikan keselamatan dan mampun menggerakkan jiwa dalam suasana kegembiraan serta kemeriahan namun tanpa meninggalkan kesopanan dan tata krama.

Sedangkan di Bangsal Manguntur Tangkil terdapat  tempat duduk Raja yang digunakan pada hari Grebeg Mulud tanggal 12 Rabiul Awal, Grebeg Puasa pada tanggal 1 Syawal, dan Grebeg Besar setiap tanggal 10 Besar. Secara harfiah, Bangsal Manguntur Tangkil berarti “bangsal di Siti Hinggil yang mulia”. Selain itu, di Sasana Sewayana juga terdapat tempat duduk untuk para putra sentana dan abdi dalem yang berpangkat tinggi. Mereka duduk di bangsal itu ketika dilangsungkannya upacara Grebeg. Sedangkan di sisi luar (timur-selatan-barat) kompleks Siti Hinggil Lor merupakan jalan yang disebut dengan nama Supit Urang dan boleh dilalui oleh masyarakat umum. Adapun beberapa bangsal lainnya yang ada di tepi sebelah timur (dari selatan) kompleks Siti Hinggil Lor antara lain:

  • Bangsal Angun-angun, biasanya digunakan sebagai tempat pacaosan Abdi Dalem Sarageni Kiwa-tengen.
  • Bangsal Gandhek Tengen, sebagai tempat yang digunakan ketika membunyikan gamelan Kodhok Ngorek. Sedangkan pada hari-hari biasa, tempat ini digunakan untuk pacaosan Abdi Dalem Gandhek Tengen.
  • Bale Bang, bangunan yang difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan perangkat gamelan Kodhok Ngorek.
  • Gandhek Kiwa, yakni tempat untuk menyiapkan pesta yang diselenggarakan istana. Sedangkan pada hari-hari biasa, tempat ini digunakan untuk pacaosan Abdi Dalem Gandhek Kiwa.
  • Bangsal Mertalulut, terletak di sebelah timur tangga Siti Hinggil Lor, dahulu menjadi tempat Abdi Dalem Mertalulut, punggawa keraton yang bertugas membawa hadiah kepada mereka yang berjasa. Sekarang, bangsal ini ditempati oleh Abdi Dalem Meriam Kyai Pancawara.
  • Bangsal Singanegara, terletak di sebelah barat tangga Siti Hinggil Lor, dahulu menjadi tempat Abdi Dalem Singanegara yang bertugas melaksanakan keputusan pengadilan. Sekarang, tempat ini digunakan untuk menyimpan meriam Kyai Segarawana.  

d. Kemandhungan Lor

Setelah Siti Hinggil Lor, bagian Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang selanjutnya adalah Kemandhungan Lor (Kemandhungan Utara). Sebelum masuk ke Kemandhungan Lor terlebih dahulu harus melewati pintu gerbang yang disebut Kori Brajanala atau Kori Gapit. Di bagian luar pintu gerbang, terdapat dua bangsal untuk Abdi Dalem Brajanala Kiwa dan Abdi Dalem Brajanala Tengen sebagai penjaga luar gerbang. Sedangkan di bagian dalam pintu terdapat pula dua bangsal untuk Abdi Dalem Wisamarta Kiwa dan Abdi Dalem Wisamarta Tengen selaku penjaga dalam gerbang. Kori Brajanala merupakan jalan masuk utama dari arah utara ke dalam halaman Kemandhungan Lor sekaligus menjadi gerbang Cepuri. Cepuri adalah istilah untuk menyebut kompleks utama di dalam istana yang dikelililingi oleh dinding pelindung yang disebut Baluwarti. Dinding Baluwarti juga menjadi penghubung antara jalan Supit Urang dengan halaman dalam istana. Gerbang cepuri yang didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono III ini dibangun dengan corak Semar Tinandu. Di sisi kanan dan kiri (barat dan timur) gerbang, terdapat Bangsal Wisomarto yang dijadikan sebagai pos jaga para pengawal istana. Di sebelah timur gerbang ini terdapat menara lonceng.

Kemandhungan Lor merupakan lapisan pertama dari rangkaian kompleks di bagian dalam istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau yang sering disebut sebagai Daerah Dalem Baluwarti Karaton Surakarta. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, dinding Baluwarti merupakan dinding yang membentengi istana utama, terbuat dari batu yang kuat dan tinggi, dengan tebal 2 meter. Baluwarti pernah mengalami kerusakan dan dibangun kembali dengan bahan batu bata biasa yang bertahan sampai sekarang. Selain Kori Brajanala di sebelah utara, pada dinding Baluwarti masih terdapat tiga pintu gerbang lainnya. Di sebelah selatan, terdapat pintu gerbang bernama Kori Brajanala Kidul yang dilengkapi dengan bangsal untuk Abdi Dalem Nyutra dan Abdi Dalem Mangunudara. Sedangkan untuk pintu gerbang di sebelah timur dan barat masing-masing diberi nama Kori Batulan Wetan dan Kori Batulan Kulon. Di tengah-tengah kompleks Kemandhungan Lor tidak terdapat bangunan yang berdiri, hanya terhampar halaman kosong. Bangunan yang tampak di kompleks ini hanyalah di bagian tepi halaman. Dari halaman ini, terlihat sebuah menara megah yang dikenal dengan nama Panggung Sangga Buwana yang berada di kompleks berikutnya, yakni di Sri Manganti.

e. Sri Manganti

Sri Manganti merupakan lapisan dalam keraton setelah Kemandhungan Lor. Oleh karena itu, jika memasuki kompleks ini dari arah utara harus melalui sebuah pintu gerbang yang disebut dengan nama Kori Kemandhungan. Di sisi kanan dan kiri pintu gerbang yang bernuansa warna biru dan putih ini terdapat dua arca dan cermin besar di mana di atas cermin tersebut dihiasi dengan senjata dan bendera dengan lambang Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kompleks Sri Manganti merupakan tempat yang disediakan sebagai ruang tunggu bagi para tamu yang akan menghadap Raja. Kompleks ini didirikan pada tahun Jawa 1718 atau tahun 1742 dalam penanggalan Masehi. Di beranda luar kompleks Sri Manganti, terdapat pos penjagaan yang ditempati oleh Abdi Dalem Keparak. Sedangkan di bagian dalam terdapat tempat pacaosan Nyai Regol.

Di halaman bagian dalam kompleks Sri Manganti berdiri dua bangunan utama yaitu Bangsal Smarakatha yang terletak di sebelah barat dan Bangsal Marcukundha yang berada di sebelah timur (dibangun pada tanggal 4 April 1814). Dahulu, Bangsal Smarakatha digunakan sebagai ruang untuk menghadap bagi para pegawai menengah ke atas (dengan pangkat Bupati Lebet ke atas). Tempat ini juga menjadi tempat penerimaan kenaikan pangkat para pejabat senior. Namun kini, Bangsal Smarakatha difungsikan sebagai tempat latihan menari dan mendalang. Sedangkan Bangsal Marcukundha pada zamannya adalah tempat untuk menghadap bagi para opsir prajurit, tempat penerimaan kenaikan pangkat pegawai dan pejabat yang lebih rendah levelnya, serta tempat untuk menjatuhkan vonis hukuman bagi kerabat raja yang dinyatakan bersalah. Kini, Bangsal Smarakatha difungsikan sebagai tempat penyimpanan Krobongan Madirenggo yang biasanya digunakan ketiika upacara sunat/khitan para putra Susuhunan. Di dalam kompleks Sri Manganti, tepatnya di sebelah sisi barat daya Bangsal Marcukundha, terdapat sebuah menara dengan bentuk segi delapan yang disebut dengan Panggung Sangga Buwana yang artinya “panggung penyangga bumi”. Menara yang cukup tinggi ini sebenarnya berada di dua tempat sekaligus, yaitu di halaman Sri Manganti dan di halaman Kedhaton.

f. Kedhaton

Kedhaton merupakan wilayah inti dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dari arah utara, pintu masuk ke kompleks ini dinamakan Kori Sri Manganti, nama yang sesuai dengan wilayah kompleks sebelumnya, yakni Sri Manganti. Pintu gerbang yang didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IV, tepatnya pada tahun 1792 M, ini disebut juga dengan nama Kori Ageng. Secara filosofis, Kori Sri Manganti memiliki keterikatan dengan Pangung Sangga Buwana. Pintu gerbang yang dibangun dengan gaya Semar Tinandu ini menjadi tempat untuk menunggu tamu-tamu resmi kerajaan. Di bagian kanan dan kiri pintu gerbang Kori Sri Manganti, ditempatkan sepasang cermin, sedangkan di bagian atasnya terdapat ragam hias khas Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Halaman kompleks Kedhaton dialasi dengan pasir hitam yang didatangkan khusus dari Pantai Selatan (Samudera Hindia) dan ditanami dengan berbagai macam pohon yang kini mulai langka, salah satunya adalah Sawo Kecik (Manilkara Kauki) sebanyak 76 batang. Suasana di halaman Kedathon semakin semarak dengan adanya patung-patung bergaya Eropa.

Di kompleks Kedhaton berdiri sejumlah bangunan utama, antara lain Sasana Sewaka, nDalem Ageng Prabasuyasa, Sasana Handrawina, dan Panggung Sangga Buwana. Bangunan Sasana Sewaka sebenarnya merupakan peninggalan pendapa dari Keraton Kartasura. Tempat ini pernah mengalami kebakaran pada tahun 1985. Di Sasana Sewaka inilah Susuhunan duduk bertahta ketika diadakan upacara-upacara kebesaran kerajaan seperti Grebeg dan peringatan hari lahir Raja. Di sebelah barat Sasana Sewaka, terdapat Sasana Parasdya dan di baratnya lagi berdiri nDalem Ageng Prabasuyasa. Tempat ini merupakan bangunan inti dan terpenting dari seluruh rangkaian kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Di tempat inilah disemayamkan pusaka-pusaka dan juga tahta raja sebagai simbol kerajaan. Di nDalem Ageng Prabasuyasa ini pula, seorang raja bersumpah pada saat mulai bertahta sebelum dilakukan upacara penobatan.

Selanjutnya adalah Sasana Handrawina yang digunakan sebagai tempat perjamuan makan resmi kerajaan. Kini, Sasana Handrawina sering dimanfaatkan untuk tempat seminar maupun gala dinner ketika menjamu tamu-tamu dari luar negeri yang datang ke Surakarta. Bangunan utama lainnya yang ada di kompleks Kedathon adalah Panggung Sangga Buwana. Dulu, fungsi menara ini adalah sebagai tempat Raja melakukan meditasi sekaligus untuk mengawasi benteng Belanda yang berada tidak jauh dari keraton. Menara setinggi 35 meter dengan garis tengah 6 meter ini memiliki 5 lantai dan biasanya juga digunakan untuk melihat posisi bulan guna menentukan awal bulan. Di puncak teratas terdapat simbol yang menunjukkan tahun dibangunnya menara tertua di Surakarta ini. Bunyi sengkalan simbolisasi itu adalah Naga Muluk Tinitihan Janma yang berarti tahun Jawa 1709 atau tahun 1782 dalam kalender Masehi (Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, Janma=1). Panggung Sangga Buwana pernah terbakar pada 19 November 1954 sehingga kemudian direnovasi dan selesai pada tanggal 15 Mei 1978. Terakhir, di sebelah barat kompleks Kedhaton, merupakan tempat tertutup bagi masyarakat umum dan terlarang untuk dipublikasikan sehingga tidak banyak yang mengetahui apa saja sebenarnya yang ada di dalamnya. Kawasan tersebut terlarang karena merupakan tempat tinggal resmi raja dan keluarga kerajaan yang masih digunakan hingga sekarang.

g. Kemagangan

Bagian belakang Kedhaton yang merupakan wilayah inti istana adalah kompleks yang disebut sebagai Kemagangan atau Magangan. Seperti namanya, kompleks Kemagangan pada zaman dahulu digunakan sebagai tempat penerimaan, berlatih, ujian, dan apel kesetiaan para calon abdi dalem yang nantinya magang di istana sebelum diterima sebagai abdi dalem tetap. Di tempat ini terdapat sebuah pendapa yang berada di tengah-tengah halaman. Pendapa ini dulu digunakan sebagai tempat latihan para calon abdi dalem. Di sekeliling halaman ini berdiri sejumlah bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan atribut atau perlengkapan prajurit, seperti keris, pedang, bedil, pistol, dan pakaian seragam prajurit yang dikenakan pada hari-hari besar keraton. Di tengah-tengah kompleks Kemagangan juga tersedia tempat untuk menyimpan meriam yang dibunyikan pada hari-hari besar tertentu. Di sebelah selatan bangunan penyimpanan meriam itu terdapat pelataran di mana di kiri dan kanannya berdiri gedung perkantoran prajurit, dan sejumlah bangunan lainnya. Selain itu, di tengah-tengah pendapa Kemagangan terdapat bangsal yang digunakan untuk pisowanan abdi dalem perempuan atau keputren. Kini, kompleks Kemangangan terkadang juga digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara-acara budaya, semisal talkshow atau diskusi budaya.

h. Kemandhungan Kidul

Setelah keluar dari areal Kemagangan melalui pintu gerbang Kori Gadungmlathi yang juga dikenal dengan nama Saleko atau Sembagi, kompleks yang berikutnya adalah pelataran Kemandhungan Kidul (Kemandhungan Selatan). Kata Gadungmlathi bermakna simbolis yang melambangkan relasi antara keraton dengan ratu penguasa Laut Selatan (Nyai Roro Kidul). Sedangkan istilah Saleko memiliki makna “persatuan dengan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa)”, dan kata sembagi berarti “bersatunya semua warna menjadi warna putih”. Di selatan Kori Gadungmlathi, ada pintu gerbang Kori Kemandhungan Kidul yang merupakan pintu masuk (pintu belakang) istana dari arah selatan. Pintu gerbang ini dihiasi dengan perangkat dekoratif yang sarat makna, salah satunya adalah rangkaian melati yang bermakna kesucian. Di sekitar pintu gerbang ini akan dijumpai lagi pelataran yang bersifat lebih terbuka untuk umum. Selain itu, kompleks ini juga menjadi tempat yang digunakan pada saat upacara pemakaman raja maupun permaisuri. Setelah melewati pintu gerbang Kori Kemandhungan Kidul, berikutnya akan dijumpai pintu gerbang Kori Brajanala kidul. Di sebelah kiri dan kanan Kori Brajanala Kidul terdapat Bangsal Nyutra dan Bangsal Mangundara. Berikutnya terdapat jalan Supit Urang Wetan dan Supit Urang Kulon yang menjadi penghubung antara kompleks Kemandhungan Kidul dengan Siti Hinggil Kidul.

i. Siti Hinggil Kidul

Akses untuk menuju ke Siti Hinggil Kidul (Siti Hinggil Selatan) dapat dilakukan melalui pintu gerbang Kori Brajanala Kidul. Kawasan Siti Hinggil Kidul adalah kompleks bangunan pendapa terbuka yang dikelilingi oleh barisan pagar besi pendek. Bangunan ini didirikan pada tahun Jawa 1721. Dahulu, terdapat empat meriam di area ini di mana dua di antaranya kemudian dikelola oleh pemerintah Republik Indonesia dan disimpan di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang, Jawa Tengah. Berbeda dengan kompleks Siti Hinggil Lor yang terkesan megah, Siti Hinggil Kidul dan sejumlah bangunan lain yang berada di sebelah selatan istana berwujud lebih sederhana dan dibuat dari material yang lebih sederhana pula. Perbedaan ini bukannya tanpa alasan, namun justru memuat filosofi Jawa yakni Donya Sungsang Walik. Dengan kata lain, bangunan-bangunan di sebelah utara istana yang megah melambangkan nafsu dan keinginan duniawi yang ada di dalam diri manusia, sementara kesederhanaan yang terlihat pada bangunan-bangunan di bagian selatan istana melambangkan perjalanan religi, yakni bersatunya manusia dengan Tuhan sehingga harus meninggalkan benda-benda dan keinginan duniawi. Artinya, dalam tahap spiritual ini, manusia harus fokus dan hanya berorientasi kepada Tuhan, Sang Hyang Tunggal.

j. Alun-alun Kidul

Alun-alun Kidul (Alun-alun Selatan) yang terletak di sebelah selatan Siti Hinggil Kidul dapat diibaratkan sebagai halaman belakang istana. Kawasan yang berupa tanah lapang ini bersifat lebih pribadi dibandingkan Alun-alun Lor. Pada zaman dahulu, Alun-alun Kidul digunakan sebagai sarana hiburan bagi keluarga istana dan untuk latihan keprajuritan. Sama seperti di Alun-alun Lor, Alun-alun Kidul juga memiliki sepasang pohon beringin kembar di bagian tengahnya. Sepasang pohon beringin tersebut dilindungi oleh dinding dan oleh karena itu, maka kedua pohon beringin itu disebut dengan nama Waringin Kurung Sakembaran. Alun-Alun Kidul dikelilingi oleh tembok benteng yang tinggi dan di sekitarnya terdapat beberapa rumah bangsawan kerajaan. Selain itu, di Alun-alun Kidul juga dapat ditemui sekumpulan orang yang sedang mencari nafkah, misalnya dengan berjualan, di area tersebut.

Benteng yang mengelilingi Alun-alun Kidul mempunyai pintu gerbang di tengah-tengah ujung selatan yang diberi nama Gapura Gading. Pada era pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, tepatnya pada tahun 1932, ditambahkan pintu gerbang di sebelah selatan Gapura Gading, dengan bentuk mengikuti bentuk gerbang masuk Alun-alun Kidul dari arah barat dan timur. Gapura terakhir yang ditambahkan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X inilah yang justru dikenal masyarakat sebagai Gapura Gading. Ketiga gerbang di Alun-alun Kidul ini dikenal dengan sebutan Tri Gapurendro. Di sebelah barat Alun-alun Kidul terdapat kandang gajah milik keraton. Raja memelihara hewan-hewan liar seperti gajah sebagai lambang kebesaran. Di kompleks ini juga terdapat sebuah bangunan kecil yang digunakan untuk memelihara hewan pusaka keraton lainnya, yakni kebo bule (kerbau albino) yang diberi nama Kyai Slamet.

Dibaca : 13872 kali
« Kembali ke Tentang Istana

Share

Form Komentar

hengki atmadji 15 Januari 2012 22:03

Akan lebih baik lagi kalau disertai dengan gambar denah kraton 3 dimensi....