English Version | Bahasa Indonesia

Tentang Istana



  • Istana Utama

    1. Istana Utama Istilah keraton (sering juga ditulis dengan kraton, karaton, atau kedhaton), berasal dari istilah keratuan yang menunjukkan pengertian tempat kediaman ratu (raja). Biasanya, bangunan sebuah keraton memiliki ciri khusus dan menjadi salah satu perlambangan identitas kerajaan sekaligus sebagai pusat pemerintahan, pusat budaya, dan sebagai rumah tinggal raja beserta keluarga istana. Demikian pula halnya dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dibangun sejak zaman pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono II, tepatnya pada tahun 1744. Saat itu, pembangunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dimaksudkan sebagai pengganti Keraton Kartasura yang rusak parah akibat peristiwa Geger Pacinan yang terjadi setahun sebelumnya, yakni pada tahun 1743. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat didirikan di Desa Sala (baca: Solo). Di desa ini terdapat sebuah pelabuhan kecil yang terletak di tepi barat Sungai Beton atau yang ... Selengkapnya »

  • Taman

    Taman Sriwedari Taman Sriwedari pada mulanya dibangun dengan tujuan untuk kawasan rekreasi, hiburan, dan tempat peristirahatan bagi keluarga istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pencetus dibangunnya taman ini adalah Sri Susuhunan Pakubuwono X yang bertahta pada periode tahun 1893 sampai tahun 1939. Oleh karena itu, dahulu, kawasan Taman Sriwedari yang dibangun pada 1899 ini dikenal juga dengan sebutan Bon Rojo (berasal dari istilah Kebon Rojo yang berarti Taman Raja). Sebelum dijadikan sebagai kawasan rekreasi keluarga istana, Taman Sriwedari awalnya dikembangkan sebagai taman kota, dan sejak tahun 1901, taman ini diresmikan sebagai kawasan rekreasi bagi keluarga keraton. Lahan tempat dibangunnya Taman Sriwedari dengan luas kira-kira 10 hektar ini dibeli oleh KRMT Wirjodiningrat, kakak ipar Sri Susuhunan Pakubuwono X, dari Johannes Busselaar, seorang Belanda yang tinggal di Solo, pada 5 Desember 1877 dengan status tanah hak milik. ... Selengkapnya »

  • Pesanggrahan

    Pesanggrahan Langenharjo Pesanggrahan Langenharjo menjadi salah satu tempat tujuan rekreasi bagi keluarga istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Namun, berbeda dengan Taman Sriwedari yang memang dikonsentrasikan sebagai kawasan hiburan, Pesanggrahan Langenharjo juga berfungsi sebagai tempat yang dianggap sakral di mana di tempat ini sering digunakan untuk melakukan ritual meditasi. Pembangunan Pesanggrahan Langenharjo dimulai pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IX (1861-1893), tepatnya pada tahun 1870 M, dan selesai dibangun pada era kepemimpinan Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939), yakni tanggal 15 Juli 1931. Data ini didapat dari keterangan yang tercantum di Pesanggrahan Langenharjo di mana di situ tertulis “PB X 15-7-1931”. Pesanggrahan Langenharjo menempati lokasi di sebelah utara Sungai Bengawan Solo, atau tepatnya di Kampung Langen Arjan, Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, yang ... Selengkapnya »

  • Pemandian

    Umbul Pengging Umbul Pengging adalah kompleks pemandian yang dulu sering digunakan oleh keluarga istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat, terutama di era pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939). Pemandian Umbul Pengging terletak di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kata “umbul” dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai “sumber mata air yang menyembur dari dalam tanah”, sedangkan kata “pengging” diambil dari nama seorang tokoh pada masa Kesultanan Demak, yakni Ki Ageng Pengging. Ki Ageng Pengging adalah penguasa daerah di mana Umbul Pengging kemudian didirikan. Ia dihukum mati oleh pemerintah Kesultanan Demak pada masa pemerintahan Raden Patah (1478-1518 M) dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Perlu diketahui bahwa Ki Ageng Pengging adalah anak didik Syekh Siti Jenar yang ajarannya dianggap sesat oleh para ulama dari Kesultanan Demak. Ki Ageng Pengging ... Selengkapnya »

  • Benteng

    Benteng Baluwarti Kasunanan Surakarta Hadiningrat Benteng yang mengelilingi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat disebut dengan nama Benteng Baluwarti. Kini, wilayah di dalam benteng itu telah menjadi nama sebuah kelurahan yang berada di dalam wilayah administratif Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Bagi sebagian besar masyarakat asli Solo, Kelurahan Baluwarti dianggap istimewa karena wilayahnya berada di dalam lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Istilah “baluwarti” sendiri berasal dari bahasa Portugis, yakni baluarte, yang berarti “benteng”. Wilayah Baluwarti terletak di lingkaran kedua setelah kawasan Kedhaton (lingkungan inti istana) yang berada di antara 2 tembok tebal dengan ukuran 2 meter dan tinggi 6 meter. Wilayah di luar tembok yang mengelilingi istana utama Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini menjadi kawasan pemukiman yang didiami oleh para pangeran, kerabat keraton, dan abdi ... Selengkapnya »