English Version | Bahasa Indonesia

Militer dan Jenjangnya

Prajurit Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Sebagai sebuah negara yang berdaulat, Kasunanan Surakarta Hadiningrat memiliki perangkat kemiliteran sebagai aparat yang bertugas untuk menjaga pertahanan dan keamanan kerajaan. Kesatuan prajurit di Kasunanan Surakarta Hadiningrat bermacam-macam jenisnya dengan mengemban tugas mereka masing-masing. Penerimaan, pengangkatan, dan jenjang karir prajurit di Kasunanan Surakarta Hadiningrat pun mempunyai mekanisme tersendiri. Setelah Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, peran kesatuan prajurit keraton lebih banyak berkutat dalam konteks internal lingkungan kerajaan, seperti sebagai pengawal Raja, menjaga keamanan istana, mengiringi upacara adat, dan lain sebagainya, serta juga difungsikan untuk kepentingan hiburan dan pariwisata, misalnya dalam acara-acara festival dan agenda seni-budaya lainnya.

Terdapat banyak kelompok prajurit yang dimiliki oleh Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Beberapa di antaranya adalah Prajurit Carangan, Prajurit Wirengan, Prajurit Tamtama, Prajurit Toh Pati, Prajurit Sara Geni, Prajurit Prawira Anom, Prajurit Jayeng Astra, Prajurit Darapati, Prajurit Penyutra, Prajurit Miji Pinilih, Prajurit Wirapati, Prajurit Jayataka, dan seterusnya. Masing-masing dari laskar prajurit ini mengemban tugas dan fungsi yang berbeda. Kesatuan Prajurit Carangan, misalnya, merupakan barisan prajurit yang mengemban tugas penting untuk menjaga keselamatan Raja sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban tempat tinggal Raja atau kawasan kedhaton.

Pembentukan Kesatuan Prajurit Carangan merupakan pembelajaran dari masa kelam yang pernah terjadi sebelumnya, yakni terjadinya pendudukan pusat kerajaan yang terjadi pada masa Kasunanan Kartasura Hadiningrat oleh pihak yang sebenarnya tidak berwenang. Disebabkan adanya pendudukan itu, pusat kerajaan Kasunanan Kartasura Hadiningrat terpaksa dipindahkan ke Surakarta dan menandai lahirnya Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan pengalaman pahit itu, maka dibentuklah Kesatuan Prajurit Carangan sebagai laskar tentara kerajaan yang bertanggungjawab atas keselamatan Raja dan keamanan pusat pemerintahan.

Selain mengemban tugas yang berhubungan dengan pertahanan dan keamanan, ada beberapa kesatuan prajurit di Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dilibatkan dalam prosesi adat atau upacara keagamaan yang digelar oleh istana. Salah satunya adalah Kesatuan Prajurit Wirengan yang mengemban tugas khusus dalam pelaksanaan ritual Gunungan, termasuk dalam upacara Garebeg. Dalam upacara Garebeg, terdapat beberapa Gunungan yang akan diarak dari istana utama menuju ke Masjid Agung Surakarta. Kesatuan Prajurit Wirengan inilah yang bertugas sebagai pasukan pengawal dengan mengiringi jalannya arak-arakan di sebelah kanan dan kiri Gunungan. Pada saat-saat tertentu di sepanjang perjalanan dari keraton menuju ke Masjid Agung Surakarta itu, para prajurit yang tergabung dalam Laskar Wirengan tersebut memperagakan tarian khusus, yakni yang disebut sebagai tayungan.

Lain lagi dengan prajurit yang bertugas ketika dilaksanakannya upacara Tingalan Dalem Jumenengan yang dilaksanakan setiap tahun untuk memperingati ulang tahun kenaikan tahta sang Raja yang sedang berkuasa. Pasukan yang dilibatkan dalam upacara Tingalan Dalem Jumenengan itu disebut dengan nama bregodo di mana masing-masing bregodo terdiri dari 16 orang prajurit. Setelah Sri Susuhunan Pakubuwono memasuki ruangan dan menduduki singgasananya, para prajurit ini pun mulai beraksi dengan menampilkan kebolehannya di depan Raja. Para prajurit yang mengenakan kain batik itu memainkan berbagai alat musik tabuh namun mereka sangat piawai juga dalam memainkan beraneka macam senjata, seperti pedang, tombak, atau panah.

Para personel prajurit Kasunanan Surakarta Hadiningrat ditempatkan di sejumlah lokasi untuk tempat tinggal berdasarkan nama kesatuan prajuritnya. Daerah-daerah yang dulu digunakan sebagai tempat tinggal para prajurit itu kini menjelma menjadi nama-nama kampung yang ada di sekitar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Misalnya Saraganen, yakni wilayah yang dulu diperuntukkan bagi para prajurit yang tergabung di Kesatuan Sara Geni. Kemudian ada Kampung Jayatakan sebagai lokasi ditempatkannya para prajurit dalam Kesatuan Toh Pati alias prajurit berani mati. Untuk para prajurit magang yang sedang mengikuti pelatihan hingga diangkat menjadi tentara tetap (tergabung dalam Kesatuan Wiji Pinilih) ditempatkan di daerah yang bernama Wiji Pinilihan. Sedangkan untuk para prajurit yang tergabung di Kesatuan Carangan, Kesatuan Wirengan, Kesatuan Jayataka, dan lain sebagainya berdomisili di kampung-kampung yang bernama sama dengan nama kesatuan-kesatuan prajurit tersebut, yakni di Kampung Carangan, Kampung Wirengan, dan Kampung Jayatakan.

Tidak hanya prajurit dari kalangan pria saja terdapat di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ada juga para prajurit pilihan yang terdiri dari kaum perempuan. Prajurit khusus ini biasanya tidak menampilkan diri secara langsung sebagai prajurit, melainkan berperan sebagai penari istana. Di balik peran sebagai penari, para perempuan tangguh itu sebenarnya merupakan benteng terakhir sang Raja. Para srikandi pilihan itu tidak sekadar piawai menari, namun juga siap menjaga keamanan Raja sampai titik darah penghabisan. Para penari yang semula berperangai lembut dengan gerak tari yang lemah gemulai sejatinya memiliki naluri, kecepatan, kewaspadaan, dan senantiasa bersiaga setiap saat manakala terjadi ancaman terhadap sang Raja.

Senjata para prajurit wanita ini pun tidak kentara. Mereka mengenakan busana ala penari istana namun di dalamnya terselip benda-benda yang bisa menjadi senjata ampuh saat berada dalam kondisi terdesak. Salah satu senjata rahasia itu adalah cundhuk mentul yang biasa dipasang sebagai asesoris di kepala para penari. Cundhuk mentul tersebut mempunyai ujung yang cukup runcing sehingga sewaktu-waktu bisa berfungsi sebagai senjata, yakni dengan ditusukkan ke tubuh musuh. Selain itu, masih ada kelat bahu (alat yang digunakan sebagai sandaran pedang dalam tarian) dan gelang yang bisa berubah fungsi sebagai perisai yang ditempatkan di bahu dan di pergelangan tangan para penari. Pada perkembangnnya kemudian, para penari itu dilengkapi dengan sejumlah jenis senjata yang bisa diselipkan pada busana tari mereka, seperti cundrik (keris kecil untuk perempuan), jemparing (panah kecil), tombak kecil, bahkan bedhil (pistol kecil).

Dalam beberapa kesempatan, para penari istana ini berperan sebagai penjaga Raja yang tidak diketahui oleh musuh. Salah satu contoh kejadian adalah ketika diadakannya perundingan antara Sri Susuhunan Pakubuwono IX dengan orang-orang Belanda di mana Belanda menuntut kepada Sri Susuhunan Pakubuwono IX agar mau menyerahkan sebagian wilayah pesisir utara Jawa kepada mereka. Dalam perundingan itu, para penari yang sebenarnya adalah prajurit wanita menari di hadapan perwakilan bangsa Belanda yang sedang mengadakan perundingan di istana. Mereka menarikan tari Srimpi Sangupati yang merupakan gubahan dari tari Srimpi Sangapati. Istilah sangupati sendiri memiliki makna yang relevan untuk para penari sekaligus petarung itu. Sangupati dimaknai sebagai “bekal untuk mati” yang ditujukan untuk musuh-musuh Raja.

Para penari itu menyisipkan pistol kecil berisi peluru yang dikenakan seolah-olah sebagai properti tari. Pistol kecil itu bisa setiap saat digunakan manakala nyawa Raja terancam. Selain itu, di pinggang sebelah kiri, para penari juga dilengkapi dengan cundrik atau keris kecil. Posisi cundrik yang ditempatkan di pinggang sebelah kiri itu, bukan di punggung belakang, adalah pertanda bahwa mereka selalu mawas dan selalu waspada untuk beraksi setiap saat. Pada posisi di pinggang sebelah kiri, cundrik akan mudah dicabut dengan tangan kanan dan dengan cepat ditusukkan ke tubuh lawan.

Corak busana yang dikenakan para penari itu pun mencerminkan bahwa mereka adalah sepasukan perempuan tangguh. Para penari istana biasanya mengenakan kain cindhe berwarna merah yang dipasangkan dengan kampuh berwarna biru tua dan putih (bango tulak) atau terkadang berwarna hitam dan putih (bango buthak). Paduan corak dan warna pada busana yang mereka kenakan itu dinamakan satriya mangsah. Artinya, para penari tersebut sebenarnya adalah para pendekar perempuan yang siap berperang setiap saat.

Sumber Foto: http://www.bisnis-jateng.com

Dibaca : 7796 kali
« Kembali ke Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Share

Form Komentar