English Version | Bahasa Indonesia

Penghargaan/Gelar yang Pernah Diterima

Selain memberikan gelar kebangsawanan dan penghargaan kepada orang lain baik di dalam maupun di luar lingkungan kerajaan, Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sri Susuhunan Pakubuwono XII, beberapa kali juga memperoleh penghargaan atau gelar dari tokoh atau lembaga baik yang berkaliber nasional maupun internasional. Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, yakni pada tanggal 19 Agustus 1945, misalnya, Sri Susuhunan Pakubuwono XII menerima surat pengakuan berupa Piagam Kalenggahan Ingkang Jumeneng Kepala Daerah Istimewa Surakarta dari pemerintah Republik Indonesia yang ditandatangani oleh sang proklamator sekaligus Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno. Piagam ini diberikan sebagai bentuk pengakuan bahwa Pemerintah Republik Indonesia mengakui keberadaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan status daerah istimewa pada waktu itu. Penghargaan ini juga merupakan wujud apresiasi pemerintah Republik Indonesia terhadap keputusan Sri Susuhunan Pakubuwono XII yang rela menggabungkan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari pemerintah Republik Indonesia pula, Sri Susuhunan Pakubuwono XII pernah menerima anugerah berupa medali penghargan paling bergengsi. Penghargaan tertinggi dari pemerintah Republik Indonesia itu antara lain: Bintang Jaya Dharma, Bintang Gerilya, serta penghargaan Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan Satya Lencana Perang Kemerdekaan II. Sebenarnya Soekarno selaku Presiden Republik Indonesia telah memberikan penghargaan tertinggi negara kepada Sri Susuhunan Pakubuwono XII tersebut pada tahun 1958, namun karena satu dan lain hal, penghargaan-penghargaan itu baru disematkan secara langsung pada tahun 1999, atau setelah 41 tahun kemudian. Selain itu, Sri Susuhunan Pakubuwono XII juga memperoleh penghargaan dari penguasa Kerajaan Belanda, Ratu Beatrix, yaitu Grootkruis in de Orde van Oranje Nassau. Penghargaan tertinggi ini diberikan setelah kunjungan Ratu Beatrix ke Indonesia pada tahun 1995.

Pada Desember 2003, Sri Susuhunan Pakubuwono XII menerima penghargaan sebagai Bapak Perdamaian Dunia atau Lifting Up the World with a Oneness Heart Award dari tokoh lintas agama asal India, Sri Chinmoy. Penyerahan gelar dan penghargaan tersebut dilakukan sendiri oleh Sri Chinmoy, bertempat di Sasana Handrawina, Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dalam acara penyerahan gelar dan penghargaan itu, Sri Chinmoy memohon agar Sri Susuhunan Pakubuwono XII berkenan duduk di kursi khusus yang dibawa langsung dari New York, Amerika Serikat, tempat di mana Sri Chinmoy bermukim. Saat diduduki, kursi khusus tersebut akan naik secara otomatis, dan ini merupakan wujud pengakuan dan peresmian Sri Susuhunan Pakubuwono XII sebagai Bapak Perdamaian Dunia. Penyerahan penghargaan kepada Sri Susuhunan Pakubuwono XII ini disaksikan 150 pengikut Sri Chinmoy yang berasal dari 27 negara di dunia. Selain itu, Sri Chinmoy juga telah menciptakan lagu khusus yang bercerita mengenai pribadi Sri Susuhunan Pakubuwono XII. Sri Chinmoy menyanyikan lagu yang berjudul King Sinoehoen: Wisdom Mountain, Kindness Fountain, Love Sky itu bersama semua undangan yang hadir sebelum pemberian penghargaan.

Sri Chinmoy, atau yang bernama asli Chinmoy Kumar Ghose, adalah seorang guru spiritual, penyair, budayawan, seniman, artis, sekaligus olahragawan asal India yang kemudian bermukim di New York, Amerika Serikat, sejak tahun 1964. Sri Chinmoy pernah memberikan penghargaan serupa kepada sejumlah tokoh internasional dari berbagai latar belakang, seperti kepala negara, tokoh agama, akademisi, hingga atlit olahraga. Selain Sri Susuhunan Pakubuwono XII, tokoh-tokoh dunia yang pernah menerima penghargaan dari Sri Chinmoy antara lain Bunda Theresa pada tahun 1979, mantan Presiden Rusia Mikhail Gorbachev pada tahun 1990, mantan Presiden Afrika Selatan dan tokoh perdamaian dunia Nelson Mandela pada tahun 1994, Lady Diana, atlit balap lari Carl Lewis, juara dunia tinju kelas berat dunia Muhammad Ali, dan tokoh-tokoh terpilih lainnya. Sri Chinmoy meninggal dunia pada tanggal 11 Oktober 2007.

Foto:

Koleksi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dalam Marleen Heins, ed., 2004. Karaton Surakarta. Surakarta: Yayasan Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta.

Dibaca : 6261 kali
« Kembali ke Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Share

Form Komentar