English Version | Bahasa Indonesia

Petilasan

Petilasan Kartasura

Petilasan Kartasura sebenarnya adalah bekas istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat (berdiri pada tahun 1680 dan berakhir pada tahun 1742). Pemerintahan kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kesultanan Mataram Islam. Situs petilasan Kasunanan Kartasura Hadiningrat ini berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, tidak begitu jauh dari Surakarta. Berdirinya Kasunanan Kartasura Hadiningrat tidak terlepas dari pergolakan internal yang terjadi di Kesultanan Mataram Islam yang pada waktu itu berpusat di Plered, daerah yang sekarang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keraton Kartasura didirikan oleh Amangkurat II (bertahta pada periode 1680-1702) pada tahun 1679. Amangkurat II merupakan cucu dari Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Agung (1613-1645). Amangkurat II memindahkan pusat pemerintahan ke Kartasura karena tidak mau lagi tinggal di Keraton Plered yang dianggap sudah tercemar karena pernah diduduki oleh musuh. Pada masa pemerintahan raja yang sebelumnya, yaitu Amangkurat I (1645-1677), Keraton Plered memang pernah dikuasai oleh barisan pemberontak yang dipimpin oleh Trunajaya.

Wilayah yang digunakan Amangkurat II untuk membangun Kasunanan Kartasura Hadiningrat pada mulanya masih berupa hutan yang bernama Wonokarto, berasal dari kata wono yang berarti hutan, dan karto/karta yang berarti makmur. Setelah keraton berdiri, nama tempat itu pun diganti menjadi Kartasura, terdiri dari kata karto/karta yang berarti makmur dan sura yang bermakna berani. Jadi, makna dari penamaan Kartasura kurang lebih adalah “wilayah yang makmur berkat keberanian untuk mencapai kesejahteraan”. Kendati sudah pindah ke Kartasura, gejolak yang melanda trah Mataram ternyata belum usai. Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwono I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), hingga Pakubuwono II (1726-1749) tidak pernah mengalami masa tenang dalam memimpin pemerintahan. Puncak dari kekisruhan di Kartasura terjadi pada masa pemerintahan Pakubuwono II, tepatnya pada tahun 1742, di mana terjadi pemberontakan di bawah pimpinan Raden Mas Garendi, yang terkenal sebagai peristiwa “Geger Pecinan”. Peperangan yang terjadi akibat tragedi tersebut menyebabkan istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat hancur lebur. Oleh karena itu, pada tahun 1744-1745, Pakubuwono II mendirikan pusat pemerintahan baru di Solo yang diberi nama Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat dibangun di lahan berbentuk persegi seluas kurang lebih 2 (dua) hektar di dalam lindungan benteng yang memiliki panjang mencapai 184 meter dan lebar 127 meter. Tata letak serta tata ruang kompleks istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat menjadi acuan dalam pembangunan istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat maupun istana Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Istana Kartasura Hadiningrat tertutup oleh pagar dan dikelilingi oleh beberapa ruangan besar. Sebuah pintu gerbang besar, bernama Kori Sri Manganti, ditempatkan di dekat pintu masuk utama. Selain itu, keraton ini memiliki dua alun-alun, yakni Alun-alun Lor (utara) sebagai area untuk menerima tamu dan Alun-alun Kidul (selatan) yang berada di belakang bangunan istana. Di kompleks istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat juga terdapat dua sisi Siti Hinggil dan Kamandhungan, Kedhaton, serta ruangan-ruangan lain seperti yang juga terdapat di istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat maupun Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Selain itu, masih terdapat juga beberapa peninggalan masa silam seperti genthong batu, yoni, lingga, serta senjata pusaka Tombak Kyai Jangkung dan Tombak Kyai Slamet yang disimpan di kompleks bekas istana ini.

Setelah ditinggalkan karena luluh lantak akibat insiden Geger Pecinan, istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat terbengkalai sehingga perlahan-lahan berubah lagi menjadi hutan yang dihuni oleh berbagai jenis binatang liar. Pada era pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1788-1820), tepatnya pada tahun 1811, Kasunanan Surakarta Hadiningrat berinisiatif untuk melakukan pembenahan terhadap situs yang sebenarnya sangat monumental tersebut. Sri Susuhunan Pakubuwono IV menitahkan agar petilasan istana Kartasura dibersihkan dan hewan-hewan yang hidup di sana dipindahkan ke hutan lain yang terletak agak jauh ke arah selatan, yaitu ke tempat yang kemudian dikenal sebagai Kandang Menjangan. Reruntuhan bekas istana Kartasura kembali dikelola, yaitu difungsikan sebagai area pemakaman untuk anggota keluarga kerajaan dan tokoh-tokoh lainnya yang dihormati. Anggota keluarga kerajaan yang dimakamkan di situs Kartasura ini di antaranya adalah para istri dan anak perempuan raja, termasuk Ratu Pembayun Sedhah Mirah, Bendoro Raden Ajeng Susilorukmi, Raden Ajeng Tranggonorukmi, Raden Ajeng Renggorukmi, dan yang lainnya. Keturunan dari Sri Susuhunan Pakubuwono IX juga banyak yang dikebumikan di kompleks ini, begitu pula dengan sejumlah tokoh yang dihormati pada masanya, antara lain: Mas Ngabehi Sukareja, Kanjeng Pangeran Haryo Adinegoro, seorang dalang terkenal bernama Ki Nyoto Carito, dan masih banyak yang lainnya. Pada hari-hari tertentu, petilasan bekas istana Kartasura ini banyak dikunjungi oleh orang-orang yang hendak berziarah. Tujuan utama para peziarah adalah makam Ratu Pembayun Sedahmirah, selir Sri Susuhunan Pakubuwono IX, yang semasa hidupnya dikenal sebagai sosok perempuan yang cantik dan pandai berdiplomasi.

Oleh karena semakin banyak orang yang datang berkunjung ke kompleks petilasan bekas istana Kartasura ini, maka pada awal abad ke-20 M, yaitu pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939), dibangunlah Masjid Hastana Keraton Kartasura dan ruang pertemuan di kompleks ini. Kini, yang tersisa dari istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat adalah puing-puing bekas kompleks kerajaan. Beberapa bagian dari kompleks istana yang masih ada di antaranya adalah Alun-alun Kraton, bekas taman istana, Segaran (kolam yang sekarang telah menjadi tanah lapang), Gedong Obat (dulu digunakan sebagai gudang mesiu), Sumur Madusaka yang dulu digunakan untuk memandikan pusaka-pusaka kerajaan, dan beberapa bagian lainnya yang rata-rata sudah berupa reruntuhan atau telah beralih rupa menjadi area pemakaman. Selain terdapat kompleks petilasan bekas istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat , di wilayah Kartasura juga terdapat petilasan bekas istana Kesultanan Pajang (kerajaan penerus Kesultanan Demak).

Sumber Foto: http://muchrozaqie.blogspot.com

Dibaca : 5412 kali
« Kembali ke Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Share

Form Komentar