English Version | Bahasa Indonesia

Kesusastraan

  • Serat Centhini

    Serat Centhini Serat Centhini dikenal sebagai salah satu karya sastra terbesar dan hasil karya yang paling fenomenal dalam sejarah kesusastraan Jawa Baru, khususnya dalam jejak prestasi karya sastra yang tercipta di lingkungan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Serat Centhini, yang bernama lengkap Suluk Tambangraras-Amongraga, disampaikan dalam bentuk tembang dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya. Serat Centhini digubah oleh 3 orang abdi dalem atau lebih tepatnya pujangga Kasunanan Surakarta Hadiningrat atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III, sang putra mahkota yang kelak bertahta menjadi penguasa Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Susuhunan Pakubuwono V (1820–1823 M). Ketiga pujangga istana yang diperintahkan untuk melakukan penggubahan Serat Centhini oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara itu adalah Kyai Yasadipura II atau Raden Ngabehi Ranggawarsita I, ... Selengkapnya »

  • Serat Candrarini

    Serat Candrarini Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah salah satu pusat peradaban Jawa yang terbesar masih merupakan keturunan langsung dari Kesultanan Mataram Islam. Oleh karena itu, dalam sejarah perjalanan Kasunanan Surakarta Hadiningrat banyak dihasilkan karya sastra yang adiluhung. Bahkan, raja-raja yang pernah bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat banyak yang memiliki minat dan kemampuan dalam seni sastra, dengan menulis berbagai karya sastra, baik berupa serat, gendhing, maupun bentuk-bentuk karya sastra lainnya. Sebagai contoh adalah Serat Centhini yang merupakan buah karya dari Sri Susuhunan Pakubuwono V, Serat Wulang Reh yang ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IV, dan lain sebagainya. Salah satu karya sastra terkenal yang menjadi produk budaya dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah Serat Candrarini. Serat ini merupakan salah satu karya dari pujangga terbesar Surakarta, yakni Ranggawarsita. Serat Candrarini ... Selengkapnya »