English Version | Bahasa Indonesia

Acara dan Upacara

Perayaan Garebeg Mulud di Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad (Maulid Nabi) yang dikemas dalam rangkaian upacara tradisi Garebeg Mulud, atau yang dikenal juga dengan nama ritual Sekaten, menjadi salah satu agenda acara dan upacara adat yang paling semarak di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Hingga sekarang, acara adat dan budaya ini  masih rutin diselenggarakan setiap tahun di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan juga Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

1. Latar Belakang Tradisi Garebeg Mulud

Sebenarnya, tradisi Garebeg Mulud atau Sekaten sudah dilaksanakan sejak masa Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama sekaligus sebagai usat penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa yang dipelopori oleh Wali Songo. Para Wali memiliki banyak gagasan cemerlang dalam upaya syiar Islam di Jawa. Salah satunya adalah dengan memadukan unsuri-unsur Islam dengan tradisi lokal yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Jawa pada waktu itu. Salah satu contohnya adalah dengan menyisipkan pesan-pesan dakwah dalam kesenian tradisional, seperti gamelan, tembang, pertunjukan, dan lain sebagainya.

Gagasan adanya perayaan Garebeg Mulud atau Sekaten untuk pertamakalinya tercetus pada era Kesultanan Demak saat dipimpin oleh Raden Patah (1478-1518). Istilah Sekaten sendiri bermula dari kata Syahadatain atau “dua kalimat Syahadat”, sebagai tanda ikrar seorang muslim. Atas anjuran para Wali, Raden Patah memerintahkan untuk menjadikan gamelan dan beduk sebagai sarana dakwah. Kemudian, diadakanlah acara-acara yang dikaitkan dengan momen-momen tertentu dalam kalender Islam, salah satunya adalah hari kelahiran Nabi Muhammad atau Maulud (Maulid) Nabi.

Perayaan Maulud Nabi yang dimeriahkan dengan tabuhan gamelan membuat masyarakat tertarik dan berbondong-bondong segera datang ke Masjid Agung Surakarta, tempat di mana gamelan dibunyikan. Di depan gapura masjid, para Wali sudah bersiap untuk memberikan dakwah dengan balutan bahasa yang mempesona sehingga banyak yang orang respek dan kian tertarik untuk masuk ke dalam masjid. Setiap orang yang memang ingin memeluk Islam kemudian dituntun untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat.

2. Pelaksanaan Perayaan Garebeg Mulud

Tradisi perayaan Garebeg Mulud diadakan satu kali dalam setahun. Di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, tahap awal pelaksanaan acara adat ini dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal. Selama sebulan sebelumnya, terlebih dulu diadakan acara keramaian di Alun-alun Istana. Dalam acara pesta rakyat itu biasanya ditampilkan pasar malam, pentas seni, pameran, dan hiburan rakyat lainnya. Seminggu menjelang puncak acara (hari Maulud Nabi), dua perangkat dikeluarkan dari dalam kompleks keraton dan ditempatkan di Masjid Agung Surakarta. Dua gamelan itu bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.

Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di pendapa sebelah selatan Masjid Agung Surakarta. Gamelan yang merupakan warisan dari Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1823-1830), dibuat pada tahun 1718 Saka (tahun dalam penanggalan Jawa) ini merupakan perlambangan dari Syahadat Tauhid. Sedangkan gamelan Kyai Guntur Sari ditempatkan di pendapa sebelah utara Masjid Agung Surakarta dan merupakan simbol dari Syahadat Rasul. Kyai Guntur Sari adalah gamelan peninggalan Sultan Agung Hanyokusumo (1613-1645) yang dibuat pada tahun 1566 Saka.

Selama pelaksanaan perayaan tradisi Garebeg Mulud, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ditabuh secara bergantian mulai pukul 16.00 (jam 4 petang) selama sepekan penuh sejak tanggal 5 Rabiul Awal. Tabuhan gamelan berhenti sejenak pada waktu Shalat Maghrib sampai Isya’ dan kembali dibunyikan hingga pukul 12 tengah malam. Berhentinya bunyi gamelan pada waktu-waktu shalat tersebut dimaksudkan agar masyarakat dan para penabuh gamelan tidak melalaikan melaksanakan ibadah shalat sehingga hakikat dari perayaan Sekaten sebagai salah satu media dakwah tetap terjaga.

Setelah Subuh, gamelan ditabuh lagi dan begitu seterusnya sampai dengan tanggal 12 Rabiul Awal sebagai puncak rangkaian acara perayaan Garebeg Mulud. Bila perayaan jatuh pada hari Jum’at, gamelan tidak ditabuh dari waktu Maghrib hingga siang pada keesokan harinya karena bagi umat muslim, hari Jumat adalah hari yang hari paling mulia.

Gending atau tembang yang ditabuh dengan masing-masing gamelan ini berbeda jenis dan maknanya. Gamelan Kyai Guntur Madu mengalunkan gending berjudul Rambu. Nama gending ini berasal dari istilah dalam bahasa Arab Robbuna yang bermakna “Allah Tuhanku”. Artinya, gending Rambu diperdengarkan dengan tujuan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan gending yang diperdengarkan dengan gamelan Kyai Guntur Sari adalah gending Rangkung, berasal dari istilah dalam bahasa Arab Roukhun yang berarti “jiwa yang besar” atau “jiwa yang agung”.

3. Jenis Gunungan dalam Perayaan Garebeg Mulud

Puncak perayaan perayaan Garebeg Mulud jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal, atau tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad. Acara puncak yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang ini diawali dengan dikeluarkannya Gunungan dari istana untuk diarak menuju Masjid Agung Surakarta. Gunungan dibuat beberapa hari sebelum perayaan Garebeg Maulud oleh abdi dalem khusus yang ditunjuk oleh Sri Susuhunan Pakubuwono yang saat itu sedang bertahta.  Gunungan dibuat dari beraneka jenis bahan pangan dan sayuran atau hasil bumi yang disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sebuah gunung. Terdapat 4 jenis Gunungan digunakan dalam perayaan upacara Garebeg Mulud, yaitu Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Anakan, dan Ancak Cantaka.

a. Gunungan Kakung

Gunungan yang pertama adalah Gunungan Kakung (dalam bahasa Jawa, kakung artinya pria). Sesuai dengan namanya, wujud Gunungan Kakung dihubungkan dengan lingga yang menjadi simbolisasi alat reproduksi laki-laki. Hal tersebut mengacu pada nilai-nilai kehidupan yang menggambarkan adanya proses penciptaan manusia atau bisa juga dihubungkan dengan asal-usul manusia. Bahan-bahan dan bagian-bagian dari Gunungan Kakung juga merupakan gambaran tentang dunia beserta isinya yang meliputi beraneka macam elemen di dalamnya, seperti bumi, langit, api, air, tanaman, binatang, dan manusia, dengan berbagai jenis dan juga berbagai sifat serta karakternya.

Gunungan Kakung dibuat dengan bentuk kerucut. Pada bagian atasnya (puncak) yang disebut sebagai mustaka atau kepala, terdapat kue dari tepung beras dan telur asin yang ditancapkan dalam posisi melingkar dan disusun rapat. Seluruh tubuh Gunungan Lanang diberi ratusan helai kacang panjang yang dipasang melingkar dan juga disusun rapat di mana di tiap-tiap pucuknya diberi kue-kue kecil yang berbentuk seperti cincin. Selain itu, di tubuh Gunungan Kakung dirangkaikan lombok abang (cabai merah) yang berukuran besar. Rangkaian cabai merah itu diikat secara melingkar menjadi beberapa bagian sehingga membentuk pola yang bertahap. Setelah siap, Gunungan Kakung beserta seluruh perlengkapan dan lauk-pauknya ditempatkan di sebuah wadah kotak yang dinamakan jodhang. Sebagai alas jodhang, diberi dua kain, merah dan putih, dengan susunan kain putih berada di atas kain merah.

Adapun bahan pembuat Gunungan Kakung antara lain: (1) Kain merah dan putih berjumlah 5 buah. Warna merah dan putih melambangkan negara atau kerajaan; (2) Bagian yang dinamakan cakra yang ditempatkan di puncak Gunungan. Dalam cerita pewayangan, cakra adalah senjata pusaka milik Prabu Kresna yang berkekuatan mahadahsyat untuk menegakkan kebenaran; (3) Wapen atau simbol petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan Sri Susuhunan Pakubuwono yang sedang bertahta saat itu.

Bahan-bahan berikutnya adalah: (4) Kampuh, yaitu kain berwarna dan merah putih yang menutupi jodhang; (5) Entho-entho, penganan tradisional yang berbentuk bulat mirip telur dan dibuat dari tepung beras atau ketan yang dikeringkan sampai keras dan kemudian digoreng. Selain itu, ada juga telur asin dan berbagai jenis nasi serta bahan perlengkapan lainnya yang merupakan hasil bumi, seperti tebu, cabai, daun pisang, terong, wortel, ketimun, kacang panjang, dan daging. Masih ada lagi bahan-bahan yang lain seperti dami (jerami), jodhang, sujen, peniti, jarum bundel, samir jene, dan lain sebagainya.

b. Gunungan Putri

Sebagai pasangan dari Gunungan Kakung adalah Gunungan Putri yang berwujud seperti payung terbuka. Di bagian puncak Gunungan Putri diberi lapisan kue besar berupa lempengan berwarna hitam yang disusun bertumpuk. Beberapa kue berbentuk daun juga ditancapkan di sekeliling wilayah puncak itu. Sedangkan pada bagian tubuh Gunungan Putri ditutupi dengan beberapa kue ketan berbentuk bintang dan lingkaran. Kue ketan ini biasa disebut dengan nama rengginan. Di bagian tengahnya, ditempatkan kue berukuran kecil-kecil dan hiasan yang bermacam-macam bentuknya. Kue-kue berbentuk lingkaran besar yang terbuat dari ketan wajik juga ditempatkan di tubuh Gunungan Putri. Dengan susunan bahan dan bentuk yang seperti itu, maka Gunungan Putri tampak seperti bunga raksasa. Setelah semuanya siap, Gunungan Putri ditempatkan di jodhang yang dialasi dua helai kain berwarna putih dan merah dengan posisi kain putih diletakkan atas di kain merah.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat dan menyusun Gunungan Putri di antaranya adalah (1) Bendera merah dan putih yang berjumlah 5 buah sebagai lambang sebuah negara atau kerajaan; (2) Eter yang terbuat dari seng berbentuk jantung atau bunga pisang (tuntut); (3) Kampuh yang digunakan sebagai penutup jodhang, terbuat dari kain mori atau lawe, yang mengandung makna sebagai pakaian jasmani dan rohani manusia; (4) Bunga yang digunakan sebagai pewangi; (5) Rengginan, makanan tradisonal dari beras ketan, berukuran agak besar’; (6) Berbagai macam jajanan pasar seperti jadah, wajik, dan jenang, yang digunakan untuk mengisi jodhang; dan (7) Berbagai jenis bahan pelengkap lainnya, seperti bahan yang berupa makanan, yaitu kacu (penganan yang terbuat dari ketan berbentuk bulatan kecil) berjumlah 50 buah dengan diberi warna, dan bahan yang berupa alat, yakni Giwangan Bima berjumlah 8 buah, samir jene 4 buah, sujen, daun pisang, dan tali.

C. Gunungan Anakan

Untuk melengkapi Gunungan Kakung dan Gunungan Putri, dibuat juga Gunungan Anakan atau yang disebut juga dengan nama Saradan. Gunungan Anakan berukuran kecil-kecil, berjumlah beberapa buah (tidak ditentukan), dan diarak di belakang Gunungan Kakung dan Gunungan Putri. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat dan menyusun Gunungan Anakan antara lain: (1) Uang logam yang banyaknya disesuaikan dengan urutan silsilah raja yang sedang berkuasa pada saat itu (misalnya, pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono XI, maka uang logam yang digunakan juga berjumlah 11 keping); (2) Kue rengginan kecil berwarna merah, hitam, putih, dan jene yang dibuat sebanyak 4 buah untuk mengiringi Gunungan Kakung dan 8 buah untuk mengiringi Gunungan Putri; (3) Beraneka jenis bunga yang digunakan sebagai hiasan dan pengharum untuk Gunungan Anakan; dan (4) Eter yang terbuat dari seng berbentuk jantung atau bunga pisang (tuntut) yang berukuran kecil.

D. Ancak Cantaka

Selain dua Gunungan utama, yakni Gunungan Kakung dan Gunungan Putri, serta Gunungan Anakan, masih ada Gunungan tambahan yang digunakan dalam upacara Garebeg Mulud, yaitu yang disebut dengan nama Ancak Cantaka. Antak Cantaka adalah tumpeng atau gunungan berukuran kecil yang digunakan sebagai wujud dari rasa syukur atau selametan. Jumlah Ancak Cantaka tidak ditentukan, akan tetapi biasanya berjumlah 24 buah. Ancak Cantaka disediakan dengan maksud bahwa Raja memberi sedekah kepada para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat karena para abdi dalem tersebut berada di bawah lindungan sang Raja. Dengan kata lain, Ancak Cantaka merupakan wujud tanggung jawab Raja terhadap para abdi dalem yang telah setia mengabdi di Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Bahan yang paling penting untuk membuat tumpeng Ancak Cantaka adalah beras yang sudah dimasak menjadi nasi. Beras atau nasi identik sebagai simbol kemakmuran dalam kehidupan. Terdapat 3 jenis nasi yang dibuat untuk bahan Ancak Cantaka, yaitu (1) Sega gurih atau nasi uduk, lengkap dengan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja; (2) Sega janganan atau nasi sayur, lengkap dengan sayuran, telur rebus, buah-buahan, jajanan pasar, dan jenang (makanan tradisional yang mirip dengan dodol); (3) Sega asahan atau nasi asahan, lengkap dengan sambal goreng, tahu dan tempe goreng, serundeng, dan jeroan ayam.

Dahulu, jumlah Gunungan utama yang digunakan dalam pelaksanaan perayaan Garebeg Mulud di Kasunanan Surakarta Hadiningrat ada 24 buah, yakni masing-masing 12 Gunungan Kakung dan 12 Gunungan Putri. Jumlah itu belum ditambah dengan beberapa Gunungan Anakan dan 24 tumpeng Ancak Cantaka. Adanya jumlah 24 buah tersebut karena jumlah wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada waktu itu juga berjumlah 24 daerah. 24 buah dari 3 jenis Gunungan itu dibagi-bagikan kepada masing-masing daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Namun, karena kini Kasunanan Surakarta Hadiningrat sudah tidak punya daerah taklukan lagi, maka keraton hanya membuat Gunungan yang utama, yaitu sepasang Gunungan Kakung dan Gunungan Putri, ditambah Gunungan Anakan dan Ancak Cantaka.

4. Nilai-nilai dalam Tradisi Garebeg Mulud

Gunungan dibuat sebagai wujud rasa syukur Raja kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Selain itu, persembahan Gunungan juga dimaksudkan agar segenap warga istana terhindar dari segala macam malapetaka. Dengan kata lain, Gunungan merupakan realisasi rasa syukur seorang Raja dengan mengeluarkan sebagian hartanya untuk dipersembahkan kepada rakyatnya. Dikarenakan terkait dengan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, maka sebelum perayaan Garebeg Mulud dilaksanakan, terlebih dahulu dibacakan doa yang dipimpin oleh Penghulu Keraton dengan harapan agar Tuhan berkenan menganugerahi berkah atas sedekah yang dikeluarkan, sehingga Raja, negara, dan segenap rakyat termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selamat dunia dan akherat.

Rakyat dari segala penjuru tempat di wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan daerah sekitarnya datang berbondong-bondong ke pusat pemerintahan untuk menyaksikan dan turut serta dalam perayaan Garebeg Mulud. Orang-orang tersebut datang untuk mengikuti ritual rayahan, yakni memperebutkan bahan-bahan pangan yang sudah disusun menjadi Gunungan. Mereka meyakini bahwa rayahan dari Gunungan dapat mendatangkan berkah dan rezeki.

Sebelum ritual Rayahan dimulai, Sri Susuhunan Pakubuwono yang sedang bertahta berkenan datang ke Masjid Agung Surakarta untuk turut berdoa bersama-sama dengan semua orang. Setelah doa selesai dipanjatkan, barulah Gunungan dibagi-bagikan kepada semua orang yang hadir, namun tidak lupa juga dikirimkan ke istana untuk Raja, para sentana dalem, dan para punggawa istana. Adapun doa yang dipanjatkan sebelum Gunungan dibagi-bagikan pada intinya adalah untuk memohon keselamatan pada diri Raja, istri, putra-putri, para pejabat istana, dan rakyat pada umumnya, sehingga kerajaan selalu berada di dalam lindungan-Nya. Harapannya adalah supaya seluruh warga istana dan segenap rakyat dapat menjalani hidup dengan damai, aman dan nyaman, tenteram, sejahtera, dan bahagia di dalam naungan pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang adil dan makmur.

Dibaca : 14966 kali
« Kembali ke Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Share

Form Komentar