English Version | Bahasa Indonesia

Busana Kerajaan/Kesultanan

Secara keseluruhan penampilan busana yang megah dan mewah dalam suatu upacara ritual juga merupakan jaminan legitimasi dari pemakainya. Di sini terlihat bahwa penyajian busana adat kraton tidak dapat dipisahkan dari posisi dan kedudukan pemakainya. Misalnya sesama putra raja, tetapi berbeda ibu, yang satu lahir dari permaisuri, sedangkan satunya lahir dari garwa ampeyan (selir).

Tidak semua corak kain dapat digunakan bagi orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan sultan. Bahkan terdapat corak kain yang khusus dirancang untuk sultan, misalnya batik motif kawung dan motif huk pada masa Hamengku Buwono VII. Motif huk tergolong motif non geometris yang terdiri dari motif kerang (lambang dari air atau dunia bawah yang bermakna lapang hati), binatang, (gambaran watak sentosa dan pemberi kemakmuran) cakra, burung, sawat (ungkapan ketabahan hati) dan garuda. Oleh karena itu seorang pemimpin atau raja diharapkan berbudi luhur dapat memberi kemakmuran pada rakyat dan selalu tabah menjalankan roda pemerintahan.

Pada masa pemerintahan Hamengku Buwono VIII, corak kawung dengan huk agak ditinggalkan dan tergantikan dengan corak parang yang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang. Tiga motif batik lain yang menjadi standar istana adalah corak semen (dari kata semi yang artinya tumbuh), sawat (pemakainya diharapkan memperoleh kemakmuran, kewibawaan dan perlindungan), udan riris/udan liris (artinya hujan gerimis, pengharapan agar selamat, sejahtera, tabah dan dapat menjalankan kewajiban dengan baik).

Secara garis besar busana sebagai atribut kebangsawanan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu busana sehari-hari (nonformal) dan busana untuk kegiatan formal (resmi). Busana resmi terbagi dua, yaitu untuk upacara alit (kecil) dan upacara ageng (besar). Upacara alit, misalnya tetesan (khitan untuk anak perempuan), tarapan (haid pertama kali) dan tinggalan dalem padintenan (peringatan penobatan raja berdasarkan perhitungan hari dan pasaran Jawa, misalnya Selasa Kliwon). Upacara ageng misalnya supitan (khitan), perkawinan kerabat kraton, tinggalan dalem tahunan, jumenengan dalem, agustusan, dan sedan (pemakaman jenazah raja).

Busana sehari-hari bagi putri sultan yang masih kecil adalah sabukwala yang terdiri dari tiga macam, yaitu sabukwala nyamping batik untuk busana sehari-hari dan upacara alit, sabukwala nyamping praos untuk resepsi tetesan yang bersamaan supitan dan sabukwala nyamping cindhe untuk upacara garebeg dan tetesan tidak bersamaan dengan supitan. Sedangkan bagi putra laki-laki mengenakan busana kencongan, baju surjan, lonthong tritik, ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok/timang dari suwasa (emas berkadar rendah).

Bagi putri sultan yang menginjak usia praremaja atau peralihan dari anak-anak ke remaja (biasanya berusia 11-14 tahun), mengenakan busana pinjungan. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai hiasan penutup dada. Busana pinjungan dibedakan menjadi pinjung harian, pinjung bepergian, pinjung upacara alit, dan pinjung untuk upacara garebeg.

Ketika putri sultan telah menginjak usia remaja dan dewasa, dalam keseharian mengenakan busana semekanan (dari kata “semekan”, berupa kain panjang dengan lebar separuh dari lebar kain biasa berfungsi sebagai penutup dada). Sedangkan bagi remaja atau putri yang belum menikah, mengenakan semekan polos tanpa tengahan tanpa hiasan kain sutra di tengahnya. Sedangkan bagi yang sudah menikah semekan tritik dengan tengahan.

Bagi putra sultan yang telah menginjak usia pria remaja atau dewasa, dalam kesehariannya mengenakan baju surjan, kain batik dengan wiru di tengah, lonthong tritik, kamus songketan, timang, dan destar sebagai penutup kepala. Putra sultan juga memakai busana khusus, yaitu keprabon ketika berlangsung upacara ageng. Jenis busana keprabon untuk pria terdiri dari busana dodotan, busana kanigaran, dan busana kaprajuritan.

Berbagai ragam busana adat dengan perlengkapan-perlengkapannya tersebut juga mengandung makna simbolis. Misalnya sangsangan sungsun (kalung bersusun) melambangkan tiga tingkatan kehidupan manusia dari lahir, menikah, dan mati yang dihubungkan dengan konsep Jawa tentang alam baka, alam antara, dan alam fana. Binggel kana (gelang) berbentuk melingkar tanpa ujung pangkal bermakna lambang keabadiaan. Bentuk gunungan (meru) pada pethat (sisir) melambangkan keagungan Tuhan dan harapan terciptanya kebahagiaan. Hiasan sanggul berupa ceplok dengan jenehan terdiri tiga warna merah, hijau, dan kuning (biasa dikenakan untuk pengantin putri) merupakan lambang Trimurti, tiga dewa pemberi kehidupan.

Interaksi dengan kebudayaan barat, khususnya Belanda, membawa pengaruh bagi perkembangan busana di keraton. Pengaruh tersebut misalnya, pemakaian topi, anggar (tempat keris), kaos kaki dalam busana kaprajuritan, rante karset, jam saku, timang (kretep), rimong pada busana pesiar, bulu burung, kipas, bros, dan lain-lain.

(Lihat juga "Galeri Foto "Busana Kerajaan")



Dibaca : 8995 kali
« Kembali ke Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Share

Form Komentar

MSMunir 31 Oktober 2011 05:11

Mohon info pakaian yang dipakai oleh kedua orang dalam foto berikut : http://www.flickr.com/photos/munir3/6295750183/. Terima kasih sebelumnya

Balasan

Admin KerajaanNusantara.com 31 Oktober 2011 05:11

Foto tersebut merupakan para penari Lawung Ageng yang akan menari pada resepsi GKR Bendara dengan KPH Yudanegara di Dalem Kepatihan.