English Version | Bahasa Indonesia

Tentang Istana



  • Istana Utama

    Istana Utama Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan pada tahun 1755 atau beberapa bulan setelah Perjanjian Giyanti pada masa Sultan Hamengku Buwono I. Lokasi keraton­ ini adalah bekas pesanggarahan bernama Garjitawati, yang digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah Raja-raja Mataram yang akan dimakamkan di Imogiri. Secara garis besar, Istana Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dibangun di areal seluas 1,5 km², memiliki delapan kompleks bangunan utama, yakni: Bangsal Pagelaran, Siti Hinggil Ler, Kemandhungan Ler, Sri Manganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Kidul, dan Siti Hinggil Kidul. Bangsal Pagelaran Bangsal Pagelaran adalah tempat para punggawa Kesultanan, termasuk para abdi dalem, menghadap Sultan dalam upacara resmi. Di sisi kanan dan kiri Tratag Rambat (Bangsal Utama), terdapat sepasang Bangsal Pemandegan sebagai tempat duduk Sultan beserta ... Selengkapnya »

  • Taman

    Taman Taman Sari (Kebun Bunga Istana) Taman Sari merupakan bekas taman istana (royal garden) sekaligus pemandian yang digunakan oleh Sultan dan keluarga Kerajaan sebagai tempat berekreasi. Taman Sari terletak hanya sekitar 300 meter di sebelah barat istana utama Kesultanan Ngayogyakarta Hadining­rat sekarang. Kompleks kebun bunga Taman Sari dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I pada kurun 1758-1765 dan digunakan secara efektif pada era 1765-1812. Salah seorang arsitek Taman Sari adalah seorang Portugis yang dikenal dengan panggilan Demang Tegis. Maka dari itu, tidak mengherankan jika bentuk bangunan Taman Sari terlihat memiliki pengaruh corak gaya Eropa di samping ornamen-ornamen Jawa yang tetap dipertahankan. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari adalah Tumenggung Mangundipuro, yang pada akhirnya mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh Pange­ran Notokusumo. Biaya pembangunan Taman Sari ditanggung oleh ... Selengkapnya »

  • Pesanggrahan

    Pesanggrahan Pesanggrahan Ambarketawang Pesanggrahan Ambarketawang pernah digunakan sebagai tempat bermukim sementara keluarga Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yakni pada era Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I, sambil menunggu pembangunan istana selesai dikerjakan. Sultan dan keluarga Kesultanan menempati Pesanggrahan Ambarketawang selama satu tahun (9 Oktober 1755–7 Oktober 1756). Ambarketawang dipilih sebagai tempat tinggal sekaligus benteng pertahanan karena terlindung oleh gunung kapur (gamping) yang besar dan tinggi. Nama Ambarketawang sendiri bermakna “aroma harum yang memenuhi angkasa”. Pada saat ini, bekas Pesanggrahan Ambarketawang menyisakan tembok batu bata, fondasi bangunan, saluran air, sumur tua, tembok benteng, gerbang, dan bekas kandang kuda. Lokasi Ambarketawang terletak di sebelah barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Gamping yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sleman. Kemudian, ... Selengkapnya »

  • Pemandian

    Taman Sari (Pemandian Keluarga Istana) Selain digunakan sebagai taman istana, Taman Sari juga berfungsi sebagai pemandian untuk Sultan dan keluarga Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bangunan utama Taman Sari adalah kolam air yang dikelilingi oleh benteng setinggi 6 meter. Kolam ini digunakan sebagai kolam pemandian para istri/selir Sultan Hamengku Buwono I. Di dekat lokasi kolam itu, terdapat menara tinggi sebagai tempat di mana Sultan mengamati para istrinya yang sedang mandi tersebut. Selain kolam yang dikhususkan untuk para istri/selir Sultan, terdapat juga dua kolam lainnya yang diperuntukkan bagi para putri istana. Selengkapnya »

  • Keputren

    Keputren merupakan suatu kompleks bangunan yang diperuntukkan bagi permaisuri, para selir, dan para putri Sultan yang masih lajang. Di dalam istana utama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Keputren terletak di kawasan Kedathon yang sudah termasuk area pusat istana. Selain Keputren, di Kedhaton juga terdapat kompleks Kesatriyan yang menjadi tempat tinggal bagi para putra Sultan yang belum menikah. Kompleks Keputren adalah kawasan khusus yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang, hanya Sultan dan orang-orang tertentu yang sudah mendapat izin saja yang boleh memasuki kawasan Keputren. Jika aturan ini dilanggar, terdapat sanksi khusus yang akan dijatuhkan. Selain di dalam istana utama, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat juga mempunyai kompleks Keputren yang terletak di Taman Sari yang sekaligus digunakan sebagai taman bunga, taman air, dan tempat pemandian keluarga istana. Selengkapnya »

  • Benteng

    Benteng Baluwerti Benteng berfungsi sebagai tembok perlindungan istana dari serangan musuh. Di Kesul­tanan Ngayogyakarta Hadiningrat, benteng ini disebut sebagai Benteng Baluwerti, yakni berupa dinding yang melingkungi kawasan pusat Keraton Yogyakarta. Benteng Baluwerti dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, yakni selama kurun tahun 1785-1787. Sebagai pencetus pembangunan benteng adalah sang Putra Mahkota, yakni Raden Mas Sundoro (1750-1828) yang setelah dinobatkan mendapat gelar sebagai Sultan Hamengku Buwono II. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II, tepatnya pada tahun 1809, bangunan benteng keraton diperkokoh. Sebagai dinding pertahanan, benteng keraton dilengkapi dengan sejumlah meriam siap tembak yang diletakkan di atas tembok benteng. Benteng yang mengelilingi wilayah pusat istana ini berbentuk persegi. Setiap sisinya memiliki panjang kira-kira 1000 meter, tinggi 3-4 meter, dan tebal 4 meter, ... Selengkapnya »