English Version | Bahasa Indonesia

Koleksi

  • Mahkota

    Mahkota atau “songkok kebesaran” Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat yang terbuat dari emas. Bentuk mahkota melambangkan bentuk monarki. Selengkapnya »

  • Regalia

    Regalia yang dimiliki oleh Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan perlambang dari sifat yang harus dimliki oleh seorang Sultan dalam memimpin negara dan rakyatnya. Seperangkat regalia tersebut dinamakan Kanjeng Kyai Upacara yang terdiri dari: 1. Angsa (banyak), melambangkan kejujuran dan kewaspadaan 2. Rusa (dhalang), melambangkan kecerdasan dan ketangkasan 3. Ayam Jantan (sawung), melambangkan kejantanan dan tanggungjawab 4. Burung Merak (galing), melambangkan kemegahan dan kecantikan 5. Raja Naga (hardawalika), melambangkan kekuatan 6. Kotak penyimpanan uang (kutuk), melambangkan kemurahan atau kedermawanan 7. Kotak saputangan (kacumas), melambangkan kemurnian 8. Lampu minyak (kandhil), melambangkan pencerahan 9. Tempat sirih (cepuri), tempat rokok (wadhah ses), dan tempat meludah (kecohan), melambangkan proses pengambilan keputusan. Seperangkat regalia ini terbuat dari emas. Apabila dipakai dalam ... Selengkapnya »

  • Senjata Pusaka

    1. Keris Kanjeng Kyai Ageng KopekMerupakan keris utama sebagai simbol seorang Sultan yang berperan sebagai pemimpin spiritual dan kepala pemerintahan 2. Keris Kanjeng Kyai Joko Piturun Merupakan keris yang dipakai oleh Putra Mahkota. 3. Keris Kanjeng Kyai Toyaninaban Merupakan keris yang digunakan oleh anak Sultan yang paling tua. 4. Keris Kanjeng Kyai Purboniat Merupakan keris yang digunakan oleh seorang patih, yaitu seseorang yang menjabat sebagai kepala administrasi negara. 5. Pedang Kanjeng Kyai Mangunoneng Pedang ini digunakan untuk mengeksekusi pemimpin pemberontakan yang bernama Tumenggung Mangunoneng. 6. Tombak Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki berbagai macam bentuk tombak, mulai dari bermata tunggal, bermata tiga, hingga berbentuk mirip cakra. Salah satu di antara berbagai macam bentuk mata tombak tersebut, terdapat satu buah tombak yang dipandang istimewa, yaitu yang dinamakan Kanjeng Kyai Ageng ... Selengkapnya »

  • Perhiasan

    Para putri Sultan memakai perhiasan yang dikategorikan sebagai benda pusaka ketika berlangsung upacara di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Salah satu upacara yang mengharuskan para putri Sultan untuk mengenakan perhiasan adalah upacara pernikahan. Dalam upacara ini, pengantin putri dari Sultan diwajibkan mengenakan beberapa perhiasan pusaka yang terbuat dari emas, yaitu: pethat gunungan, lima buah cunduk menthul yang dipasang di kepala, centhung, subang ronyok, sangsangan susun tiga, cincin, binggel, kelat bahu, dan pending Selengkapnya »

  • Arsip / Dokumen Penting

    Manuskrip Manuskrip yang dimiliki oleh Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dikelola di salah satu perpustakaan milik Kesultanan, yakni Perpustakaan Wisya Budaya. Terdapat dua manuskrip yang sangat penting, yaitu Kanjeng Kyai Al-Qur’an dan Kanjeng Kyai Bharatayudha­. Kedua manuskrip ini bersampulkan kulit binatang dan ditulis dengan ilustrasi menggunakan cat air dan kertas berwarna emas. Manuskrip Kanjeng Kyai Al-Qur’an ditulis tangan dengan huruf Hijaiyah (tulisan Arab). Manuskrip ini dihiasi dengan ilustrasi pada setiap halaman di paragraf awal. Selain itu, pada setiap halaman juga dihiasi dengan ilustrasi bermotif geometris dan tumbuhan yang dilukis dengan cat air. Manuskrip Kanjeng Kyai Bharatayudha ditulis tangan dengan menggunakan huruf Jawa. Manuskrip ini berisi pengetahuan tentang Kesultanan yang hanya boleh dibaca oleh Sultan yang sedang memerintah saat itu. Manuskrip ini kini disimpan di ruangan khusus yang ... Selengkapnya »

  • Stempel Kerajaan / Kesultanan

    Stempel Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berupa lambang yang disebut Praja ­Cihna. Praja Cihna merupakan lambang yang terdiri dari: di bagian atas terdapat songkok (mahkota) yang menggambarkan bentuk monarki. Di ba­wah songkok di sebelah kanan dan kiri terdapat sumping (hiasan telinga) yang menggambarkan sifat waspada dan bijaksana. Di sebelah bawahnya terdapat sepasang sayap mengapit tulisan dalam aksara Jawa yang berbunyi, “Ha” dan “Ba”, singkatan dari “Hamengku Buwono”, yaitu dinasti yang memerintah. Selengkapnya »

  • Singgasana

    Singgasana Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat disebut dengan nama Dhampar Kencono. Bentuk Dhampar Kencono merupakan perpaduan dari kebudayaan Eropa, terutama dari Prancis dan Inggris. Pengaruh Prancis diadopsi dari gaya Louis XIV (Barok) pada abad ke-18, gaya Louis XV (Rokok) pada abad ke-19, dan gaya Louis XVI (Neo-klasik) pada abad ke-20. Sementara gaya kursi dari Inggris yang diadopsi cenderung menggunakan Gaya Georgian, Gaya Queen Anne dan Gaya Victorian. Dhampar Kencono merupakan bentuk simbolik dalam membangun status sosial dan citra. Simbol ini muncul dari dalam lingkungan keraton yang cenderung masih dijadikan model ideal bagi masyarakat Jawa. Bentuk Dhampar Kencono mencerminkan sikap dan sifat seorang Sultan sebagai pemimpin yang sesuai dengan konsep kekuasaan Jawa. Sikap dan sifat tersebut tercermin dalam konsep yang berbunyi: Gung Binathara Baudhendha Hanyakrawati, Ratu Pina­dhita, Manunggaling Kawula-Gusti. Konsep ... Selengkapnya »

  • Kendaraan

    Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki beberapa kereta kuda yang kini disim­pan di Museum Kereta Rotowijayan. Sebelum berfungsi sebagai museum, tempat ini merupakan garasi dan bengkel kereta keraton, sedangkan bangunan di sekelilingnya dahulu adalah gedhogan atau istal. Hingga kini terdapat 20 kereta kuda yang menjadi koleksi Museum Kereta Rotowijayan, antara lain: 1. Kanjeng Nyai Jimat Merupakan kereta kuda tertua yang dimiliki oleh Kesultanan Ngayogyakarta Hadi­ningrat. Kereta Kanjeng Nyai Jimat dibuat di Belanda sebagai hadiah dari Gubernur Jenderal Jacob Mossel kepada Sultan Hamengku Buwono I. Kereta ini digunakan­ pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I hingga III. Apabila digunakan­ dibutuhkan 4 hingga 8 ekor kuda yang berwarna sama untuk menarik kereta ini. Kereta ini berfungsi untuk menjemput tamu atau menghadiri upacara Garebeg. Kereta ini dinamai “nyai” karena dibawah pijakan kaki ... Selengkapnya »

  • Hadiah Persembahan

    1. Kereta Kanjeng Nyai Jimat Merupakan kereta kuda tertua yang dimiliki oleh Kesultanan Ngayogyakarta Hadi­ningrat. Kereta Kanjeng Nyai Jimat dibuat di Belanda sebagai hadiah dari Gubernur Jenderal Jacob Mossel kepada Sultan Hamengku Buwana I. Kereta ini diguna­kan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I hingga III. 2. Lukisan Sultan Hamengku Buwono X Muda Hadiah berupa lukisan Sultan Hamengku Buwono X ketika berusia 21 tahun, lengkap dengan pakaian kebesaran, dipersembahkan oleh tiga orang seniman, yaitu Sri Hadi, Sardono W. Kusumo, dan Minto Widodo. Hadiah ini diberikan pada hari ulang tahun Sultan Hamengku Buwono X yang ke-64 (menurut penanggalan Masehi) atau 66 tahun (menurut penanggalan Jawa), di Pendopo Bangsa Kencono, Keraton Nga­yogyakarta Hadiningrat. 3. Kain Kiswah dari Raja Fath di Arab Saudi Hadiah ini dipersembahkan kepada Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadini­ngrat dan kini disimpan di ... Selengkapnya »

  • Foto

    1. Sri Sultan Hamengku Buwono X 2. Penobatan permaisuri sebagai Gusti Kanjeng Ratu Hemas 3. Keluarga Sultan HB X 4. Upacara Ngabekten dari Paku Alam VIII kepada Sultan Hamengku Buwono X. 5. Jamasan Pusaka   Selengkapnya »

  • Lukisan

    Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat mempunyai 8 lukisan karya pelukis kenamaan, Raden Saleh. Lukisan-lukisan tersebut dipajang dalam satu ruangan khusus, berukuran 3 x 5 meter, di kompleks Kesatriyan. Lukisan-lukisan tersebut yaitu: 1. Lukisan Sultan Hamengku Buwono IV Dalam lukisan ini, Sultan Hamengku Buwono IV ditampilkan di atas kuda berwarna putih, mengenakan pakaian kebesaran Belanda yang dipadu dengan identitas Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu songkok hitam. 2. Lukisan Sultan Hamengku Buwono V Sultan Hamengku Buwono V dilukis dalam posisi duduk di kursi dengan busana sikepan dengan bordir benang emas, mengenakan kain bermotif parang berlatar putih dan mengenakan kuluk (tengkuluk) kanigara. 3. Lukisan Sultan Hamengku Buwono VI Ini adalah lukisan terbesar karya Raden Saleh yang menjadi koleksi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Lukisan ini berukuran 2,5 x 1,9 meter, dipajang dengan­ penyangga seperti penyangga ... Selengkapnya »

  • Buku

    1. Chamamah Soeratno, et.al. (eds.), 2002. Keraton Jogja: The history and the cultural heritage. Yogyakarta: Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat and Indonesia Marketing Association (IMA) 2. Kyai Mutamakkin, Suluk Cebolek Gedhe atau lazim dikenal dengan nama Serat Cebolek. Buku ini disimpan di Perpustakaan Widya Budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Selain kedua buku di atas, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat juga memiliki koleksi beberapa buku mantra. Buku-buku tersebut sampai sekarang masih disimpan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, antara lain: 1. Kitab Ambiya Jawi 2. Serat Anggit Kidung Berdonga 3. Serat Puji Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat juga memiliki koleksi buku-buku tentang petunjuk mengabdi kepada Sultan atau pemerintah, antara lain: 1. Serat Nitisruti 2. Serat Nitipraja 3. Serat Sewaka Selengkapnya »

  • Alat Musik

    Gamelan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki 18 perangkat gamelan yang dikategorikan sebagai pusaka Kesultanan, antara lain: 1. Gamelan Monggang yang disebut Kanjeng Kyai Guntur Laut Gamelan ini merupakan warisan turun-temurun yang berasal dari Kerajaan Majapa­hit kemudian diwariskan ke Kesultanan Demak, Pajang, Mataram Islam, dan akhir­nya dimiliki oleh Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 2. Gamelan Kodhok Ngorek yang disebut Kanjeng Kyai Keboganggang 3. Gamelan Sekati yang terdiri dari Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga. Kedua perangkat gamelan ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Pada setiap upacara Sekaten, Gamelan Sekati dibawa keluar dari keraton dan ditempatkan di Pagongan (halaman depan Masjid Gedhe Kauman) untuk ditabuh mulai tanggal 6-11 pada bulan Mulud atau seminggu menjelang ber­akhirnya perayaan upacara Sekaten berakhir. Selain perangkat gamelan di ... Selengkapnya »

  • Binatang Peliharaan

    Gajah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki 2 ekor gajah yang diberi nama Argo dan Gilang. Kedua binatang ini di tempatkan di kandang gajah di Alun-alun Kidul (Alun-alun Selatan). Masyarakat setempat menyebut lokasi kandang gajah ini dengan nama Gajahan. Selengkapnya »

  • Bendera

    Kanjeng Kyai Tunggul Wulung Merupakan bendera yang dijadikan simbol (panji) Kesultanan Ngayogyakarta Hadining­rat. Bendera ini berasal dari kain kiswah Ka’bah dari Mekah. Bendera ini disebut wulung yang berarti mempunyai warna biru-hitam. Di tengah bendera terdapat dekorasi berwarna emas. Di tengah dekorasi terdapat kaligrafi Surat Al Kautsar, Asma’ul Husna, dan Syahadat. Pada waktu tertentu, bendera ini diarak keliling kota dan di beberapa perempatan jalan diserukan lafadz adzan. Prosesi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk tolak bala dan memohon kesembuhan bagi seluruh rakyat di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Selengkapnya »

  • Perangkat Upacara

    Merupakan benda-benda pusaka yang dipakai ketika Kesultanan Ngayogyakarta Hadi­ning­rat menggelar upacara Kerajaan. Seperangkat ampilan ini disebut dengan nama Ampilan Dalem yang terdiri dari: Singgasana (Dampar Kencono) Anak panah Busur panah (Gendewa) Pedang Tameng Kipas yang terbuat dari bulu burung merak (Elar Badak) Kitab Suci Al-Qur’an Sajadah Payung (Songsong) Tombak   Selengkapnya »

  • Koleksi Lain

    Enceh atau Padasan Enceh atau padasan merupakan gentong dengan ukuran besar yang ditempatkan di Makam Raja-raja di Imogiri (Pajimatan Girirejo Imogiri). Terdapat empat buah enceh yang merupakan hadiah dari negara sahabat Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keempat enceh tersebut adalah: Nyai Siyem (dari Siam), Kyai Mendung (dari Rum/Turki), Kyai Danumaya (dari Aceh), Nyai Danumurti (dari Palembang). Setiap setahun sekali hari pada hari Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon yang pertama di bulan Suro diadakan upacara menguras air di dalam enceh dan mengganti dengan air yang baru. Sebagian masyarakat percaya bahwa air yang berada di dalam enceh mengandung tuah yang berkhasiat untuk mengobati penyakit, menolak bala, hingga meraih kesuksesan. Pelana Kuda Terdapat sebuah pelana kuda di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dianggap pusaka. Pelana kuda ini dinamakan Kanjeng Kyai Cekathak. Kanjeng Kyai Cekathak merupakan pelana dari ... Selengkapnya »