English Version | Bahasa Indonesia

Makam (Kubur)

Pajimatan Girirejo Imogiri
Pajimatan Girirejo Imogiri

Makam Raja-raja Mataram di Imogiri (Pajimatan Girirejo Imogiri)

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki kompleks pemakaman yang disebut Makam Raja-raja Mataram di Imogiri (Pajimatan Girirejo Imogiri). Kompleks pemakaman ini telah ada sejak Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat belum berdiri dan masih bernama Kesultanan Mataram. Kompleks ini dibangun antara tahun 1632-1640 pada masa pemerintahan Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo (Sultan Agung Hanyokrokusumo), Sultan ke-III Kesultanan Mataram (memerintah antara tahun 1613-1645 M). Sebagai arsitek pembangunan makam, Sultan Agung menunjuk Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo. Tiga belas tahun sesudah beliau membangun makam, beliau kemudian juga dimakamkan di sini pada tahun 1645 M.

Makam di Imogiri dikhususkan untuk tempat pemakaman bagi para penguasa Kesultanan Mataram. Meskipun Kesultanan ini kemudian pecah pada tahun 1755 menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, namun para Sunan dan Sultan di kedua Kerajaan tersebut tetap dimakamkan di kompleks pemakaman ini. Hanya saja sebelum Kesultanan Mataram pecah menjadi dua, kompleks ini dibuat luas tanpa sekat. Akan tetapi sejak Kesultanan Mataram dipecah, kompleks pemakaman inipun juga dibelah menjadi dua, sebagian diperuntukkan bagi para Sunan dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebagian lainnya diperuntukkan bagi para Sultan di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Makam yang terletak sekitar 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta ini dibangun dengan beberapa arsitektur menarik. Salah satunya adalah perpaduan antara pengaruh Hindu dan Islam yang terlihat jelas di makam ini. Pengaruh Hindu terlihat di pintu masuk (gapura) makam yang berbentuk candi bentar (bangunan yang menyerupai bentuk candi terbelah). Terdapat empat buah gapura yang mengelilingi kompleks pemakaman ini, yaitu Gapura Kori Supit Urang, Regol Sri Manganti I, Regol Sri Manganti II, dan Gapura Papak. Selain gapura juga terdapat kelir, yaitu bangunan yang berbentuk pagar tembok. Terdapat empat buah kelir, yaitu Kelir Gapura Supit Urang, panjangnya 4,40 x 0,60 meter, terbuat dari batu bata dan batu yang disusun tanpa semen; Kelir Regol Sri Manganti I, berukuran 4,35 x 0,40 meter juga dibangun dari bata tanpa semen, bagian atapnya polos, sedang bagian bawah dialasi dengan 17 bidang berbentuk segi empat dan segi enam; Kelir Regol Sri Manganti II, dibuat dari bata berukuran 4 x 0,20 meter, berhiaskan bidang-bidang berukiran pola geometris yang diselingi pola tumbuhan; dan Kelir Gapura Papak, terdiri dari susunan batu putih berbentuk huruf L. Kelir ini samasekali tidak berhias.

Selain makam para Sunan dan Sultan, di kompleks pemakaman ini juga terdapat masjid yang diba­ngun pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo. Masjid ini masih terpelihara keasliannya. Keaslian bangunan dan perangkat yang menyertai masjid tersebut terlihat dari soko guru (tiang tengah) yang terbuat dari kayu jati yang ditopang dengan umpak persegi yang terbuat dari batu kali, mihrab berupa relung pada dinding di sebelah barat, dan mimbar yang berhias ukir-ukiran yang di antaranya menyerupai bentuk kala. Soko guru mihrab dan mimbar dibuat pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo dan sampai sekarang masih dipergunakan. Selain itu, masjid juga masih mempertahankan arsitektur tempo dulu dengan tidak menghilangkan kolam yang terdapat di depan masjid.

Selain masjid, kompleks pemakaman ini juga mempunyai empat buah padasan (gentong besar). Padasan-padasan ini merupakan persembahan dari Kerajaan-Kerajaan sahabat kepada Sultan Agung Hanyokrokusumo. Keempat padasan tersebut diberi nama Nyai Siyem (dari Siam), Kyai Mendung (dari Rum/Turki), Kyai Danumaya (dari Aceh), Nyai Danumurti (dari Palembang). Pada prinsipnya, padasan berfungsi sebagai tempat untuk berwudlu, namun banyak peziarah yang percaya bahwa air di dalam padasan juga berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit dan meraih kesuksesan. Padasan-padasan ini diisi setahun sekali pada hari Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon yang pertama di bulan Suro dengan upacara tradisi khusus. Senada dengan padasan, terdapat unsur mitos seputar anak tangga yang berjumlah 345 buah. Anak tangga ini merupakan jalan menuju pintu gerbang makam. Jika pengunjung berhasil menghitung jumlah anak tangga dengan benar, menurut mitos yang dipercaya sebagian masyarakat, maka semua permohonan akan terkabul.

Dilihat dari sisi penyusunan makam, secara umum susunan makam para Raja ini berbentuk segitiga. Pada bagian ujung sebelah atas segitiga terdapat makam Sultan Agung Hanyokrokusumo. Di bagian sebelah timur terdapat makam pasa Sultan Kesultanan ­Ngayogyakarta Hadiningrat, sedangkan di sisi sebelah barat terdapat makam para Sunan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Makam para Sunan dan Sultan tersebut dibagi menjadi delapan kelompok yang dihimpun dari 23 keturunan para Sunan dan Sultan, baik Sunan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, maupun Sultan di Kesul­tanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pengelompokan para Sunan dan Sultan tersebut yaitu: Kesultanan Agungan (makam Sultan Agung, permaisuri, Hamangkurat Amral, dan Hamangkurat Mas); Paku Buwanan (makam PB I, Hamangkurat Jawi, dan PB II). Catatan: PB= Pakubuwono; Kasuwargan Yogyakarta (makam HB I dan HB III). Catatan: HB= Hamengku Buwono; Besiyaran Yogyakarta (makam HB IV, HB V, dan HB VI); Saptorenggo Yogyakarta (HB VII, HB VIII, dan HB IX); Kasuwargan Surakarta (makam PB III, PB IV, dan PB V); Kaping­sangan Surakarta (makam PB VI, PB VII, PB VIII, dan PB IX); dan Girimulya Surakarta (makam PB X, PB XI, dan PB XII).

Sehubungan dengan status sebagai makam para Sunan dan Sultan, maka terdapat aturan yang harus dipatuhi para peziarah ketika mengunjungi makam ini. Aturan-aturan tersebut adalah, para peziarah diwajibkan berlaku sopan, dilarang mengenakan alas kaki ketika masuk pemakaman, dilarang mengenakan perhiasan (terutama emas), dilarang membawa kamera, bagi perempuan yang sedang datang bulan dilarang masuk ke pemakaman, dan para peziarah juga harus berpakaian adat Jawa. Untuk peziarah laki-laki mengenakan blangkon, beskap, kain, sabuk, timang, dan samir. Sedangkan untuk perempuan memakai kemben dan kain panjang.

Lihat Juga Galeri Foto: "Makam Raja-raja Mataram"



Dibaca : 8296 kali
« Kembali ke Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Share

Form Komentar

baim ar-rasully 27 Maret 2012 04:58

Di mana anak cucu/keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono II yang asli?

mas yo 11 April 2012 01:05

Atas Ijin Allah SWT, Alhamdulillah sampai saat ini anak cucu / Keturunan Eyang RM.Sundoro atau Sri Sultan Hamengku Buwono II dalam keadaan Sehat walafiat.. Amin

hayhay 22 September 2012 21:46

Di mana Putro/Putri Garwo Dalem Permaisuri HB II? Sampai adakah nama Raden Sukmo Hadiningrat? Adakah nama Raden Ronoijoyo?

jeng dhin 29 Oktober 2012 12:15

Putra/putrinya yang sudah meninggal ada yang dimakamkan di Kotagede, Imogiri maupun di tempat lain. Putra/putri HB II sangat banyak, putra bungsu BPH Timur kebetulan adalah eyang buyut saya. Beliau dimakamkan di Kotagede

Sulindarwati 17 Desember 2012 21:06

Walaupun saya orang Sunda,tapi saya sangat suka cerita Raja Yogyakarta

Gendon Geblek 27 Maret 2013 14:24

Jogja memang istimewa.......