English Version | Bahasa Indonesia

Kebersahajaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX

12 April 2012 10:14


Sri Sultan HB X dalam orasi budaya Pahargyan Pengetan Satu Abad Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Yogyakarta, KerajaanNusantara.com -- Lautan manusia menyemut di seputaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk memperingati Pahargyan Pengetan Satu Abad Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Peringatan Seabad Sri Sultan Hamengku Buwono IX). Hari ini (12/04), 100 tahun silam, putra terbaik bangsa lahir dengan nama Raden Mas Dorojatun. Beliau inilah yang di kemudian hari dikenal dengan nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Beragam acara dihelat untuk menyemarakkan pahargyan ini. Semalam (11/04) diadakan ziarah ke makam Sri Sultan HB IX dengan dipimpin oleh Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Joyokusumo. Ziarah ke makam Raja-raja Jawa di Pajimatan Girirejo Imogiri ini diikuti sekitar 1.000 orang masyarakat. Mereka sebagian besar mengenakan busana tradisional Jawa, baju peranakan untuk pria dan kemben untuk wanita.

Perhelatan hari ini merupakan puncak acara di mana dipertunjukkan beragam kesenian dari masyarakat, deklarasi dari Trah Pangeran Diponegoro dan Trah Laskar Diponegoro yang mendukung keistimewaan DIY, Pelantikan Paguyuban Semar Sembogo (Paguyuban Dukuh se-Provinsi DIY), Pelantikan Paguyuban Ismoyo (Paguyuban Perangkat Desa dan Lurah se-Provinsi DIY), serta orasi budaya dari Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pada pemulaan acara diisi dengan penampilan dari puluhan grup kesenian. Berbagai kesenian tradisional dipertunjukkan mulai pukul 09.00 WIB. Memasuki acara inti, GBPH Joyokusumo selaku Ketua Panitia Pahargyan Pengetan Satu Abad Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberikan kata sambutannya. Dalam sambutan singkat ini, beliau mengatakan bahwa Peringatan Seabad Sri Sultan HB IX sebenarnya telah dimulai sejak berbulan-bulan yang lalu melalui rangkaian acara yang dikemas oleh masyarakat, seperti acara yang dihelat pada 4 Januari 2012 dengan tajuk “Jogjakarta Kota Republik”, 1 Maret 2012 “Mengenang Peristiwa 1 Maret”, hingga acara pada hari ini.

GBPH Joyokusumo juga sedikit menyinggung tentang profil Sri Sultan HB IX yang sangat demokrat sekaligus nasionalis. Beliau berusaha mengawinkan antara budaya Barat dengan Timur namun tetap tidak meninggalkan identitas ketimuran. Sikap beliau inilah yang kemudian diakui oleh berbagai kalangan dan dianggap sebagai figur negarawan.

Acara yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Yogyakarta akhirnya terelisasi juga, yakni orasi budaya yang disampaikan oleh Sri Sultan HB X. Dalam orasi tersebut Sri Sultan HB X menyinggung tentang sisi humanisme Sri Sultan HB IX yang tercermin lewat keseharian yang sangat jauh dari figur seorang Raja. Beliau biasa mengenakan baju putih dengan sarung ketika tinggal di Jakarta. Dalam keseharian, beliau juga berusaha menjadi rakyat umum. Panggilan “Kak” lebih beliau sukai daripada “Sinuwun” ketika berada dalam lingkup Pramuka. Demikian pula dengan sebutan “Bung” ketika masa-masa revolusi.

Sisi kebersahajaan ini berbanding terbalik ketika beliau telah menyentuh ranah kepemimpinan yang menyangkut rakyat Yogyakarta pada khususnya serta Indonesia pada umumnya. Salah satu ketegasan tersebut adalah kalimat yang cukup dikenal ketika Kolonel van Langen akan memasuki dan menggeledah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebelum pecah Serangan Umum 1 Maret 1949. Tindakan ini diambil sang Mayor karena beberapa malam sebelumnya banyak pejuang RI yang melancarkan serangan pada malam hari dan dicurigai diperintah oleh Sri Sultan HB IX sekaligus bersembunyi di Keraton. Sri Sultan HB IX kala itu berkata, “Hanya dengan melangkahi mayat saya, tuan dapat masuk ke Keraton”. Van Langen begitu takjub akan ketegasan Sri Sultan HB IX, seorang pria tamatan Universitas Leiden di Belanda yang sama-sama bersekolah dengan anggota keluarga Kerajaan Belanda. Van Langen berfikir sejenak dan urung memasuki Keraton. Selamatlah pejuang-pejuang Republik yang kala itu banyak bersembunyi di Keraton dengan menyamar sebagai abdi dalem.

Sri Sultan HB IX memang layak dikenang sebagai pribadi yang bersahaja sekaligus visioner dalam pemikiran. Beliau sangat layak dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia karena kiprahnya sebagai Raja yang pertama kali menyatakan kesetiaan berada di dalam NKRI ketika Indonesia baru memproklamirkan kemerdekaan. Peristiwa yang dikenang dengan istilah “Ijab Qobul”, 19 Agustus 1945 inilah yang kemudian dijadikan patokan sampai saat ini bahwa Presiden Soekarno telah “melamar” Sri Sultan HB IX dan Yogyakarta untuk menjadi bagian dari NKRI.

Lamaran inilah yang diterima oleh Sri Sultan HB IX dan dikukuhkan dengan Amanat 5 September 1945 di mana tersirat istilah “penetapan keistimewaan untuk Yogyakarta”. Istilah yang disetujui oleh Presiden Soekarno untuk menyerahkan kepemimpinan Yogyakarta dan urusan di dalamnya kepada Sri Sultan HB IX sebagai gubernur dan Paku Alam VIII sebagai wakil gubernur. Istilah inilah yang kini digunakan oleh masyarakat di Yogyakarta untuk menuntut agar Yogyakarta tetap istimewa dengan penetapan, bukan pemilihan. (Tunggul Tauladan/02/04-2012).

Sumber foto: Koleksi www.kerajaannusantara.com


Dibaca : 1453 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar