English Version | Bahasa Indonesia

Apeman Tingalan Dalem Jumenengan Sri Sultan HB X

19 Juni 2012 10:41


GKR Bendoro sedang membuat apem di Bangsal Sekar Kedaton

Yogyakarta, KerajaanNusantara.com -- Kue apem atau apam berasal dari bahasa Arab, afuwwun yang berarti ampunan. Dalam tradisi Jawa, kue yang terbuat dari tepung beras ini merupakan simbolisasi dari permohonan ampun atas berbagai kesalahan. Masyarakat umum biasa membuat kue apem atau biasa disebut apeman pada bulan Ruwah, yaitu bulan terakhir sebelum masuk bulan Poso (Ramadhan) untuk memohon ampun atas semua kesalahan sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Apeman juga menjadi salah satu bagian dalam prosesi Tingalan Dalem Jumenengan ke-24 Sri Sultan Hamengku Buwono X (peringatan kenaikan tahta Sultan HB X). Apem dibuat sebagai salah satu simbolisasi ungkapan syukur sekaligus ampunan atas berbagai kesalahan, baik selama prosesi Tingalan Dalem Jumenengan berlangsung maupun selama Sultan HB X memimpin Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Prosesi apeman Tingalan Dalem Jumenengan Sri Sultan HB X dihelat pada (18/6) di Bangsal Sekar Kedaton, Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam prosesi ini, para putri Sultan HB X yang telah menikah terlibat langsung selama proses apeman, mereka adalah GKR Pembayun sebagai pemimpin upacara pembuatan apem, GKR Tjondrokirono, GKR Maduretno, dan GKR Bendoro. Selain para putri Sultan HB X, tampak BRAY Kussulariarni, cucu Sultan HB X serta puluhan sentono dalem dan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Menurut rencana, apem yang telah dibuat akan dibagikan kepada masyarakat umum secara gratis dalam prosesi Labuhan yang akan dihelat pada Rabu, (20/6). Labuhan tersebut dilangsungkan di tiga tempat, yaitu Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, Ndlepih Wonogiri, dan Gunung Lawu.

Apeman pada tahun ini bertepatan dengan peringatan ke-24 atau tiga windu (1 windu=8 tahun) bertahtanya Sri Sultan HB X sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat. Menurut perhitungan kalender Jawa, Sri Sultan HB X naik tahta sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 29 Rejeb tahun Wawu 1921 atau bertepatan dengan 7 Maret 1989. Kini, 24 tahun kemudian, pada 29 Rejeb tahun Wawu 1945 atau bertepatan dengan 19 Juni 2012, Sri Sultan HB X masih duduk sebagai pemimpin di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. (Tunggul Tauladan/knc/03/06-2012).

Sumber foto: http://jogja.antaranews.com/foto/304/apeman-tingalan-dalem


Dibaca : 2532 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar