English Version | Bahasa Indonesia

Sejarah Kerajaan / Kesultanan



  • Sejarah

    Sejarah Kerajaan/Kesultanan a. Pangeran Mangkubumi Pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Sejarah berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tak bisa dilepaskan dari sosok Pangeran Mangkubumi. Terlahir dengan nama Raden Mas Sujono, Pangeran Mangkubumi adalah adik dari Susuhunan Paku Buwono II, Sunan Mataram. Nama Pangeran Mangkubumi mulai diperhitungkan di kalangan bangsawan Mataram sehubungan dengan keberhasilannya menumpas perlawanan Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyowo), pe­nguasa daerah Sukawati (sekarang bernama Sragen, Provinsi Jawa Tengah). Sang Sunan, yang ditunggangi kepentingan politik VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atas nama Gubernur Jenderal van Imhof, yang sebelumnya menjanjikan tanah Sukawati kepada siapa saja yang berhasil menumpas Raden Mas Said ternyata ingkar janji. Akibatnya Pangeran Mangkubumi justru bergabung dengan Raden Mas Said dan melawan Sunan Paku Buwono II yang bersekutu dengan ... Selengkapnya »

  • Silsilah dan Periode Pemerintahan

    Berikut ini merupakan silsilah para Sultan di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Silsilah para Sultan tersebut adalah: Sri Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi) (1755-1792) Sri Sultan Hamengku Buwono II juga dikenal dengan nama Sultan Sepuh (1792-1812) Sri Sultan Hamengku Buwono III juga dikenal dengan nama Sultan Raja (1812-1814) Sri Sultan Hamengku Buwono IV juga dikenal dengan nama Sultan Seda Ing Pesiyar (1814-1823) Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855) Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877) Sri Sultan Hamengku Buwono VII juga dikenal dengan nama Sultan Sugih (1877-1921) Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939) Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988) Sri Sultan Hamengku Buwono X (KGPH Mangkubumi) (1989 – sekarang) Selengkapnya »

  • Sistem Pemerintahan

    Pembagian sistem pemerintahan di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada awalnya dibagi menjadi dua, yaitu Parentah Lebet (urusan dalam) atau Parentah Ageng Karaton dan Parentah NjawiParentah Nagari. Sultan menempati posisi di atas kedua struktur tersebut. Dalam tugas keseharian, Sultan dibantu oleh lembaga Pepatih Dalem. Pada masa awal pemerintahan, masing-masing urusan dibagi menjadi empat Kanayakan (departemen). Parentah Lebet (urusan dalam) dibagi menjadi: (urusan luar) atau Kanayakan Keparak Kiwo (menangani urusan bangunan) Kanayakan Keparak Tengen (menangani urusan pekerjaan umum) Kanayakan Gedhong Kiwo (menangani urusan penghasilan) Kanayakan Gedhong Tengen (menangani urusan keuangan) Sedangkan Parentah Njawi (urusan luar) dibagi menjadi: Kanayakan Siti Sewu (menangani urusan pertanahan) Kanayakan Bumijo (menangani urusan pemerintahan) Kanayakan Panumping Kanayakan Numbak Anyar Kanayakan Panumping dan Numbak Anyar ... Selengkapnya »

  • Wilayah Kekuasaan

    Wilayah kekuasaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat semula dibagi menjadi beberapa lapisan, yaitu Nagari Ngayogyakarta (ibukota), Nagara Agung (wilayah utama), dan Manca NagaraNagari Ngayogyakarta dan wilayah Nagara Agung memiliki luas sekitar 309,86 km², dan keseluruhan wilayah Manca Nagara memiliki luas sekitar 198,48 km². Selain itu, masih terdapat tambahan wilayah dari Danurejo I di Banyumas seluas sekitar 9,35 km². (wilayah luar). Keseluruhan wilayah Berikut ini merupakan pembagian wilayah kekuasaan berdasarkan pembagian lapisan. Wilayah Nagari Ngayogyakarta meliputi: Kota tua Yogyakarta (di antara Sungai Code dan Sungai Winongo). Daerah sekitarnya dengan batas Masjid Pathok Negara. Wilayah Nagara Agung meliputi: Daerah Siti Ageng Mlaya Kusuma (wilayah Siti Ageng, yakni wilayah di antara Pajang dengan Demak. Namun, masih terdapat ketidakjelasan mengenai batas bagian timur wilayah ini dengan batas wilayah ... Selengkapnya »

  • Sosial Budaya dan Agama

    a. Kebudayaan Kebudayaan yang terdapat di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan hasil dari harmonisasi antara adat-istiadat, kepercayaan, seni, pandangan hidup, dan pendidikan. Misal­nya, seni arsitektur bangunan keraton yang tidak lepas dari konsep Raja Gung Bina­thara (Raja agung yang dihormati bagaikan dewa) yang merupakan pandangan hidup masyarakat yang juga menjadi bagian dari sistem keperca­yaan (penghormatan kepada dewa/tuhan). Penyebaran nilai-nilai moral juga banyak menggunakan elemen kebudayaan. Sebagai contoh, cerita-cerita yang dibawakan dalam dunia pewayangan, baik wayang kulit maupun wayang orang, banyak memuat falsafah kehidupan, konsep kekuasaan, sampai adat-istiadat. Di samping itu, bentuk lain dari elemen kebudayaan yang berupa tembang (lagu) atau gen­dhing juga memberikan andil bagi penyampaian informasi yang berisi nasehat tentang pandangan hidup dan sistem kepercayaan. Bahasa juga memegang ... Selengkapnya »