English Version | Bahasa Indonesia

Sosial-Budaya dan Agama

a. Kebudayaan

Kebudayaan yang terdapat di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan hasil dari harmonisasi antara adat-istiadat, kepercayaan, seni, pandangan hidup, dan pendidikan. Misal­nya, seni arsitektur bangunan keraton yang tidak lepas dari konsep Raja Gung Bina­thara (Raja agung yang dihormati bagaikan dewa) yang merupakan pandangan hidup masyarakat yang juga menjadi bagian dari sistem keperca­yaan (penghormatan kepada dewa/tuhan).

Penyebaran nilai-nilai moral juga banyak menggunakan elemen kebudayaan. Sebagai contoh, cerita-cerita yang dibawakan dalam dunia pewayangan, baik wayang kulit maupun wayang orang, banyak memuat falsafah kehidupan, konsep kekuasaan, sampai adat-istiadat. Di samping itu, bentuk lain dari elemen kebudayaan yang berupa tembang (lagu) atau gen­dhing juga memberikan andil bagi penyampaian informasi yang berisi nasehat tentang pandangan hidup dan sistem kepercayaan.

Bahasa juga memegang peranan penting dalam menyusun tingkatan masyarakat. Bahasa yang digunakan harus menyesuaikan dengan tingkatan tertentu dalam masrakat. Oleh karena itu, dalan bahasa Jawa dikenal adanya tingkatan bahasa, yaitu bahasa Jawa Ngoko (bahasa Jawa rendah), Krama Andhap (bahasa Jawa menengah), dan Krama Inggil (bahasa Jawa tinggi). Meskipun aturan yang dipakai dalam praktek penerapan ketiga bahasa tersebut sangat rumit, namun terselip pesan, yaitu budaya saling menghormati dan menghargai. Ada satu lagi bahasa yang khusus dan hanya digunakan di lingkungan istana yang disebut dengan Bagongan yang lebih mencerminkan pandangan hidup kesetaraan kedudukan di antara pemakainya.

b. Agama

Islam menjadi agama resmi (agama negara) bagi Kesultanan Ngayogyakarta Hadining­rat sejak Kesultanan ini berdiri pada tahun 1756. Sultan memegang kekuasaan tertinggi dalam bidang kepercayaan dengan gelar Sayidin Panatagama Khalifatullah. Meskipun hanya agama Islam yang diakui sebagai agama negara, namun banyak di antara masyarakat di ling­kungan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang masih menerapkan kepercayaan lokal (kejawen). Masyarakat ini mengakui beragama Islam, tetapi sekaligus masih melakukan ritus kejawen. Hanya saja dalam prakteknya, doa-doa yang dipanjatkan seringkali diganti dengan menggunakan bahasa Arab. Di sini terlihat adanya unsur sinkretisme antara budaya lokal Jawa (kejawen) dengan budaya pendatang dari Arab (agama Islam).

c. Ekonomi

Perekonomian di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bersumber pada pengelolaan tanah, hutan kayu keras, perkebunan, pajak, dan uang sewa. Oleh karena itu sistem ekonomi tidak bisa lepas dari sistem agraris. Sultan menguasai seluruh tanah di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Selain itu, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat juga mene­rima pemasukan yang besar dari penebangan hutan kayu keras dalam skala besar sejak Sultan HB I. Sumber pendapatan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat juga berasal dari perkebunan, terutama kopi, tebu, nila, dan tembakau. Kebanyakan perkebunan ditangani oleh perkebunan swasta asing. Jumlah perkebunan yang semula 20 buah di tahun 1839 meningkat menjadi 53 buah pada tahun 1880, seiring pertumbuhan ekonomi, sistem penyewaan tanah, dan pembangunan infrastruktur.

Ketika Jepang masuk ke Yogyakarta, Sultan HB IX memanipulasi laporan jumlah produksi beras, ternak, dan produk lain untuk melindungi rakyat dari penindasan Jepang. Sultan juga membangun kanal (kini dikenal dengan nama Selokan Mataram) yang berfungsi sebagai saluran irigasi untuk mencegah rakyat Yogyakarta dijadikan romusha oleh Jepang.



Dibaca : 2228 kali
« Kembali ke Sejarah Kerajaan / Kesultanan

Share

Form Komentar