Budaya Kesultanan Buton Dilecehkan
May 14, 2011 14:12
Istana Kesultanan Buton di Bau-Bau
Kontroversi terjadi ketika HUT Sulawesi Tenggara (Sultra) dihelat di Kota Bau-Bau, Sultra. Kontroversi ini dipicu oleh pejabat Sultra, Nur Alam SE., dan Walikota Bau-Bau, Amirul Tamim. Kontroversi dituduhkan oleh para pemerhati Buton yang menganggap kedua pejabat tersebut telah melecehkan budaya Kesultanan Buton.
Ada dua tuduhan yang dialamatkan kepada kedua pejabat tersebut. Pertama, terkait dengan baliho yang dipajang dalam rangka HUT Sultra. Di dalam baliho tersebut terpampang foto Nur Alam dan Amirul Tamim sedang mengenakan jubah Sultan Buton. Kedua, pada tanggal 22 April 2011, ketika berlangsung Sholat Jum’at di Masjid Keraton Buton, Nur Alam dipersilakan duduk di kursi Sultan oleh protokoler. Hal yang mengkhawatirkan adalah, saat itu Nur Alam hanya berpakaian kaos dan bercelana jeans.
Para pemerhati budaya Kesultanan Buton beramai-ramai mendatangi Kantor DPRD Sultra pada (10/05) untuk mengadukan masalah pelecehan tersebut. Mereka berargumen bahwa sejak berakhirnya Kesultanan Buton pada tahun 1960, maka tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan atau duduk di kursi Sultan. Hal ini berlaku pula bagi berbagai atribut kerajaan yang tidak bisa dipakai lagi ketika Kesultanan Buton telah berakhir. Para pemerhati kebudayaan ini sangat menyayangkan tindakan kedua pejabat tersebut yang dinilai justru merusak adat yang telah lama dijaga oleh rakyat Buton.
Kedatangan para pemerhati budaya Buton ini ditemui oleh Wakil Ketua DPRD Sultra, La Pili yang didampingi Sekretaris Komisi IV, Rihamadi. Dalam pertemuan yang digelar kemudian, para pemerhati budaya ini menuntut klarifikasi atas tindakan kedua pejabat tersebut. Perwakilan DPRD yang memperhatikan aspirasi dari pemerhati budaya tersebut berjanji bahwa masalah ini akan dibawa pada rapat badan musyawarah pada (12/05), khusus untuk Dapil IV, Wakil Ketua DPRD, dan panitia Hut Sultra.
(Tunggul Tauladan/10/05-2011)
Sumber foto: http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Buton