Ridwan Saidi: Tarumanegara bukan kerajaan pertama di Bekasi
Nopember 17, 2011 11:08

Ridwan Saidi mengamati manik-manik bernuansa Mesir Kuno
yang ditemukan di Situs Buni
Sejawaran dan ahli antropologi, Ridwan Saidi mengungkapkan bahwa Kerajaan Tarumanegara bukanlah kerajaan pertama di Bekasi. Pernyataan ini merupakan fakta baru terkait dengan sejarah Bekasi. Fakta baru ini kini menjadi landasan untuk meneliti kembali sejarah Bekasi karena selama ini sejarah tersebut dibentuk dengan persepektif bahwa kerajaan pertama di Bekasi adalah Kerajaan Tarumanegara.
Pernyataan Ridwan Saidi ini memantik reaksi dari anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Muhtadi Muntaha yang mendesak pemerintah daerah untuk mengkaji ulang sejarah Bekasi. Menurut Muhtadi Muntaha, pemerintah daerah harus merespon dan menindaklanjuti hal ini dengan cara melakukan penelitian sejarah Bekasi, demikian disampaikan oleh anggota dewan ini di Cikarang pada (14/11).
Penelitian kembali tentang sejarah Bekasi tersebut dinilai penting karena nantinya hasil penelitian akan digunakan sebagai acuan untuk Peraturan Daerah (Perda) Budaya dan Sejarah. Selain itu, hasil penelitian juga bisa dicetak dan dimasukkan ke dalam buku pelajaran sejarah sekolah terutama untuk siswa tingkat SMP dan SMA. Dengan masuknya sejarah baru ini diharapkan kalangan siswa akan lebih mengenal tentang sejarah daerahnya sendiri.
Reaksi dari Muhtadi Muntaha pada mulanya berasal dari penyataan Ridwan Saidi ketika mengunjungi Situs Buni di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi sepekan yang lalu. Bersama dengan Badan Kekeluargaan Masyarakat Bhagasasi (BKMB), Ridwan Saidi mengungkapkan bahwa menurutnya kerajaan pertama kali yang ada di Bekasi bukanlah Kerajaan Tarumanegara melainkan Kerajaan Segara Pasir.
Dalam kesempatan tersebut Ridwan Saidi menjelaskan bahwa pada zaman Sebelum Masehi (SM) di tanah Pasundan tercatat sekitar 46 kerajaan kuno, salah satunya adalah Kerajaan Segara Pasir. Kerajaan ini memiliki pusat pemerintahan di pesisir pantai utara Bekasi dan terpengaruh oleh budaya Mesir Kuno. Pengaruh ini dibuktikan melalui temuan manik-manik bernuansa Mesir yang banyak ditemukan di Situs Buni, sebuah situs yang diindikasikan sebagai lokasi Kerajaan Segara Pasir.
Situs Buni menyimpan kekayaan arkeologis yang diperkirakan berasal dari zaman neolitikum, paleometalik, hingga Kerajaan Tarumanegara yang membentang antara tahun 2000 SM - 800 M. Benda-benda arkeologis tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia, dan Pusat Arkeologi Nasional. Ditilik dari rentang waktu tersebut, maka jika fakta sejarah seputar lokasi Situs Buni benar-benar terbukti sebagai lokasi Kerajaan Segara Pasir, maka dapat dipastikan bahwa kerajaan ini lebih dulu ada sebelum Kerajaan Tarumanegara yang berdiri antara abad ke-4 hingga 7 M.
Keberadaan Kerajaan Segara Pasir yang menurut Ridwan Saidi telah berdiri sebelum kemunculan Kerajaan Tarumanegara mulai terdesak akibat hegemoni yang dilakukan oleh Kerajaan Tarumanegara. Akibat kalah perang, Kerajaan Segara Pasir harus merelakan wilayahnya dijadikan pangkalan militer oleh Kerajaan Tarumanegara. Fungsi pangkalan militer ini, menurut Ridwan Saidi adalah untuk basis penarikan pajak atau upeti dari setiap transaksi perdagangan serta kekayaan alam dari kerajaan-kerajaan kecil taklukan Kerajaan Tarumanegara.
Berdasarkan temuan inilah, Ridwan Saidi berharap pemerintah daerah berupaya untuk mengkaji kembali sejarah Bekasi. Perspeksif yang menjelaskan bahwa Kerajaan Tarumanegara sebagai asal-usul Bekasi perlu untuk direkonstruksi. Ini semua demi kepentingan sejarah, peradaban, dan pengetahuan bagi generasi mendatang.
Tunggul Tauladan/05/11-2011
Sumber foto: http://www.radar-bekasi.com