English Version | Bahasa Indonesia

Simbolisasi Permohonan Maaf Berbentuk Apem

July 02, 2011 14:02


GKR Pembayun dan trah Keraton sedang melakukan Upacara Ngapem

Ribuan apem dibuat oleh trah Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam upacara Ngapem pada Kamis (30/06). Upacara Ngapem dihelat sebagai sarana permohonan maaf (ampun) yang disimbolisasikan melalui apem, kue penganan yang dibuat dari tepung beras.

Apem berasal dari bahasa Arab affum yang berarti ampunan. Masyarakat di Jawa sangat familier dengan kue yang satu ini, terutama pada bulan Ruwah, yaitu bulan terakhir sebelum memasuki bulan Puasa. Apem disimbolisasikan sebagai upaya untuk meminta maaf (ampunan) dari sang Pencipta sehingga apabila memiliki hajat mendapatkan kemudahan dan dijauhkan dari berbagai halangan.

Makna simbolis inilah yang juga dipakai di lingkungan Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ribuan apem yang dibuat pada hari Kamis tersebut ditujukan sebagai permohonan ampunan dalam rangka menyongsong atau memperingati Tingalan Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang jatuh pada Jumat (1/7) atau 29 Rejeb 1944 Bei. Sebagai catatan, Sri Sultan HB X naik tahta (Jumenengan) pada 7 Maret 1989 atau 29 Rejeb 1921 Wawu.

Upacara Ngapem dipimpin oleh GKR Hemas, permaisuri Sultan HB X. Dalam upacara ini, GKR Hemas dibantu oleh beberapa putrinya, yaitu GKR Pembayun dan BRAj Nurastuti Wijareni, serta para kerabat dan abdi dalem putri. Trah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini membuat ribuan apem, dengan bentuk beragam, mulai dari ukuran kecil hingga besar.

Salah satu jenis apem misalnya apem mustaka. Apem ini berdiameter 20 cm dengan ketebalan 10 cm. Proses membuat apem ini dilakukan dengan cara membuat apem berukuran kecil, kemudian setelah matang dituangkan lagi adonan secara terus menerus sehingga terbentuk banyak lapisan pada apem ini. Apem mustaka diberikan kepada kerabat keraton yang menduduki posisi tinggi dalam sistem pemerintahan di keraton atau kepada abdi dalem senior.  

Selain diberikan kepada abdi dalem, apem juga dijadikan simbol sedekah yang dibagikan kepada masyarakat oleh abdi dalem Punakawan. Para abdi dale mini membagikan apem mulai dari arah utara (Merapi) menuju ke selatan (Pantai Selatan).

Apem juga digunakan dalam upacara Labuhan. Upacara ini berlangsung pada Sabtu (2/7) dan berangkat dari Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Upacara Labuhan berlangsung di beberapa tempat, yaitu Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu.

(Tunggul Tauladan/02/07-2011)

Sumber foto: http://www.soloposfm.com/

Read : 4 time(s)
  Share  
Facebook

« Kingdom home