Perhelatan Agung II dan Penganugerahan Gelar Adat Kesultanan Serdang

2010-12-29 14:22:10


Medan, Melayuonline.com – Perubahan adalah hukum alam yang selalu terjadi dan penting untuk kita pahami dengan menoleh ke masa lampau untuk menuntun apa yang kita lakukan di masa sekarang. Sementara itu, masa sekarang yang berpijak pada kearifan masa lampau adalah landasan agar tidak salah melangkah di masa depan. Sejarah adalah pengalaman yang merupakan guru untuk membangun kehidupan dan peradaban yang lebih baik dan gemilang. Ia akan menuntun langkah-langkah kita, sehingga terhindar dari kesalahan yang sama pada masa Lampau. Selain itu, sejarah juga menyadarkan kita untuk senantiasa menghargai pihak-pihak yang telah berjasa.

Tuanku Luckman Sinar Basarshah – II, SH. mengungkapkan hal itu dalam Firman Syahifah Kesultanan Serdang pada Perhelatan Agung II Adat Serdang dan pemberian Anugrah Adat Kesultanan Serdang, 27 Juli 2009, di Convention Hall Hotel Tiara, Medan. Acara yang diawali pemberian Gelar Adat kepada Tokoh Utama dan Kerabat Kesultanan Negeri Serdang ini dihadiri oleh Gubernur Sumatra Utara, Syamsul Arifin, para Bupati dan walikota se-Sumatra Utara, Organisasi Kemasyarakatan se-Sumatra Utara, Keluarga Besar Kesultanan Serdang, Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, Mahyudin Al Mudra, SH. MM. beserta rombongan, dan para tokoh masyarakat lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tuanku Luckman Sinar Basarshah – II juga menyampaikan peran Kesultanan Serdang dalam kehidupan masyarakat Serdang pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya, baik sebelum kemerdekaaan maupun setelah kemerdekaan. Bagi masyarakat Serdang, sejak didirikan 300 tahun yang lalu, Kesultanan Serdang telah secara aktif menggerakkan pertanian, peternakan, perkebunan besar, pariwisata, dan seni budaya, serta kesehatan dan pendidikan masyarakat. Bagi bangsa Indonesia, Kesultanan Serdang telah secara aktif ikut mengobarkan semangat nasionalisme untuk melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan.

Salah satu contoh peran Kesultanan Serdang, lanjut Tuanku Luckman, adalah telegram yang dikirimkan Sultan Serdang kepada Presiden Soekarno pada bulan Desember 1945. Telegram tersebut berisi penegasan sikap bahwa Kesultanan Serdang berada di belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan akan membelanya sekuat tenaga.

Dalam sambutannya, Gubernur Sumatra Utara, Syamsul Arifin, mengatakan bahwa pemberian Gelar Adat mempunyai nilai-nilai strategis di tengah maraknya separatisme dan radikalisme. Pemberian Gelar Adat tersebut merupakan salah satu jalan membangun harmoni masyarakat melalui kebudayaan. “Anugrah Gelar Adat bukan untuk menghidupkan kembali feodalisme, tetapi sebagai upaya untuk melakukan revitalisasi nilai-nilai luhur yanng terkandung dalam budaya,” ungkap Syamsul Arifin. Oleh karena itu, Lanjut Syamsul Arifin, orang-orang yang telah mendapat Anugrah Adat harus ikut berperan aktif untuk melestarikan dan mengembangkan identitas dan jati diri Melayu. Jati diri Melayu berada pada sikapnya yang inklusif, yaitu selalu terbuka dan menghargai keragaman.

Mahyudin Mendapat Gelar Adat

Pada kesempatan tersebut, pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra, SH. MM., mendapatkan anugerah Gelar Adat Utama bergelar Datuk Cendekia Hikmatullah. Menurut Tuanku Luckman, gelar yang diberikan kepada Mahyudin merupakan apresiasi atas kerja keras Mahyudin dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Melayu melalui kajian-kajian sejarah dan budaya Melayu dengan memanfaatkan media, khususnya Teknologi Informasi.

Selain Mahyudin, tokoh-tokoh lain yang mendapat Gelar Adat adalah: H. Tengku Nurdin bergelar Pangeran Kesuma Negara selaku sesepuh Melayu Serdang; Dr. Syafii Ahmad, MPH bergelar Datuk Sri Wangsa Diraja selaku penasehat utama Kesultanan serdang; Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin bergelar Datuk Pendita Indera Wangsa selaku Pembina Olahraga Bangsa; Drs. Sakhyan Asmara, MSP bergelar Datuk Wangsa Diraja selaku Pembina Gerakan Pemuda Bangsa; Drs. Zainuddin Mars bergelar Datuk Indera Muda selaku Pembina Adat Budaya Serdang; Prof. Suwardi MS bergelar Datuk Sastra Negara selaku Pembina Sejarah Melayu; Tengku Yose Rizal, SE bergelar Pangeran Setia Pahlawan selaku Pendekar Kesultanan Serdang; OK Saidin, SH. M.Hum., bergelar Datuk Dharma Wangsa selaku Pembina Tanah Adat Serdang; Wan Iwan Dzulhami, SH. gelar Datuk Bijaya Sura selaku Pembela Pemuda Melayu Serdang; Drs. Syarifuddin Rosa bergelar Datuk Wira Pahlawan selaku Pembela Tanah Adat Serdang; Drs. Syafwan Hadi Umry bergelar Datuk Amar Wangsa selaku Pembina Sastra Melayu Serdang; dan Drs. Erwin Nurdin Pelos bergelar Datuk Arya Bupala.

Anugerah Gelar Adat dan Pingat juga diberikan kepada Orang Besar/Wazir/Kepala Luhak Kesultanan Serdang, Kerabat/Keluarga Kesultanan Serdang, dan para Penghulu Adat Kesultanan Serdang. Pemberian Anugerah Gelar Adat dan Pingat tersebut, menurut Tuanku Luckman, merupakan upaya Kesultanan Serdang untuk mengangkat batang terendam. Oleh karena itu, pemberian Gelar Adat dan Pingat ini tidak sekedar apresiasi, tetapi juga tugas yang dibebankan kepada para tokoh tersebut agar lebih giat lagi melestarikan dan mengembangkan budaya Melayu, khususnya Melayu Serdang. “Kita berharap para tokoh yang telah menerima Anugerah Gelar Adat dan Pingat ini semakin terpacu untuk mengembangkan dan memperkuat jati diri Melayu,” ungkap Sultan Serdang yang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-76.

(Ahmad Salehudin/brt/1/VII-2009)
Fotografer: Aam Ito Tistomo