Pangeran Khairul Saleh Lakukan Ritual Badudus
27 Desember 2010 13:22
Ritual Badudus
?Ritual Badudus bertujuan untuk membentengi diri dari berbagai masalah kejiwaan, yaitu gangguan yang datang dari luar dan dari dalam diri manusia,? jelas tokoh budaya Banjar, H. Adjim Arijadi. Adat budaya ini disebut juga sebagai ?mandi-mandi? atau ?bapapai? yang didasari atas ?kebersihan lahir dan batin?.

Usai acara doa selamat, Pangeran Khairul Saleh dan kerabat Kesultanan Banjar menuju tempat Badudus. Tempat Badudus merupakan tempat upacara yang berbentuk segi empat dengan diapit oleh empat tiang (sudut) yang dihiasi pohon tebu beratap kain berwarna kuning. Di tempat ini telah disediakan perlengkapan Badudus yang disebut piduduk dan sasangan. Perlengkapan yang termasuk ke dalam piduduk dan sasangan, yaitu: beras putih bersih (melambangkan citra rizki yang halal), lading (pisau) yang tajam dan berhulu padat (melambangkan citra yang wibawa, kharismatik, dan berpegang pada keyakinan yang teguh), nyiur dan gula habang (melambangkan lemak manis, bahasa, dan tata laku persaudaraan), telur ayam kampung (melambangkan harapan kekuatan generasi), serta jarum dan benang (melambangkan kesediaan untuk menelusuri masa depan).

Prosesi Ritual Badudus terdiri dari prosesi melulur, keramas, kemudian dikubui atau diguyur air bunga, diguyur air doa, diguyur air mayang mengurai, ditepuk mayang bungkus (disiramkan ke atas kepala), dan terakhir dibilas air bersih. Prosesi menyiram ini dimulai oleh ibunda Pangeran Khairul Saleh, kemudian dilanjutkan oleh KH. Anang Jazaouly Seman, dan para kerabat Kesultanan Banjar, antara lain: Gusti Nurdin dan Gusti Muhammad Thamrin, serta perwakilan dari Lembaga Adat Kekerabatan Kebudayaan Banjar, H. Suriansyah Iddeham.
Selepas prosesi mandi, Pangeran Khairul Saleh kemudian melakukan penyilihan pakaian atau berganti pakaian oleh kerabat Bubuhan. Ritual serupa dilakukan pula kepada para kerabat Kesultanan Banjar lainnya. Selanjutnya, rombongan penerima gelar ini menuju ke ruang hidangan (gunung emas dan gunung perak) untuk melakukan ritual Ritual Bacaramin atau bercermin, yaitu melihat wajah dengan diterangi lampu lentera sebanyak 7 putaran sebagai simbol 7 lapis langit. Ritual ini melambangkan kesediaan para pangeran untuk selalu intronspeksi diri.

Selesai Ritual Bacaramin, selanjutnya disambung dengan Ritual Batapung Tawar, yaitu ucapan selamat dari para tokoh yang bermaksud agar Pangeran Khairul Saleh dapat dijauhkan dari segala bencana. Ritual terakhir adalah membuka 41 macam hidangan makanan khas Banjar, antara lain: kue cucur 3 warna, 7 macam ketupat yang balamak, dan apam habang yang kemudian dinikmati bersama. Prosesi inilah yang menandai selesainya Ritual Badudus. (Tunggul Tauladan/ melayuonline.com)
