Sultan Sumbawa Dinobatkan
08 April 2011 08:16

Ribuan warga membanjiri arena penobatan Sultan Sumbawa XVII, Daeng Muhammad Abdurrahman Kaharuddin di Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa. Kesultanan Sumbawa merupakan sebuah wilayah yang mencakup Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Penobatan tersebut sudah tertunda selama 36 tahun.
Penobatan ditandai dengan prosesi adat yang berlangsung sejak Senin (5/4/2011) pagi. Sultan diarak dari Istana Bala Kuning, bersama permaisuri menggunakan tandu dengan hiasan warna kuning yang disebut Juli. Sejak pagi hari, lonceng di istana sudah berdentang menandai mulainya prosesi adat.
Sultan dan permaisuri, Andi Tenri Djadjah Burhanuddin diarak sambil diiringi pasukan bertombak dan hulubalang istana dengan iringan musik rebana khas Sumbawa. Sultan bersama permaisuri keluar dari Istana Bala Kuning dengan bacaan Shalawat Nabi Muhammad SAW.
Ribuan warga memadati dua sisi Jalan Dr. Wahidin dan Jalan Sudirman, jalan protokol yang dilalui rombongan Sultan. Rombongan bergerak dari Istana Bala Kuning menuju Istana Dalam Loka, istana kayu milik Kesultanan Sumbawa yang dibuat tahun 1885 silam. Di istana tua tersebut, Sultan dan Permisuri istirahat sejenak, sebelum menuju Masjid Agung Nurul Huda, tempat penobatan berlangsung.
Penobatan ini dihadiri oleh beberapa raja, diantaranya Raja Denpasar IX, Raja Niki Niki; Timor Tengah Selatan, NTT; Raja Gowa, Sulawesi Selatan; Gusti Kanjeng Ratu Hemas dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat; Gubernur NTB, M Zainul Majdi bersama pejabat Pemprov, Pemkab Sumbawa, dan Sumbawa Barat. Selain itu, ribuan masyarakat juga memadati tempat upacara untuk menyaksikan acara penobatan.
Di Masjid Agung, Sultan Sumbawa melakukan upacara penobatan. Dalam upacara ini, Sultan tidak melakukan pengambilan sumpah, melainkan membacakan sumpahnya sendiri dengan bahasa Arab disaksikan Imam Masjid Agung. Sultan bersumpah sebagai orang yang ditakdirkan sebagai Sultan. Isinya antara lain kalau Sultan tidak adil maka dirinya akan dilaknati Al Quran 30 Juz. Usai sumpah itu, Sultan selanjutnya melantik pengurus Tana Adat Samawa.
Penobatan Sultan itu adalah yang pertama sejak 80 tahun lalu. Ini adalah penobatan pertama sejak Kesultanan Sumbawa menyatakan bergabung dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Upacara penobatan ini seharusnya dilakukan ketika Sultan naik tahta pada 1975, atau pascamangkatnya Sultan Muhammad Kaharuddin III, ayah Sultan Daeng Muhammad Abdurrahman Kaharuddin. Namun, sesuai dengan keputusan pihah Kesultanan Sumbawa, penobatan Sultan waktu itu diputuskan untuk ditunda.
Sultan banyak menghabiskan waktunya di luar Pulau Sumbawa. Beliau berkarir di Bank Bumi Daya, sebelum merger menjadi Bank Madiri. Di Bank BUMN itu, Sultan terakhir menjabat sebagai Direktur Muda dan pensiun pada tahun 1998.
Sumber: http://www.detiknews.com/