Kirab Keris Pusaka Kasunanan Surakarta
20 April 2011 08:42

Ilustrasi: Salah satu jenis keris dengan dapur Nogososro
Surakarta -- Enam keris raksasa akan dikirab dalam pembukaan Kongres Keris Nasional di Surakarta pada Selasa (19/4). Keris raksasa sepanjang dua meter tersebut merupakan tiruan enam keris raksasa milik Keraton Kasunanan Surakarta.
Selain enam keris raksasa, acara ini juga akan diisi dengan kirab 71 keris dari berbagai daerah di Indonesia dan piagam pengakuan dari United National Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang menyatakan bahwa keris merupakan warisan dunia asal Indonesia. “Piagam ini baru pertama kalinya dikirabkan,” kata koordinator penyelenggara, Joko Suyanto saat ditemui di Balai Kota Surakarta, Senin, 18 April 2011.
Menurut Joko, kirab tersebut akan dimulai pada Selasa Sore, pukul 15.00 WIB. Kirab tersebut mengambil start di Rumah Dinas Wali Kota Surakarta dan selesai di Kusuma Sahid Prince Hotel, tempat pelaksanaan kongres.
Joko menjelaskan, salah satu keris yang akan dikirab adalah replika Keris Kyai Plered, yang merupakan pusaka milik Keraton Kasunanan. Para empu yang membuat replika itu membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk menyelesaikan keris berukuran dua meter itu.
Joko menambahkan bahwa pelaksanaan kongres tersebut sengaja digelar di Surakarta karena dukungan dari pemerintah daerah setempat. Selain itu, Surakarta juga dianggap sebagai tempat perkembangan ilmu perkerisan. “Kurikulum tentang keris masih diajarkan di Institut Seni Indonesia Surakarta,” kata Joko.
Selain itu, hingga saat ini di Surakarta masih terdapat delapan tempat membuat keris atau baselen yang masih berproduksi. “Surakarta merupakan pemilik baselen terbanyak,” ujarnya. Salah satunya adalah baselen Meteor Putih yang menggunakan batuan meteorit sebagai campuran bahan baku kerisnya.
Rangga Jati, salah satu pengamat keris mengatakan, Surakarta merupakan kota yang memiliki manuskrip terlengkap mengenai perkerisan. Manuskrip tersebut tersimpan di perpustakaan Keraton Kasunanan dan Museum Radya Pustaka. “Manuskrip kuno itu menunjukkan jika Surakarta merupakan tempat berkembangnya industri keris,” kata Rangga.
Salah satu kitab kuno yang banyak menceritakan mengenai proses pembuatan keris adalah Kitab Centhini. Dalam kitab yang berisi 12 bab tersebut, tulisan mengenai proses pembuatan keris diceritakan di empat bab pertama. Kitab tersebut ditulis pada tahun 1814 Masehi oleh tiga pujangga keraton.
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/
Sumber foto : http://kilasbaliknusantara.blogspot.com/2011/01/keris.html