English Version | Bahasa Indonesia

Kisah Duka Museum Keraton Kasepuhan Cirebon

01 Juli 2011 10:36



Simbol Keraton Kasepuhan Cirebon

Museum Keraton Kasepuhan Cirebon kecurian benda pusaka berbentuk mata tombak peninggalan Sultan Sepuh X. Pencurian diperkirakan terjadi pada hari Sabtu (25/06). Pihak pertama yang mengetahui peristiwa tersebut adalah pemandu wisata di area Museum Kasepuhan yang kemudian melaporkan peristiwa tersebut kepada Lurah Keraton Kasepuhan.

Sultan Sepuh XIV, PRA Arif Natadiningrat baru mengetahui kasus pencurian ini pada Rabu (29/06) karena pada hari Sabtu dan Minggu (25-26/06) berada di Bandung dalam rangka Silaturahmi (Silatnas) ke II Raja dan Sultan se-Nusantara. Pada hari yang sama, sekitar pukul 14.00 WIB, pihak Keraton Kasepuhan kemudian melaporkan kasus ini kepada Kepolisian Sektor Selatan Timur Cirebon.

Menurut Sultan Sepuh XIV, PRA Arif Natadiningrat, modus operandi pencurian adalah menukarkan mata tombak yang asli dengan mata tombak palsu. Mata tombal yang sekilas sangat mirip dengan yang asli ini diletakkan di tempat yang sama dengan mata tombak yang asli. Dengan alasan keamanan, untuk sementara beberapa benda pusaka kini dipindahkan ke dalam Dalem Arum, sebuah bangunan utama tempat tinggal Sultan Kasepuhan Cirebon.

Kasus pencurian di Museum Keraton Kasepuhan sebenarnya bisa diminimalisir jika penanganan terhadap museum dilakukan dengan serius. Penggunaan piranti pengamanan seperti CCTV, ruang berkunci pengaman, dan alarm seharusnya menjadi bagian yang harus diperhatikan sebagai kelengkapan sebuah museum. Namun, sebagaimana disinggung oleh Sultan Sepuh, biaya yang cukup besar untuk perawatan museum beserta benda-benda pusaka di dalamnya membuat pihak Keraton Kasepuhan kewalahan. Alhasil satu-satunya alat pengaman yang bisa diupayakan pihak Museum Kasepuhan adalah mengunci pintu gerbang museum dengan gembok seadanya.  

Tiket masuk sebesar Rp. 5.000 yang dikenakan kepada pengunjung yang akan masuk ke Museum Keraton Kasepuhan, tampaknya belum cukup untuk menutup biaya operasional perawatan museum. Pihak Keraton Kasepuhan sebenarnya telah mengajukan permintaan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yaitu dana sebesar Rp. 25 Milyar untuk merevitalisasi museum keraton.

Dalam surat pengajuan tersebut, pihak Keraton Kasepuhan menurut rencana akan merevitalisasi dua museum. Kedua museum tersebut adalah Museum Purbakala seluas 1.000 M² yang menyimpan benda-benda rampasan perang ketika melawan Portugis, batik-batuk motif tempo dulu, koin VOC, pedang, termasuk di dalamnya mata tombak yang hilang. Selanjutnya adalah museum seluas 500 M² yang menyimpan Singabarong dan Gamelan Sekaten. Namun permintaan dari pihak keraton tersebut hingga kini belum terealisasi dengan alasan bahwa Museum Keraton Kasepuhan Cirebon tersebut termasuk ke dalam museum swasta.   

(Tunggul Tauladan/01/07-2011)

Sumber foto: http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Kasepuhan

  Share  
Facebook


« Index