English Version | Bahasa Indonesia

Benteng Liya Togo, Saksi Bisu Kebesaran Kesultanan Buton

06 Juli 2011 14:40




Benteng Liya Togo merupakan saksi bisu kebesaran Kesultanan Buton di Sulawesi Tenggara. Pada masa kejayaan Kesultanan Buton, Benteng Liya Togo menjadi pusat penyebaran Islam di  Kepulauan Tukang Besi (kini dikenal dengan nama Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara). Menurut rencana, benteng yang terletak di Desa Liya Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara ini akan ditetapkan sebagai cagar budaya dunia oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Republik Indonesia.

Selain sebagai pusat penyebaran agama Islam pada masa Kejayaan Kesultanan Buton, alasan untuk menjadikan Benteng Liya Togo sebagai cagar budaya disebabkan juga karena benteng ini memiliki beberapa keunikan. Pertama, keunikan Benteng Liya Togo terletak pada struktur bangunan pembentuk benteng yang terdiri dari batu bata merah yang tidak direkatkan dengan semen. Kedua, di dalam Benteng Liya Togo terdapat masjid tua bernama Masjid Liya Togo. Masjid ini ditengarai erat kaitannya sebagai pusat penyebaran Islam pertama yang dilakukan oleh Djilabu di Kepulauan Tukang Besi pada masa kejayaan Kesultanan Buton. Dalam proses penyebaran Islam tersebut lahir gugusan pulau-pulau Wanci (Wangi-Wangi), Kaledupa, Tomia, dan Binongko yang kemudian disingkat dengan nama Wakatobi.

Arsitektur benteng yang berdiri di atas lahan seluas 30 hektar ini tidak dapat diketahui secara mendetail karena yang tersisa sekarang tinggal puing-puingnya saja. Namun dari beberapa puing tersebut, terdapat beberapa sisa peninggalan yang masih terjaga keasliannya, seperti bentuk gerbang khas buton, atau disebut lawa dalam bahasa buton, serta arsitektur baruga. Selain itu, di dalam kompleks Benteng Liya Togo juga terdapat Makam Talo-Talo, yaitu makam seorang pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa hingga mendapat julukan “Malan Sahibu” yang berarti seseorang yang memiliki karakter keras dan akan berperang hingga titik darah terakhir.

Upaya pemugaran terhadap benteng yang kini hanya menyisakan puing-puing tersebut sedang dilakukan. Pemugaran dilakukan sebagai salah satu cara untuk menjadikan sisa-sisa peninggalan Kesultanan Buton tersebut menjadi layak untuk dikunjungi, dijadikan media pembelajaran kesejarahan, serta cagar budaya dunia. Dana sebesar Rp. 1,5 Milyar dari Kemenbudpar telah dikucurkan untuk proses pemugaran Benteng Liya Togo yang sekarang sedang dikerjakan.

Menurut rencana, proses pemugaran Benteng Liya Togo akan selesai dilakukan sebelum puncak acara pembukaan Sail Wakatobi Belitong di Pantai Desa Sombu, Kecamatan Wangi-wangi oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Sail Wakatobi Belitong menurut rencana akan digelar selama minggu kedua hingga ketiga bulan Oktober 2011. Dalam Sail Wakatobi Belitong tersebut akan ditampilkan beragam sajian budaya seperti Kabuenga (tradisi cari jodoh bagi muda-mudi), Bangka Mbule-mbule (melarung sesaji ke tengah laut), Karia (tradisi mengislamkan perempuan Wakatobi), serta sejumlah tarian tradisional.

(Tunggul Tauladan/06/07-2011)

Sumber foto: http://www.ceritamu.com/

Share

Form Komentar


« Index