"Tamansari" di Keraton Kerto
18 Juli 2011 14:54

Istilah “Tamansari” lekat dengan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Istilah ini merujuk pada nama kompleks pemandian putri yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I. Namun, selain memiliki Tamansari, di Yogyakarta baru-baru ini juga ditemukan sebuah struktur bangunan air berupa talud yang diduga kuat sebagai bekas pemandian. Talud air tersebut ditemukan di Keraton Kerto, sebuah keraton yang dibangun pada masa Mataram Islam.
Talud air ditemukan oleh Tim Ekskavasi Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Talud air sepanjang empat meter yang diduga sebagai bekas tempat pemandian ini berlokasi di depan rumah salah seorang warga bernama Misbakhul Munir (80 tahun) yang beralamat di Desa Kerto, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY.
Selain talud air, tim juga menemukan kerang, fragmen gerabah, dan keramik. Kerang menjadi indikasi kuat bahwa tempat tersebut dulunya adalah air. Sedangkan talud air semakin mengukuhkan indikasi bahwa tempat tersebut adalah kolam pemandian. Gerabah dan keramik menunjukkan bahwa di tempat tersebut terdapat hunian dan aktivitas manusia.
Peninggalan di kompleks Keraton Kerto memang telah dijadikan obyek ekskavasi sejak tahun 2005. Penelitian untuk menemukan posisi asli, tata ruang, dan komponen keraton telah menjadi obyek kajian selama 6 tahun belakangan ini. Dari rentang masa tersebut, tim telah berhasil menemukan berbagai peninggalan situs Keraton Kerto. Peninggalan-peninggalan tersebut antara lain konstruksi fondasi benteng sisi barat (2008), timur (2010), dan selatan (bulan Juni 2011).
Kompleks Keraton Kerto dan Pleret ditengarai masih menyimpan kekayaan arkeologis peninggalan masa Hindu, Budha, Islam, serta Belanda. Namun proses penelitian dan ekskavasi mengalami banyak kendala, misalnya adalah banyaknya lokasi yang telah dijadikan tempat tinggal para penduduk, padahal ditengarai di bawah rumah tinggal tersebut menyimpan kekayaan arkeologis.
Selain faktor tempat tinggal, berbagai peristiwa sejarah juga turut menjadi kendala dalam mengungkap kembali jejak Keraton Kerto dan Pleret. Peristiwa-peristiwa tersebut seperti pemberontakan di Kerajaan Mataram Islam sepanjang pemerintahan Amangkurat I-IV (salah satunya adalah pemberontakan Trunojoyo), Perang Jawa (1825-1830), dan penghancuran bangunan keraton untuk dijadikan pabrik gula pada masa Pemerintahan Hindia Belanda.
Kendala-kendala tersebut semakin lengkap ketika arsip yang mengulas tentang keberadaan Keraton Kerto dan Pleret sangat sedikit. Bahkan, Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat selaku kerajaan lanjutan dari Mataram Islam juga dikabarkan tidak memiliki arsip seputar keberadaan Keraton Kerto dan Pleret ini. Alhasil, para arkeolog dan sejarawan yang akan meneliti perihal Keraton Kerto dan Pleret terpaksa hanya berpegangan pada tulisan seorang Belanda bernama Jan Vos yang pernah singgah di Keraton Pleret. Kesulitan semakin bertambah ketika semua tulisan Jan Vos hanya terdapat di Belanda.
(Tunggul Tauladan/10/07-2011)
Sumber foto: http://nationalgeographic.co.id/