English Version | Bahasa Indonesia

Pembangunan Istana Basa Menuai Protes

15 Agustus 2011 14:02



Istana Basa dalam proses pembangunan

Pembangunan Istana Basa di Kerajaan Pagaruyung menuai protes dari pihak keluarga Kerajaan Pagaruyung. Protes pihak keluarga kerajaan ini dipicu karena Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sebagai pelaksana proyek pembangunan Istana Basa dinilai tidak melibatkan pihak keluarga Kerajaan Pagaruyung.

Protes ini merupakan akibat dari sikap Pemerintah Provinsi Sumbar yang dinilai oleh pihak keluarga Kerajaan Pagaruyung seringkali membuat keputusan sepihak sehubungan dengan pembangunan Istana Basa. Bahkan keluarga Kerajaan Pagaruyung juga jarang dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan.

Sikap protes keluarga Kerajaan Pagaruyung ini mengacu pada kesepakatan serah-terima hak pakai tanah Raja pada tahun 1972. Serah-terima tersebut menyebutkan bahwa bahwa pihak keluarga akan dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan yang terkait dengan pembanguan Istana Basa, demikian dinyatakan oleh Sutan Muhammad Taufik Thaib, salah satu keturunan Kerajaan Pagaruyung pada (11/5).

Keturunan keluarga Kerajaan Pagaruyung lain, Rhauda Thaib yang juga merupakan pewaris perempuan Istana Basa saat ini menyatakan bahwa setelah Istana Basa selesai dibangun, pihak keluarga Kerajaan Pagaruyung sangat jarang dilibatkan dalam hal pengelolaan di Istana Basa. Keluarga Kerajaan Pagaruyung hanya dilibatkan ketika diadakan acara pemberian gelar.

Seperti diketahui bahwa Istana Basa atau Istana Pagaruyung yang berada di Batusangkar ini merupakan replika dari istana Kerajaan Pagaruyung asli yang terletak di Bukit Batu Patah. Istana ini pernah terbakar pada tahun 1804, namun kemudian dibangun kembali. Tetapi pada tahun 1966, Istana Basa kembali terbakar.    

Awal tahun 1970-an, Gubernur Sumbar kala itu, Harun Zain memiliki inisiatif untuk mengangkat kembali sejarah dan nilai serta harga diri orang Minang dengan membangun kembali Istana Basa. Inisiatif ini disambut positif oleh pihak keluarga Kerajaan Pagaruyung dengan cara meminjamkan hak pakai tanah Raja seluas 3 hektar pada tahun 1972. Pada tanggal 27 Desember 1976, Istana Basa berhasil didirikan kembali, namun tidak berada di Batu Patah, melainkan di Batusangkar.

Pada 27 Februari 2007, Istana Basa kembali terbakar. Kebakaran kali ini menghanguskan koleksi benda-benda pusaka yang berada di dalam istana. Pascakebakaran diperkirakan hanya 15 % benda-benda pusaka yang berhasil diselamatkan. Kini benda-benda pusaka tersebut disimpan di Istana Silinduang Bulan yang terletak sekitar 2 Km dari Istana Basa.

Selain sebagai bagian yang menunjukkan jatidiri orang Minang, sejak mulai didirikan kembali pada tanggal 27 Desember 1976, Istana Basa  juga dibangun dengan tujuan sebagai tempat pariwisata. Kini, selain Istana Silinduang Bulan, Istana Basa dikenal sebagai pusat wisata sejarah dan budaya di Sumatera Barat.  

(Tunggul Tauladan/04/08-2011)

Sumber foto: http://morishige.wordpress.com/

Share

Form Komentar


« Index