English Version | Bahasa Indonesia

Benteng Cempuri Sisi Selatan Ditemukan

06 Mei 2011 12:45


Tim ekskavasi menemukan fondasi Benteng Cempuri sisi selatan

Tim ekskavasi kawasan cagar budaya Keraton Pleret berhasil menemukan benda purbakala di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada (3/5). Salah satu temuan Tim ekskavasi ini adalah fondasi Benteng Cempuri sebelah Selatan yang terbuat dari batu bata merah. Benteng Cempuri merupakan salah satu bagian dari Keraton Pleret yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Islam.

Ekskavasi terhadap situs Pleret telah dilakukan sejak 2008. Sejak tahun 2008 hingga saat ini, tim telah menemukan berbagai peninggalan Keraton Pleret. Khusus untuk benteng, tim telah menemukan fondasi Benteng Cempuri sisi barat (2008) dan timur (2010). Sehingga dengan ditemukannya fondasi benteng sisi selatan pada tahun 2011 ini, hanya fondasi benteng sisi utara yang belum ditemukan.

Menurut Koordinator Lapangan Tim ekskavasi, Rully Andriadi, seperti dilansir dari Radar Jogja, 4 Mei 2011, Benteng Cempuri diperkirakan berbentuk persegi panjang dengan panjang 600 meter dan lebar 400 meter. Benteng terbuat dari konstruksi batu bata merah setinggi 5-6 meter. Puncak benteng berbentuk segitiga lancip yang terbuat dari batu putih.

Ekskavasi yang dilakukan sejak tahun 2008 tersebut tidak sepenuhnya berjalan lancer. Banyak kendala yang harus dihadapi oleh tim selama melakukan ekskavasi. Berbagai kesulitan tersebut antara lain karena kondisi benteng yang telah hancur dan tertimbun ke dalam tanah hingga beberapa meter. Selain itu, banyak artefak berupa batu bata merah yang telah hilang karena digunakan oleh Belanda pada pertengahan abad ke-18 untuk membangun pabrik gula.

Penemuan fondasi Benteng Cempuri Keraton Pleret ini semakin memperkaya dokumentasi tentang Keraton Pleret. Menurut sejarah, Keraton Pleret didirikan oleh Susuhunan Amangkurat I pada 1646 Masehi. Susuhunan Amangkurat I adalah putra Sultan Agung Hanyokrokusumo. Beliau naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 1646. 

Pada tahun 1677, Susuhunan Amangkurat I terpaksa meninggalkan Keraton Pleret karena adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Trunojoyo, seorang bangsawan Madura. Pemberontakan Trunojoyo bahkan terus terjadi hingga pemerintahan Amangkurat II pada tahun 1679. Pemberontakan Trunojoyo berhasil ditumpas setelah Amangkurat II meminta dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Akibat pemberontakan ini, Keraton Pleret dibiarkan kosong hingga mengalami kerusakan. 

(Tunggul Tauladan/07/05-2011)

Sumber Foto : http://www.radarjogja.co.id/

Dibaca : 240 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar