English Version | Bahasa Indonesia

KPH Notonegoro Memulai Prosesi Nyantri

21 Oktober 2013 15:33


KPH Notonegoro (berbaju putih) berada di Regol Magangan untuk memulai prosesi nyantri di Bangsal Kasatriyan

Yogyakarta, KerajaanNusantara.Com -- Perhelatan Pawiwahan Ageng (pernikahan agung) antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro telah dimulai. Di awal prosesi pernikahan ini, KPH Notonegoro melangsungkan prosesi nyantri pada Senin (21/10). Nyantri adalah prosesi awal bagi calon penganten pria yang merupakan ritual untuk mempersiapkan mental dan spiritual. Prosesi ini bertujuan agar calon penganten pria dapat menata dan mempersiapkan diri untuk melakukan prosesi-prosesi selama pernikahan agung ini. Selain itu, prosesi nyantri juga dilakukan dengan tujuan untuk mengenalkan kehidupan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kepada KPH Notonegoro. Selama melakukan prosesi nyantri, penganten pria ditempatkan di Bangsal Kasatriyan.

Prosesi nyantri dimulai ketika KGPH Hadiwinoto mengutus KRT. H. Jatiningrat, SH dan KRT Yudahadiningrat untuk menjemput calon pengantin pria, yaitu KPH Notonegoro di Dalem Mangkubumen, yang berlokasi di Kompleks Universitas Wangsa Manggala, di  sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Usai menerima perintah dari KGPH Hadiwinoto, sekitar pukul 09.00 WIB, Rombongan berangkat dari Regol Magangan dengan menggunakan kereta kuda yang diiringi pasukan berkuda TNI AD dari pasukan kavaleri. Kereta kuda yang digunakan dalam prosesi ini adalah Kereta Kuda Kyai Kus Gading, Kyai Puspoko Manik, dan Kyai Kutharaharjo. Usai menjemput calon penganten pria, rombongan kembali ke Regol Magangan lengkap dengan pengawalan pasukan berkuda dari

Agak berbeda dengan pernikahan sebelumnya, yaitu antara GKR Bendoro dengan KPH Yudhanegara pada 2011 silam, prosesi nyantri pernikahan agung kali ini dipersingkat. Jika pada prosesi nyantri sebelumnya KPH Yudhanegara tinggal di Bangsal Kasatriyan selama sehari semalam, maka prosesi nyantri kali ini hanya dihelat beberapa jam saja karena setelahnya akan dihelat prosesi siraman bagi calon penganten pria di Gedong Pompa, Bangsal Kasatriyan. Pada zaman dulu, prosesi nyantri dihelat selama 40 hari. Namun seiring dengan perjalanan waktu, prosesi ini agak dipersingkat.

Selama prosesi nyantri, siraman, tantingan, midodareni, hingga ijab qobul, kedua penganten tidak diperkenankan untuk bertemu. Mereka nantinya akan bertemu ketika berlangsung prosesi panggih, yaitu bertemunya penganten pria dari Bangsal Kasatriyan dan penganten putri dari Bangsal Sekar Kedhaton. Panggih akan dihelat di Bangsal Kencana pada Selasa (22/10).

GKR Hayu Jalani Prosesi Siraman

Ketika KPH Notonegoro sedang melakukan prosesi nyantri, GKR Hayu menjalani ritual siraman di Bangsal Sekar Kedaton. Prosesi siraman ini menggunakan air yang berasal dari 7 mata air yang berbeda, yaitu dari Bangsal Sekar Kedaton, Dalem Regol Manikhantoyo, Dalem Bangsal Manis, Dalem Regol Gapura, Dalem Regol Kasatriyan, Dalem Kasatriyan Kilen, dan sumber air di Gadri Kagungan Dalem Kasatriyan.

Prosesi siraman terdiri dari krobongan atau doa untuk memohon keselamatan dan kelancaran selama prosesi pernikahan, serta keberkahan dalam membina rumah tangga. Usai krobongan, GKR Hayu berganti busana pasadan Grompol dan kain Sida Asih, kemudian berjalan menuju tratag Bangsal Sekar Kedaton untuk memulai prosesi siraman.   

Usai melakukan siraman, GKR Hayu meminum jamu untuk menjaga kesehatan dan dikerik (mengerik anak rambut di bagian kening). Pengerikan bertujuan untuk mempermudah prosesi merias calon pengantin pada esok hari.

Ketika prosesi siraman calon pengantin putri berlangsung, KGPH Hadiwinoto memerintahkan kepada abdi dalem Kawedanan Hageng Punakawan Wahana Sarta Kriya dibantu para prajurit untuk memasang tarub dan bleketepe. Pemasangan tarub dimulai dari Bangsal Pagelaran, Bangsal Pacikeran, Tarub Agung, Regol Brajanala, Bangsal Pancaniti, Regol Keben, Bangsal Srimanganti, Bangsal Trajumas, doorlop Regol Danapratapa, doorlop Bangsal Kencana, dan kuncung Bangsal Kencana. Sedangkan bleketepe dipasang di atas kuncung tratag Bangsal Kencana sisi timur, Regol Kasatriyan, Bangsal Kasatriyan, Gedong Pompa, Gedong Srikraton, Purwarukmi, dan Regol Magangan.   

Tarub adalah hiasan dari janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang dipasang di kanan-kiri di bawah  bleketepe. Hiasan tarub terdiri dari: dua batang pisang raja yang buahnya telah matang, dua janjang kelapa gading, dua ikat padi siap panen, dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus batangnya, daun beringin, dan daun dadap srep. Sedangkan bleketepe adalah anyaman yang terbuat dari daun kelapa berwarna hijau.   

Siraman berasal dari adalah kata “siram” yang memiliki padanan kata “mandi” dalam bahasa Indonesia.  Siraman merupakan salah satu prosesi yang dijalani oleh kedua calon pengantin, biasanya satu hari  sebelum melangsungkan akad nikah. Prosesi ini bertujuan untuk  menyucikan jiwa dan raga calon pengantin.

Pihak yang melakukan siraman adalah kedua ibu calon pengantin, para kerabat, dan sesepuh yang memiliki figur baik. Hal ini dimaksudkan bahwa orang-orang yang melakukan dapat dijadikan contoh dan memberikan doa yang baik kedua calon pengantin. 

Dalam prosesi siraman diperlukan berbagai ubo rampe (syarat atau peralatan upacara). Ubo rampe tersebut antara lain: air yang diambil dari 7 sumber mata air yang berbeda, kembang setaman (bunga tujuh rupa), penggosok badan yang terbuat dari beras dan kencur yang diberi pewarna (konyoh panca warna), kendi atau klenting, beberapa daun, yaitu  daun kluwih, koro, awar-awar, turi, dadap srep, serta alang-alang.   

Selain ubo rampe, prosesi siraman juga memuat berbagai petuah, nasehat, doa, dan harapan. Berbagai hal tersebut disimbolkan melalui beberapa benda seperti: tumpeng robyong, tumpeng gundul, jajan pasar, pisang raja satu sisir, wadah dari tanah liat (empluk berukuran kecil) yang didalamnya diisi dengan bumbu dapur dan beras. (Tunggul Tauladan/01/knc/10-2013)

 


Dibaca : 26 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar